Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Wan Pei yang mengais rumor!



Kedua bola mata Xiu Qixuan bergetar dengan sinar kerutan yang tidak menyenangkan ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Wan Pei.


"Jelaskan lebih detail padaku mengenai Organisasi Perdagangan Selatan ini!"


Kata Xiu Qixuan dengan suaranya yang berkait dingin.


Sebelumnya, dia selalu menghindari pembicaraan apapun yang berkaitan dengan wilayah selatan.


Tetapi, itu hanya diketahui oleh anggota Divisi Rubahnya saja. Wan Pei tidak mengetahui bahwa membahas Nanbao bersamanya adalah topik yang sangat tabu.


"Seperti yang kita ketahui bahwa wilayah selatan memiliki banyak barang langka. Salah satunya adalah Mutiara yang diproduksi langsung dari Laut Nanhai ataupun suplai pangan seperti bahan makanan laut dan garam. Tetapi, Suku Nanbao yang menjadi penguasa gurun pasir sangatlah tertutup bagi orang luar."


"Mereka sangat membatasi interaksi dengan orang luar. Tetapi, dua tahun belakangan ini mereka mulai membentuk kelompok kecil untuk melakukan perdagangan ke Utara, Timur dan Barat wilayah Tiga Kekaisaran."


"Dan, pemimpin organisasi perdagangan mereka juga berasal dari salah satu kerabat keturunan Klan Aisin yang memerintah sebagai Kepala Suku Nanbao."


"Adapun rumor yang beredar bahwa Suku Nanbao mulai menjalankan misi diplomasi mereka untuk melakukan aliansi persekutuan dengan salah satu dari ketiga kekaisaran."


"Entah kekaisaran mana yang akan mereka pilih untuk dijadikan sekutu. Tetapi, jika itu benar terjadi, tentu saja akan membuat keadaan diantara ketiga kekaisaran kembali menegang."


"Karena jika dipilih Nanbao untuk dijadikan sekutu. Kekaisaran tersebut akan memiliki lebih banyak keuntungan militer untuk memulai peperangan."


Wan Pei menjelaskan dengan serius mengenai apa yang ia sudah ketahui dari beberapa sumber informasi ataupun rumor yang beredar.


Xiu Qixuan termangu sejenak.


'Haa..' ia menghela napas kemudian mengangguk mengerti.


Sejak ratusan tahun lalu ketiga kekaisaran besar ini memang selalu menginginkan wilayah Nanbao.


Seperti seekor harimau kelaparan melihat sepotong daging segar. Nanbao dimata pemerintahan ketiga kekaisaran adalah daging merah yang segar begitu memikat kerakusan dan keserakahan mereka.


Entah apa yang berada dipikiran Aisin Tianyi maupun Sima Junke jika memang rumor diplomasi untuk bersekutu itu benar.


Nanbao yang kecil mungkin tidak memiliki banyak pilar pertahanan lagi jika mereka secara terbuka menawarkan diri masuk kedalam polemik seperti itu.


"Wan Pei!"


"Ya, Nona Ketua."


"Aku menyerahkan semua persoalan kerjasama ini padamu sebagai wakilku. Temui pemimpin organisasi tersebut dan diskusikan padanya bahwa kita meminta harga yang sesuai. Jika itu barang langka kita akan menghargai sesuai kelangkaan dan kegunaannya."


Kata Xiu Qixuan dengan tegas menyerahkan dokumen terkait setelah selesai membacanya.


"Kita tidak akan terlibat jika dimasa depan ternyata transaksi barang dengan harga murah yang ditawarkan oleh mereka seperti ini adalah jenis pencucian uang, bukan?" Senyum mengembang dengan sirat ambigu diwajah cantiknya.


Wan Pei dengan cepat tanggap mengerti maksud sang atasan. Ia segera mengangguk dan mengambil berkas dokumen tersebut.


"Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu saya pamit lebih dulu, Nona Ketua."


Kata Wan Pei dengan menunduk memberi salam kemudian berbalik menuju pintu geladak kapal.


Sebelum benar-benar pergi, Wan Pei berkata dengan tiba-tiba. "Aiyaa Nona, satu hal lagi ... "


"Saya akan segera menyiapkan suatu hidangan yang menyegarkan tubuh. Karena Anda terlihat begitu kelelahan. mohon jaga kesehatan untuk kedepannya!"


Wan Pei berucap penuh perhatian dengan tersenyum riang itu cukup menyenangkan untuk dilihat.


•••••••••••••


Keesokan harinya...


Pelabuhan kecil yang terletak di barat daya wilayah kekuasaan Kekaisaran Shen mulai terlihat di garis cakrawala.


Xiu Qixuan berdiri di geladak depan untuk menatap pucuk-pucuk hijaunya daratan dari kejauhan. Kapal merapat di dermaga dua jam kemudian.


Perahu-perahu yang terikat di dermaga, lampu-lampu rumah penduduk yang masih menyala, juga jalanan yang lenggang terlihat jelas dari atas sini.


Semburat kemerahan menyising indah, sang fajar mulai menampakan dirinya diatas kaki langit yang berawan biru. Langit berangsur-angsur terang pertanda hari baru dimulai.



Kotak-kotak yang berisi beberapa jenis barang dagang yang terdiri dari tekstil ataupun pangan diturunkan satu per satu. Wan Pei terlihat sedang berdiskusi dengan salah satu anak buah dari penguasa dermaga yang bertransaksi dengan mereka.


Xiu Qixuan hanya berdiri memperhatikan disudut seperti orang yang tak memiliki kepentingan apapun. Karena semua penanganannya sudah ia kerjakan diawal dan kemudian diserahkan kepada Wan Pei.


"... Nona, kuda dan perbekalan Anda sudah selesai kami siapkan."


Suara dari salah satu awak geladak kapal terdengar memberitahu Xiu Qixuan.


"Baiklah, kau sudah bekerja keras. Terimakasih ..." balas Xiu Qixuan dengan tersenyum tipis.


"Nona, sungkan!!" Awak geladak kapal tersebut terlihat berbinar senang karena mendapatkan sebuah bentuk pengakuan dan pujian dari sang atasan.




"Berhati-hatilah, Nona Ketua!!"



Wan Pei bersuara dengan hangat melambaikan tangan melepas kepergian sang atasan.




"Tentu saja, upah saya harus bertambah juga bulan depan." timpal Wan Pei dengan kerlingan meledek.



"tsk... Cacing yang mudah berkelit ini. Yasudah, aku pergi dulu." ucap Xiu Qixuan dengan memutar bola matanya malas kemudian segera melompat keatas tunggangan kuda.



**Ngikk**



Suara kuda meringkik nyaring ketika tali kekangnya ditarik kuat. Kemudian segera setelah itu Xiu Qixuan memacu kuda bersurai coklat kesayangannya untuk berlari kencang.



Tanah bebatuan basah oleh genangan air lepas hujan deras tadi malam di bulan musim semi.



Musim panen akan segera datang. Pucuk padi menghijau terlihat di lereng-lereng bukit. Rimba hutan lebat mengadang di atasnya. Dedaunan masih basah dengan embun yang menghiasi tepinya.



Waktu berlalu dengan cepat, ini sudah memasuki tengah hari. Sinar nyengatnya matahari berada tepat diatas kepala.



Xiu Qixuan terduduk bersandar dibatang pohon rimbun untuk beristirahat sejenak.



**Glekk**



Ia meminum seteguk air dari perbekalannya dengan rakus.



Sembari melirik jarum kompas yang berporos menunjukan arah jalan di dalam genggaman tangan kirinya. Ia memastikan sekali lagi bahwa ini adalah jalan yang benar menuju kaki Gunung Kuang.



Tudung mantel yang dikenakannya sengaja dia biarkan terbuka. Rambut hitam miliknya berkibar tertiup hembusan angin hangat musim semi.



**Srek**



Suara gemerisik dari semak belukar membuatnya segera memasang kewaspadaan. Tubuh Xiu Qixuan menegang dengan matanya menatap tajam kearah semak belukar tersebut.



"Siapa disana?!"



Teriak Xiu Qixuan mengeluarkan aura permusuhan yang penuh dengan tekanan.



**Srek**



Sebuah tangan dengan urat-urat berotot yang menonjol milik seorang pria dewasa terlihat mengais membuka semak belukar.



Xiu Qixuan segera beranjak berdiri dengan memasang postur siap bertarung. Dia bahkan sudah mengarahkan kepalan tinju dan mengangkat kakinya untuk menendang wajah pria tersebut.



"Tunggu, tunggu jangan pukul!! Xuan'er, ini aku ..." Pria tersebut berseru untuk menghentikan tindakan kasar Xiu Qixuan yang mengarah padanya.



Xiu Qixuan tertegun penuh kejutan melihat wajah tampan yang sangat familiar karena ini adalah wajah pertama yang dia temui ketika datang ke Daratan Ca Li.



"Kau?! Sedang apa kau disini?!" sentaknya menggeram kesal.



••••••••••••••••