Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Seakan Tulus Untuk Tuan Ini!



Seorang gadis cantik melangkah keluar saat pintu ruangan terbuka untuknya. Pakaian dan riasan yang dikenakannya membuat gadis itu tampak lembut dan ceria, tidak menimbulkan kesan terlalu sombong maupun terlalu rendah hati.


"Kau masih menungguku, Tidakkah kau memiliki terlalu banyak waktu bersantai." Cibirnya itu bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan.


Pria yang sedang menutup kedua kelopak matanya sembari bersandar ditiang penopang bangunan dengan gerak reflek mendongakkan wajah, melihat seorang gadis didepannya—dia terdiam menelusuri wajah cantik ini, mata jernih bagai air dimusim gugur, cerah seperti bintang yang bersinar dikegelapan malam, bibir ceri merah yang sedikit mengerut dan kedua pipi bulat yang memerah, mengeluarkan pesona yang tak ada habisnya.



Bukan, gadis ini bukanlah dewi kecantikan yang tak tertandingi di Daratan Ca Li. Masih banyak gadis dengan tampilan yang lebih indah dan memukau tetapi mereka semua tidak dapat disandingkan dengan pesona ceria yang menyenangkan sekaligus menenangkan siapapun yang melihatnya.


Setelah mengerjapkan matanya sebanyak beberapa kali untuk mendapatkan kembali ketenangannya, pria itu dengan cepat menarik lengan gadis cantik didepannya agar lebih mendekat tanpa sengaja gadis cantik itu jatuh terhuyung kedalam dekapannya.


Jarak diantara mereka membuat para gadis pelayan yang melihatnya merona malu dan dengan cepat menundukan pandangan.


"Jangan berulah, bertindaklah seakan kau memang tulus untuk tuan ini!" Peringatnya berbisik pelan tepat didaun telinga gadis cantik itu.



Gadis cantik itu awalnya tersentak kaget tetapi dia dengan cepat memasang wajah tersipu malu seakan pria didepannya tengah menggoda dirinya.


"A Jun, perhatikan sikapmu. Kau membuat para gadis pelayan disana merona malu." Ucap Xiu Qixuan menjauhkan tubuhnya dari Sima Junke.


"Kalian, boleh kembali melanjutkan pekerjaan kalian yang tertunda." Usir Xiu Qixuan kepada para gadis pelayan yang masih berdiri didekat mereka.


Xiu Qixuan mengetahui segala tindakannya sangat diawasi oleh berbagai macam orang yang memiliki niat mereka tersendiri.


Selain Sima Junke yang memang rekan sementara waktunya, dia tidak mempercayai siapapun disini.


Para gadis pelayan itupun dapat dipastikan memiliki tuan mereka masing-masing, —mereka ditugaskan untuk mengawasinya.


Itulah yang membuat Xiu Qixuan bertindak senatural mungkin seolah bahwa dirinya memang memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Sima Junke.


Setelah memastikan para gadis pelayan itu menjauh, Xiu Qixuan memalingkan pandangannya— menatap tajam Sima Junke yang memasang wajah tak acuh. Gadis itu masih kesal saat Sima Junke mengejeknya.


Mereka berjalan bersisihan menuju tempat tinggal Nyonya Tua, keadaan diantara mereka hening—tak ada yang mau membuka suara terlebih dahulu.


Tetapi, Xiu Qixuan tidak lupa untuk memasang senyum lembut diwajahnya agar para pelayan ataupun penjaga yang melihatnya berjalan bersama Sima Junke tak menyebar rumor buruk tentang hubungan mereka.


'Grapp,' Xiu Qixuan menyampirkan lengannya di lengan kokoh milik Sima Junke, membuat pria itu menundukkan kepala untuk melihat gadis cantik ini memeluk erat lengannya.


Xiu Qixuan mendongakan wajah untuk melihat ekspresi wajah Sima Junke yang memang memiliki tubuh lebih tinggi darinya. Dia tersenyum lembut dan mengedipkan sebelah matanya menggoda. Sima Junke bergedik ngeri saat melihat itu, tubuhnya merinding, entah apa yang ada dipikirkan gadis ini.


Sesampainya didepan bangunan tempat tinggal Nyonya Tua, seorang pengawal bertugas memberitahu terlebih dahulu kepada majikannya bahwa Tuan Muda dan Nona Xiu hadir berkunjung, membuat mereka harus menunggu diluar selama beberapa saat.


Mereka dipersilakan masuk, terlihat Nyonya Tua sedang bersantai menikmati buah segar sembari memejamkan kedua matanya, saat disebelah kanan dan kirinya terdapat dua orang gadis pelayan yang tengah mengipasinya. Memang saat ini adalah dimusim panas yang membutuhkan lebih banyak kesejukan apalagi tempat ini adalah iklim bergurun pasir.


"Memberi Salam kepada Nenek,"


"Memberi Salam kepada Nyonya Tua,"


Mereka memberi salam dengan cara khas masing-masing. Xiu Qixuan memberi salam memakai etiket wanita bangsawan Kekaisaran Shen sedangkan Sima Junke memberi salam dengan menunduk kemudian meletakan salah satu lengannya dengan postur menyilang di dada khas Pria Nanbao.


Xiu Qixuan sangat cerdas, dia tidak memberi salam menggunakan cara khas Nanbao karena dia tahu kalau dirinya melakukan itu sama dengan berkhianat—dan akan terlihat bahwa dirinya mencari muka didepan Nyonya Tua, apalagi dirinya belum menikah secara resmi di Nanbao.


"Bangunlah," Ucap Nyonya Tua sembari mengangguk melihat Sima Junke dan Xiu Qixuan dihadapannya, mata tua-nya menelusuri wajah Xiu Qixuan dengan dalam tetapi dia tidak menemukan suatu kajanggalan.


"A Jun, kau datang. Kemarilah biarkan nenek tua ini melihatmu kebih jelas," Lanjut Nyonya Tua dengan menepuk pelan bangku panjang yang masih memiliki ruang untuk diduduki.


Akhir-akhir ini Nyonya tua tidak memiliki kesempatan untuk berbincang dengan leluasa kepada sang cucu tersayang, entah apa yang membatasi mereka.


Sima Junke beranjak berdiri tetapi sebelum itu dirinya berucap dengan lugas, "Cucu ini kurang berbakti. Tentu saja, aku tidak akan menyia-nyiakan—saat memiliki kesempatan untuk mengunjungimu dan menunjukan bakti-ku."


"Xuan'er -ku juga sangat baik, mengunjungi nenek untuk suatu urusan dan menunjukan bakti-nya sebagai cucu menantumu. Betapa beruntungnya keluarga kami memiliki gadis sepertinya," Lanjut Sima Junke


Dengan sengaja Sima Junke menekankan keberadaan Xiu Qixuan yang tidak dianggap oleh sang nenek. Secara tidak langsung juga mengingatkan sang nenek keuntungan seperti apa yang akan diberikan Xiu Qixuan kepada Nanbao.


Dari kalimat Sima Junke, pria itu menjelaskan bahwa Xiu Qixuan datang untuk membahas perjanjian perdagangan adalah suatu urusan dan keuntungan yang didapat bisa dianggap sebagai bakti kepada Nyonya Tua.


"Kau benar. Layani dan siapkan hidangan untuk cucu menantuku," Perintah Nyonya Tua kepada pelayan pendampingnya, terdapat sirat keengganan dikedua bola mata tua-nya tetapi itu hanya sebentar sebelum dengan cepat disembunyikannya kembali.


Xiu Qixuan yang melihat itu semua, gadie itu tetap memasang senyum lembut mengikuti intruksi pelayan yang menjamunya dengan ramah. Saat dihadapkan dengan situasi seperti ini perilaku gadis itu akan berubah menjadi halus, tidak tergesa-gesa dan tenang seperti air.


Sima Junke mendudukan dirinya disebelah Nyonya Tua. Nenek dan Cucu itu berbincang sebentar, sementara Xiu Qixuan yang memang belum sarapan—memilih untuk memakan makanan yang dihidangkan untuknya, dirinya tidak ingin rugi dan menderita kelaparan!


Satelah perutnya sudah terisi penuh, Xiu Qixuan menghela napas panjang untuk menyiapkan diri menyelesaikan tugasnya hari ini. Kemudian dia berucap lugas untuk mengintrupsi, "Nyonya tua, sudah bisakah kita memulai pembahasaan penting?"


Pancaran kedua bola mata Nyonya Tua bergetar menunjukan sedikit ketidaksukaan saat Xiu Qixuan mengintrupsi perbincangan hangatnya dengan sang cucu tersayang.


"Tunggulah sebentar lagi, aku sudah menyuruh pelayan-ku untuk memanggil seseorang yang dapat membantu melancarkan perdagangan ini." Ucap Nyonya Tua kepada Xiu Qixuan yang sejenak mengerutkan kening menebak siapa yang dimaksudnya. Tetapi, gadis itu dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya kembali seperti semula.


Sedangkan untuk Sima Junke, pria itu sudah menebak seseorang yang dipanggil sang nenek adalah salah satu pejabat Nanbao sekaligus penyokong neneknya selama ini.


•••••••••••••••