Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Dasar Juga Alasan Yang Kuat



Aroma dupa yang terbakar ditungku menyerbak hangat memenuhi ruangan. Terduduk di depan kaca perunggu sosoknya yang memasang wajah tenang namun terasa berat.


Helaan napas terdengar keras ketika gadis itu menatap tajam bentuk dari dirinya dalam cermin perunggu yang memantul. Karena tidak ingin terjerumus dalam kekalutan pikiran, gadis itu memilih untuk mengambil kertas perwarna bibir diatas meja rias.


Jari-jari lentiknya terangkat untuk menempelkan kertas berwarna merah yang sudah dikenal seluruh gadis dalam penjuru kekaisaran di Daratan Ca Li, bagian merah dari kertas tersebut menempel ketika bersentuhan dengan bibir mungilnya yang lembab.


"Tidak perlu memaksakan diri, Nona." Suara Xiao Leng yang dengan tulus menasehati terdengar dari balik tubuhnya. Bawahan terampilnya ini sedang membantu menata rambut dengan sangat teliti membentuk sanggul ikatan dan menyisipkan jepit rambut yang terbuat dari giok sederhana.


"Terimakasih, Xiao Leng. Tetapi, kurasa hari ini mulutmu yang berceloteh itu terlihat lebih bersemangat daripada aku." Sarkas Xiu Qixuan dengan malas memutar kedua bola matanya setelah menatap bayangan Xiao Leng dari kaca perunggu.


Sudah terhitung beberapa kali sejak Xiao Leng memberikan banyak saran dan nasehat untuknya kembali beristirahat.


"Hoho, apakah saya terlihat seperti itu?" Ucap Xiao Leng dengan bergetar geli.


"Ya, sungguh cerewet." Dengus Xiu Qixuan.


"Sudah selesai." Suara Xiao Leng terdengar ketika ia selesai menyisipkan aksesoris rambut terakhir. "Anda terlihat sangat cantik." Pujinya dengan bangga penuh kepuasan diri menatap pantulan kecantikan sang majikan dari balik cermin.


"Ya, terlihat cukup bagus." Balas Xiu Qixuan dengan acuh tak acuh.


"Bukan cukup tetapi sangat bagus. Saya yang menatanya sendiri." Ucap Xiao Leng dengan semangat membara meminta sebuah pengakuan juga pujian dari hasil kerja kerasnya.


Senyuman merekah diwajah Xiu Qixuan, "Ya, lebih bagus daripada pekerjaanmu sebelumnya." Godanya dengan terkekeh geli.


Dalam membantunya merias penampilan, Xiao Rou lebih kompeten dibandingkan Xiao Leng yang hanya meneliti kadar obat dan racun atau mengayunkan pedang pendek.


Tetapi, saat ini Xiao Leng sudah lebih terasah dan malah memiliki lebih banyak pengetahuan etiket yang diajarkan para pelayan istana.


"Yang Mulia Kaisar telah tiba..." Suara Kasim terdengar keras membuat pengumuman kedatangan Xia Qian Che.


Xiu Qixuan segera beranjak dari duduknya didepan meja rias ketika sosok keagungan itu muncul dari balik celah pintu. "Yang Mulia." Sapanya dengan sedikit membungkukkan badan memberi hormat.


"Bangkit." Ucap Xia Qian Che dengan menatap dalam kearahnya.


"Ya, terimakasih Yang Mulia." Balas Xiu Qixuan dengan segera menegakkan tubuh.


"Sudah merasa baikkan?" Tanya Xia Qian Che dengan menatap kulit leher Xiu Qixuan yang terbalut kain kasa.


Sebelumnya karena tidak ingin menarik perhatian, Xiu Qixuan memilih untuk menyembunyikan kesembuhan lukanya.


Para tabib yang dikirim oleh Xia Qian Che sudah diperintahkan untuk kembali dengan memakai alasan bahwa dia bisa menyembuhkan lukanya sendiri, karena identitas istimewa sebagai tabib dewa tidak ada seorangpun yang berani membantah.


"Ya, sangat baik. Semua atas berkat dan perhatian dari Yang Mulia Kaisar." Jawab Xiu Qixuan dengan tersenyum ringan yang sopan.


Dengan satu isyarat tangan dari Xia Qian Che, Kasim Cui dan para pelayan termasuk Xiao Leng mengerti untuk segera bergegas keluar ruangan meninggalkan mereka dalam area privasi.


Mata Xia Qian Che terkunci menatap intens kearah Xiu Qixuan yang masih berdiri tenang.


Dalam ketenangan yang hampa, gadis itu sebenarnya sedang menyembunyikan getaran kecanggungan yang entah mengapa terasa mengganjal aneh ketika melihat pria milik Qiaofeng ini.


"Tidakkah ada yang ingin kamu katakan pada Zhen?" Suara berat milik Xia Qian Che memecah keheningan.


Suara air yang sedang dituangkan untuk memenuhi isi dalam cangkir terdengar ketika Xiu Qixuan dengan postur elegan meraih teko dari tungku panas. "Cobalah teh merah ini Yang Mulia." Ucap Xiu Qixuan dengan jernih kemudian jari-jari lentiknya menyuguhkan cangkir teh diseberang meja.


Xia Qian Che yang masih berdiri memperhatikan tindakannya seketika mengerjap dan segera bergegas menempatkan diri dihadapan gadis itu.


"Apakah ini termasuk dalam selera teh-mu?" Tanya Xia Qian Che dengan ringan mengambil cangkir diatas meja kudapan tersebut.


"Tidak tahu karena aku tidak begitu menyukai teh." Jawab Xiu Qixuan dengan santai.


Mungkin bagi beberapa orang besar seperti Xia Qian Che dan para bangsawan lainnya, teh merupakan bagian dari setengah hidup mereka, tetapi Xiu Qixuan masih belum terbiasa jika menyangkut selera tersebut.


"humm, kalau begitu sepertinya zhen harus memberikanmu beberapa jenis teh berkualitas tinggi." Suara Xia Qian Che begitu ramah dan bersahabat, ia perlahan-lahan menyesap teh tersebut dengan postur halus yang elegan.


"Untuk membuka penyelidikan kasus mengenai aliran dana bencana yang janggal harus diberitahukan keseluruh menteri, bukan?" Suara Xiu Qixuan yang jernih seperti gletser dalam dinginnya danau beku.


Xia Qian Che mematung dalam rasa terkejut, jari-jarinya yang menggenggam cangkir teh itu perlahan menguat. Dia memandang Xiu Qixuan dengan tajam. 'Takk..' Ia menaruh cangkir teh dengan ketukan keras.


Ekspresi ramah dan bersahabat seketika luntur dari wajahnya yang mengeras. Entah mengapa keberanian gadis ini dalam membahas hal politik malah membuatnya jengkel. Bukan topik seperti ini yang ingin dia bicarakan.


Helaan napas panjang terdengar keras ketika Xia Qian Che dengan pasrah berucap, "Katakan."


Sorot mata Xiu Qixuan menyembunyikan kecerdasan yang tajam, membuat orang lain akan penasaran dengan apa yang sedang dia pikirkan. "Membuka kembali kasus lama yang sudah ditutup harus membutuhkan suatu alasan yang kuat. Menyelidiki kasus yang terjadi dalam kurun waktu tahun berlalu juga harus membutuhkan dasar yang kuat agar para menteri tidak meragukan kekuasan Kaisar dalam berpihak. Jadi Yang Mulia, sudahkah kamu menyiapkannya?" Suaranya yang jernih itu mengandung keseriusan yang dalam.


Karena lawan adalah Menteri yang berakar kokoh di Kekaisaran, penyelidikan rahasia tidak akan membuahkan hasil. Kalau ingin benar-benar menjatuhkan, mereka membutuhkan sebuah panggung besar. Itulah maksud Xiu Qixuan.


Jika Kaisar memperintahkan penyelidikan mengenai kasus yang sudah lama berlalu harus memiliki sebuah dasar juga alasan kuat bagi para menterinya. Agar para menteri tidak saling mencurigai niat hati sang pemegang kekuasaan.


"Ternyata kau sungguh tidak bersabar, ya?" Balas Xia Qian Che dengan sarkas.


"Ya, saya harus menyelesaikan ini secepatnya." Jawab Xiu Qixuan dengan sangat tegas.


Xia Qian Che termanggu. "Hah, ternyata kau ingin cepat pergi." Dia memalingkan wajah dengan terkekeh miris.


Xiu Qixuan terdiam, tidak bersuara.


Wajah pria itu terlihat muram, pancaran kesepian perlahan menguar samar ketika ia beranjak berdiri kemudian melirik sekilas Xiu Qixuan untuk berucap, "Kau tidak perlu khawatir. Dua hari lagi dalam perjamuan akhir tahun." Suaranya bergema tegas.


"Beristirahatlah." Lanjutnya dingin kemudian berbalik pergi.


"Tunggu." Suara Xiu Qixuan menahan langkahnya. Gadis itu beranjak tanpa sadar menarik lengan baju Xia Qian Che.


Xia Qian Che tertegun, melirik tajam kearah jari-jari Xiu Qixuan yang mencengkeram lengan bajunya.


Xiu Qixuan yang kebingungan mengikuti arah pandangan Xia Qian Che, "Ah, maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia." Tergagap konyol dengan cepat ia melepaskan.


Wajah Xia Qian Che kembali memancarkan ketajaman arogan yang angkuh. Dia mendengus menatap Xiu Qixuan seakan menuntut untuk bertanya, cepatlah aku sibuk.


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Bisakah Yang Mulia mendengarkan sejenak?" Suaranya yang jernih mengandung sirat keraguan juga kegelisahan. Seperti sedang menimbang suatu keputusan yang begitu sulit.


•••••••••••••