
"Disana begitu membosankan untuk kita. Bukan begitu, Heng'er?" Menempatkan Xiu Yuheng di depan dadanya, Xiu Qixuan berjalan santai sembari menepuk lembut punggung bocah kecil itu untuk membuatnya nyaman.
Sudut mulutnya berisi senyuman ketika mendengar celotehan imut Xiu Yuheng yang seperti sedang membalas ucapannya. Pandangan Xiu Qixuan sedikit terangkat melihat dengan malas bangunan-bangunan megah di samping kanan dan kirinya.
Pada saat ini, dia berada di salah satu jalan Kota Ping'an yang hanya berisi pertokoan mewah. Biasanya tempat ini hanya akan di datangi oleh para bangsawan ataupun pedagang kaya.
Tidak ada penampilan kumuh ataupun kotor. Disini terlalu rapih dan berkelas sampai terasa canggung.
Yao Yunmei yang mengajaknya untuk berbelanja itu malah begitu sibuk dengan nyonya bangsawan lainnya.
Saat di toko kain ketika Yao Yunmei ingin membuatkannya gaun, Xiu Qixuan segera kabur karena para nyonya itu mengerubunginya seperti lalat.
Jika di ingat lagi, Xiu Qixuan merasa pening sampai rasanya mau mati. Mulut para nyonya itu seperti mengajaknya untuk melakukan perang urat saraf. Mereka bertanya dan menyindir secara bersamaan.
Xiao Rou sampai dia tinggalkan disana bersama dengan Yao Yunmei. Dia melarikan diri hanya membawa Xiu Yuheng dalam dekapannya. Berpura-pura keluar untuk menenangkan bocah itu yang merengek.
"Nah, Heng'er. Mari kita bermain sepuasnya! Bibimu ini sangat berbakat dalam urusan bersenang-senang." Dia segera menyusuri ruas jalan yang berkelok. Seketika pemandangan keramaian yang menyenangkan menyambut mereka. Aroma harum makanan yang di masak dan barang-barang unik terjajar di kiri dan kanan.
Xiu Yuheng yang berada di dalam pelukannya, tertawa. Bukan hanya Xiu Qixuan, balita kecil ini juga merasa lebih rileks dan nyaman.
Dua jam kemudian, angin dingin bertiup dan awan keruh menutupi langit. Senja di sore hari yang kelabu.
Di depan kedai pinggir jalan, seorang gadis muda segera beranjak dengan membawa bayi di dalam dekapannya.
"Ugh, Heng'er... ayo, sepertinya kita harus segera kembali." Xiu Qixuan mengangkat pandangan sekilas menatap kearah langit yang gelap. Dia bergerak maju dengan Xiu Yuheng yang begitu damai. Mata bocah itu mendengkur malas, terlihat kelelahan sehabis bermain, perlahan-lahan tertutup untuk tertidur.
Suara gemuruh langit membuat langkah Xiu Qixuan semakin cepat, setengah berlari. Tapi, itu tidak cukup untuknya menghindar.
Langit tidak tahan lagi untuk menyemburkan lapisan air yang melembabkan tanah dan mengguyur semua hal yang berada di atasnya.
Xiu Qixuan merasakan tetesan air yang perlahan menyentuh kulit bagian luarnya, dia segera melilit erat tubuh Xiu Yuheng mencegah angin dingin menembus tubuh bocah kecil tersebut.
Lapisan air yang cemerlang membuat pemandangan berkabut. Xiu Qixuan tetap melangkah maju sembari mengedarkan pandangan mencari tempat untuk berteduh karena terlalu ramai sampai terasa sulit jika berdesakan di pinggir jalan.
Tiba-tiba, di tengah kebisingan yang menggulir masuk. Di bawah hujan musim semi yang lebat tapi terasa memiliki kehangatan yang sejuk. Seseorang datang menutupi curah itu, pemandangan dunia yang berkabut seketika berangsur-angur menjadi jelas karena nya. Angin dingin yang menusuk segera di hadang oleh sosoknya yang tinggi.
Suara gemerisik keramaian yang bergema terasa senyap. Mata Xiu Qixuan tampak kosong menatapnya.
Bayangan nya terlihat samar namun semakin bersinar ketika senyum dengan tatapan selembut kapas itu menyapa.

"Kamu ingin pergi kemana?"
Dentingan suaranya bergema seperti percikan gelombang yang memamerkan kedamaian yang tidak terkontaminasi dengan dunia fana.
Xiu Qixuan mengerjap sadar, matanya yang jernih terjalin untuk berlama-lama memandangi sosok tersebut. Wajah yang sudah lama dia lewati.
"Guru..." Dia memanggilnya dengan nada lunak.
"Guru? Itu terasa canggung sekarang."
Ini adalah Mo Ji Gui, sebelumnya kecanggungan hubungan mereka belum sempat usai. Karena pria itu tiba-tiba pamit untuk pergi kembali Kekaisaran Mo. Pada saat itu, dia bertindak gegabah karena kehilangan kendali atas emosi dan perasaannya. Dia melihat Xiu Qixuan yang penuh kesakitan, dia tidak tahan ketika mengetahui itu disebabkan oleh seorang badebah dari Nanbao.
"Ah, maafkan aku. Apakah itu terlalu canggung?" mata Xiu Qixuan bertaut bingung, pikirannya tampak terkejut. Dia tidak menyangka untuk bertemu Mo Ji Gui setelah sekian lama.
"Kemana?" Xiu Qixuan tampak ragu.
"Aku akan mengantarmu dan Yuheng pulang." Mengetahui hati Xiu Qixuan yang ragu, Mo Ji Gui berbicara dengan hati-hati.
Meskipun tampak sungkan, Xiu Qixuan tetap menerima undangan Mo Ji Gui ketika nama Xiu Yuheng di libatkan.
Bocah kecil dalam pelukannya ini bisa sakit jika terlalu lama berada di bawah hujan dan hembusan angin dingin. Dan jika itu sampai terjadi, Xiu Qixuan -lah yang akan kena ocehan seluruh penghuni kediaman.
Mereka melangkah di bawah payung yang sama. Penampilan yang memberi kesan romantis bagi yang melihatnya, namun alih-alih berdebar ini terasa rambang dan berjarak.
Beberapa langkah di depan jalan besar, terparkir gerbong yang luas dan memiliki ukiran mewah, empat ekor kuda dengan kusir bersiap menunggu perintah untuk memacunya.
Xiu Qixuan membawa Xiu Yuheng naik kedalam gerbong tersebut, di susul oleh Mo Ji Gui.
"Pergi ke Kediaman Xiu."
Setelah suara perintah itu terdengar, suara tapak kuda bergemuruh dan gerbong berderak maju.
Xiu Qixuan menepuk-nepuk punggung Xiu Yuheng yang terganggu oleh getaran tidak nyaman dari gerbong yang bergerak. Ujung hidung Xiu Qixuan sudah memerah karena dingin tetapi dia tidak sadar akan itu.
Mo Ji Gui melihat pemandangan tersebut dengan perhatian segera menutup tirai gerbong menghalangi air dan angin dingin yang menembus masuk.
Tiba-tiba, Xiu Qixuan merasa kecepatan kereta kuda secara bertahap melambat, Mo Ji Gui mengirim sinyal kepada kusir. Setelah itu jubah yang tergantung dengan lembut diangkat oleh tangan besar untuk menutupi tubuhnya, melilitnya dengan hangat.
"Ekhmm, aku sudah mengirim orang untuk memberi kabar pada Nyonya Yao." Mo Ji Gui berdeham dengan matanya yang teralih canggung. Semburat awan merah berada di kedua pipinya, malu.
Xiu Qixuan balas berbicara sembari tertawa ringan; "Ya, terimakasih."
Beberapa menit kemudian, mata Mo Ji Gui terus bergerak untuk meliriknya dengan ragu-ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.
"Ada yang ingin kau katakan?" Xiu Qixuan mendengus, dia merasa terbakar oleh tatapan penuh keraguan itu. "Bicaralah."
"Kudengar kau ingin pergi ke Ibukota." Mo Ji Gui berkata dengan suara rendahnya yang masih tertahan di tenggorokan.
"Benar, aku akan berangkat di hari pertama musim panas." Xiu Qixuan menjawab tanpa ragu, dia begitu tenang.
Mendengar perkataannya, diam-diam hati Mo Ji Gui menjadi tegang. "Secepat itu?"
Xiu Qixuan mengangguk. "Iya, dalam tiga minggu."
Rahang Mo Ji Gui seketika terkatup, tidak berbicara lagi. Ia segera mengalihkan pandangannya yang kusam, karena tidak ingin tampak konyol di depan Xiu Qixuan.
••••••••••••••••
N/T : ada yang kangen Ji Gui ngga nih? kapal Xuanji yang akan karam.