
Malam yang gelap melahap daratan. Cahaya bulan yang lemah mengamati semuanya. Tidak ada bulan atau bintang di langit. Kegelapan total seperti lubang tanpa dasar.
Seorang anak kecil berusia sekitar 10 tahun meronta sembari terus menerus berteriak ketika kedua tangannya di tarik paksa.
Lubang ini, tempat di mana ada keheningan yang menakutkan. Dari bilik jeruji yang terbuka, semua orang yang mendengar teriakan pilu itu bergetar. Wajah mereka pucat dengan tubuh yang dipenuhi keringat dingin. Seolah-olah hanya tinggal menunggu giliran waktu untuk mereka akan berakhir sama seperti anak itu.
Anak itu ketakutan dan tidak bisa bergerak, tubuhnya di seret sampai ke depan pintu besi. Sudah berakhir, dia pasti akan mati.
Pintu besi yang tersambung dengan altar persembahan yang melingkar ini seperti jembatan kematian untuk para budak tahanan yang berada di balik jeruji.
"Bawa domba milik gembala surga itu kemari."
Seorang praktisi spiritual yang sekiranya berusia 60 tahun berbicara pada petugas yang membawa anak itu.
Pintu besi terbuka.
Anak itu terperosok, darah langsung merembes dari lututnya yang menyentuh batu marmer. Dia menangis terisak. Pupil matanya terguncang. Dia memandang kearah para patung yang berdiri megah di sekitar altar. Para patung yang seolah sedang menatapnya dengan mata mengerikan.
Di sini benar-benar gelap, hanya ada cahaya kecil dari bara obor yang menggantung di dinding. Sangat samar, sama seperti harapan hidup untuk para budak yang berada di balik jeruji tahanan. Hanya menunggu bagi mereka untuk berakhir di atas altar persembahan.
Praktisi spiritual itu melantunkan mantra aneh dengan suara rendah, sembari mengetukan ujung tongkat kayunya keatas tanah, tubuh tuanya bergerak memutari anak yang bersimpuh di tengah altar.
Tiba-tiba, cahaya kuning lembut dari obor—secara misterius berubah menjadi merah gelap, seolah penuh dengan darah. Hembusan angin tebal menggaruk dinding. Suasana dipenuhi oleh aroma tajam dari darah dan daging.
Dalam sekejap, kengerian itu berlangsung. In begitu kejam. Tubuh anak perempuan yang malang itu hancur berkeping-keping seolah diiris, bahkan dia tidak bisa berteriak ketika itu terjadi. Sekarang dia hanya menyisakan tulang ketika darah dan dagingnya mengisi aliran yang terhubung pada pilar-pilar kecil yang memendarkan cahaya terang seolah-olah sedang mengunci sesuatu berharga di titik tengah.
Ketika darah dan daging anak itu merembes masuk kedalam sisi tengah. Pilar bercahaya itu hanya tampak sedikit berkedip seolah menunjukan reaksi penolakan.
Dari sudut atas, terdapat kursi takhta naga yang tersembunyi. Di mana seseorang yang menggunakan mahkota emas itu terduduk, beliau sedang mengamati semua hal yang terjadi dengan tatapan bosan yang khas.
"Yang mulia telah dengan tulus memuja surga dan begitu taat. Namun, hingga kini..., Potongan Dewi tidak memberi respon untuk bisa segera anda gunakan."
Suara praktisi spiritual itu tiba-tiba datang dari arah sampingnya, begitu menjilat penuh hormat.
"Mengapa kamu tidak mencari cara alih-alih berbicara?"
Suara yang begitu agung bergema dengan tajam. Shen Zhenning saat ini begitu memancarkan arogansi penguasa yang menukik penuh rasa perhitungan. Diatas kursinya, dia memandang buruk pada sosok praktisi spiritual tersebut.
Mendengar itu, awan dingin mengambang langsung di wajah Shen Zhenning. Bibirnya perlahan melengkung miring membentuk kurva tajam yang aneh. Dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, "Harga yang kuat dan sesuai, ya?" Gumamnya dengan jari-jemari menyentuh dagu seolah-olah sudah menemukan sesuatu di dalam pikirannya.
Mengangkat tangan kanannya, Shen Zhenning menunjuk penuh otoritas kearah praktisi tersebut kemudian berbicara dengan gema menakutkan. "Persiapkan ritual persembahan yang paling megah pada bulan purnama pertama di musim gugur. Akan kubawa pemilik darah surgawi yang akan memuaskan Potongan Dewi." Ujarnya dengan jejak kekejaman yang melintasi jelas di sudut matanya.
Mungkin kalian sudah menebak siapa itu. Satu-satunya pemilik darah surgawi yang juga merupakan keturunannya, Pangeran Ketiga Kekaisaran, Shen Yuan Zi, putranya yang malang. Sungguh dia hanya akan di ingat dalam pikiran ayahnya untuk kembali menderita kemalangan.
Yang tidak di ketahui oleh orang lain, dan hanya di ketahui oleh Shen Zhenning sendiri dan praktisi spiritualnya.
Belati yang tercuri itu sebenarnya di isi oleh serpihan Kekuatan Dewi yang sudah mati dan tersimpan di dalamnya, dan mereka menyebut itu sebagai Potongan Dewi.
Kalau manusia biasa bisa menggunakan belati tersebut yang berisi potongan dewi, maka dia akan mendapatkan kekuasaan surgawi. Mungkin dia bisa hidup selamanya dan menjadi maha kuasa. Namun, tidak sembarangan orang bisa menggenggam belati tersebut dan menyerap kekuatannya untuk digunakan. Karena kebanyakan orang akan terbakar hangus ketika tubuh fana mereka tidak kuat menahan gelombang surgawi yang besar.
Shen Zhenning berusaha melumuri belati tersebut dengan darah para gadis dan anak-anak perawan, dia lakukan itu sebanyak mungkin untuk menekan sedikit gelombang surgawi yang ada, dan agar belati tersebut memberi respon puas yang patuh untuk dia genggam dan gunakan.
Tapi, selama ini usahanya begitu sia-sia. Bahkan dia tidak kunjung bisa menyentuh belati tersebut, apalagi menggunakannya.
Shen Zhenning sudah banyak menghabiskan sumber daya untuk belati tersebut, dari mulai mempekerjakan sebagian prajurit rahasianya yang setengahnya gugur ketika membawa belati itu dari Sekte Xitian sampai menguncinya di kekaisaran.
•••••••••••••••••••••
Pada saat ini, di luar. Awan menjadi lebih gelap dan mulai berputar bersama dengan kecepatan di langit malam. Gulungan petir mulai muncul, memandikan seluruh langit dengan kilat. Tiba-tiba, guntur yang keras terdengar dengan sambaran petir yang dihasilkan membelah langit menjadi dua.
Malam di musim panas yang bermandikan hujan. Sosok Xiu Qixuan berlari dengan mengangkat roknya menghindari rintikan air yang mulai turun.
Lagi dan lagi, dia berkeliaran, menyusuri jalan sendirian. Namun, saat ini dia berkeliaran untuk urusan yang jelas. Dia memiliki pertemuan rahasia. Dengan salah satu wanita terpenting di istana.
"Tch, sial! apa tidak ada ramalan cuaca di sini? Haruskah aku yang membuatnya sendiri di surat kabar? Saat tadi begitu cerah, siapa yang membuat langit menjadi marah?" Xiu Qixuan menggerutu tanpa henti, wajahnya berkerut hitam. Dia berlari sembari mengedarkan pandangan mencari koridor tempat berteduh.
Namun, jalan yang dia lewati begitu jauh dari koridor utama. Ini adalah jalan terpencil di sudut istana.
Mata Xiu Qixuan menyala ketika melihat gerbang dengan cat merah mengelupas di depan sana. Dia mengira itu adalah bangunan tempat penyimpanan yang kosong dan tanpa pikir panjang dia berlari memasuki bangunan tersebut.
Dia tidak melihat papan kaligrafi yang tampak mengabur samar di atasnya yang bertulis, 'Istana Dingin'.
•••••••••••••••••••••