Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kenangan Diakhir Hidup Yang Malang



Beberapa pasang kaki itu dengan kejam menendang keras tubuh wanita hamil yang meringkuk kesakitan, berusaha kepayahan melindungi perutnya yang membulat. Tulangnya remuk dan redam penuh luka memar, di dalam ketidakberdayaan memohon, walaupun dia tahu bahwa itu sama sekali tidak akan berguna.


'Bukk..' Tendangan yang begitu kuat membuat darah mengalir dari pangkal kakinya dengan diikuti aliran air ketuban yang pecah. Bayi dalam rahimnya seperti ikut berteriak kesakitan. Rasanya seperti jiwa dapat lepas dari raga yang tercabik-cabik ini, tetapi pergerakan kecil dari sosok buah hati seperti cahaya penyemangat.


Matanya yang tertutupi bercak darah dalam samar menangkap sebuah peluang. Ia merangkak kepayahan dibawah pukulan dari beberapa pasang kaki untuk ke sudut ruangan, terseok seperti tikus sekarat yang berusaha bertahan hidup dalam selokan.


Terus bergumam pada sang buah hati yang berada dalam rahim untuk memberinya sedikit kekuatan. Dalam satu tarikan napas dengan matanya yang sayu, tangannya terulur untuk siap mengibaskan racun.


Hanya dia yang tersisa untuk bertahan hidup dalam napasnya yang memendek oleh rasa sakit. Melihat orang-orang yang menyakitnya itu terkapar tak berdaya dengan kematian singkat, rumah kecil tempatnya tinggal berubah menjadi diselimuti udara dingin yang suram, begitu kacau penuh bercak darah.


Angin berhembus dari celah jendela dan pintu yang terbuka, membawa aroma gelapnya sang kematian. Membawa terbang jiwa-jiwa yang sebelumnya masih hidup dengan begitu angkuh.


'Hoosh...' Wanita hamil itu mencengkeram dadanya yang begitu sesak, menangis penuh penderitaan seperti alunan lagu kematian yang mengiringi kepergian jiwa-jiwa tercela.


Belum selesai dengan rasa sakit pukulan di sekujur tubuhnya. Pada saat ini, perutnya yang membulat seperti tertusuk ribuan panah belati. Bayinya yang mungil ingin keluar untuk berbagi penderitaan dunia dengan sang ibunda. Darah semakin menggenang disekitar kedua kakinya.


•••••••


Diatas ranjang yang tertutup oleh tirai kelambu, terbaring kaku sesosok gadis yang begitu pucat dengan lehernya yang terbalut kain kasa untuk dijadikan seperti perban luka.


Pencahayaan redup dari langit siang dimusim dingin terpancar samar-samar dari celah kamar tidurnya yang hangat.


Terlihat peluh keringat membanjiri sekujur tubuh gadis itu, dahinya berkerut dengan kepalanya yang bergerak gelisah. 'Kriieek...' Suara derakan keras dari atas ranjang kayu yang bergetar terdengar ketika gadis itu tiba-tiba terduduk dengan napasnya yang memberat.


'Hosshh...Bukk..' Dia kesulitan untuk bernapas seperti pasokan oksigen tidak dapat masuk kedalam paru-paru, tangan kurusnya meninju-ninju pelan dadanya.


Hidungnya terasa masam dengan sesuatu yang menggenang diatas mata, tanpa sadar dia menangis.


Tangan yang membuat kepalan tinju itu mengambang diudara dengan perlahan terbuka untuk menyeka airmata yang tiba-tiba lolos tanpa kehendak.


Ia terdiam menatap jari-jarinya yang ikut basah oleh airmata, ia tidak tahu mengapa dia menangis. Tetapi, hatinya begitu sakit, ini terasa begitu pahit.


"Qiaofeng..." Sebuah gumaman lirih terdengar samar.


Dia menekuk kedua kakinya yang berada di dalam selimut, menenggelamkan wajahnya disana dan memeluk dirinya sendiri. Terlihat bahunya bergetar dengan suara isakan tangis yang tertahan perlahan-lahan lolos keluar.


'Qiaofeng bodoh, kamu sengaja, kan?! Memperlihatkan kebahagiaan dan penderitaan diakhir hidupmu yang malang agar aku merasakannya. Itu tidak dibutuhkan. Sialan!'. Batinnya terus merutuki, ia kesal dan gundah oleh kesedihan yang disebabkan kenangan aneh yang bukan miliknya.


'Sret..' Tirai kelambu tersingkap memperlihatkan Xiao Leng yang menatap cemas sang majikan.


"Nona, dimana yang sakit?!" Tanya Xiao Leng dengan khawatir.


Xiu Qixuan tidak menjawab karena tangisannya masih begitu tesedu dan sulit untuk berhenti.


"Nona?" Panggil Xiao Leng yang kebingungan. "Izinkan saya melakukan pemeriksa denyut nadi." Xiao Leng perlahan menepatkan diri terduduk disisi ranjang dengan segera tangannya terulur.


Seharusnya Xiao Leng memanggil seorang tabib untuk memeriksa nona-nya seperti yang dilakukan gadis pelayan pada umumnya, kan? Tetapi, itu berbeda karena Xiao Leng memiliki keterampilan dalam dunia medis.


"Tidak perlu." Suara serak yang tajam memerintah membuat tangan Xiao Leng mengambang diudara.


Perlahan wajah halus yang pucat penuh bercak kesedihan itu terangkat, matanya yang bulat dikelilingi kabut dengan hidungnya yang berair.


"Nona tidak sadarkan diri selama dua hari karena goresan luka aneh yang berada dileher semakin memburuk setiap harinya seperti sebuah kutukan." Jelas Xiao Leng sembari menatap balutan perban yang berada dileher sang majikan.


"Dua hari lalu, Yang Mulia Kaisar membawa tubuh Nona yang tidak sadarkan diri untuk ditempatkan di Halaman Istana Ting Xue." Lanjutnya.


"Dia?" Gumaman pelan Xiu Qixuan.


"Ya, Yang Mulia Kaisar mendekap Nona yang berada dalam gendongannya, saat itu hampir terjadi sedikit kekacauan di istana karena kekalutan Yang Mulia Kaisar mencoba untuk memanggil semua tabib terkemuka. Beruntung Ibu Suri dengan cepat menghentikan, membuat Yang Mulia berpikir lebih rasional dan hanya menempatkan orang terpercaya yang berkemampuan khusus." Ucap Xiao Leng penuh binar antusiasme tinggi dalam bercerita.


Xiu Qixuan terdiam, hanyut dalam renungan.


"Ha, syukurlah Nona sudah sadar. Tetapi, mengenai lukanya—," Xiao Leng menghela napas panjang penuh sirat keraguan diakhir kalimatnya.


"Heh, Nona ingin kemana?! Biar saya bantu memapah." Terkejut Xiao Leng ketika Xiu Qixuan tiba-tiba beranjak dari atas ranjang.


"Xiao Leng, siapkan air untuk membasuh wajah dan juga keperluan lainnya. Bantu aku merapihkan diri." Perintah Xiu Qixuan dengan melambaikan tangan penuh otoritas.


Gadis itu melangkah ringan kedepan meja rias untuk menatap wujudnya sendiri di dalam cermin perunggu. Meninggalkan Xiao Leng yang masih mematung disisi ranjang dengan kebingungan.


"Aiyaa... Xiao Leng, aku lapar. Tolong siapkan juga makanan untukku." Suaranya yang tajam membuat daftar perintah lagi.


"Ya, Nona." Xiao Leng tersadar dan segera membungkuk hormat kemudian berjalan keluar ruangan untuk melaksanakan perintah.


Walaupun Xiao Leng menginginkan sang majikan untuk beristirahat lebih banyak, ia ingin sekali membantah perintah tetapi dia tidak bisa menjadi kurang ajar.


'Kriet..' Bayangan Xiao Leng menghilang setelah pintu tertutup. Secara menyeluruh Xiao Leng adalah pelayan penanggung jawab mengenai semua hal yang berkaitan dengan pribadi Xiu Qixuan, jadi dia hanya perlu memberi perintah dan mengawasi pelayan dibawahnya.


Hening.


Setelah suara pintu tertutup, keadaan disekitar kembali jatuh kedalam keheningan yang hampa. Mata yang cemerlang indah itu menyipit tajam dengan wajahnya yang datar menatap cermin perunggu.


Jari-jari lentiknya perlahan membuka perban yang terbalut diarea sekitar lehernya. 'Sret..' Kain kasa yang melilit lehernya itu terbuka dengan sempurna. Menampilkan luka goresan yang menghitam dan nyaris membusuk, begitu mengerikan.


Dia menatap tajam luka tersebut dari balik kaca perunggu, "Menakjubkan." Ia tersenyum miring dengan jari-jarinya yang menyentuh luka tersebut.


Maksudnya adalah kekuatan aura iblis sudah cukup membuatnya takjub dan kewalahan.


'Sring..' Cahaya keemasan mengalir hangat nan menenangkan mengitari area sekitar luka ketika jari-jari kurusnya menyentuh kulit. Perlahan-lahan luka mengerikan itu rontok dan menghilang.


Beberapa saat kemudian, kabut cahaya keemasan perlahan menyusut. Ia menjauhkan jari-jarinya dengan matanya menatap lurus kearah kaca perunggu yang memperlihatkan kulit leher halus seputih salju.


Hanya tersisa bekas luka yang masih terlihat samar karena kekuatan aura iblis cukup sulit dinetralkan langsung sepenuhnya dalam satu waktu.


Mata Xiu Qixuan berkobar, terlihat seperti penuh tekad yang membara. Ia tidak punya waktu untuk beristirahat dan berdiam diri. Itulah sebabnya dia meminta Xiao Leng membantunya bersiap. Ada banyak tugas dan hal-hal yang harus Xiu Qixuan lakukan.


•••••••••••


hayo-hayo xuan mau ngapain nih gais?