Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Melihatmu Sekali Lagi



Salju musim dingin yang berkibar menutupi sebagian atap dan pepohonan. Bulu mata lentik itu tertutup lelah dengan napas teratur yang damai ia terpejam untuk beristirahat sejenak.


Tidak mengetahui darimana kenyamanan itu berasal bahwa dia dapat secara spontan tertidur dalam hawa yang dingin ini tepat di depan pintu ruang baca milik Kaisar dengan postur tubuhnya yang berdiri tegap.


Pada saat ini, Xia Qian Che masih menghadiri pengadilan pagi. Xiu Qixuan diperintahkan untuk menunggu dengan gerutu kekesalan yang masih mengendap dihatinya.


Sebelumnya seorang Kasim kecil yang bertugas memberitahukan bahwa sang Kaisar mengizinkan Nona Qi untuk menunggu di dalam ruangan. Tetapi, Xiu Qixuan menolaknya dengan tegas karena gadis itu tidak ingin menambah desas-desus rumor yang akan menyulitkan dirinya.


Dia harus menunggu sebentar lagi, hanya sebentar lagi dan kemudian akan segera pergi meninggalkan tempat rumit ini.


"Nona..." Suara bisikan pelan yang terasa seperti geraman tertahan dari Xiao Leng terdengar memasuki telinganya.


"Hm?" Dehamnya ringan dan acuh tak acuh.


"Nona Qi!" Entah mengapa suara Xiao Leng terdengar semakin gelisah dan penuh penekanan menendang lembut kaki sang majikannya.


Karena merasa terganggu oleh bawahannya, Xiu Qixuan segera membuka kedua kelopak mata yang sebelumnya terpejam untuk menoleh kesamping dengan dahi yang mengerut kesal. "Kau ini kenap—," Terjeda ia.


"Nona Qi, dicuaca yang dingin ini mengapa tidak masuk untuk menghangatkan tubuhmu?" Suara yang berat namun sangat dalam penuh tekanan kemegahan bergema ramah.


'Deg..' Mata Xiu Qixuan terbelalak kaget melihat Xia Qian Che yang sudah berdiri diujung sana dengan wajah datar menatapnya begitu lekat.


Heh, ini bukan kesalahannya karena tidak menyadari keberadaan sang Kaisar yang agung, kan? Lagipula seharusnya secara formal Kasim Istana akan mengumumkan kedatangan Kaisar. Tetapi, mengapa sekarang tidak dilakukan?


Sekilas Xiu Qixuan melirik tajam kearah sekitar dan terlihat bahwa seluruh pelayan juga kasim sedang menunduk memasang postur memberi penghormatan. Tetapi, sirat keinginantahuan tercetak jelas diraut wajah mereka yang mencuri pandang untuk melihat interaksinya dengan Xia Qian Che.


Hanya butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya Xiu Qixuan memasang senyuman sopan yang kaku. Dia terlihat sangat terburu-buru bergegas melangkah maju untuk memberi penghormatan.


"Ah.." Pekiknya kaget karena tubuhnya terhuyung maju kedepan. Salju menutupi teras lantai ruang baca membuat langkahnya sedikit tergelincir.


'Greb..' Kedua lengannya tergenggam erat, seseorang menghentikan insiden yang seharusnya menjadi memalukan jika dia terperosok jatuh.


"Hati-hati, Nona Qi." Suara rendah yang datar terdengar berbisik tajam.


Xiu Qixuan melihat detail jari-jari lembut tetapi kuat sedang mencengkeram pergelangan tangannya. Mengetahui siapa yang sudah menopangnya, membuat dia segera meringkuk untuk menjauh.


"Terimakasih, Yang Mulia." Dia menundukan wajah dengan dalam. "Maafkan kelalaian saya yang tidak menyadari keberadaan Anda." Ucapnya membungkuk penuh ketenangan yang damai.


Helaan napas terdengar keras dari balik celah bibir Xia Qian Che yang membuat kepulan asap beku keluar samar. Xiu Qixuan mengerutkan kening tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh penguasa Xia Utara tersebut.


"Masuklah, bantu Zhen menggiling tinta." Perintahnya tajam dengan mengibaskan lengan baju penuh ketidakacuhan dia segera melangkah tegas melewati Xiu Qixuan untuk memasuki pintu ruang baca.


••••••••••


Aroma dupa langka yang terasa menyegarkan untuk membantu menjernihkan pikiran hanya terdapat di ruang baca kekaisaran.


Walaupun aromanya menyerbak hangat nan menenangkan tetapi Xiu Qixuan yang berada di dalamnya malah merasakan ketidaknyamanan.


Xia Qian Che mengeluarkan tekanan berat yang membuat udara disekitarnya mengambang sesak. Entah apa yang sudah dia hadapi dalam pengadilan pagi ini membuat suasana hatinya begitu buruk.


Kepala Xiu Qixuan menunduk dengan tangan yang masih sibuk diatas batu tinta. Gadis itu sedang berpikir keras mengenai suatu hal. Pada saat wajahnya perlahan terangkat matanya tidak sengaja tertuju kearah satu lukisan yang menggantung tinggi.



"Nona Qi, apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Suaranya yang tajam menyembunyikan jejak keanehan.


Xiu Qixuan segera mengalihkan pandangan untuk sekilas menatapnya, "Hamba bodoh tidak mengerti maksud dari keinginan Yang Mulia Kaisar." Balasnya begitu tenang.


Alis Xia Qian Che berkedut samar menyembunyikan jejak kecurigaan yang perlahan mengambang tetapi dengan lihai ia menutupinya.


"Menteri Perpajakan dan Ekonomi Kekaisaran, Tuan Niao. Kau mengenalnya, kan?" Suaranya mengalir tenang tanpa tekanan ataupun tuntutan ancaman.


Tatapan Xiu Qixuan membeku diatas batu tinta dengan tangannya yang terkepal erat. Xia Qian Che, apa yang kau temukan?


Perlahan wajah cantik itu terangkat untuk menunjukan senyum yang masih sama menyenangkannya. "Saya hanya mengenali segelintir orang di dalam Kementerian." Ucapnya dengan ambigu. Tanggapannya begitu tepat untuk tidak mengakui ataupun membantah.


Sepotong rasa dingin melintas dimata Xia Qian Che, "Kamu begitu mirip dengannya, tetapi jelas juga begitu asing untukku." Ucapnya lirih dengan kilatan luka menatap lekat kearah gadis dihadapannya.


Xiu Qixuan tersenyum pahit dan tanpa sadar ia meloloskan hinaan, "Menyedihkan." Gumamnya.


Dalam rasa tertegun dengan sedikit mengernyitkan, Xia Qian Che menatapnya penuh selidik. "Apa maksudmu?" Suaranya seperti lapisan gletser yang begitu dingin dan turun perlahan-lahan dari atas lereng gunung.


"Yang Mulia, apakah saya mengatakan sesuatu yang salah? Sejak tadi saya terdiam untuk menjaga agar tidak menyinggung keagunganmu." Ucapnya lugas dan mengerjap polos. Layaknya tidak mengerti apapun, Xiu Qixuan begitu lihai untuk terlihat bodoh. Berpura-pura menjadi seekor babi untuk memakan harimau.


Xia Qian Che mengernyit penuh ketidaksukaan, bibirnya perlahan mengait keatas seperti ingin mengatakan sesuatu.


Tiba-tiba Xiu Qixuan beranjak berdiri dan berucap tenang, "Yang Mulia, biarkan saya meminta Kasim Cui agar membawakanmu teh untuk menjernihkan pikiran yang lelah." Suaranya lembut dan hangat penuh perhatian.


'Tuk..' Kuas yang dipegang oleh Xia Qian Che ditaruh dengan sembarang. sang Kaisar tersebut mendongak dengan tatapan yang berangsur-angsur mendingin dan suram.


"Lihat betapa beraninya kamu. Apakah Zhen sudah mengizinkanmu pergi?" Suaranya menyembunyikan jejak kemarahan yang tertekan.


Xiu Qixuan menundukan wajah, jari-jarinya yang terkepal erat dengan menarik napas panjang. Gadis itu berusaha menguraikan emosi batinnya yang sedang membara lelah.


Tanpa disadari olehnya, Xia Qian Che sudah berdiri dan perlahan berjalan mendekatinya. Keagungan itu meninggalkan jarak yang begitu tipis diantara mereka dengan menampilkan wajah angkuhnya yang begitu datar.


Lengannya terulur dan dengan kuat mencengkeram dagu runcing milik Xiu Qixuan. Dia menarik keatasnya untuk mendongak.


"Sekali lagi—, Biarkan Zhen melihat wajahmu sekali lagi!" Suaranya bergetar penuh emosi yang tak dapat dijelaskan. Tatapan matanya yang sayu penuh pancaran ketidaknyamanan.


"Ya—, Yang Mulia." Xiu Qixuan terlihat terkejut untuk menyembunyikan sedikit kecemasannya.



"Menteri Niao menemui Zhen pagi ini." Bibirnya yang mengait keatas perlahan mengalirkan suara berat namun dalam. Matanya tidak lolos untuk terus menatap lekat-lekat wajah Xiu Qixuan seolah tidak ingin melewati sedikitpun ekspresi yang terbentuk diwajah cantik itu.


"Dia mengumpulkan petisi agar Zhen menyelidiki kejanggalan aliran dana atas bencana alam beberapa tahun lalu di Kota Hu. Itu sudah berlalu dalam kurun waktu panjang walaupun memang terdapat korupsi pejabat pemerintahan tetapi bukti akan sulit untuk ditemukan." Suaranya yang begitu tenang menimbulkan sengatan kejutan dipihak lain.


"Jadi, Nona Qi.. Menurutmu darimana keberanian Menteri Niao berasal?" Lanjutnya dengan seringai aneh yang terbentuk.


Tubuh Xiu Qixuan sedikit bergetar, tidak yakin apakah itu karena angin yang berhembus dingin, atau karena jejak kejutan ini. Benar kata pepatah berada disebelah Kaisar sama saja dengan berada disebelah harimau yang sedang tertidur, kalau dia terbangun bersiaplah akan terkaman yang mematikan.


••••••••••••