Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kepergian & Kelengahan



Tuoba Lie tertegun dengan mata yang terbelalak tidak percaya saat melihat kecantikan itu mendekat, "Bagaimana mungkin? Kau—," Ia berucap dengan tergagap.


Suara tawa kecil mengalun indah seperti musik merdu diindra pendengaran. Dia kemudian berucap, "Pejabat Tuoba, kau juga meremehkanku."


Seolah membuat kesalahan dari ucapannya, gadis itu memasang wajah kekhawatiran yang terlihat kepalsuannya. "Oh, atau aku harus memanggilmu Tuwile?" Lanjutnya


Tuoba Lie tertawa terbahak-bahak, kemudian dia memasang seringai penuh nafsu menatap kecantikan itu, "Baik, sangat baik. Kau sungguh menggairahkan, bagaimana kalau menjadi wanitaku? Tinggalkan saja pria tidak berguna ini," Balasnya melirik Sima Junke yang meringkuk tak berdaya.


Senyuman diwajah gadis itu semakin dalam dan tersirat kesuraman, saat melihat keadaan menyedihkan Sima Junke. "Oh, maaf aku harus menolaknya. Jujur saja, aku lebih menyukai ikan muda dan segar, bukan kura-kura tua yang lamban." Ucapnya


Beberapa diantara pembunuh itu terlihat menahan senyum dan juga ke-ngerian saat mendengar ejekan yang dilontarkan seorang gadis kecil kepada majikannya.


Tuoba Lie menyurutkan senyum liciknya dan kembali mengenggam erat pedangnya, perkataan gadis ini memberikan perasaan buruk kepada Tuoba Lie dan mengandung panas yang terbakar. "Aku akan membuatmu melihat, pada akhirnya kau akan bertugas untuk mencuci kaki -ku." Geramnya


"Kalian kenapa diam saja?! Cepat bereskan j*l*ng kecil itu!" Teriak Tuoba Lie saat melihat para bawahannya hanya diam termenung.


Pada saat yang bersamaan Sima Junke membuka kedua kelopak matanya perlahan, dan berucap dengan ringkih. "Xuan'er, cepat pergilah." Dia mengetahui bahwa kemampuan para pembunuh ini sangat luar biasa ditambah jumlah mereka yang sangat banyak, semua yang bertarung sudah jatuh hanya menyisakan Xiu Qixuan yang berdiri kokoh.


Sima Junke tidak dapat menolong tetapi dia juga tidak dapat membiarkan gadisnya bertarung seorang diri.


Xiu Qixuan menatap dalam kearah Sima Junke dengan lembut tersenyum, berusaha menenangkan dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Gerakan para pembunuh itu cepat membentuk formasi lingkaran untuk mengepung Xiu Qixuan dari segala sisi.


Cahaya menyilaukan dari beberapa pantulan mata pedang dengan cahaya obor dan bulan diatas langit.


Xiu Qixuan memegang erat pedangnya dan mengedarkan pandangan dengan tajam menganalisa gerak dan kuantitas lawannya.


"Serang!" Teriak keras para pembunuh itu berlari cepat mengayunkan pedangnya untuk melumpuhkan gerak Xiu Qixuan dari berbagai sisi.


'Wushh..wushh..jleb..' Puluhan panah berbulu melesat menembus dada dari punggung belakang para pembunuh itu, tidak memberi ruang untuk mereka menghindar.


Ratusan prajurit berseragam militer Nanbao merengsek masuk dan mengayunkan pedang untuk menebas tubuh para pembunuh tanpa sedikitpun mengubah ekspresi. Mereka semua sangat terlatih untuk ini.


Pandangan Tuoba Lie bergetar hebat, bagaimana mungkin kemiliteran Nanbao tiba tepat waktu? dan siapa yang memperintahkan mereka tanpa otoritas yang jelas?


Sesosok pria paruh baya yang gagah muncul disamping Xiu Qixuan, dengan kehadirannya, Tuoba Lie sudah mendapatkan jawaban secara keseluruhan.


Petinggi Zhai, Zhai Dawai memiliki otoritas untuk menggunakan pasukan kemiliteran atas dasar status yang jelas. Itulah mengapa, yang membuat Nyonya tua selalu mewaspadainya.


Tuoba Lie tidak seceroboh itu membiarkan Zhai Dawai untuk tetap hidup. Rencana aslinya dengan menggunakan Zhai XinXin yang bodoh untuk menjatuhkan Zhai Dawai, dia sangat percaya diri mengira itu sudah berhasil.


Beberapa hari lalu Zhai XinXin kembali kedalam kediamannya, tentu saja itu membuat Tuoba Lie tidak mengerti mengapa Sima Junke tidak memenjarakannya.


Pada akhirnya Tuoba Lie harus mengambil tindakan sungguhan untuk melenyapkan Zhai XinXin kemudian mengkambing hitamkan Sima Junke agar Pejabat Zhai membalas dendam dan jatuh kedalam keterpurukan.


Tetapi siapa yang mengira setelah kepergian anaknya yang mendadak, Pejabat Zhai tidak mengambil tindakan dan malah menjauh dari pemerintahan karena dia begitu lemah dan jatuh sakit. Tuoba Lie, tidak berpikir banyak karena dia mengerti sifat Zhai Dawai begitu naif sama seperti putrinya.


Tubuh Tuoba Lie bergetar hebat saat melihat bawahannya satu persatu jatuh dengan tubuh menggelepar mengeluarkan darah kemudian menjadi kaku dan mati, Tuoba Lie tersedak oleh amarahnya sendiri karena dia selalu pintar dan berhati-hati sejak usia muda dan tidak pernah berada pada posisi yang kurang menguntungkan.


"J*l*ng kecil! Berani kamu melawanku!" Teriak Tuoba Lie dengan aura membunuh yang kental. Dia benar-benar marah sampai menggila.


Dengan gerak cepat Tuoba Lie maju untuk menebas leher Xiu Qixuan tetapi seseorang menghalanginya dengan pedang ringan yang melengkung.


"Pejabat Tuoba, bagaimana kejutan yang kuberikan padamu? Menarik, bukan?" Tanya Xiu Qixuan dengan tersenyum miring.


"Nona Zhai, harus merepotkanmu." Lanjut Xiu Qixuan dengan seringai tajam mengalihkan pandangannya melihat sosok gadis eksotis yang melukai Tuoba Lie.


Tuoba Lie tertegun dengan keringat dingin yang mengalir dipunggungnya dan juga darah yang merembes dari balik pakaian yang dia kenakan, bagaimana mungkin? Dia dengan jelas memperintahkan bawahannya untuk membunuh Zhai XinXin. Plot yang diciptakan Xiu Qixuan sangat cerdas untuk membuatnya lengah!


Kelengahan musuh adalah suatu hal yang harus diciptakan jika musuhmu terlalu kuat untuk ditangani, buat mereka melambung tinggi penuh kepercayaan diri agar mereka melepaskan kewaspadaan.


Tuoba Lie menginginkan dirinya sekarat, tentu saja dia akan memberikannya. Tuoba Lie menginginkan kematian Zhai XinXin, tentu saja mereka akan mempermudahnya. Tuoba Lie menginginkan kejatuhan Zhai Dawai, tentu saja mereka akan memberikan peluang. Tuoba Lie ingin menambah otoritas, tentu saja Xiu Qixuan akan membuat dirinya melambung penuh percaya diri.


Tuoba Lie tertawa terbahak-bahak penuh kepedihan untuk mengasihani dirinya sendiri, sangat lucu melihat dirinya dipermainkan oleh seorang gadis yang selalu berada dibalik pintu tertutup.


"Kau berani menggunakanku, aku harus membalasmu!" Teriak Zhai XinXin mengayunkan pedang penuh amarah karena dirinya menyimpan dendam mendalam kepada Tuoba Lie.


Seni beladiri Zhai XinXin tidak perlu diragukan lagi, dikalangan gadis Nanbao dia salah satu yang berada diperingkat teratas.


Xiu Qixuan memandang geli tindakan Zhai XinXin yang begitu agresif dengan menyilangkan lengan diatas dada untuk menonton, sepertinya dia tidak harus melakukan apapun lagi.


Zhai Dawai melangkah dengan cepat untuk menolong Nyonya tua yang meringkuk memeluk Tuan tua yang terbujur kaku. Sedangkan, Aisin Tianyi dan Kangjian dibantu oleh Du Hui yang tiba dari kamp militer.


Tontonan ini tidak begitu menarik hanya melihat serangan seperti tangkisan dan pukulan. Tidak ada gerakan mematikan yang membuat Xiu Qixuan mendengus.


Xiu Qixuan melangkah tenang untuk menghampiri Sima Junke yang terbaring menyedihkan terlumur oleh darah.


Ketika Xiu Qixuan melewati Tuoba Lie dan Zhai XinXin yang sedang bertempur, dengan sengaja Xiu Qixuan menerbangkan Jìshēng jí kedalam luka menganga yang diderita Tuoba Lie. Gerakannya sangat cepat dan akurat, tidak ada yang menyadari itu.


Biarkan kura-kura tua dan lamban ini merasakan senjata rahasia yang dia ciptakan sendiri!


Kemudian sosok mungilnya, berjalan tenang dan anggun seperti burung kenari yang tertiup angin.


Dia berjongkok dan membawa Sima Junke kedalam pangkuannya dan mendekapnya perlahan, rasa sakit dan gelombang tidak nyaman di matanya bisa terlihat jelas saat mengetahui pria dipangkuannya menderita banyak luka menganga dan terlumur oleh darah.



"A Jun," Panggilnya dengan lembut tetapi menyiratkan kesedihan.


Sima Junke mengerjapkan kelopak matanya, wajahnya pucat karena luka menganga dipunggungnya terus mengeluarkan banyak darah.


Dengan gemetar Sima Junke perlahan mengulurkan lengannya untuk meraih wajah Xiu Qixuan, "Tidak boleh lagi... Membahayakan dirimu," Ucapnya tersendat.


Xiu Qixuan menangkup lengan yang berlumuran darah itu dan menggelengkan wajah dengan mata yang berkaca-kaca tersenyum lembut, "Tidak akan," Jawabnya.


Sima Junke hampir kehilangan kesadaran tetapi dia menggertakan gigi dengan kukuh berusaha bertahan, "Kakek—, dia..." Napas Sima Junke semakin tersendat membuat Xiu Qixuan perlahan meneteskan airmata dengan panik mengalirkan sedikit demi sedikit aura kehidupannya.


Pada saat ini, hati Xiu Qixuan hampir tenggelam ke dalam jurang maut. Merasakan segala bentuk kepahitan hati saat melihat keadaan menyedihkan Sima Junke, dan juga kepedihan yang tak terdeskripsikan untuk menjelaskan keadaan Sima Hong sang kakek.


Kakek yang memiliki hati hangat dan penuh perhatian itu sudah pergi, memotong semua garis retret untuk menyelamatkan sang istri dari bahaya.


Meninggalkan kedukaan bagi semua orang yang mencintainya, meninggalkan sepasang domba yang dirawat penuh kasih dihari tuanya, meninggalkan cintanya dan berjanji untuk bertemu kembali dikehidupan selanjutnya.


••••••••••••••••