
Xiu Qixuan terus merancau dengan tidak jelas, dia benar-benar mabuk, kulitnya yang seperti batu giok memerah.
Mulutnya mengeluarkan cegukan yang cukup parah kemudian saat sudah mencapai batas, dia terbatuk-batuk dengan mengeluarkan muntahan.
Uhuk..
Bai Weiwei yang dengan sigap beranjak memijat leher belakang Xiu Qixuan untuk membantu gadis itu agar sedikit merasa nyaman.
"Baik, sudah cukup. Sekarang waktunya kembali untuk beristirahat." kata Bai Weiwei dengan berkedip tegas.
Sinar bulan yang menggantung tinggi seperti kain kasa perak yang menyelimuti kuil di puncak gunung. Ini menandakan hari sudah cukup larut.
Bai Weiwei menyampirkan tangan kanan Xiu Qixuan diatas bahunya, ia memapah gadis itu dengan wajah berkedut penuh usaha.
Xiu Qixuan yang sudah mati lemas dan hampir tidak sadarkan diri itu—hanya merancau pelan membiarkan Bai Weiwei yang bertubuh lebih kecil kepayahan menahan bobot tubuhnya.
"Ugh, mengapa kamu begitu berat dengan tubuh yang ramping begini?" Bai Weiwei sedikit menggerutu dengan keringat juga napas yang pendek lelah.
Ketika dia selesai mengatakan itu, suara langkah kaki berat milik seorang pria terdengar dari arah ujung pintu masuk taman.
Dalam kegelapan yang samar dengan cahaya lentera yang menggantung di beberapa sudut ranting pepohonan.
Bai Weiwei dapat melihat sosok Xiu Huanran yang berjalan cepat hampir setengah berlari menuju kearahnya.
Tepatnya kearah Xiu Qixuan, sang adik.
"... Kau mabuk!" Xiu Huanran berseru cemas dengan tangannya terulur lembut merapihkan helai rambut Xiu Qixuan yang menjuntai berantakan.
Xiu Qixuan yang setengah sadar masih dapat mendengar suara Xiu Huanran. Tapi, wajahnya berkedut tidak suka.
Hwik...
Dia menepis kasar lengan Xiu Huanran yang berada di wajahnya.
"Bukan,—eug, urusanmu." dengusnya dengan suara cegukan.
Wajah Xiu Huanran mengeras, dia yang sejak tadi bersabar berusaha menahan diri atas tingkah emosional Xiu Qixuan.
"Ekhm, permisi tuan."
Bai Weiwei yang tanpa sengaja tidak dia sadari keberadaannya itu berdeham nyaring dengan kerutan kekesalan.
"Ah.. maafkan saya yang tidak menyadari keberadaan anda, Nona Bai." Xiu Huanran berkata formal dengan tersenyum simpul. "Itu pasti berat untukmu." Dia bergumam dengan mata mengerjap polos melirik kearah Bai Weiwei yang sedang kesulitan menahan beban tubuh Xiu Qixuan.
Mendengar perkataannya, Bai Weiwei memelotot tajam.
Mulut Xiu Huanran berkedut. Kemudian ia terfokus kembali pada Xiu Qixuan. "Nah, gadis nakal. Cepat kemari! Kau membuat Nona Bai kesulitan dengan tingkahmu." kedua kakinya melangkah lebih dekat dengan tangan kokohnya yang terulur menarik tubuh Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan memberontak untuk melepaskan diri seolah Xiu Huanran adalah seorang musuh. "Lepaskan! aku ingin pulang..." rancaunya.
"Baiklah, ayo pulang." Xiu Huanran menanggapi dengan lembut, lengannya begitu cepat bergerak membopong tubuh Xiu Qixuan. Tiba-tiba,
Bug..
Xiu Qixuan dengan sekuat tenaga membenturkan dahinya dengan dahi Xiu Huanran sampai itu terasa memerah sakit.
"Urgh... kau gila, ya!" Xiu Huanran berteriak marah karena merasakan pening yang tiba-tiba membuat tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan.
Apalagi kedua tangan Xiu Huanran masih dalam posisi membopong tubuh Xiu Qixuan yang ternyata pingsan akibat ulahnya sendiri.
Sruk..
Jari-jari Bai Weiwei mencengkeram erat lengan bagian atas Xiu Huanran, berusaha menahan tubuh pria itu yang hampir kehilangan keseimbangan.
"Anda tidak apa-apa, tuan?" Bai Weiwei bertanya dengan suaranya yang jernih.
Xiu Huanran menoleh dan menatapnya. Ini begitu dekat. Xiu Huanran dapat melihat sepasang mata bulat cemerlang yang mengerjap halus di bawahnya, dia tiba-tiba kehilangan suara untuk berkata-kata.
"Tuan?" Suara Bai Weiwei kembali terdengar. "Hoh, apakah begitu sakit? Dahi anda memerah, itu akan membengkak di kemudian hari." Bai Weiwei menatap kearah luka benturan tersebut.
•••••••••••••••••
Keesokan Harinya...
Aroma harum masakan yang membuat perut merasa lapar, tercium dari arah bangunan dapur belakang.
Pagi hari ini di musim semi begitu cerah, langit biru menawan dengan membawa embun kabut pagi yang melayang-layang.
Bai Weiwei sedang memindahkan hasil tumisannya kedalam mangkuk besar untuk sarapan di pagi hari dengan hati ringan. Tapi, itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba gangguan datang.
"Nona Bai, apakah kau melihat adikku?" Xiu Huanran bertanya gelisah dengan tergesa. Pria itu berjalan dari ambang pintu dapur.
Bai Weiwei menolehkan wajah tenang. "Nona Xiu sudah pergi dini hari tadi."
"Apa?!" Xiu Huanran berteriak kaget. "Kemana dia pergi?" geramnya.
Bai Weiwei balas menjawab dangkal. "Nona Xiu berkata akan bersenang-senang sejenak dalam perjalanan dan kemudian kembali ke Kota Ping'an."
"Gadis itu benar-benar bertindak sesuka hati!" Wajah Xiu Huanran membentuk bayangan suram. "Terimakasih sudah memberitahuku, Nona Bai. Aku harus menyusul adikku." Ia segera berbalik bergegas untuk pergi.
"Tunggu sebentar, tuan!" Bai Weiwei berkata dengan nada keras menahan langkahnya. "Nona Xiu menitipkan surat." jari-jari halus Bai Weiwei terulur memberikan selembar surat yang tak terbungkus amplop.
Xiu Huanran menatap lembaran kertas tersebut dengan kerutan tidak senang seolah-olah dia dapat menebak isinya. Tapi, pria itu tetap menerima dan membacanya.
^^^[Er'ge -ku tersayang, Xiu Huanran.^^^
^^^Aku baik-baik saja. Kemarin hanya sedikit terkejut, 'mungkin?^^^
^^^Dasar kamu badebah penguping, penguntit. Pasti sudah mendengar keseluruhan mengenai-ku. mengenai ibumu. mengenai itu semua.^^^
^^^Bagaimana terkejut, bukan? Masa aku yang hebat begini benar-benar adik kandungmu.^^^
^^^Aiyaa, adik perempuanmu ini ingin meminta bantuanmu. Tolong menjadi perwakilanku, berdiam dan renungkanlah dirimu di kuil.^^^
^^^Memakan sayuran tanpa daging, berdoa dan menyalin kitab sutra.^^^
^^^Aku yakin Er'ge -ku pasti bisa melakukannya, kan. Aku pergi duluan bukan karena tidak ingin menemuimu, loh.^^^
^^^Hanya saja kata Weiwei, pengunjung kuil harus tinggal selama beberapa hari dalam keadaan menyucikan diri seperti itu untuk menghormati sang dewi, —tanpa terkecuali.^^^
^^^Tentu kamu mengerti bahwa aku tidak bisa. Lagipula, aku tidak ingin menghormati -Nya. Jadi sampai bertemu di Kota Ping'an saat musim panas tiba.^^^
^^^Bersenang-senanglah tanpaku. Aku juga akan bersenang-senang tanpamu.^^^
^^^Dari adik perempuanmu yang hebat, Xiu Qixuan.]^^^
Xiu Huanran meremas lembaran kertas tersebut sampai tak terbentuk. Wajahnya kaku dengan muram yang dangkal.
Dari pilihan kata-katanya, Xiu Qixuan sepertinya sudah dalam keadaan lebih baik. Mungkin dia sudah bisa menerima sebuah kebenaran yang menyakitkan untuk di ketahui.
Tapi, yang menjengkelkan disini adalah...
"Dia kabur sendirian?" kenapa tidak sekalian mengajakku, Xiu Huanran menggerutu dalam hati yang meringis.
Bai Weiwei berkata dengan lugas; "Sebelum pergi—Nona Xiu menemui Guru Biyan terlebih dahulu. Mereka berbicara beberapa hal. Guru Biyan memperbolehkannya pergi."
Dia menatap serius kearah Xiu Huanran. "Tapi, aturan tetaplah aturan yang harus dijalani. Kalian pengunjung yang harus datang menyucikan diri. Jadi, dia mengirimmu sebagai perwakilan keluarga."
Mata Bai Weiwei tiba-tiba berkilat penuh binar cemerlang yang aneh, ia menyeringai; "Maka dari itu, Tuan harus cepat bergegas karena Anda harus membuat salinan untuk dua orang."
Xiu Huanran dapat merasakan dadanya tersedak oleh kejutan. Matanya memelotot. Bibirnya berkedut. Xuan'er sungguh kejam—aku harus melarikan diri, benaknya tertekan.
•••••••••••••••••••