Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Semak-belukar Anjing dan Kucing!



"Nona ketiga tampaknya sangat memperhatikan banyak hal...." Suara Xiu Qixuan sedikit rendah, dia melengkungkan alisnya dan ketajaman yang sinis mengalir dari matanya.


Xiu Qixuan adalah orang egois yang keras kepala. Dia tidak senang jika seseorang mulai mengintrogasi-nya, seolah-olah dia adalah wanita penjahat yang penuh dengan intrik.


Tangan Xiu Qixuan yang sedang memasukan ikan dan bumbu dapur itu sejenak berhenti bergerak kala dia menoleh menatap lurus pada sosok Yao Anran yang masih membawa jejak pengawasan. "Aku hanya ingin menghiburmu. Bukankah kau sudah bekerja keras di balai pengobatan selama beberapa hari ini? Bagaimana perkembangan dengan Pangeran Ketujuh?" Ujarnya.


Dengan sengaja menggunakan kalimat ambigu, Ia menyinggung Yao Anran.


Duan Maiqiu dan Su Yiyang hanya terdiam membiarkan mereka berbicara.


Mendengar kata-kata tersebut, dalam rasa samar wajah Yao Anran berkedut memanas, gadis ini tiba-tiba memalingkan wajahnya kearah lain, seperti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Dia berbicara dengan gugup: "Aku baik-baik saja, balai pengobatan tidak terlalu buruk."


Meruncingkan mata, seringai muncul dari sudut bibir Xiu Qixuan kala pikirannya dipenuhi oleh imajinasi liar.


Berjalan mendekati sisi Yao Anran dan terduduk di sebelahnya, Xiu Qixuan perlahan menangkup kedua tangan gadis itu dalam genggaman hangatnya. "Anran." Panggilnya.


"Hng?" Pandangan Yao Anran seketika terangkat menatapnya, bingung.


"Kamu tidak percaya padaku, kan?" Dengan gerakan minimalis, dia bertanya begitu ringan. "Itu bagus ketika kamu begitu teliti. Tapi, Anran..." Ada sedikit jeda samar ketika Xiu Qixuan melanjutkan dengan tegas, "Aku tidak akan pernah merugikanmu."


Yao Anran tertegun.


Xiu Qixuan tidak meminta dia untuk percaya. Alih-alih mengatakan seperti 'Aku tidak memiliki niat apapun padamu.' Kalimat yang di lontarkan gadis ini malah seperti sedang mempertegas bahwa dia menggunakannya untuk tujuan tertentu.


Memasang senyuman lembut, seolah-olah tidak ada yang terjadi, Xiu Qixuan kembali beranjak. Dengan begitu santai, Ia merenggangkan tubuhnya dan mendongakkan kepala menatap kearah langit sembari berkata: "Ah, beruntung cuaca begitu cerah. Bagaimana kalau kita membakar ikan yang masih tersisa?" Ujarnya pada Su Yiyang dan Duan Maiqiu yang tampak bersemangat.


"Ide bagus. Aku akan mengambil kayu untuk ikannya." Melompat antusias, Su Yiyang mengajukan diri untuk mengumpulkan ranting kayu panjang yang akan di gunakan untuk menusuk ikan. Dia berlari dengan cepat.


"Jangan berkeliaran terlalu jauh! Nanti kau bertemu harimau!" Teriak Xiu Qixuan keras pada punggung Su Yiyang yang berlari menjauh. Dia mengingatkan dengan ancaman tajam layaknya seorang ibu pada anaknya.


Tentu saja, itu hanya menakuti-nakuti Su Yiyang. Tidak terdapat harimau di hutan kaki gunung, apalagi wilayah ini masih termasuk kedalam istana kekaisaran yang di jaga ketat pelestarian dan keamanannya.


Sekilas mata Xiu Qixuan tampak sedikit terkulai sendu ketika memandang langit, namun tidak ada seorang pun yang menyadari itu. Dia seolah sedang mengadu pada Dewi yang tidak pernah mendengarkan kelelahannya.


Acara keluar larut malam untuk memasak ikan ini dia buat untuk satu tujuan tertentu. Ini adalah suatu trik kecil untuk mengetahui kebenaran dari seseorang terdekat yang dia curigai. Dan, kalian akan segera mengetahui semua penjelasaan ini nanti.


•••••••••••••••••••••••


"Kai, apa kau ingin kembali sekarang? Ini memang sudah terlalu larut."


Sosok yang berada di atas kursi roda tersebut bergerak untuk mendekati si pirang norak—Shen Kaicheng yang sedang bersandar malas di daun pintu.


Perawakan di atas kursi roda itu kurus namun terlihat gagah dengan bahunya yang lebar, dia memiliki wajah pucat yang indah. Rahangnya tegas dengan bibir tebal dan lengkungan mata cekung yang tajam, dari semua sudut, dia seperti ukiran patung giok yang di poles dengan presisi dan penguasaan yang cermat. Dia adalah Shen Minwei, Pangeran Pertama Kekaisaran Shen.


"Engh, kakak kekaisaran. Aku harus segera kembali. Meskipun sudah tampak sangat berhati-hati, tapi pengawasan untukku tidak akan pernah bisa lepas, 'kan."


Suara Shen Kaicheng yang biasanya terdengar penuh godaan menyebalkan itu tidak dapat dikenali sekarang. Karena pada saat ini, suara pria pirang tersebut terdengar lebih normal ketika dia menjawab pertanyaan yang di lontarkan sosok berkursi roda yang merupakan kakak beda ibunya.


Tersenyum tipis, Shen Minwei segera menggerakkan kaki kursi rodanya untuk mengantar Shen Kaicheng sampai depan teras pavillun tempat tinggalnya. "Baiklah, sampai di sini. Jaga dirimu, Kai!" Ujarnya.


"Ya, mohon tetap sehat kakak." Shen Kaicheng membalas dengan tulus.


•••••••••••••••••••••


Dalam kegelapan yang hanya berisi siulan angin dan gemerisik pepohonan, Shen Kaicheng berjalan melangkah kakinya untuk menuruni gunung secara perlahan tanpa menimbulkan banyak suara.


Srek...Srek...


Namun, tiba-tiba langkah kaki Shen Kaicheng terhenti. Ketika tubuhnya menegang, bulu kuduknya terasa merinding dingin kala mendengar suara seseorang bersenandung di balik semak-belukar.


Penasaran pada asal suara tersebut. Shen Kaicheng berjalan mendekat, jari-jemarinya perlahan terulur membuka semak-belukar yang berada di depannya.


"Ikan bakar, daging panggang, bebek goreng. Kunyah, kunyah, kunyah~~"


Itu adalah Su Yiyang yang sedang membungkuk mengambil beberapa ranting panjang yang bisa dijadikan tusukan untuk mengelola ikan bakar. Dia bersenandung dengan mengarang bodoh.


"Kyaa..."


Ketika Su Yiyang mendongak, matanya seketika membelalak, ia sedikit berteriak.


Betapa terkejutnya dia kala melihat sosok pirang yang berdiri dengan menampilkan wajah menyebalkan.


Dengan reflek, kedua kaki Su Yiyang bergerak mundur untuk menjauh. Dia tidak menyadari terdapat lubang tanah berukuran kecil dengan kubangan lumpur di belakang sana.


Splash...


Suara cipratan air bergema samar kala kaki kanan Su Yiyang yang terbalut sepatu bot sudah menginjak genangan air berlumpur. Itu begitu licin ketika dia perlahan kehilangan keseimbangan tubuhnya.


"Eh, eh.." Jari-jemari tangannya semakin erat untuk memeluk ranting kayu yang sudah susah payah dia kumpulkan tersebut, Su Yiyang berusaha mendapatkan kembali keseimbangan tubuhnya yang goyah.


Greb...


Saat hampir benar-benar terjatuh, tangan besar yang terawat halus segera menarik pinggangnya.


Dia merasa tubuhnya berputar dan kedua kakinya tak menapak di tanah selama beberapa saat. Sebelum orang yang memiliki tangan yang terawat halus tersebut menurunkan tubuhnya untuk berdiri di tempat yang kering dan datar.


Su Yiyang membuka mulutnya, dia ternganga dengan kelambatan untuk mencerna apa yang terjadi.


Bukk....


Tiba-tiba, Su Yiyang dengan reflek meninju lengan Shen Kaicheng yang sudah menolongnya. Dia mundur untuk menjauhi pria itu, wajahnya memasang jejak kewaspadaan seolah-olah dia menatap seorang penjahat mesum.


"Mengapa kau memukulku?!" Ringis Shen Kaicheng dengan sentakan keras, tak terima.


"Hmph, Anda hanya terlalu tidak sopan!" Su Yiyang mendengus tajam, tak mau kalah.


"Kau sangat tidak masuk akal! Aku hanya menyelamatkanmu! Jika aku tidak menangkapmu, kau akan terjatuh kemudian tergores dan wajahmu akan semakin jelek tahu." Shen Kaicheng melontarkan kalimat ketus yang menyebalkan dengan cemoohan khasnya.


Sungguh mereka seperti anjing dan kucing di dalam semak-belukar hutan!


•••••••••••••••••