Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kemurkaan & Ketakutan



Tubuh mungil yang bergetar itu semakin meringsut dengan cara menekuk kedua kakinya kemudian dia menenggelamkan wajahnya disana.


Terlihat jelas bahwa gadis itu sedang berusaha untuk mendapatkan kembali ketenangannya.


Tiba-tiba suara ketukan pintu dari arah luar kamar penginapan terdengar dan sebuah suara pria yang sangat familiar mengalun, "Xuan'er, aku membawakan cemilan yang kau inginkan." Ucapnya


Seperti jangkrik yang mendapatkan pencerahan kembali, Xiu Qixuan mendongakkan wajah cantiknya yang terlihat berantakan.


Perlahan airmata yang sebelumnya tertahan mengalir deras, dia terisak pelan dan berucap, "A Jun... Tolong aku,"


Sima Junke yang berada diambang pintu luar, samar-samar mendengar isakan tangis menyebabkan kekhawatiran terlintas cepat dibenaknya.


"Xuan'er, kau baik-baik saja?!" Teriaknya dengan suara gedoran pintu yang semakin kencang.


Xiu Qixuan menggelengkan wajah walaupun dia mengetahui bahwa Sima Junke tidak akan melihat. Dia ingin menjawab tetapi isakan tangis ini begitu mengganggu indra suaranya.


Tidak mendapatkan jawaban, membuat kekhawatiran berubah menjadi kepanikan.


'Brakk.. Prang...' Sima Junke menendang pintu kayu itu untuk memaksa masuk, betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan di dalam kamar itu sangat kacau, saking terkejutnya piring yang berisi kue kering digenggamannya jatuh berserakan kelantai.


'Deg,' Sima Junke dapat merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak kemudian tiba-tiba mempompa lebih kencang.


Dia tercekat saat melihat keadaan Xiu Qixuan yang meringkuk menatapnya dengan menyedihkan diatas ranjang dalam kondisi dan pakaian yang berantakan nyaris tidak karuan.


Mata setajam elang itu hanya terkunci pada mata indah gadis cantik yang dihias embun kesedihan bak sebuah bunga plum dimusim dingin.


Langkahnya tergesa menghampiri gadis cantik itu, dia kemudian menepatkan dirinya dihadapan sang gadis. "Ada apa? Siapa yang berani menyakitimu?!" Teriaknya penuh amarah saat kedua matanya secara tidak sengaja melihat banyak noda darah ditubuh gadis itu.


Isakan yang tertahan perlahan lolos keluar dari mulut Xiu Qixuan, dia menunjuk kearah mayat pria yang tergeletak diatas lantai dengan tangannya yang masih gemetar.


Sima Junke ikut mengarahkan pandangannya, pria itu perlahan mengerti.


Dengan seketika aura membunuh menguar begitu kental dari tubuh Sima Junke, urat kekesalan, murka dan amarah terlihat muncul dari dalam nadi dan kulitnya.


Xiu Qixuan mengetahui itu, kondisinya sudah lebih tenang dengan menangis untuk meluapkan emosi.


'Dug,' Dia memukul bahu Sima Junke dengan keras dan berucap penuh cibiran masih di dalam isak tangisnya, "Sangat lambat,"


Sima Junke memalingkan wajahnya, ekspresinya sangat suram saat menatap Xiu Qixuan. Perlahan dia membuka jubah hitam yang dikenakannya dan menyampirkan ketubuh Xiu Qixuan.


'Hap,' Dia meraih tubuh Xiu Qixuan menggendong dengan penuh kehati-hati an melangkah menuju kamar miliknya.


Xiu Qixuan tidak menolak dan malah melingkarkan kedua lengannya dileher Sima Junke.


Kemudian mereka memasuki kamar yang letaknya berada tepat disebelah kamar Xiu Qixuan, dengan penuh kelembutan Sima Junke meletakan tubuh Xiu Qixuan diatas ranjang.


Pria itu juga mendudukan dirinya diatas ranjang dan menatap dalam wajah Xiu Qixuan seakan berusaha menelusuri setiap lekuk wajah cantik itu.


Xiu Qixuan balas menatapnya, isakan tangis gadis itu sudah berhenti sejak berada dalam dekapan Sima Junke.


Mata mereka saling terkunci dan keadaan disekitar hening.


Sebelum akhirnya Sima Junke perlahan mengulurkan telapak tangannya untuk mengelus lembut pipi bulat Xiu Qixuan.


Garis itu seketika memecahkan keheningan. Xiu Qixuan dengan gelisah langsung menggengam tangan Sima Junke yang berada diatas pipinya.


Wajah gadis itu menyiratkan kegelisahan, dia menggelengkan wajah berusaha menahan Sima Junke agar tidak pergi meninggalkannya seorang diri didalam penginapan ini.


Demi langit Xiu Qixuan menyesal meminta untuk bermalam dipenginapan. Dia lebih baik kelelahan diatas pelana kuda daripada terkejut karena hampir dilecehkan.


"Sudah tidak apa. Bukankah, tidak ada orang yang bisa melukai atau menyentuh seorang Qixuan yang tangguh?" Ucap Sima Junke berusaha untuk menenangkan.


"Kau tidak ingin membalas dendam? Aku akan mewakilimu untuk membalas orang itu," Lanjut Sima Junke dengan sangat suram.


Xiu Qixuan tersentak seperti sudah mengingat sesuatu hal lain senyum tipis langsung terpasang diwajah cantiknya kemudian dengan suara rendah dia berucap, "Tapi orang itu sudah mati, aku sudah membunuhnya." dengan tajam dan suram.


"Kalau begitu aku akan membereskan sisanya untukmu," Balas Sima Junke memberi pengertian.


Genggaman tangan Xiu Qixuan mengendur dan terlepas, dia mengangguk dan tersenyum lebar setelah menarik napas panjang yang melegakan.


Perubahannya terjadi begitu cepat, dia selalu saja membuat orang lain terheran dengan tingkahnya.


"Pergilah, jangan terlalu lama. Dan tolong panggilkan pelayan wanita untuk membantuku membersihkan tubuh, darah kotor ini sangat menjijikan." Ucap Xiu Qixuan dengan ringan.


Sima Junke mengangguk mengiyakan, dia seperti sudah mengerti bahwa seorang Xiu Qixuan adalah langka yang tidak menyukai berada terlalu lama dalam kondisi menyedihkan dan terpuruk. Gadis ini akan sangat cepat berubah dengan pikiran dan kesimpulan nyeleneh didalam otak kecilnya.


••••••••••••••


Matahari berusaha menyembulkan sinarnya dari balik tirai yang menjuntai di jendela kamar.


Terlihat sepasang kekasih dalam posisi berpelukan diatas ranjang. Sang gadis terlihat begitu pulas tertidur didalam dekapan hangat sang pria.


Tubuh mungilnya bergerak pelan dan semakin meringsut kedalam pelukan sang pria.


Pria itu memiliki postur wajah tampan dengan hidung tinggi, alis tebal yang melengkung tajam, dan juga bibir tipis dengan rona merah.


Perlahan bulu mata yang menjuntai lentik itu terangkat memperlihatkan mata tajamnya, dia terusik dari tidurnya.


Melihat gadis di dalam dekapannya, dia tersenyum manis dan sesekali dia menyesap aroma harum mawar yang menguar dari rambut panjang gadis ini.


Kemudian sebuah hal terlintas dalam pikirannya yang membuatnya termenung dengan posisi yang masih mendekap sang gadis.



Sima Junke sudah membereskan hal kacau yang terjadi dimalam hari kemarin, dia dengan cekatan membuat pemilik penginapan tak berkutit saat melihat plakat keanggotaannya diwilayah Nanbao.


Pemilik penginapan itu sengaja membiarkan para bandit yang terkenal handal dalam mencuri bunga ataupun harta untuk bertindak seenaknya karena pemilik penginapan ini tidak dapat melawan. Bukankah begitu bodoh saat membiarkan orang asing menindasmu di dalam wilayahmu sendiri?


Para bandit itu diam-diam kabur saat melihat mayat temannya digantung oleh Sima Junke di depan pagar penginapan sebagai peringatan. Pria itu begitu murka, tidak membiarkan siapapun menghentikan tindakannya yang memang sewenang-wenang.


Saat sudah menyelesaikan semua hal itu, dia kembali dan melihat Xiu Qixuan yang tertidur dengan wajah tenang diatas ranjangnya.


Setelah membersihkan diri, Sima Junke dengan perlahan ikut naik keatas ranjang dan mendekap tubuh Xiu Qixuan dengan erat. Dia tidak perduli lagi tentang etiket ataupun kelayakan, saat ini tidak ada yang dapat menghentikan tindakannya, karena jujur saja—ketakutan akan kehilangan seseorang yang dicintainya lagi begitu besar.


••••••••••••