Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Minyak Dalam Air!



Ruangan bernuasa gelap terlihat begitu suram dengan udara dingin yang membalut sekitarnya. Ini begitu kontras dengan sosok berambut perak yang terlihat seperti pahatan patung giok yang berkilauan. Dia terduduk malas dengan pancaran arogan di atas bantalan singgahsana.


Ban Xia, sang bawahan, membuka mulutnya untuk mengeluarkan keluhan.


"Saya pikir ini akan memakan waktu lebih lama. Mengapa anda tidak bisa menahan diri?! Rui Jizhang terbunuh dan kami tidak memiliki lebih banyak petunjuk terkait keberadaan belati tersebut."


Ban Xia mengucapkan kata-katanya sesuka hati, tanpa ragu-ragu.


Sepasang mata tajam yang berkilat merah menatap kearah Ban Xia yang mengoceh. Dia menjauhkan topeng tengkorak hitam yang sebelumnya menutupi setengah bagian wajahnya.



"Apakah kau sedang berusaha mendikte -ku sekarang?" Suaranya dingin memukul gendang telinga.


Perubahan suasana hati sang tuan sama asingnya dengan air dan minyak, tidak dapat di mengerti. Ban Xia yang sudah lama berada disisinya itu cukup terampil, dia merasa seperti sedang melayani dua orang berbeda secara bersamaan.


Percakapan ini berakhir dengan sengatan.


"Tidak. Anda tentu mengerti maksud dari kelancangan saya ini. Kalau begitu saya pamit untuk mengurus hal lain yang tertinggal."


Mata Ban Xia terpejam ketika dia menghela napas kasar, sebelum pergi dia mengucapkan sepatah kata.


"Dan, saya akan ke Istana untuk mengawasi Shen Zhenning dari dekat."


"Ya bagus, pergilah. Awasi bajingan tua itu!"


Dengan kata-kata tersebut, pintu tertutup. Keheningan langsung menyapa kekosongan ruangan.


Prang...


Angin kencang tiba-tiba berkumpul mengirim barang-barang yang menggantung terbang tanpa tujuan.


"Sialan!!"


Kedua bola mata itu berubah menjadi semerah darah yang pekat. Kuku jari tangannya memanjang berwarna hitam mengerikan seperti cakar yang dapat membunuh dalam sekali cengkeraman. Beberapa helai bagian rambut peraknya berubah gelap.


"Kenapa sih bodoh itu bisa bangun?! Padahal aku sudah membuatnya tidur lelap." Suaranya dipenuhi dengan kemarahan dan rasa jijik yang mendalam.


Rencana yang dia buat menjadi berantakan. Seharusnya tujuan awal mereka adalah membawa Rui Jizhang dalam keadaan hidup. Bukan malah membunuh dengan memberi kutukan.


Shen Yuan Zi, itu adalah sosok yang berbeda di dalam dirinya, dia manusia, sedangkan Mozi adalah sisi lainnya yang tercemar oleh tetes darah Raja Yama.


Mereka orang yang sama. Namun, sepenuhnya berbeda. Kontras seperti minyak dalam air. Berbenturan tapi menjadi satu.


Shen Yuan Zi selalu tertidur dalam dirinya secara sukarela. Namun, tiba-tiba dia terbangun dan menganggu misi penting.


Belati yang mereka cari tersebut memiliki kekuatan yang luar biasa. Itu satu-satunya kunci untuk membuka seluruh gerbang malapetaka yang berada di Daratan Ca Li untuk di lalui pasukan kegelapan.


Bintang Asura. Hanya organisasi manusia putus asa yang memiliki latihan menggunakan aura iblis. Membuka gerbang malapetaka membutuhkan banyak kekuatan besar. Mereka baru bisa membuka celah kecil di bagian timur. Dan, sejak awal tujuan utama Mozi adalah mendapatkan belati tercuri tersebut.


Namun kali ini dia gagal, Dan di gagalkan bukan oleh orang lain yang bisa dia bunuh.


Shen Yuan Zi, sosok manusia yang berada di dalam dirinya itu tidak pernah berbicara apa pun sebelumnya. Sih bodoh itu tidak memiliki keinginan untuk menjalani hidup. Tetapi, tiba-tiba dia malah bangun se-persekian detik menghilangkan kunci yaitu Rui Jizhang yang berada tepat di depan mata.


Mozi dapat merasakan keanehannya sejak bertemu gadis menjengkelkan itu empat tahun lalu di danau dalam hutan Kota Lian. Maka dari itu, dia menahan Shen Yuan Zi untuk tetap tertidur lelap. Ada celah yang tidak dia mengerti, membuat dia tidak berhasil sepenuhnya mengendalikan Shen Yuan Zi.


•••••••••••••••••••


Gerbang Utama Kota Ping'an.


Setelah beberapa saat, kereta kuda yang di naiki oleh Xiu Qixuan keluar dari gerbang kota. Begitu selusin gerbong melintas untuk menuju jalur beraspal di tengah hutan.


Tiba-tiba, suara Xiao Taoli terdengar keras dari arah pengemudi. "Nona Besar, kita kedatangan seseorang." Laju roda kereta perlahan-lahan melambat.


Xiu Qixuan membuka tirai, dari ujung penglihatannya ke pintu masuk jalur hutan. Ada sebuah rombongan konvoi kecil yang terdiri kurang dari sepuluh orang.


Begitu kereta Xiu Qixuan mendekat, seorang pemuda berusia dua puluhan mendekati dengan kuda dan berteriak; "Xiu Qixuan, turun sekarang!"


"Tuan Muda Kedua, sepertinya ini tidak pantas. Kami bersama rombongan utusan Istana sekarang." Xiao Taoli berkata untuk menghentikan dengan suaranya terdengar mengingatkan.


Wajah kecil Xiu Qixuan membentuk ringisan ketika tahu siapa yang datang. Dia melirik Xiao Rou seolah-olah meminta bantuan. Tapi Xiao Rou hanya memasang raut polos, tidak mengerti.


Dari balik celah tirai yang berhembus terbuka, Xiu Qixuan dapat sekilas melihat Xiao Rou sedang berbicara dengan Xiu Huanran yang sudah memasang tampang jelek.


Xiu Qixuan tanpa sadar terkekeh kecil, ia seperti dapat melihat bara api keluar dari tubuh Xiu Huanran yang sedang kesal.


Entah apa yang dikatakan Xiao Rou itu sama persis dengan ucapannya atau tidak.


"Xiao Rou menyapa Tuan Muda Kedua!" Memberi hormat, Xiao Rou berkata melanjutkan. "Nona Besar bertubuh lemah dan matahari bersinar terik." Ia bernarasi dengan terampil mengatakan apa yang di bisikan oleh Xiu Qixuan. "Karena tidak ada kolam pemandian di sini, Nona Besar hanya dapat menahan, takut-takut seseorang menerobos masuk. Mengapa tidak Tuan Muda yang datang untuk melihat lebih dulu?"


Kata-katanya tidak terarah namun memiliki maksud tertentu yang hanya dapat di mengerti oleh kedua bersaudara Xiu tersebut.


Wajah Xiu Huanran nampak lebih kusut setelah mendengar perkataan Xiao Rou.


Menggeram. Xiu Huanran melangkah dan melompat masuk kedalam gerbong yang di tempati oleh Xiu Qixuan.


Memasang senyum manis, Xiu Qixuan dengan cerah berkata; "Er'ge, jangan marah! Bukankah kamu datang dengan membawa istri?" Perlahan dia menarik pandangannya, sekilas menatap satu gerbong kecil yang berada dalam rombongan yang di bawa oleh Xiu Huanran.


Wajah Xiu Huanran memerah, entah karena marah atau malu. Dengan seringai, ia berkata sarkas; "Jaringan informanmu telah meningkat rupanya."


Xiu Qixuan tersenyum tipis dengan dengusan bangga menanggapi; "Ya, tentu saja! Jadi, bisakah sekarang kamu turun dan minggir? Jangan menghalangi jalanku." Ia melanjutkan, "Ada Kasim Teng yang merupakan kepercayaan Kaisar. Mungkin dia akan kemari untuk menanyai-mu sekarang!" ujarnya.


Xiu Huanran mencibir; "Gadis konyol!"


Dug...


Dia memukul kepala Xiu Qixuan dengan keras. Ia berkata menggebu-gebu; "Aku tidak peduli itu! Sekarang cepat jelaskan padaku! Apa yang sedang kau rencanakan?! Sebenarnya apa isi otak kecilmu ini?!"


Meringis. Xiu Qixuan terdiam menatap amarah Xiu Huanran, dia dengan acuh tak acuh membiarkan pria itu mengoceh lebih dulu.


"Xuan'er, apa kau sudah gila? Bukankah kau benci terikat oleh pernikahan politik?" Menarik napas dalam-dalam, Xiu Huanran berkata lebih tenang, tatapannya begitu dalam melemparkan keseriusan untuk bertanya.


Xiu Qixuan tersenyum dan berkata ringan; "Bodoh! Memang siapa bilang aku mau menikah?" Ia melanjutkan melalui tatapannya yang tanpa goyah, dia meyakinkan. "Sudah pergi sana! Aku akan menjelaskannya nanti!" usirnya.


Xiu Huanran terlihat ragu, namun ketika dia mengingat bahwa akal yang di miliki gadis ini melebihi rata-rata orang biasa, Xiu Huanran dengan berat hati beranjak. Sebenarnya dia tidak ingin, tetapi, situasi saat ini kurang tepat untuk berlama-lama berbicara. Apalagi ada yang menunggu untuk dia kerjakan.


Pukk...


Sebelum benar-benar pergi, Xiu Huanran berhenti sejenak, dia merogoh saku dan melemparkan kotak kecil seukuran kepalan tangan kepada Xiu Qixuan.


"Hadiah sesuai pesananmu!" Dia berkata datar tanpa minat untuk mendapatkan imbalan apa pun. "Tetap hubungi aku!" ujarnya.


Xiu Qixuan menangkap kotak tersebut, dia tersenyum cerah memandangi punggung Xiu Huanran. "Terima kasih dan maaf aku meninggalkanmu, Er'ge!" Dia melanjutkan, "Tapi, jangan menerobos masuk kolam pamandian lagi, ya! Atau bisa-bisa seluruh wanita yang sedang mandi bisa menjadi istrimu!" Suaranya keras terdengar mengejek, khas sekali untuk membuat Xiu Huanran semakin jengkel.


Tanpa sepatah katapun lagi, Xiu Huanran menutup telinga dan segera melompat turun dari dalam gerbong.


Dia menuju rombongan kecilnya, dan memberi perintah untuk menyingkir, memberikan lintasan ruang kepada selusin gerbong yang terdiri dari rombongan besar tersebut.


Tirai jendela terbuka. Dari dalam kereta kuda sederhana, wajah cantik yang familiar muncul.


"Anda tidak bisa menghentikan Nona Besar 'kan, Tuan Muda?" Itu Bai Weiwei yang berkata lugas tanpa takut mencibirnya.


Xiu Huanran menghela napas kasar.


Ini rumit. Entah dia beruntung atau sial?


Saat Xiu Qixuan meninggalkannya di kuil dengan semua tugas berdoa dan menyalin kitab. Dia begitu kelelahan dan sangat tidak terbiasa. Memakan sayur tanpa arak dan daging, itu benar-benar neraka untuknya.


Suatu malam, Guru Biyan sedang melakukan latihan di balik pintu tertutup. Itu kesempatan untuk dia menyelinap keluar dan membeli banyak arak. Dia mabuk dan kembali ke kuil.


Suasana kuil yang sunyi membuat dia bersikap tidak berhati-hati. Menuju kolam pemandian, secara alami dia membuka baju dan masuk untuk berendam. Tetapi, tiba-tiba teriakan seorang gadis membangunkan kesadarannya dari dalam kolam.


Bai Weiwei yang memerah menahan tangisan malu berada dalam kolam yang sama dengannya tanpa busana.


Itu sungguh kacau. Guru Biyan yang mendengarkan suara teriakannya segera datang. Bayangkan betapa canggungnya mereka bertiga saat itu.


••••••••••••••••


N/T: Jadi, Mozi atau Shen Yuan Zi nih? btw, biar ga bingung, author akan buat pengenalan karakter dan tambahan gambar ilustrasinya, akan banyak karakter baru, orng istana banyak juga ternyata. Oh iya, harus buat ga nih bab Xiu Huanran yang mandi bareng sm Bai Weiwei, atau gausah aja? wkwk:)