
"Aku membawamu dan Wen Liu sampai ke Bumi. Kamu terlahir, tapi, ingatan Wen Liu akan Daratan Ca Li sudah sepenuhnya terhapus. Dia tidak mengingatmu." Guru Biyan menghela napas dan menutup matanya. "Saat itu Farah saudara kembar ibumu kehilangan anak perempuannya yang bernama Alesha. Aku menukarmu dengan cara memanipulasi pikiran mereka."
Guru Biyan tampak terguncang secara halus; "Xiu Qixuan, maafkan kakek tua ini karena menyakitimu."
Wajah Xiu Qixuan menjadi gelap, benar-benar kehilangan binarnya.
Guru Biyan tidak memanggilnya dengan nama Alesha lagi karena itu bukan miliknya.
Dia merasa seolah-olah dadanya di tusuk oleh ribuan pisau dengan darahnya yang tidak dapat mengalir. Dia tidak pernah mengerti apa yang benar-benar disebut kebencian.
Tetapi, saat ini perasaan asing yang gelap itu perlahan-lahan memupuk dalam benaknya.
Dia merasa di perdaya oleh yang mereka sebut takdir. Sejak awal hidupnya dipenuhi oleh manipulasi kebohongan. Alesha Djingga, bahkan sebuah nama yang dia yakini milikinya pun ternyata bukan benar-benar miliknya.
Jadi, sebenarnya apa yang tersisa untuk dia miliki di dunia ini?
Mata yang sebelumnya kering dari emosi apa pun sekarang berkilauan dengan air mata, dan bulu matanya yang sekarang basah bergetar dengan menyedihkan.
"Apa yang bisa kumiliki guru?" Xiu Qixuan berkata rendah dengan tersenyum mengejek memiringkan wajahnya menuntut sebuah jawaban.
"...." Guru Biyan kehilangan kata-katanya, dia menatap Xiu Qixuan dengan getaran pedih.
Melihat reaksi yang tidak sesuai keinginannya. Xiu Qixuan mengebrak meja dengan kedua tangannya.
Brak.. Prang...
Teko teh berhamburan dilantai. Suara Xiu Qixuan meninggi dan angin kencang berkumpul di sekitar ruangan. "Bahkan hidupku bukan milikku. Jadi, katakan padaku apa yang tersisa untuk kumiliki!?" Angin mengirim kertas-kertas di atas meja terbang tanpa tujuan.
Keheningan yang menyesakkan terjadi selama beberapa detik. Mata Xiu Qixuan dipenuhi oleh kebencian yang dingin.
Napas Xiu Qixuan yang tidak teratur karena buncahan emosi membuat tubuhnya bergetar lemas. Tetapi, ia berusaha menekankan itu.
Guru Biyan tidak kunjung bereaksi, seolah membiarkan Xiu Qixuan mengeluarkan semua emosinya. Itu membuat Xiu Qixuan tersenyum kecut dan berbalik tanpa sepatah kata pun dengan membanting pintu keras sampai mengeluarkan bunyi gedebuk.
Di depan pintu ruangan lantai dua, langkah Xiu Qixuan terhenti. Tubuh Xiu Qixuan mematung dengan wajahnya yang datar menatap kearah satu titik sosok yang menguping pembicaraannya.
"Xuan'er..."
Sosok Xiu Huanran berdiri kaku di dekat ambang pintu masuk. Wajah Xiu Huanran terlihat lebih cemas akan kondisinya alih-alih terkejut.
"Kau sudah mendengarnya, kan." Xiu Qixuan menurunkan pandangannya dingin dan mengintimidasi sampai pada titik membuat orang lupa caranya untuk bernapas. "Jadi, menyingkir dan jangan menghalangi jalanku."
Xiu Huanran terperanjat melihat sosok lain Xiu Qixuan yang sangat berbeda.
Xiu Qixuan tidak ingin menghiraukan apapun lagi, gadis itu melangkah dengan cepat menuruni tangga bangunan kuil tersebut.
Dadanya sesak sekali, melihat Xiu Huanran membuat lubang besar dan dalam yang menusuk hatinya bertambah.
"Xuan'er, tunggu sebentar. Kau ingin pergi kemana? Jangan membuatku khawatir. Kita bicarakan lagi dengan kepala dingin dan menemukan jawaban untukmu yang lebih baik." Xiu Huanran berteriak mengejarnya dan meraih tangannya.
"Jawaban yang lebih baik katamu?" Xiu Qixuan ingin menertawakan dirinya sendiri yang dulu begitu naif.
Xiu Qixuan tersenyum mengejek dan menghempaskan kasar tangannya; "Xiu Huanran, jangan pura-pura menjadi naif hanya untuk menenangkanku. Sebuah jawaban tidak berarti apapun sekarang."
Air mata mengalir deras dari matanya yang kering dan hampa. Hati Xiu Huanran seakan ikut hancur ketika melihat tatapannya yang di penuhi oleh penderitaan.
"Aku hanya ingin sendiri. Kamu tidak perlu menyia-nyiakan dirimu lagi dengan mengkhawatirkanku—karena kematian pun akan sulit untuk mendatangiku." Xiu Qixuan berkata datar tanpa emosi.
Setelah selesai mengatakan kalimat tersebut, dia melangkah pergi meninggalkan Xiu Huanran yang terdiam menatap punggungnya sedih.
•••••••••••••
Kemerahan senja menghiasi langit yang mempesona mata. Suara celoteh burung-burung kecil berwarna-warni yang mencolok dan bunga-bunga indah yang misterius mekar dengan menawan.
Bahkan tempat seindah itu tidak dapat menguraikan suasana hatinya yang tidak baik.
Xiu Qixuan bersandar di batang pohon yang lebar. Dia menghela napas dan menutup matanya lelah untuk beristirahat sejenak menikmati semilir angin dan harum dedaunan musim semi.
Tiba-tiba suara gemerisik langkah kaki terdengar mendekat. Membuatnya sedikit membuka kelopak mata dengan menyipit tajam untuk melihat.
"Feng'er, Itu kamu?" Ini adalah suara senang Bai Weiwei yang dengan polos memiringkan wajah berdiri menyapanya.
Xiu Qixuan melengos dan berkata tajam; "Aku tidak mengenalmu. Jadi, enyahlah!"
Bai Weiwei tertegun, dia merasa pernah berada di situasi dan mendengar kata-kata yang persis seperti ini sebelumnya.
Aiyaa, bukankah gadis yang memiliki profile Qiaofeng ini terlalu mirip sifatnya dengan Xiu Huanran yang sesuka hati memperintah orang.
Bai Weiwei melihat Xiu Qixuan memejamkan mata dan tidak berminat sedikitpun untuk menghiraukannya. Itu membuat Bai Weiwei menarik napas dalam dan dengan pengertian berbalik pergi.
Sebelum dia benar-benar menjauh, sebuah suara menghentikannya.
Bai Weiwei berbalik dengan kerutan di alisnya. "Ya, apakah kamu memanggilku?" tanyanya sopan.
Xiu Qixuan melirik kearah tangan kiri Bai Weiwei yang memegang keranjang. "Apa isi di dalam keranjang itu?"
Keranjang yang sebelumnya peuh dengan sayur dan herbal itu sudah kosong. Hanya terdapat tiga kendi arak yang Bai Weiwei dapatkan dari paman di penginapan, ini adalah bentuk tambahan upahnya karena sering membantu pelanggan yang berkunjung di penginapan.
Bai Weiwei menjawab dengan lugas; "Oh, ini arak yang aku dapat—"
**Srek**...
Tanpa menunggu Bai Weiwei menyelesaikan ucapannya, Xiu Qixuan dengan tidak sopan melemparkan kantong berisi koin kedalam keranjang.
"Aku membelinya dengan koin itu. Cepat kemarikan." Xiu Qixuan berkata dengan tajam memerintah.
Bai Weiwei mengatupkan giginya dan tanpa kata menatap Xiu Qixuan. Dia melihat tatapan sedingin es dimata itu.
"Mengapa terdiam?" sentak Xiu Qixuan mendengus. "Cepat kemari!" tangannya terulur meminta kendi arak tersebut.
Bai Weiwei sedikit terperanjat tetapi dengan cepat dia memberikan tiga kendi arak tersebut kepada Xiu Qixuan.
Melihat Xiu Qixuan yang meneguk arak langsung dari kendi nya membuat Bai Weiwei bereaksi berlebihan.
"Ah, kamu akan cepat mabuk jika seperti itu. Tunggu sebentar, aku akan membawakan cangkir." Bai Weiwei berkata dengan cepat bergegas untuk pergi kedapur yang tidak jauh dari halaman belakang ini.
"Tidak perlu..." Xiu Qixuan berkata dengan tangan yang kehilangan arah, dia berniat untuk menahannya tetapi Bai Weiwei sudah berlari menuju dapur.
Saat Bai Weiwei kembali, betapa terkejutnya dia melihat Xiu Qixuan sudah menghabiskan satu kendi arak dalam sekejap.
Terlihat gadis itu sudah cegukan dengan wajahnya yang memerah. Matanya yang berkabut setengah sadar.
Melihat bayangan Bai Weiwei yang sudah kembali, Xiu Qixuan mengarahkan pandangannya pada cangkir yang di bawa oleh Bai Weiwei.
Dia merebut cangkir tersebut dengan kasar dan memandangi setiap sudut dari cangkir tersebut seolah-olah sedang meneliti lebih jauh.
"Hanya untuk cangkir tidak berguna ini, —kau berlarian dan merepotkan dirimu sendiri?" Xiu Qixuan menyeringai penuh ejekan tajam. "Dasar bodoh!."
Bai Weiwei hanya menggeleng pelan tetapi dia dengan pengertian menuangkan arak ke cangkir yang di pegang oleh Xiu Qixuan.
"Minumlah. Tidak apa-apa jika kamu melupakan semuanya hari ini. Toh, besok kamu akan mengingatnya lagi. Tidak apa-apa, aku akan menemanimu." Suara halus Bai Weiwei terdengar mendengung lembut, ia dengan yakin duduk di sebelah Xiu Qixuan.
Kilauan airmata menggantung di kedua mata Xiu Qixuan. Gadis itu menopang wajah dengan satu tangannya.
"Kalau begitu lebih baik aku membenturkan kepalaku saja untuk tidak bisa mengingat selamanya." Xiu Qixuan memiringkan cangkirnya dan membuat arak tumpah ditanah bebatuan.

Bai Weiwei balas berkata dengan tersenyum simpul; "Kalau begitu kamu harus melupakan semua bagian kenangan, termasuk yang indah untuk dirindukan dalam ketidaktahuan."
Mendengar perkataannya, Xiu Qixuan tertawa terbahak-bahak dengan airmata kesedihan yang masih mengalir. Sejenak dia kehilangan kewarasannya.
Xiu Qixuan menyeringai tajam; "Perkataanmu sangat lucu. Ketidaktahuan? Hoh, itu benar-benar menakutkan untuk dirasakan."
Bai Weiwei hanya terdiam, dia memandang Xiu Qixuan dengan tatapan pedih. Bertanya-tanya berapa banyak yang sudah gadis ini lalui sampai berkata penuh kegilaan seperti ini.
Xiu Qixuan menautkan alisnya; "Menjengkelkan, jangan menatapkan seperti itu." Ia mendengus kesal. "Siapa namamu?" tanyanya.
Bai Weiwei menjawab dengan suaranya yang jernih. "Weiwei, Bai Weiwei—itu namaku."
••••••••••••
N/T: Nih yang minta crazy up. Lima bab dulu yaa. Jangan lupa dukungannya loh biar authornya rajin up.