
Satu Bulan Sebelumnya
Sima Junke tengah terbaring ditempat tidur dengan mata terpejam. urat nadi pria itu menghitam dan tercetak jelas diantara kulitnya, wajahnya pucat bak mayat hidup.
Mereka saat ini berada di dalam salah satu kamar penyewaan milik sebuah penginapan kecil dipedesaan, karena barang berharga milik mereka tertinggal membuat Xiu Qixuan hanya mampu menyewa satu kamar untuk ditempati oleh mereka bertiga.
Terlihat gadis itu terduduk ditepi ranjang dengan wajah membiru pucat dan keringat mengalir membasahi tubuhnya. Salah satu tangan miliknya terulur diatas dahi Sima Junke, gadis itu sedang berusaha menetralisir aura iblis dan juga menyembuhkan pria yang terbaring kaku diatas ranjang.
Hal ini sudah berlangsung selama beberapa jam terakhir, kalau gadis itu tidak berhasil dan aura iblis melakukan serangan balik akan berakibat fatal untuk kekuatan internalnya.
Xiao Bao menatap jiejie nya dengan sedih, dia adalah bocah kecil yang pengertian dan tanggap walaupun tidak mengetahui dengan jelas tetapi bocah itu dapat mengerti bahwa situasi mereka sedang dilanda kesulitan.
'Uhukk..Uhukk..' Xiu Qixuan memuntahkan gumpalan darah hitam.
"Jiejie..." Dengan tanggap Xiao Bao memberikan kain untuk mengelap noda darah dan juga menuangkan air minum kedalam cangkir.
"Minumlah, jiejie." Ucapnya dengan menatap polos dan menyodorkan secangkir air.
Xiu Qixuan melihat cangkir air itu dengan pandangan sendu, tangannya lemas dan gemetar tidak dapat digerakan.
Xiao Bao mengerjapkan mata bulatnya dengan kebingungan saat jiejie nya tidak kunjung menerima cangkir air itu.
"Xiao Bao, terimakasih. Jiejie, tidak memerlukannya." Ucap Xiu Qixuan dengan tersenyum lembut tetapi kedua bola matanya berkaca-kaca.
Sejak tadi dia berusaha untuk bertahan dan tetap kuat demi mereka yang lemah. Bahkan menangis pun dia merasakan itu adalah suatu ketidaklayakan yang salah untuk dilakukan.
Tubuhnya sangat lemas seperti tidak memiliki otot tulang, lebam dan goresan luka juga memenuhi sekujur tubuhnya, membopong tubuh kekar Sima Junke diatas punggungnya sejauh perjalanan ke penginapan dengan langkah terseok dan beberapa kali terpelanting jatuh saat kedua kakinya meluruh tidak kuat.
Pada saat ini, dia tidak memiliki tenaga bahkan hanya melakukan aktivitas ringan seperti mengangkat secangkir air untuk diminum, dia tidak mampu.
"Xuan'er..." Suara Sima Junke memanggil lirih.
Xiu Qixuan menolehkan wajahnya dan melihat kedua mata yang selalu dia sukai itu mengerjap perlahan terbuka.
Kedua bola mata yang semulanya hanya berkaca-kaca tidak tahan untuk meloloskan airmata yang mengalir berjatuhan seperti hujan.
Sima Junke dengan cepat beranjak terduduk bangun dan segera menarik tubuh mungil gadis itu jatuh kedalam pelukannya. Dia mengira bahwa tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mendekap tubuh gadis cantik ini.
"Kamu membuatku ketakutan sampai mati..." Suara serak terisak tangis itu mengalun memecah keheningan.
Senyum diwajah tampan itu perlahan merekah seperti bunga musim semi, bentuk kepedulian seperti ini membuat hatinya melembut seperti kapas.
Mereka tidak mengetahui bahwa perasaan lembut seperti ini juga cepat berubah seiring berjalannya waktu dan sebuah peristiwa besar yang akan menimpa mereka.
••••••••••••••
Seminggu berlalu
Mereka memutuskan beristirahat sejenak untuk melakukan pemulihan sejak kejadian panah iblis yang menusuk tubuh Sima Junke.
Pada saat ini, langit berangsur-angsur gelap dan bulan bersinar cerah. Dalam satu ruangan yang ditemani cahaya lilin redup, terlihat sepasang kekasih sedang serius berbincang.
"Bentuknya terlihat seperti mutiara pada umumnya," Gumam Xiu Qixuan pelan.
"Ya, tetapi kegunaan aslinya hanya dapat digunakan para praktisi spritual dan beladiri yang memiliki kekuatan internal." Balas Sima Junke
Sebelumnya Xiu Qixuan lebih dulu menjelaskan kepada Sima Junke mengenai semua hal yang dia ketahui dari balik Kuil Emas.
Saat ini mereka sedang melihat dan mempelajari hal yang tergambar juga tertulis dikulit binatang pemberian Dewi Agung Yinxi.
Disana tergambar jelas dua bentuk mutiara dan satu atau dua bentuk gambar lainnya yang buram.
Hanya bentuk kedua mutiara dengan warna berbeda itu yang tergambar jelas, mutiara hitam dan putih laut surgawi. Ternyata mereka adalah sepasang dan memiliki kegunaan yang berbeda.
Tertulis jelas bahwa kegunaan mutiara hitam laut surgawi adalah untuk melumpuhkan akar kekuatan roh. Sedangkan, mutiara putih laut surgawi berguna untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Cara penggunaannya sama adalah dengan membenamkan mutiara itu kedalam jantung seseorang menggunakan dasar kekuatan internal.
Xiu Qixuan mengangkat pandangannya untuk menatap Sima Junke, mereka mengakhiri percakapan dengan saling menatap satu sama lain, seperti sedang berkomunikasi dan membuat keputusan dalam diam.
•••••••••••••••
Seminggu kembali berlalu
Tepatnya sudah dua minggu yang berangsur tenang mereka lewati sejak kejadian menyulitkan tersebut, saat ini mereka bergegas turun dari atas pelana kuda.
"Ini terlalu sunyi," Bisik Xiu Qixuan pelan sambil memandangi gerbang yang menjulang tinggi.
"Sekte Tujilin lebih tertutup sejak kematian mendiang ketua sekte sebelumnya." Jelas Sima Junke menenangkan Xiu Qixuan yang terlihat gelisah.
Sekte Tujilin berada ditengah pusat pemerintahan Kekaisaran Mo, dan sebelum datang kemari mereka sudah menyelidiki sekte ini terlebih dahulu.
Sejak Ketua Sekte yang baru memerintah, Sekte Tujilin lebih tertutup dan terasing dari dunia luar. Konon katanya Ketua Sekte Tujilin yang sekarang memerintah adalah seorang wanita muda nan cantik.
Atas bantuan juga koneksi Xiu Huanran yang patut diacungi jempol karena mempermudah jalan mereka dengan memberikan token masuk kedalam Sekte Tujilin sebagai identitas murid luar.
Dengan ketenangan yang kembali di dapatkan, Xiu Qixuan melangkah ringan diikuti oleh Sima Junke juga Xiao Bao. Mereka memperkenalkan diri dengan identitas satu keluarga yaitu pasangan kakak beradik dari pedesaan yang baru saja lolos dan ikut bergabung kedalam Sekte sebagai murid luar.
Kebohongan yang dirancang seakurat mungkin karena memang benar terdapat seleksi untuk murid luar dibanyak pedesaan kecil milik Kekaisaran Mo.
Pada saat ini, Xiu Qixuan berbaris dengan beberapa murid luar perempuan lainnya. Mereka berada disebuah auditorium kecil, hanya cukup untuk menampung lima puluh orang. Murid luar memang lebih terasingi daripada murid dalam.
Di auditorium kecil ini semuanya adalah murid luar yang berbeda jenis kelamin juga usia serta latar belakang. Suasana begitu tegang dan sunyi, tidak ramai seperti layaknya penyambutan murid baru.
Itu berlangsung selama beberapa jam, sebelum akhirnya para murid luar diperintahkan untuk menuju sebuah halaman yang menjadi tempat tinggal mereka dan segera memilih kamar.
Xiu Qixuan tidak memedulikan itu, dia menyelinap keluar dari barisan untuk pergi menelusuri area dalam Sekte Tujilin. Sekaligus untuk menemui Sima Junke juga Xiao Bao karena lelaki dan perempuan ditempatkan berbeda.
Langkah gadis itu lincah dan ringan, 'Brukk.' Dia menabrak bahu ramping milik seorang wanita tepat saat dipersimpangan jalan.
Sosok elegan yang memikat hati terlihat berdiri tegak, postur tubuh yang begitu mempesona dengan dua buah persik miliknya menyembul keluar menonjolkan fitur vulgar dan dapat membuat pria berlutut memohon.
Xiu Qixuan tertegun dan mengerjapkan kedua matanya, bertanya-tanya dalam hati, apakah Kekaisaran Mo lebih terbuka soal berpakaian layaknya Suku Nanbao?
"Lancang! Kamu orang rendahan, cepat berlutut memohon ampun kepada Ketua Sekte." Sentak seorang murid dalam yang merangkap sebagai pelayan disisi wanita muda itu.
Xiu Qixuan menolehkan wajah menatap orang itu dengan sirat ketidaksukaan, tetapi dia harus tetap transparan untuk tidak menarik perhatian.
Dengan hati yang masam, perlahan Xiu Qixuan berlutut dan berucap, "Hamba tidak berpengetahuan dan berakhir menyinggung Ketua Sekte, mohon Ketua Sekte menunjukan kemurahan hati."
Perkataan yang cukup menjebak, menekankan alasan jelas dan jika Ketua Sekte memberikan hukuman berat berarti gelar kemurahan hati tidak layak disandang olehnya.
"Bangunlah," Ucap Ketua Sekte Tujilin itu meraih lengan Xiu Qixuan dan membantunya berdiri.
"Terimakasih atas kemurahan hati Ketua Sekte." Balas Xiu Qixuan dengan menunduk hormat.
Jari lentik milik Ketua Sekte perlahan meraih dan mencengkeram erat dagu Xiu Qixuan untuk memaksa gadis itu mendongak.
Xiu Qixuan tidak dapat menolak, dia tidak segan menatap balik wajah Ketua Sekte yang berada beberapa inchi didepannya.
"Kau gadis yang cantik, siapa namamu?" Tanyanya merdu.
"Qi Qi," Jawab Xiu Qixuan singkat. Dia mengambil karakter huruf dari depan namanya.
"Qi Qi, nama yang bagus." dengan tersenyum manis.
"Kalau begitu panggil aku dengan sebutan Ketua Chun, namaku Xiao Chun. Ingatlah dengan baik." Setelah mengucapkan itu dia menarik kembali tangannya dari dagu Xiu Qixuan dan segera berlalu pergi dengan menyembunyikan seringai tajam diwajahnya.
Tubuh Xiu Qixuan berbalik untuk memandangi kepergian wanita itu, dia memiringkan kepala kesamping dengan kening mengernyit seperti sedang memikirkan sesuatu, semacam kegelisahan yang tak terjelaskan tiba-tiba terlintas didalam benaknya.
•••••••••••••••