Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Akhir Sang Dewi



"Mo—, akh bayi monster!!" Jeritan ketakutan dari beberapa rekan yang lain ikut terdengar. Ingin segera melarikan diri tetapi lutut mereka terasa begitu lemas dan tak berdaya hanya dapat meringkuk gemetar disudut lantai.


Bayi mungil berwajah seindah keindahan yang menyegarkan dari keturunan langit surgawi tersebut berubah menjadi bentuk yang aneh.


Rambut peraknya berubah menjadi hitam seperti bara yang habis terbakar oleh api. Mata yang sebelumnya begitu polos nan jernih terlihat menakutkan dengan bola mata semerah darah yang menatap sekitarnya tajam.


Kuku-kuku jari mungilnya memanjang membentuk cakaran hitam. Dia mengambang terbang diudara dengan bantuan dari kepakan kedua sayap kecil yang tumbuh diatas punggungnya, bagian sayap itu memiliki warna yang berbeda, yaitu sebelah kanan berwarna putih bersih dan kiri berwarna hitam pekat.


Ah, diatas dahinya. Permata berwarna merah darah menempel di bagian tengah antara kedua alisnya.


Dia sudah tercemar oleh kekuatan darah iblis murni yang merangsek masuk kedalam tubuhnya.


Kabut bayangan hitam mengeliling seluruh tubuh mungilnya yang membuat ia tertawa dengan menggemaskan bermain-main dengan tangannya berusaha menggapai.


Disisi lain, kelopak mata Dewi agung Yinxi menggerjap lemah. Ketika ia membuka mata betapa terkejut melihat bahwa sang buah hati sudah tercemar oleh kekuatan iblis yang tak dapat dia tahan.


"Bayiku—," lirihnya mengulurkan tangan berusaha terbang menggapai sang buah hati kedalam dekapan.


Tubuhnya yang lemah terasa begitu sakit dan membuatnya kesulitan bergerak. Tetapi, dengan tekad ia berusaha keras untuk menyelamatkan malapetaka kesalahan yang sudah dia buat.


'Hap..' Tangan kurusnya sedikit bergetar ketika berhasil meraih sosok mahluk bertubuh mungil tersebut kedalam dekapan hangat. 'Brukk..' Segera ia jatuh berlutut ketika keseimbangannya hilang dengan memeluk erat sang buah hati.


"Bayiku yang malang." Belaian jari tangan hangat dari seorang ibu menyentuh wajah sang mahluk kecil.


'Grr..' Sosok mahluk kecil tersebut menggeram tidak suka akan sentuhan tersebut dengan kedua bola matanya yang berkilat merah.


Hati sang dewi agung semakin tenggelam lebih dalam.


Dia tidak dapat membiarkan tubuh anaknya dicemari sepenuhnya oleh kekuatan aura iblis murni.


Wajah cekung yang pucat milik sang dewi mengadah keatas dengan airmata berlinang. "Ya, Kaisar Langit. Ini konsekuensi yang harus kuterima. Tetapi, kumohon jangan menyiksa anak ini."


Kesedihan dan keterikatan dalam ucapannya, tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.


"Aku akan membantumu, nak." Dia tersenyum pahit memandangi sekali lagi wajah sang bayi kecil.


Walaupun hasilnya sedikit dan tidak sepenuhnya berhasil. Tetapi, ini adalah bentuk pengorbanan terakhir yang dapat ia lakukan.


Darah iblis murni yang keluar dari dalam cincin tersebut butuh tubuh inang yang memiliki dasar kekuatan magis dan tak menolaknya.


Afinitas tubuh bayi setengah manusia dewa yang baru lahir ini sangatlah cocok sebagai wadah penampung kekuatan darah iblis murni tersebut.


Mengakibatkan permata berwarna merah darah yang merasakan afinitas kecocokan pada tubuh bayi tersebut bereaksi ketika tiba hari kelahirannya.


Tetapi, hal tersebut membuat kekuatan aura surgawi yang diturunkan dalam tubuh bayi ini akan sepenuhnya terpenjara oleh kekuatan aura iblis.


Dewi agung Yinxi tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Seorang iblis berkekuatan murni lahir di dunia mahluk fana. Itu akan membuat malapetaka kehancuran.


Perlahan jari-jari kurusnya mendekatkan tubuh sang bayi dalam dekepan erat diatas dada. Kelopak matanya terpejam mengalirkan seluruh kekuatan surgawi yang tersisa kedalam tubuh sang bayi.


Menetralkan dan membuat garis batasan tipis untuk membedakan antara kedua meridian yang berkekuatan kontras tersebut. Ini adalah bantuan untuk pilihan anaknya dimasa depan.


'Argghh..' Teriakan Dewi agung Yinxi membelah kesunyian, tubuhnya yang bercahaya perlahan-lahan menyusut dan membentuk retakan. Ini sangat menyakitkan. Ia kehilangan seluruh kekuatan dan masa kehidupannya.


Tangisan sang bayi kembali terdengar meraung kencang. Dengan cahaya putih keemasan menyelimuti tubuh mereka.


Perlahan tubuh sosok mahluk kecil tersebut kembali kebentuk normal dengan mata hitam dan rambut peraknya yang menyala indah. Kedua sayap di punggungnya menghilang dan sekejap menyusut masuk kedalam. Kuku cakarnya yang tajam kembali memendek rendah.


Para manusia disekitar mereka tidak mampu menahan kekuatan magis yang cukup besar ini. Mereka semua terbaring tak sadarkan diri dengan luka parah.


Suara guntur menggelegar diatas langit di iringi kilatan petir yang menyilaukan. Segera tetes air hujan turun semakin deras. Seolah-olah langit juga dapat merasakan penderitaan akan kehilangan salah satu mahluk abadi ciptaannya.


Dalam detik akhir napas kehidupannya, ia berucap dengan tersenyum pahit menggenggam tongkat suci yang merupakan senjata keahliannya. "Nak, ini adalah tempat yang buruk untuk ditinggali."


Sosok bayi mungil tersebut berhenti menangis untuk memandang polos wajah sang ibunda dengan mengulum kelima jarinya malas.


"Aku akan pergi. Semoga dimasa depan kamu memilih akhir baik yang bahagia." Sebuah doa dan pesan yang mungkin tidak akan terdengar untuk diketahui oleh sang anak.


'Crash..' Tongkat suci milik sang dewi tertancap dilantai yang retak. "Nah sekarang keluarlah dari tempat ini, nak." lirihnya.


Tubuh sang bayi mengambang ringan diudara, terbang menuju pintu keluar dengan ikatan dorongan lembut dari kekuatan magis yang diberikan sang ibunda.


Ketika bayinya sudah aman menghilang keluar. Dewi agung Yinxi berlutut dengan memegang tongkat suci sebagai penyangga. Dahinya bersandar pada gagang tongkat kemudian perlahan matanya terpejam dengan senyuman merekah tulus.


"Hancurkan." Bisiknya lirih.


Itu adalah kalimat terakhir sebelum guncangan pusaran gempa besar seperti berpusat tepat dibawah tanah bangunan Kuil Emas.


Pada malam itu, Kuil Emas yang dibangun untuk menghormati sang dewi berakhir menghilang tanpa sisa. Runtuh tanpa kerangka jejak akibat kesalahan pendosa yang melakukan perbuatan keji.


Sampai pada tahun kedua puluh satu berlalu dengan empat musim yang selalu berganti dan terasa begitu panjang.


Sekte Xitian yang dilindung sepenuh hati oleh sang dewi, —mengalami malapetaka keruntuhan.


Dan, tibalah rombongan tidak resmi yang terdiri dari sepasang kekasih dan satu bocah kecil yang berhasil menemukan keberadaan kembali pintu masuk Kuil Emas.


••••••••••••••••


"Shen Yuan Zi"


Roda kehidupan tidak akan pernah berporos pada sosoknya—dia dilahirkan dari benih seorang manusia pendosa dan sosok dewi pelanggar yang menentang kehendak langit.


Dimasa depan hanya dialah yang akan sepenuhnya bertanggung jawab untuk menciptakan jalan kehidupannya seorang diri tanpa terjerat oleh suatu ikatan garis takdir apapun.


Karena tidak ada satupun kekuatan para abadi langit yang mampu menuliskan namanya dalam lembaran buku takdir yang seharusnya menjadi penentu jalan kehidupan dan kematian seorang manusia.


Dia bukanlah seorang manusia. Bukan juga sosok dewa abadi ataupun iblis asli berkekuatan murni.


Dia hanya mahluk fana menjijikan yang tercemar oleh kotoran dari sebuah kesalahan dimasa lalu.


Intensitas keberadaannya cukup rancu dan dipertanyakan.


Awalnya, ia begitu lemah dan bodoh. Lemah sampai terlihat seperti anjing kelaparan yang tak berdaya dipinggir jalan. Bodoh yang tidak berpengetahuan dan terus menerus mengemis untuk dicintai.


Walaupun, dia mengetahui bahwa akhirnya hanya ada cacian dan hinaan yang keluar dari mulut keji para manusia tersebut.


Sampai pada akhirnya, dia menyerah untuk kebaikan dan kasih. Memilih jalan panjang yang begitu gelap dan suram yang tidak akan ada akhirnya. Memilih menggotori seluruh hidupnya dengan amarah dan kebencian. Memilih menggunakan kekuatan aura iblis dan menekan kekuatan aura surgawi yang mengalir dalam dirinya.


Itulah permula yang dia tentukan.


Flashback off.


•••••••••••••


Afinitas: unsur yang membentuk suatu ikatan dalam tubuh.


Meridian: jalur di mana energi kehidupan yang dikenal sebagai "qi " mengalir.