
Lima tahun yang lalu.
Warna orange nya jingga menghiasi sang cakrawala langit. Angin bertiup kencang menimbulkan suara gemericik nyaring dari dahan pepohonan.
Sosok gadis cantik terlihat begitu riang dengan raut wajahnya yang sepolos angsa kecil, dia melangkah ringan menuruni jalan setapak yang terjal.
Ini adalah Xiu Qiaofeng yang ditinggalkan. Delapan tahun berlalu sejak dirinya tiba di Desa Kui, bocah kecil itu menjelma menjadi sosok kecantikan yang lembut.
Pada saat ini, keranjang bambu dipunggungnya sudah penuh oleh tanaman herbal. Sebelumnya, dia berkunjung terlebih dahulu ke kuil dewa yang berada diatas Gunung Kuang untuk menemui sang guru yang merupakan biksu agung.
Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang berlumuran darah tertelungkup jatuh ditanah. Dengan kemurahan hati yang dimiliki seorang tabib, dia menghampiri sosok itu yang ternyata adalah seorang pria tampan.
Dia tidak tahu bahwa dimasa depan pria inilah yang mendekatkannya kepada jurang kematian. Dia tidak tahu bahwa pria itu akan menjadi awalan dan akhir kisahnya.
Xiu Qiaofeng menghela napas panjang saat memeriksa nadi yang masih bedenyut pelan. Dengan cekatan dia menumbuk beberapa tanaman obat yang berkhasiat untuk luka luar.
'Srett..' Suara robekan kain terdengar saat gadis itu membuka pakaian yang dikenakan sang pria. Kemudian dengan kehati-hatian dia terlebih dahulu membersihkan luka robekan yang terkoyak ngeri. 'Greb..' Sebuah tangan kokoh yang dingin menahan lengannya.
"Siapa kamu?!" Perlahan kelopak mata pria tampan itu mengerjap tajam dan dengan pandangan sayu menatap Xiu Qiaofeng.
Mata Xiu Qiaofeng berkedip samar, kemudian dia tersenyum lembut dan segera melepaskan genggaman pria itu dari tangannya. "Orang yang kebetulan lewat." Jawabnya dengan sopan.
Tidak ingin memperdulikan lagi, gadis itu melanjutkan untuk mengolesi ramuan obat yang sudah dia racik keatas luka menganga lebar yang berada di dada pria galak ini. Setelah selesai, dia segera membalutnya dengan ketelitian agar tidak memecahkan luka.
Itu berlangsung selama beberapa saat, Xiu Qiaofeng tidak menyadari matahari sudah beristirahat di perpaduannya dan langit berangsur-angsur gelap dengan suara serangga kecil berbunyi nyaring memenuhi hutan Gunung Kuang.
Pria tampan dan galak itu kembali jatuh tak sadarkan diri karena kehabisan banyak darah. Xiu Qiaofeng tidak bisa membantu banyak karena peralatan yang begitu minim. Dia juga tidak bisa membawa pria itu bersamanya.
Penerangan semakin menggelap dan sunyi. Xiu Qiaofeng memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Kui esok pagi karena sudah larut malam dengan jalanan yang terjal dan juga tidak membawa lentera sebagai penerang jalan akan sangat membahayakan diri. Gadis itu kemudian beranjak untuk mengumpulkan ranting kayu dan menyalakan api unggun kecil agar tidak menarik perhatian para binatang buas.
•••••••••
Pada waktu ini adalah pertengahan musim semi, suhu udara berangsur-angsur hangat. Bunga bermekaran indah dengan cahaya matahari bersinar cemerlang.
Xiu Qiaofeng sedang terduduk bersandar dibatang pohon yang berdaun rindang. Bunga amarilis merah bermekar indah dan menguarkan keharuman yang menenangkan.
Tiba-tiba suara gemericik dari sudit belakang pepohonan membuatnya menolehkan wajah. Terlihat seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah datar nan pucat perlahan muncul menghampirinya.
"Mengapa kamu tidak kunjung pergi? Desa Kui kami sangat waspada terhadap orang asing. Pergilah, lukamu sudah membaik." Ucap Xiu Qiaofeng dengan tersenyum samar menahan perasaan tidak nyaman yang mengalir di dalam hatinya.
"Aku hanya sedang menunggu. Dimasa depan tidak akan mengganggumu lagi." Jawabnya ketus dengan mendudukan diri tepat disamping tubuh Xiu Qiaofeng.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu tunggu. Tetapi segeralah menyingkir dari Desa Kui. Lihatlah disana, beberapa warga lokal tidak nyaman dengan kehadiranmu. Membuatku merasa bersalah." Ucap Xiu Qiaofeng dengan tenang menunjuk beberapa orang yang berkerumun menatap mereka dengan pandangan aneh.
"Kau—!" Geramnya. "Gadis desa saja begitu angkuh." Hinanya dengan tajam.
Wajah Xiu Qiaofeng berkedut samar tetapi gadis itu dengan cepat beranjak, dia memilih untuk segera pergi menghindar dari luapan amarah sosok berwajah sangar itu.
Pria tampan dan galak itu adalah Xia Qian Che yang dimasa depan ternyata menjelma sebagai seorang Kaisar tanpa memiliki kewelasan-asih.
Pada saat ini, dia adalah seorang Pangeran Kedua dari Kekaisaran Xia Utara. Semua orang mengenal namanya karena dia memiliki status lain yang tinggi di dalam penggadilan Kekaisaran yaitu sebagai Komandan Militer.
Dia adalah saingan terberat Putra Mahkota untuk duduk diatas takhta naga. Kekuatannya begitu besar dan dapat menekan Putra Mahkota di dalam pengadilan kekaisaran.
Dua bulan yang lalu, Kota Hu dilanda banjir bandang yang sangat besar. Kota perbatasan itu luluh lantak dalam semalam. Hal itu membuat Kaisar kewalahan mengurus berbagai macam masalah di pengadilan.
Para menterinya tidak kompeten dan saling menjatuhkan satu dengan yang lain, tidak ada yang memiliki inisiatif tinggi untuk mengajukan diri sebagai utusan yang akan menstabilkan kondisi di Kota Hu.
Tiba-tiba Putra Mahkota mengusulkan sebuah ide untuk memilih diantara para pangeran yang akan dikirim menjadi utusan. Menurutnya hal itu akan membuat para rakyat menjadi lebih tenang karena keluarga kekaisaran yang turun langsung membantu.
Mungkin sarannya terdengar begitu masuk akal, tetapi trik seperti ini mudah sekali ditebak. Sebagai Putra Mahkota dia terlatih untuk mamahami kedalam pikiran Kaisar.
Kaisar tentu saja akan memilih Pangeran yang lebih mampu dalam melakukan perjalanan jauh. Sedangkan, Putra Mahkota adalah sosok yang terpelajar dan selalu dijaga untuk menjadi ahli waris, dia tahu bahwa dirinya tidak akan dikirim sebagai utusan tersebut melainkan adik keduanya.
Xia Qian Che tidak dapat menolak Dekrit Kekaisaran. Dia akhirnya yang diutus untuk menangani Kota Hu. Dengan begitu Putra Mahkota bersorak senang saat tahap awal rencananya berangsur mulus.
Xia Qian Che mengetahui dengan jelas isi pikiran Putra Mahkota yang ingin menyingkirkannya dari Istana Kekaisaran. Dia lebih berwaspada sepanjang perjalanan.
Tetapi Putra Mahkota ternyata memiliki trik lain di dalam lengan bajunya. Dia mengetahui bahwa tidak mudah membunuh Xia Qian Che, menjadikannya memilih membuat skema jahat lainnya.
Selama sebulan Xia Qian Che berada di Kota Hu. Awalnya kondisi perlahan membaik, tetapi tiba-tiba kerusuhan dan pemberontakan terjadi dimana-mana. Ada seseorang yang sengaja menyulut amarah rakyat kepada pemerintahan. Para rakyat Kota Hu meneriakinya dengan makian dan hinaan. Menyerbu masuk dengan membawa parang tajam kedalam kediaman yang ditinggali oleh Xia Qian Che dipusat pemerintahan kota.
Xia Qian Che yang berada disana nyaris ditimpuki sampai mati, rombongannya terusir sampai kaki Gunung Kuang.
Dan pembantaian dalam rombongannya terjadi, saat beberapa pembunuh bayaran yang dikirim oleh musuh menyerbunya secara kejam.
Sampai akhirnya dia terpisah dari orangnya, bertemu sosok gadis desa yang lembut dan polos. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu akan membuat perubahan besar dalam hidupnya. Tidak akan pernah mengira bahwa ambisi liar dilingkupi amarah dapat membuatnya menjadi seorang Kaisar muda berhati kejam.
•••••••••••••••••