Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Dewi Nüwa



POV. Xiu Qixuan


Hening.


Gelap.


'Wusshhhh' Suara Angin


Aku mendengar suara angin--menerpa tubuhku dan merasakan tubuhku remuk redam, ini sangat menyakitkan.


Lebih menyakitkan dari rasa sakit saat aku pertama kali tiba di daratan Ca Li.


Aku berteriak tetapi tidak ada suara yang terdengar.


Sakit.


"Arrgggghhh"


Aku tidak bisa bernapas dengan benar.


Ini sangat menyiksaku, kalau memang aku harus mati ya tinggal mati. Tidak perlu menyiksaku begini.


Pembunuh sialan itu, menyesal aku berucap maaf saat itu.


Berkali-kali rasa sakit yang menyiksa itu menghampiriku tidak ada jeda sama sekali untukku bernapas lebih stabil.


'Wusshhh'


Aku sudah pasrah mendengar suara itu, aku bisa merasakan angin itu menerpa dan menembus tubuhku.


Dingin dan Sejuk.


Tenang.


Angin itu berbeda dari sebelumnya yang menyiksaku.


Memang rasa sakit itu masih ada tetapi tidak begitu membuatku gila.


Disuasana hening dan gelap ini entah beberapa kali aku bisa mendengar suara Ayah, Kedua Kakakku, Xiao Taoli dan Xiao Rou.


Mereka mengajakku berbicara, aku sudah beberapa kali mencoba membalas ucapan mereka tetapi tidak bisa, tidak ada suara yang aku timbulkan.


Beberapa kali rasa sakit yang menyiksaku datang kembali.


Dan saat ini rasa sakit itu datang lagi, lebih menyakitkan daripada sebelumnya.


Aku berusaha bertahan, tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki terasa seperti tertikam banyak pisau.


Merasakan beberapa kali tebasan tak kasat mata.


Berapa kali berusaha mengingat semua hal yang mendorongku untuk bertahan lebih lama seperti cinta, uang dan pria tampan.


Tetapi kali ini aku menyerah,


Ini terlalu menyakitkan.


Aku Menyerah!


Saat dibatas akhir kesadaran--bawah sadar yang aku punya.


Suara lembut seorang wanita dan cahaya putih menyilaukan menghampiriku.


"Alesha, aiyaa Dewi ini lupa! Sekarang nama-mu adalah Qixuan."


Suara itu begitu mempesona, padahal hanya ucapan bukan nyanyian tetapi entah kenapa sangat indah untuk didengar.


Hanya berupa suara dan aku hanya melihat cahaya putih menyilaukan, tidak membentuk bayangan apapun. Siapa wanita itu?


"Siapa kamu? Malaikat pencabut nyawa?" Tanyaku spontan.


Aku sedikit terkejut karena akhirnya aku bisa berbicara.


"Dewi ini belum membiarkan malaikat pencabut nyawa menghampirimu. Kau belum menjalankan hal yang seharusnya kau lakukan yaitu membantu daratan Ca Li. Berterimakasihlah kepada Dewi ini!" Ucapnya


"Nama-mu Dewi? Membantu daratan Ca Li? Daratan sebesar itu memerlukanku untuk membantunya? untuk apa penduduk asli daratan itu hidup," Tanyaku nyeleneh


"Aku tidak mau, aku tidak memiliki kelebihan apapun. Buktinya saja aku tidak bisa mempertahankan hidupku lebih lama disana. Kembalikan aku ke Bumi, sejak awal aku hanya ingin menikmati hidup bukan menjalankan tugas darimu," Lanjutku menolak.


"Kau tidak bisa menolak, itu memang takdirmu." Ucapnya


"Aku tidak tahu apapun mengenai takdir," Ucapku acuh


"Kau memang tidak tahu apapun, tetapi akan segera tahu mengenai takdirmu sebenarnya, saat kau menjalankannya--misteri ini sedikit demi sedikit akan tersingkap," Ucapnya


"Sekarang kembalilah dan aku akan memberimu sedikit hadiah," Lanjutnya


Cahaya yang menyilaukan itu tiba-tiba menyerang lagi tetapi bukan putih melainkan ungu, aku mendongakkan kepalaku dan terlihat wajah wanita raksasa didepanku sedang melambaikan jari tangannya.



Aku menatapnya sebentar--terkejut sampai tidak bisa berkata apapun, dia begitu cantik tetapi kenapa menampilkan tubuhnya yang membesar seperti raksasa.


Tiba-tiba.


'Wushhh' Suara Angin dan Gelap kembali.


Kesadaraanku hilang.


Aku masih bisa mendengar suara wanita itu untuk terakhir kalinya.


"Dewi Penambal Langit, Nüwa."


POV END.


*******


Disisi lain halaman depan Manor Xing, Xiao Rou berlari menghampiri Xiao Taoli dengan wajah cemas.


"Ada apa?" Tanya Xiao Taoli.


"XuanXuan. Itu. XuanXuan. Tidak bernapas." Ucap Xiao Rou yang terjeda-jeda.


Xiao Taoli yang mendengar itu langsung berlari memasuki ruangan milik Xiu Qixuan. dia menghampiri Xiu Qixuan dan memeriksa nadinya.


Xiao Rou sudah menangis dalam diam, dia tidak mengeluarkan suara tetapi airmata terus mengalir dari kedua bola matanya.


Xiao Taoli menatap Xiao Rou dan menggeleng, menghela napas kemudian beranjak.


"Aku akan menemui Jenderal Besar, Wakil Jenderal, dan Tuan Muda untuk memberi tahu mereka." Ucap Xiao Taoli lesuh.


Xiao Taoli keluar dari ruangan dan berlalu pergi, Xiao Rou juga ikut keluar ruangan untuk menunggu didepan pintu.


Xiao Rou ingin menangis keras, tetapi dia tidak boleh menangis didepan Nona Besar Xiu karena mengingat ucapan Nona-nya kalau dia harus kuat dan tidak boleh lemah.


Xiao Rou merasa menangis adalah suatu kelemahan, dia tidak ingin menunjukan itu kepada Nona-nya. Dia akan melepas Nona-nya dengan senyuman miliknya.


Tanpa terlihat siapapun tubuh Xiu Qixuan diselimuti cahaya putih dan ungu.


Cahaya itu begitu menyilaukan dan menutupi hampir seluruh tubuhnya.


Perlahan cahaya itu memudar, menampilkan Xiu Qixuan yang awalnya polos dan pucat menjadi begitu berbeda dengan riasan khusus dan baju hitam ungu yang sangat cantik.


Tubuhnya menjadi sedikit lebih ramping, kulitnya bertambah putih dan halus.


Xiu Qixuan membuka kedua matanya yang berubah menjadi warna ungu dan dia memegang kipas emas di lengan yang terdapat gelang giok biru miliknya.



Mata berwarna ungu itu hanya bertahan beberapa saat, sebelum kembali ke warna aslinya yaitu hitam pekat.


Xiu Qixuan merasa tubuhnya sangat ringan dan segar. Dia mendudukan dirinya dan menyenderkan dirinya ditiang ranjang.


Memutar-mutar kipas emas di lengannya. Berpikir sejenak kipas apa ini?


Kemudian dia mengingat ucapan wanita yang mengaku sebagai Dewi Penambal Langit itu yang akan memberinya hadiah.


Kipas ini mungkin hadiah yang dimaksud, dan penampilannya ini juga mungkin hadiah.


Xiu Qixuan berdiri--menaruh kipas emas didalam laci meja tempatnya berias, dia akan mencoba kegunaan kipas emas itu nanti.


Xiu Qixuan menatap ruangannya yang begitu sepi, dia mendengar suara tangisan seorang wanita--dia kemudian berjalan keluar menghampiri suara tangisan itu.


Membuka pintu ruangan dan melangkah keluar menghampiri Xiao Rou yang membelakanginya.


"Xiao Rou, kenapa menangis? jangan menangis," Ucap Xiu Qixuan


Tubuh Xiao Rou menegang--tangisannya terhenti, Xiao Rou kemudian menoleh kebelakang.


"Arrghhhh...Hantu!! XuanXuan, Aku tidak menangis. XuanXuan, pergilah dengan tenang." Ucap Xiao Rou teriak histeris dan berlari keluar Manor Xing, dia mengagetkan para penjaga.


Xiu Qixuan yang mendengar teriakan histeris itu juga ikut berteriak karena terkejut.


"Arrrrggghhh, dimana hantunya?" Tanya Xiu Qixuan menoleh kesekitar.


Kemudian Xiu Qixuan menyadari Xiao Rou yang berlari kencang.


"Xiao Rou, aku akan menghukummu. Berani sekali kau bilang kalau aku ini hantu," Teriak Xiu Qixuan kepada Xiao Rou yang berlari menjauh.


"Aku secantik ini, mana ada hantu sepertiku. kalian semua yang hantu," Ucap Xiu Qixuan mengomel seorang diri, melihat para penjaga Manor Xing yang menatapnya takut dan menunduk gemetar.


Xiu Qixuan duduk dibangku halaman depan Manor Xing, dia akan menunggu Xiao Rou kembali karena dia malas mengejar Xiao Rou.


Saat ini dia juga merasa lapar dan ingin makan daging sebanyak mungkin, dia merasa sudah sangat lama tidak memakan daging. Aiyaa, bebek peking sepertinya akan membuat suasana hatinya lebih baik.


•••••••••••


Nǚwā atau disebut juga sebagai Dewi Nǚwā (女娲) bermarga Fèng 凤, lahir di Chéngjì 成纪, diceritakan bernama Fèng Lǐxī 风里希. Salah satu dari Tiga Maharaja (Sān Huáng 三皇) dari suku Tionghua, dan merupakan leluhur dari manusia, yang dalam legenda, manusia adalah keturunan dari dia dan kakaknya Fuxi (Fúxī 伏羲). Ada juga legenda yang menceritakan dia menciptakan manusia dari tanah liat kuning, menggunakan batu lima warna menambal langit, memotong empat kaki kura-kura raksasa untuk mengantikan empat pilar penahan langit yang roboh, menyurutkan banjir dan memusnahkan binatang buas, sehingga manusia bisa hidup aman dan tenteram.


//Wikipedia.com//