
Jamuan makan malam yang membentuk formalitas untuk beramah-tamah tersebut berlangsung sedikit canggung di awal tetapi menjadi lebih nyaman ketika kendi-kendi arak di putar, membuat rombongan utusan mabuk sampai pingsan dan kesulitan berjalan.
Keesokan paginya, setelah selesai sarapan—Xiu Qixuan segera mengunjungi tempat Yao Yunmei. Hari ini adalah jadwalnya untuk belajar terkait literatur istana dan menghafal nama-nama bangsawan juga menteri yang berkuasa di kekaisaran.
Mengambil kudapan diam-diam dengan tangannya, Xiu Qixuan mulai bertanya dengan acuh tak acuh. "Yunmei jiejie, kenapa kau tidak ingin menjadi puteri mahkota? Selain alasan cinta dan politik bahwa keluargamu bersikap netral. Kalau kau yang menjadi ibu negara itu juga 'kan tidak terlalu buruk."
Yao Yunmei segera mengangkat pandangan, ekspresi tersenyum di sudut mulutnya tampak halus dan menyenangkan. "Apakah ini adalah semacam bentuk pujianmu untuk aku?"
Dengan menyeringai, Xiu Qixuan menjawab. "Hanya heran saja. Kamu malah memilih Da'ge -ku di bandingkan seorang penguasa. Tapi, aku mengakui bahwa kamu berpikiran lebih maju kedepan." Dia mencodongkan sedikit tubuhnya dan berbisik rendah. "Putera mahkota pasti menyimpan banyak bunga di atas ranjangnya. Kalau kamu bersamanya hanya ada keributan dan intrik harem saja, 'kan. Misalnya seperti racun, kesulitan bersalin, kematian atau yang paling ringan adalah pembingkaian untuk mengurungmu di istana dingin."
Melihat perilakunya yang sibuk bergosip, Yao Yunmei merentangkan tangan dan menjentikan jarinya keras di dahi Xiu Qixuan membuat gadis itu mengaduh. "Terlepas dari rumor apa yang kamu pikirkan. Itu adalah benar. Bukankah seperti kata puisi kuno. Wanita yang terkurung di dalam istana tak dapat lagi merasakan kebahagiaan selamanya."
Yao Yunmei, dia memiliki sikap bermartabat alami sebagai nyonya rumah, setiap langkahnya telah melampaui harapan.
Kilatan serius melintas di mata Yao Yunmei, wajahnya berubah muram. Ketika tiba-tiba pikirannya teringat kembali. "Pangeran Pertama, Shen Chuan Min. Dan bibiku, Yao Yufei. Contoh dari mereka yang berakhir menderita karena tempat yang bernama istana kekaisaran." Bibirnya bergumam.
Dengan kerutan diantara kedua alisnya, Xiu Qixuan menanggapi bingung. "Apa?"
Wajah Yao Yunmei terangkat, dia terlihat tertekan ketika berbicara getir. "Pangeran Pertama adalah sepupuku. Ah, mungkin saat ini keberadaannya nyaris dilupakan."
Pangeran Pertama Kekaisaran adalah putra dari Yao Yufei adik perempuan perdana menteri. Yao Yufei adalah seorang permaisuri pangeran yang kala itu merupakan istri resmi Shen Zhenning karena dia meninggal sebelum Shen Zhenning diangkat statusnya sebagai seorang Kaisar.
Pengeran Pertama, Shen Chuan Min kehilangan hak atas suksesi takhta karena saat di usia sepuluh tahun dia terjatuh dari atas arena pacuan kuda dan menderita kelumpuhan seumur hidup di kedua kakinya.
Mata Xiu Qixuan terkejut, dia dengan tertahan berseru. "Jadi, Pangeran Mahkota adalah putra kedua dan Permaisuri saat ini dulunya hanya seorang selir pendamping."
Xiu Qixuan tidak mengetahui banyak tentang keluarga kekaisaran. Sekarang dia harus mempelajari itu lebih dalam lagi karena terdapat banyak sekali rahasia kelahiran mereka yang rumit.
Menarik napas dalam-dalam, Yao Yunmei kembali bertindak keras sebagai seorang pengajar yang mementingkan materi, dia memukul buku dan berkata; "Kita akan membahas itu semua di kemudian hari setelah kamu mempelajari kekuatan politik dari para keluarga bangsawan."
Wajah cantik Xiu Qixuan segera mengerut tersiksa, dia langsung berfokus pada salinan buku yang menumpuk.
Mata Yao Yunmei tersenyum, entah mengapa dia selalu terhibur oleh keberadaan Xiu Qixuan. Walaupun gadis ini tidak benar-benar berniat untuk menghibur orang. Tapi, setiap tingkah lakunya selalu mempengaruhi orang di sekitarnya.
Kecantikannya memang bisa menarik perhatian orang-orang dalam sekejap. Sifatnya yang kadang datar, kadang ceria juga mempesona. Itulah yang selalu mereka cemaskan. Bagaimana caranya untuk menjaga gadis ini?
"Aku baru saja menerima kabar dari rumah. Kedua adik perempuanku juga ikut dalam kompetisi pemilihan permaisuri pangeran." Yao Yunmei berkata untuk memberitahu, suaranya terdengar acuh tak acuh.
Xiu Qixuan melirik sekilas untuk memikirkannya dan bertanya; "Mereka orang seperti apa?"
Sudut mulut Yao Yunmei terangkat dengan kesulitan, dahinya berkerut untuk berpikir keras; "Mereka... Ah, aku tidak tahu. Kami tidak terlalu dekat."
Xiu Qixuan tiba-tiba berdeham kecil, dan berkata. "Aku mengerti. Mereka pasti gadis yang harus berbudi luhur sepertimu. Pembicaraan kalian pasti tidak mengalir karena sama-sama kaku mempertahankan martabat." Ada humor jenaka dalam matanya yang ditujukan pada Yao Yunmei.
"Jangan meledek. Cepat selesaikan pelajaran." Yao Yunmei memelototi tajam. "Siang nanti kita harus mengambil gaun ke penjahit untuk di pakai besok ke acara perjamuan Guifei niang niang." Matanya menyipit sangar.
"Aduh... iya, iya. Yunmei jiejie yang terhormat." Mendengus Xiu Qixuan memutar bola matanya.
••••••••••••••
Malam hari tiba....
Xiu Qixuan berbaring di atas ranjang dan bergerak bolak-balik mencari posisi paling nyaman. Dia tidak dapat tertidur, matanya belum ingin tertutup walaupun tubuhnya ingin sekali beristirahat.
Dia bangkit dari atas tempat tidur untuk mengenakan pakaian luarnya, kemudian segera melangkah ringan keluar melewati pintu kamar tidur. Karena tidak bisa tidur, lebih baik dia keluar mencari angin malam atau ke dapur untuk mengambil cemilan yang tersisa.
Cahaya bulan malam ini sangat terang. Warna peraknya menggantung di cakrawala langit malam. Cahaya nya menyebar sampai ke daratan, tersebar seperti untaian karpet perak di sepanjang jalan.
Berjalan tidak terarah di bawah sinar bulan, Xiu Qixuan merasakan suasana hatinya jauh lebih nyaman karena sensasi lembut dan ringan dari hembusan angin musim semi.
Tiba-tiba, saat Xiu Qixuan melangkah untuk berbelok ke koridor utama—terlihat sosok bayangan yang begitu dia kenali sedang berjalan dalam kegelapan malam dengan membawa lentera di dalam genggaman.
"Ayah?" Mulut Xiu Qixuan bergumam bingung dengan wajahnya berkerut melihat Xiu Haocun.
Dalam diam dia segera mengikuti langkah Xiu Haocun yang mengarah ke belakang taman kediaman.
Di taman kediaman memang terdapat kebun khusus yang di jaga oleh gerbang penghubung yang terbuat dari besi dan itu selalu terkunci. Xiu Qixuan tidak mengetahui ada apa di dalamnya. Tetapi yang dia tahu adalah tempat atau kebun tersebut selalu mendapatkan perlakuan dan perawatan khusus dari kepala rumah tangga.
Mendorong gerbang, Xiu Haocun kembali melangkah setelah membuka kunci. Xiu Qixuan mengikuti dengan perlahan.
Beberapa langkah ke depan, Xiu Qixuan tampak mencium aroma bunga-bunga yang menyala. Mengikuti aroma bunga, dia berjalan sampai ke ujung. Matanya bersinar cerah ketika melihat lautan bunga yang tampak tidak nyata. Dia sejenak lupa bahwa saat ini dia sedang menjalankan peran sebagai penguntit.
Dia merasa tenggelam dalam lautan bunga yang tampak seperti ilusi. Aroma harumnya memabukan ketika angin semakin berhembus kencang.
Bunga-bunga tersebut bercorak warna-warni, besar dan kecil, saling mengisi tapi juga saling bersaing untuk mekar.
Berjalan di tengah-tengah lautan bunga, Xiu Qixuan mendengar suara desiran melodi yang terbawa oleh angin. Kedua kaki Xiu Qixuan segera mengikuti asal suara tersebut.
Di malam yang sepi, dia melihat sosok Xiu Haocun yang terduduk di bawah pohon menatap kosong kearah hamparan bunga yang tumbuh diatas tanah.
Bibir Xiu Haocun meniup kulit daun seperti seruling alami, mengalirkan desiran nada dan membentuk irama lagu. Musik yang dia mainkan terasa dingin, seperti perahu nelayan yang tersesat di luasnya lautan, sendirian. Itu adalah bagian yang membuat orang merasa putus asa terkurung dalam jeratan kesepian.
Musik tiba-tiba berhenti, tetapi, Xiu Qixuan masih terhenyak kedalam jurang—tidak bisa melepaskan diri dari lagunya.
"Bersembunyi seperti tikus. Kemarilah, Xuan'er..." Xiu Haocun berkata kearahnya.
•••••••••••••••••