
Aku berlari dengan sangat tergesa-gesa menuju pintu keluar kediaman. Hanfu yang ku gunakan sedikit memperlambat gerakku untuk melangkah. Tidak ada waktu lagi untuk berganti pakaian.
Sepanjang jalan dan koridor menuju pintu keluar utama kediaman terlihat beberapa prajurit berlalu-lalang untuk berpatroli. Tidak ingin menghabiskan waktu untuk berkelahi aku memilih untuk menghindari mereka.
Sesampainya diriku dipintu keluar utama kediaman—secara spontan aku bersembunyi dibalik dinding koridor karena melihat empat orang prajurit menjaga pintu utama kediaman.
Menghela napas panjang aku bergumam pelan, "Tidak bisa dilewati,"
Sedikit mengedarkan penglihatanku akan sekitar untuk berusaha mencari jalan lain. Terhenti sejenak pandanganku saat melihat sebuah dinding pembatas yang tingginya lebih rendah daripada dinding pembatas disekitarnya terdapat pula didekat dinding itu sebuah batu besar yang seharusnya adalah hiasan kediaman.
Dengan langkah yang cepat dan tidak menimbulkan suara—Aku menghampiri dinding tersebut, menjaga jarakku tetap lurus pada bagian dinding tersebut.
Sebelum melanjutkan langkahku yang terkesan nekat penuh percaya diri ini. Ada baiknya merobek sedikit rok hanfu panjang yang memperlambat gerakku untuk melangkah.
'Srett' Suara robekan terdengar. Membuang kain yang sudah dirobekan ke tanah.
Menolehkan sedikit wajahku untuk memastikan bahwa keempat prajurit militer yang menjaga pintu utama kediaman itu tidak terusik. Syukurlah saat melihat mereka yang tidak terusik dengan suara yang sempat-ku timbulkan, jarakku dengan mereka sedikit jauh tetapi masih dapat terlihat bila mereka menolehkan wajah.
Menghela napas panjang sekali lagi untuk bersiap. Kemudian aku bergumam pelan untuk menghitung mundur dan menyemangati diriku,
"Semangat. 3..2..1.."
Aku berlari kencang kearah dinding didepanku kemudian kedua kaki-ku menapaki batu besar yang seharusnya adalah hiasan kediaman. Meloncat tinggi dengan bantuan batu besar yang ku tapaki menuju dinding pembatas kediaman.
Aku dapat merasakan desiran angin disekitar tubuhku.
'Hap.Hap.Tap.' Langkahku terkesan ringan dan cukup stabil, juga suara yang ditimbulkan tidak terdengar keras.
Saat diriku sudah memijakan kedua kaki-ku diatas dinding pembatas, aku mendudukan diriku diatas dinding pembatas bukannya langsung melompat turun.
Jujur saja ini sangat melelahkan tetapi sungguh menyenangkan karena mencoba cara meringankan tubuh seperti didalam drama kolosal!
"Sangat lelah," Gumamku mengusap keringat yang mengalir didahiku dengan lengan baju.
Tiba-tiba aku teringat akan suatu hal. Sangat bodoh dan ceroboh, aku menepuk jidatku sendiri cukup keras. bagaimana bisa aku melupakan bahwa aku butuh seekor kuda untuk menuju gerbang timur. Tidak mungkinkan aku berlari menggunakan kedua kaki-ku, yang ada aku bisa pingsan duluan sebelum sampai ke gerbang timur.
Tidak bisa kembali kedalam kediaman hanya untuk mengambil seekor kuda karena gerbang barat sudah diserang, mungkin sebentar lagi kejadian mengejutkan juga terjadi digerbang timur. Aku harus menyandera kembali Jenderal Suku Nanbao terlebih dahulu agar menghentikan serbuan pasukan mereka.
Dengan cepat aku melompat turun dari atas dinding pembatas dengan pendaratan yang sangat stabil.
Sangat berterimakasih dengan kelincahan Baijin Hu yang saat itu tidak sengaja terserap olehku. Sekarang keistimewaan Baijin Hu dan Lao Yong sudah melekat didalam diriku dan sudah dilatih selama lima bulan ini.
Berlari dengan cepat menuju Timur Kota Ping'an. Jalan-jalan di Kota Ping'an sangat sunyi dan sepi, tidak terlihat sedikitpun orang yang biasanya sangat ramai berlalu lalang dijalan ini. Dapat dipastikan penduduk Kota Ping'an sedang berlindung dan berdoa di rumah mereka masing-masing.
Sudah beberapa meter aku berlari, napasku sudah memburu dan jantungku berdetak sangat cepat.
"Haahh, Tidak kuat lagi." Ucap Xiu Qixuan memberhentikan langkah dengan postur tubuh yang menunduk memegang kedua lutut kakinya.
Aku melihat sebuah bangunan toko dengan pintu yang sedikit terbuka ada seseorang didalam toko tersebut. Dengan cepat aku menghampiri toko tersebut berniat meminjam kuda sang pemiliki toko. Aku sangat yakin bahwa pemilik toko tersebut memiliki kuda untuk dijadikan alat transportasi lagipula toko tersebut bukanlah toko kecil pasti memiliki sedikit kekayaan untuk membeli seekor kuda.
Beberapa saat kemudian aku menarik seekor kuda keluar dari toko tersebut, sang pemilik toko menyetujui permintaanku saat aku menunjukan plakat Kediaman Xiu.
Menaiki kuda dan duduk diatas pelana tersebut dengan gerakan yang sangat berhati-hati, guratan ekspresi cemas mungkin sudah terpasang diwajahku. Sebenarnya diriku belum begitu mahir mengendari kuda tetapi aku sudah beberapa kali berlatih dengan Xiu Jierui ataupun Xiu Huanran.
Baru saja diriku hendak memacu kuda dengan menarik tali kekang kuda dilenganku agar segera berlari menuju timur kota tetapi seseorang pria yang berpakaian militer mengendari kuda dari arah depan menghampiriku—membuatku reflek terdiam menunggu pria itu sampai tepat didepanku.
"XuanXuan, Kenapa kau berada disini?! Kau Gila! Apa yang kau lakukan? cepat kembali!" Teriak Xiao Taoli marah dan cemas melihatku berada diluar tanpa penjagaan saat situasi sedang tidak baik.
"TaoTao, kenapa kau berada disini?" Tanyaku tidak menghiraukan ucapan yang sebelumnya dilontarkan olehnya.
Karena seharusnya Xiao Taoli membantu Xiu Haocun dan Xiu Jierui dipintu pertahanan kota. Sudah sejak lama pria itu berada di kamp militer atas izinku yang membiarkannya pergi.
"Aku kembali karena Jenderal memperintahkanku untuk menjagamu dan Nyonya Yao. Benar saja aku memang harus lebih mengawasimu," Jawabnya
"Apa yang hendak kau lakukan?" Lanjutnya menarik tali kekang kuda yang dia kendarai agar melangkah semakin mendekatiku yang juga berada diatas pelana kuda.
Aku menjelaskan analisa-ku dengan guratan emosi cemas yang terpampang nyata dan Xiao Taoli terdiam mendengarkan penjelasanku.
"Aku akan menemanimu ke Gerbang Timur," Ucapnya diakhir penjelasanku.
Baru saja aku ingin menjawab tetapi genderang perang yang bergema sekali lagi berbunyi keras sekarang genderang perang itu bertabuh dari arah timur kota.
"Tidak ada waktu lagi, Sekarang terbukti analisaku benar. TaoTao, aku memperintahkanmu membawa pasukan bantuan untuk gerbang timur karena kau yang memiliki otoritas menggunakan pasukan." Perintahku dengan tegas dan tak terbantahkan.
Xiao Taoli hanya terdiam membeku selama beberapa saat melihatku dengan pandangan kagum. Cih, bocah ini masih bisa dia terpesona dengaku disituasi darurat.
"Cepat lakukan tugasmu!" Teriakku menyadarkannya kemudian dengan cepat aku memacu kuda yang-ku pinjam ini agar berlari.
Aku yakin Xiao Taoli mengerti dan mematuhi perintahku karena hanya memang dirinya yang dapat melaporkan situasi gerbang timur dan membawa bala bantuan. Status Xiao Taoli di kamp militer memang tidak terlalu tinggi tetapi dia bukan hanya prajurit biasa yang berperingkat rendah.
Sekarang yang harusku lakukan mencari Jenderal Pasukan Nanbao dibangunan timur kota.
POV END.
*****
Dijalan-jalan menuju Timur Kota Ping'an yang terlihat sangat sunyi dan sepi tetapi kerusuhan yang tidak terhindari terjadi di pintu gerbang yang menjadi benteng pertahanan.
Sesampainya disana Xiu Qixuan mendongakan wajah—dirinya melihat para prajurit militer yang menjaga bagian timur berjatuhan dari atas benteng pertahanan. Beberapa panah bulu berterbangan menembus tubuh para ksatria diatas benteng.
Xiu Qixuan menarik tali kekang kudanya untuk melangkah mundur saat sebuah panah mengarah padanya.
Gadis itu tertegun melihat panah yang mengarah padanya tertancap ditanah, pandangannya sedikit gemetar saat melihat tubuh yang berjatuhan dengan penuh darah.
Pintu gerbang masih tertutup dan dapat dipertahankan tetapi mungkin beberapa lama lagi pintu itu akan diterobos oleh pasukan Suku Nanbao.
Xiu Qixuan menarik tali kekang kudanya mengarahkan kuda itu agar berbalik menghadap arah barat kota saat dirinya tidak sengaja melihat kepulan asap tebal dari arah barat kota, Ayah dan Kakak Pertamanya mungkin tidak akan dapat dengan cepat mengirim bala bantuan untuk gerbang timur dikarenakan gerbang barat juga sedang dalam kekacauan.
Gerbang utara dan selatan memang tidak diserang langsung tetapi mereka tidak dapat mengendorkan pertahanan disana dengan mengurangi jumlah prajurit yang menjaga. Hanya dapat tersisa bantuan dari gerbang barat kalau tidak—mungkin gerbang timur akan runtuh. Bala bantuan dari ibukota juga tidak kunjung sampai. Padahal Xiu Jierui sudah memberi kabar keistana kekaisaran.
Menghela napas panjang Xiu Qixuan mengangkat salah satu lengannya untuk mengeluarkan senjatanya yaitu Kipas Emas yang berubah bentuk menjadi Pedang.
Mengedarkan penglihatan tajamnya untuk mencari seseorang yang menjadi tujuannya datang ke tempat ini.
Menarik tali kekang kuda dengan sebelah tangannya yang kosong untuk melangkah melewati beberapa bangunan.
Hola! dirinya melihat bahu To Mu dari balik sebuah pilar bangunan kumuh, dia tahu bahwa itu adalah To Mu karena pria itu berpakaian komandan militer.
Memacu kudanya dengan cepat menuju bangunan kosong yang ditinggalkan tersebut.
Terdapat empat orang pria dewasa dan satu orang pria paruh baya. dan tentu saja To Mu yang sedang terduduk ditanah dan bersandar dipilar menahan sakit diperutnya yang mengeluarkan darah.
Para pria itu terkejut melihat seorang gadis cantik menghampiri mereka dengan mengendarai kudanya disituasi genting saat perang sedang berlangsung di pintu pertahanan timur.
"Jenderal penting dari Suku Nanbao, Sungguh kami tidak menjamu-mu dengan baik yang membuatmu berdiam diri ditempat kumuh seperti ini." Tanya Xiu Qixuan dengan senyum angkuh dari atas kudanya.
Gadis itu menatap seorang pria paruh baya yang berpakaian layaknya tahanan militer. Sesekali Xiu Qixuan menatap To Mu untuk memastikan keadaan pria itu.
"Seorang Nona muda datang kemedan perang dengan begitu percaya diri. Tidak takutkah ratusan panah menembus tubuhmu yang akan dilepaskan oleh saudara kita diluar sana." Jawab Seorang pria dewasa dengan tidak kalah angkuhnya, pria itu berdiri disamping Jenderal Suku Nanbao.
Para temannya yang mendengar ucapan pria itu tertawa untuk mengejek Xiu Qixuan. Tetapi gadis itu tetap tenang dan tidak terprovokasi. Bukan Xiu Qixuan namanya kalau mudah terprovokasi.
"Siapa kau?" Tanya Jenderal Suku Nanbao dengan galak.
Xiu Qixuan tidak menjawab—dia mengeluarkan plakat Kediaman Xiu dengan gerakan yang sangat angkuh.
Mereka yang melihatnya dan terdiam membeku selama beberapa saat kemudian saling melirik memberi kode untuk segera menyerang Xiu Qixuan.
"Nona—" Panggil To Mu lirih mendongakkan wajahnya menatap gadis yang sangat dia kenali.
Tetapi Xiu Qixuan hanya diam tidak menghiraukan panggilan To Mu yang memberinya tatapan cemas.
Keempat pria itu membentuk lingkaran untuk mengepung Xiu Qixuan dari segala arah. Sementara pria paruh baya yang notabennya Jenderal Suku Nanbao hanya diam menyaksikan—tidak ikut bertarung, dia sangat percaya diri orangnya dapat dengan cepat mengalahkan Xiu Qixuan.
Salah satu pria dari arah samping kanan lebih dulu menyerang Xiu Qixuan dengan senjata tajamnya yang besar dan berbentuk melengkung.
Xiu Qixuan menangkis serangan tersebut dan melompat turun dari kudanya, memasang gerakan bersiap bertarung. Kemudian berucap, "Kalian terlihat sangat rendah menyerang seorang gadis secara bersamaan," Untuk memprovokasi mereka.
"Jangan banyak bicara," Ucap salah satu dari mereka menyerang dengan membabi buta.
Xiu Qixuan sudah mencapai tingkat menengah ilmu Xitian, tidak diragukan lagi dia begitu percaya diri membalas dan menyerang orang Suku Nanbao.
'Brak' Satu persatu tubuh keempat orang itu jatuh ditanah. Mereka hanya pingsan dan terluka ringan. Xiu Qixuan belum tega untuk membunuh.
"Jenderal, Apakah kau selanjutnya?" Tanya Xiu Qixuan dengan ekspresi angkuh.
"Kau—Kau. Darimana kau belajar Seni Beladiri Sekte Xitian? Apakah kau salah satu murid yang selamat?" Tanya Jenderal Suku Nanbao dengan terbelalak, dia sangat terkejut tanpa sadar dirinya tidak berwaspada dan malah berjalan mendekat menghampiri Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan hanya diam dan tetap tenang. Apakah Jenderal Suku Nanbao ini mengincar buku Seni Beladiri Sekte Xitian juga? Tetapi kenapa ada yang aneh pada pertanyaan kedua yang dia lontarkan. Orang ini memang terlihat terkejut dan juga seperti seseorang yang sangat mengetahui mengenai Sekte Xitian. Apakah dia adalah salah satu orang Sekte Xitian?
"Kau lalai, Jenderal. Bagaimana bisa kau kehilangan kendali dan melepaskan kewaspadaan didepan musuhmu," Ucap Xiu Qixuan dengan tetap mengunci gerakan sang jenderal dengan pedangnya.
"Haha, Kau benar. Bagaimana bisa aku dikalahkan dengan satu gerakan mengunci dari seorang gadis kecil." Ucap sang jenderal tertawa keras dan kemudian menyikut dan menendang tubuh Xiu Qixuan yang berada dibelakang tubuhnya.
Sang jenderal tidak takut pedang Xiu Qixuan menyobek lehernya, dia balik melawan dan menimbulkan sedikit goresan dilehernya.
Xiu Qixuan terkejut dengan serangan balik itu, tubuhnya sedikit mundur dan hampir terjatuh tetapi kemudian dia meloncat dan balas menyerang.
Pertarung mereka cukup sengit Jenderal Suku Nanbao ini tidak mudah dikalahkan, dan satu hal yang Xiu Qixuan dapatkan dari pertarungan ini bahwa dapat dipastikan Jenderal Suku Nanbao memiliki hubungan dengan Sekte Xitian. Orang ini dapat mengunakan dasar ilmu Xitian dan dipadukan dengan gaya berpedang Suku Nanbao.
Menangkis. Menyerang.
Berlangsung cukup lama dan napas mereka sama-sama memburu kelelahan. Tidak ada yang terluka diantara mereka selain goresan luka sebelumnya dileher sang jenderal.
'Tidak bisa seperti ini terus,' Gumam Xiu Qixuan dalam hati.
Ditengah pertarungan tanpa sepengetahuan musuhnya, Xiu Qixuan mengeluarkan sebuah kantong kain dilengan bajunya didalam kantong itu terdapat serbuk putih.
Saat serbuk itu mengenai seseorang, otot dan tubuh orang itu akan lumpuh selama empat jam. Xiu Qixuan mendapatkannya dari barang peninggalan Qiaofeng. Dia selalu membawa itu untuk berjaga-jaga disituasi yang tidak dapat diprediksi olehnya.
Saat menangkis serang jenderal besar yang mengarah pada perutnya, kini gilirannya menyerang Xiu Qixuan menjatuhkan pedangnya membuat sang jenderal terdiam menatapnya bingung, dengan cepat Xiu Qixuan melemparkan serbuk itu kearah sang jenderal.
'Brakk' Tubuh sang jenderal Suku Nanbao jatuh dan terbaring ditanah.
"Efeknya sangat cepat," Gumam Xiu Qixuan melangkah menghampir sang jenderal yang melototinya dengan seram. "Maafkan aku, tenang saja beberapa jam lagi kau akan pulih. Aku ini gadis yang baik tidak mungkin membunuhmu," Ucapnya, kemudian mengangkat dan menyeret tubuh sang jenderal membawanya ke dekat To Mu yang sejak tadi diam menyaksikan pertarungannya dengan cemas. Xiu Qixuan tidak terlihat kesusahan saat memindahkan tubuh sang jenderal, tenaga dia cukup besar karena bantuan kekuatan Lao Yong yang melekat didalam dirinya.
"Kau tidak apa?" Tanya Xiu Qixuan berjongkok didepan To Mu.
"Saya baik-baik saja. Apakah Nona terluka?" Tanya To Mu yang menunduk sedikit malu karena baru kali ini berinteraksi dekat dengan Nona Besar Xiu.
"Lihatlah sendiri, aku sangat baik. Mengapa kau menunduk apakah ada yang sakit?" Ucap Xiu Qixuan mengalihkan pandangan ke luka di perut To Mu yang terus mengeluarkan darah.
"To Mu," Panggilnya membuat To Mu secara refleks mendongakkan wajah menatap Xiu Qixuan.
"Aku membutuhkanmu untuk mempertahankan benteng timur," Ucap Xiu Qixuan mengangkat salah satu lengannya dan menempelkan telapak tanganya di dahi To Mu.
To Mu terdiam membeku tetapi dia merasakan sesuatu hangat dan nyaman mengalir ditubuhnya membuat dia menutup kedua kelopak matanya.
Xiu Qixuan memberi sedikit aura kehidupannya untuk menyembuhkan To Mu. Gadis itu membutuhkan To Mu yang pulih agar membantunya diatas pintu pertahanan timur.
Cahaya samar terlihat dari tubuh To Mu dan perlahan menghilang. Xiu Qixuan menarik kembali lengannya menjauh. Menghela napas lega saat dirinya sekarang sudah dapat mengendalikan kekuatan aura kehidupan.
To Mu membuka kelopak matanya menatap Xiu Qixuan dengan tatapan bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Saat memegang perutnya dan tidak merasakan sakit, To Mu malah memukul perutnya untuk memastikan lukanya.
'Bukk' Suara pukulan terdengar.
"Hei, apa yang kau lakukan? Cepat bawa tubuh orang itu keatas benteng, kita tidak mempunyai waktu lagi." Perintah Xiu Qixuan dan beranjak berdiri.
"Nona—" Panggil To Mu dengan kebingungan tetapi dia tetap ikut beranjak berdiri.
"Itu rahasia diantara kita berdua saja. aku harap kau membalasku dengan menyimpannya rapat." Ucap Xiu Qixuan dengan suara rendah tetapi pandangan yang diperlihatkannya penuh ancaman.
To Mu mengangguk mengerti dan mengucapkan sumpahnya, kemudian dia menopang dan membawa tubuh Jenderal Suku Nanbao menuju atas benteng pertahanan timur dengan Xiu Qixuan yang berjalan didepan mereka.
Saat Xiu Qixuan menyembuhkan To Mu, tubuh Jenderal Suku Nanbao itu menghadap kearah berlawan dari mereka menjadikan Jenderal itu hanya mendengar percakapan mereka tetapi tidak tahu apapun yang terjadi.
*******
Saat menginjakan kaki diatas benteng pertahanan Xiu Qixuan dapat melihat Kekacauan, Rintihan, Teriakan, Prajurit yang berlarian tidak menentu arah dengan senjata mereka masing-masing dan Darah mengalir ditanah dari segala arah.
Xiu Qixuan sudah menyiapkan mentalnya tetapi tetap saja kedua kakinya lemas untuk melangkah.
"Nona, Kau tidak apa?" Tanya To Mu melihat Xiu Qixuan terdiam membeku.
"Tidak apa," Jawab Xiu Qixuan singkat melanjutkan langkahnya menuju posisi tengah benteng agar terlihat jelas oleh Pasukan Nanbao yang berada dibawa sana.
Sesampainya mereka disana terlihat komandan militer yang menghampiri dan menyapa mereka.
"Komandan To Mu. Apakah bala bantuan sudah tiba? Pasukan Nanbao tidak dapat diremehkan setengah dari prajurit yang menjaga gerbang timur sudah tewas." Ucapnya dengan cemas dan khawatir hanya berfokus pada To Mu. Dirinya lupa bahwa To Mu sebelumnya dikabarkan menjadi sandera penjahat yang kabur.
"Komandan Wei, Saya membawa penjahat ini atas perintah Nona Besar Xiu yang berhasil menangkapnya kembali." Ucap To Mu memberitahu identitas gadis disebelahnya.
Komandan Wei tersentak mendengar ucapan yang dilontarkan rekannya ini.
"Saya memberi salam kepada Nona Besar Xiu," Ucapnya memberi hormat dengan postur seorang prajurit.
Xiu Qixuan membalas dengan membungkukan sedikit tubuhnya. Kemudian berucap, "Komandan Wei, Izinkan aku berbicara kepada Pasukan Nanbao dibawah sana."
Xiu Qixuan ingin berdiri di posisi tengah benteng yang berhadapan dan terlihat langsung oleh Pasukan Nanbao, seharusnya tempat itu hanya ditempati oleh seorang Komandan atau Jenderal untuk memperintah pasukannya dan berhadapan dengan musuhnya.
Dari nada yang digunakan gadis itu, dia seperti tidak membuat pertanyaan untuk meminta izin tetapi dia terkesan memberitahu Komandan Wei mengenai hal yang ingin dia lakukan.
Komandan Wei terdiam matanya bersisihan dengan kedua mata To Mu yang memberi kode agar dia tidak membantah ucapan Xiu Qixuan.
"Tentu saja. Silahkan Nona, berhati-hatilah." Jawab Komandan Wei mempersilahkan Xiu Qixuan melangkah.
"Terima Kasih." Ucap Xiu Qixuan, sebelum dia melangkah dirinya terlebih dahulu memberi intruksi kepada To Mu.
"To Mu, ikuti aku. Keluarkan pedangmu dan arahkan ke leher orang itu." Perintah Xiu Qixuan yang dimengerti dan dilaksanakan oleh To Mu.
Mereka berjalan melangkah dan saat sampai tepat diposisi tengah benteng. Terlihat Barisan Pasukan Nanbao, tidak ada pasukan kavaleri diantara pasukan itu. Hanya terdapat banyak pasukan memanah dan bersenjata pedang, kemudian juga pasukan yang bertugas memanjat benteng dan mendorong pintu gerbang. Sudah banyak prajurit pasukan Nanbao yang berhasil memanjat benteng dan melukai Prajurit Kekaisaran Shen dengan pedang mereka.
Karena mereka harus melewati rawa yang dalam dan besar Pasukan Kavaleri tidak ikut datang menyerbu gerbang timur.
"Hentikan serangan atau Kekaisaran Shen tidak akan segan langsung membunuh Jenderal kalian ini," Teriak Xiu Qixuan dengan keras membuat Pasukan Nanbao yang bersiap melepaskan ratusan panah mengurungkan niat mereka.
"Lihat baik-baik! Wajah ini—kalian mengenalnya, bukan?" Ucap Xiu Qixuan sekali lagi memberi kode kepada To Mu agar mengarahkan lebih dekat pedangnya ke leher sang Jenderal.
Terdengar suara ribut dibawah sana, para prajurit Pasukan Nanbao saling berbisik.
"Informasi palsu yang sengaja kalian sebarkan sungguh tidak berguna. Salah satu strategi penyerangan kalian adalah mengejutkan lawan dengan cara membuat suara dibarat lalu menyerang ditimur. Kembalilah dan belajarlah seni berperang lebih baik, strategi itu sudah sering kami pakai." Ucap Xiu Qixuan memprovokasi mereka.
"Nona Muda yang begitu angkuh tidak baik ikut campur dimedan perang," Teriak keras seorang lelaki tampan melangkah keluar dari barisan pasukan dan dapat dipastikan orang itu adalah pemimpin pasukan yang menyerang gerbang timur.
"Kembalilah, cari seorang pria untuk dinikahi dan kau layani." Lanjutnya lagi membuat tawa dari pasukan Nanbao terdengar keras.
"Cihh, tampan tetapi ucapannya tidak enak didengar." Decih Xiu Qixuan pelan, gadis itu terlihat sedikit kesal dengan ucapan yang dilontarkan pria itu.
"Nona—" Panggil To Mu menyadarkan Xiu Qixuan kembali.
"Pasukan kalian digerbang barat sudah hampir dikalahkan terkepung didua sisi oleh bala bantuan dari Ibukota Anming. Apakah kalian disini masih ingin bertarung?" Ucap Xiu Qixuan dengan angkuh.
"Syukurlah bala bantuan Ibukota sudah tiba." Gumam Komandan Wei terdengar dari arah samping Xiu Qixuan.
"Komandan Wei, Aku berbohong. Ini adalah salah satu cara menghancurkan moral mereka agar menghentikan serangan." Bisik Xiu Qixuan pelan kepada Komandan Wei.
Sebelum Komandan Wei menjawab suara pria dibawah sana mengintrupsi mereka.
"Peluit pertanda perang usai belum berbunyi, jangan kau kira dapat membodohi kami. Lagipula bagaimana mungkin Kekaisaran Shen mengirim seorang gadis untuk berperang. Apakah Kekaisaran Shen sungguh kekurangan prajurit," Balas pria tampan yang notaben pemimpin pasukan dengan tajam.
"Iya, itu benar. Kami tidak percaya." seruan prajurit Pasukan Nanbao dibawah sana.
"Wakil Jenderal pun belum terlihat sudah dapat dipastikan saudara kita berhasil digerbang barat." Lanjut mereka dengan percaya diri.
Xiu Qixuan terdiam membeku tanpa sengaja matanya bersisihan dengan pria yang menjadi pemimpin Pasukan Nanbao. Pria itu tersenyum miring dengan tatapan meremehkan. Xiu Qixuan balas mendengus sebal dan memutar kedua bola matanya.
Baru saja Xiu Qixuan ingin balas berucap, bibirnya terkatup kembali saat sebuah suara familiar terdengar keras.
"Wakil Jenderal hadir memimpin pasukan untuk mempertahankan benteng timur dan balas menyerang penjahat." Teriak Xiao Taoli menggelegar keseluruh penjuru.
Xiu Qixuan menolehkan wajah dan melihat kakak pertamanya melangkah dengan sangat berwibawa dan menunjukan wajah angkuhnya yang terdapat percikan noda darah kepada Pasukan Nanbao.
"Cihh, bergaya sekali. Noda darah itu paling untuk menjatuhkan moral lawan yang melihatnya," Gumam Xiu Qixuan pelan menebak dengan tepat, tetapi dia mengucapkan syukur karena kakak pertamanya tiba tepat waktu.
Keadaan hening sejenak, bala bantuan dari gerbang barat sudah tiba membentuk formasi pertahanan disetiap sudut benteng. Pasukan pemanah Kekaisaran Shen terisi dan lengkap kembali yang sebelumnya kosong karena banyak yang tewas.
Xiu Jierui menolehkan wajahnya menatap Xiu Qixuan dan tersenyum.
"Kerja bagus, Xuan'er." Pujinya
"Sekarang serahkan mereka padaku," Lanjutnya mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda.
Benar saja kalau tidak ada Xiu Qixuan mungkin benteng timur sudah jatuh ditangan pasukan Nanbao.
Xiu Qixuan mengulur waktu dengan mengancam mereka dan juga berhasil menangkap kembali penjahat penting.
•••••••••••
ini bab paling panjang diantara yang lain. 3500 kata dong yaampun. kasih diriku hadiah gaiss haha:-D
masih berjalan lanjutannya diotak author cmn buat besok aja deh yaa pegel cuy.