Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Tangisan Dari Balik Pohon Ek



Daun hijau mulai berubah warna menjadi lebih mempesona, musim panas yang lembab. Di penuhi oleh hari-hari yang terpenjara. Ini adalah hari terakhir kelas pengantin. Lusa malam akan diadakan jamuan pertemuan bersama permaisuri dan selir kekaisaran. Para kandidat mulai sibuk mempersiapkan diri mereka.


Wajah Xiu Qixuan meringis geli. Bibirnya berkedut menahan semburan tawa. Dia berjalan santai menuju aula istana samping dengan membaca buku di tangannya yang berjudul 'Ketaatan Mutlak Wanita Istana'.


"Pfftt, apa-apa ini." Ia terkikik dengan pupil mata yang bergetar penuh kegilaan kala membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di buku tersebut. "Peraturan saat melakukan pelayanan malam hari. Mengelola tempat tidur dan menunggu tuan. Tidak boleh mengeluarkan suara yang berlebihan. Tidak boleh tertidur sebelum tuan mengizinkan."


Ini benar-benar penuh dengan omong kosong sampai membuat orang muak. Bahkan di atas ranjang pun wanita istana tidak memiliki keleluasaan dan kebebasannya. Semua perilaku mereka di ikat oleh rantai yang bernama status.


Hari terakhir kelas pengantin ini akan ada pengumpulan poin keluhuran dan ketaatan. Di mana nilai-nilai mereka sebagai seorang wanita bangsawan akan di hitung. Dan, peraih nilai tertinggi akan mendapatkan tempat khusus untuk berbincang dengan permaisuri secara pribadi.


Xiu Qixuan sih tidak peduli. Karena dia tahu, bahwa dia tidak akan pernah bisa menjadi wanita taat dan patuh sesuai peraturan istana.


Srakk


Menutup kasar buku yang penuh dengan omong kosong itu. Xiu Qixuan mengangkat lurus pandangannya ke depan. Dia sengaja berjalan memutar dengan memotong jalan dan tidak melewati koridor utama untuk menghindari bertemu para pangeran yang aneh.


Saat ini, teman sepergaulannya, Su Yiyang, tidak datang untuk mengikuti kelas terakhir. Bocah itu mendapatkan sanksi juga hukuman, entah yang jelas dia tidak memiliki kesempatan dalam penghitungan nilai keluhuran dan ketaatan. Dan, juga Xiao Rou mendapatkan skors sebagai pengganti hukuman dari Xiu Lingze, gadis pelayan itu tidak bisa melayani langsung di sisinya selama seminggu.


Jadi, untuk saat ini pelayan yang mendampinginya adalah pelayan kediaman suruhan Xiu Lingze. Dengan ancaman khusus, Xiu Qixuan memerintahkan pelayan suruhan itu untuk diam di kereta kuda selama dia berada di istana dan mengikuti kelas. Dia sedikit risih oleh orang baru.


Melewati sisi jalan yang berbatu dalam kondisi sepi karena jarang di lewati orang, sayup-sayup Xiu Qixuan mendengar suara tangisan dari balik pohon ek yang rindang.


Ugh, Xiu Qixuan mengusap tengkuknya. Bulu kuduknya berdiri. Dia merinding membayangkan hal-hal mistis di kepalanya.


Dengan usahanya untuk menjadi tak acuh, Xiu Qixuan tetap berjalan melangkah cepat melewati sisi pohon ek tersebut.


Hikss


Hikss


Hikss


Berhenti. Kedua kaki Xiu Qixuan memaku di tanah. Tidak bisa, dia tidak bisa untuk tidak penasaran. Dengan kaku, Xiu Qixuan berbalik menuju sisi belakang pohon ek.


"Siapa di sana?" Dia bersuara memanggil.


Secara mengejutkan, suara isak tangis dari balik pohon ek tersebut berhenti. Suasana menjadi senyap dan hanya terisi oleh gemerisik langkah kaki Xiu Qixuan yang mendekat.


Memiringkan sedikit tubuhnya, Xiu Qixuan melongok untuk melihat.


"Eh?"


Dia bersuara polos kala melihat sosok gadis berambut merah dengan penampilan kusut yang menyedihkan. Gadis itu tersentak dengan kehadirannya.


Xiu Qixuan menyadari ketakutan yang di derita gadis itu kala bahu kurus tersebut gemetar.


"Ah, tenanglah! Aku hanya pejalan kaki yang sedang lewat." Ringis Xiu Qixuan canggung, mengangkat kedua tangannya meyakinkan bahwa dia tidak memiliki niat apa pun. "Apakah kamu membutuhkan bantuan?" Dia bertanya dengan senyuman lembut yang terekspos di sudut bibirnya.


Gadis berambut merah itu terlihat meneguk ludahnya gugup. Ekspresinya kosong di penuhi oleh peluh dan air mata.


"A,-aku ba-baik—"


Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, suara jeritan Xiu Qixuan terdengar tertahan penuh kejutan memotongnya.


"Akh, kamu berdarah!!" Xiu Qixuan segera bergerak dan berjongkok untuk memeriksa luka robek di betis kaki si gadis. Darah terus mengalir dari kaki rapuh tersebut membentuk genangan merah di tanah. Pendarahan yang cukup parah.


"Kamu mau mati, ya. Bagaimana ini bisa di biarkan?! " Xiu Qixuan menekan luka tersebut untuk menghentikan pendarahan, dia tanpa sadar mengomeli si gadis. "Kamu bisa mati kehabisan darah!" Pupil mata Xiu Qixuan berkedut ikut meringis, ketika sadar bahwa pendarahannya tidak kunjung berhenti.


Srett


Dalam sekali hentakan, Xiu Qixuan merobek sedikit kain gaun rok yang membuat si gadis tersentak kaku. Dia menjadikan sejumput kain tersebut menjadi perban dan mengikatkan di luka yang menjadi sumber pendarahan.


Dengan tangan yang di penuhi oleh darah, Xiu Qixuan beranjak dan berbicara tenang: "Ayo pergi, kamu harus mendapatkan perawatan di balai pengobatan istana kekaisaran."


Di lihat dari situasi menyedihkan gadis ini, Xiu Qixuan tahu bahwa dia adalah korban penindasan. Luka robek di betis kaki tersebut memang bisa di dapatkan bila terjatuh dan tergores batu-batu tajam, tapi, gaun yang dikenakan gadis ini basah oleh air kolam yang kotor dan sudah tak terpakai di sudut jalan.


"T,-tidak pe-perlu." Si gadis tidak bergeming, dia menunduk menyembunyikan wajahnya sembari berbicara dengan gagap.


Xiu Qixuan mendesah serius. Ia mengenali gadis berambut merah yang menyedihkan ini.


"Duan Maiqiu." Panggilnya datar.


Membuat gadis itu mendongak bingung untuk menatapnya penuh tanda tanya


Duan Maiqiu, Putri kelima Keluarga Duan yang lahir dari seorang selir, gadis ini tampak terisolasi dan sangat tertutup. Dia tidak terkenal dan memiliki kekurangan berbicara.


Xiu Qixuan cukup penasaran tentang Duan Maiqiu, dan ketika dia bertanya pada Duan Bian Jian mengenai situasi gadis ini di Keluarga Duan, pria itu tidak bisa menjawab karena tidak tinggal di Kediaman Duan selama ini.


Tapi yang Xiu Qixuan mengerti adalah Keluarga Duan memiliki banyak keturunan, entah itu yang sudah mati atau masih hidup. Dan karena situasi inilah mereka hanya memperhatikan anggota keluarga yang menurut mereka penting dan pantas. Disisi lain, keberadaan Duan Maiqiu tampak seperti tidak di perlukan dalam keluarga kaya raya itu.


"Kamu terpuruk serendah ini, ya. Sampai tidak bisa mempercayai orang." Timpal Xiu Qixuan dengan dingin di antara kedua alisnya, namun suaranya tidak menyerang.


Duan Maiqiu tercekat perih. Dia bingung dan kosong.


Menghela napas panjang, Xiu Qixuan bersedekap menatap ke dalam mata Duan Maiqiu yang hampa. Dia mendumel serius: "Aku tidak peduli, kau ingin mati di sini atau tidak. Tapi, aku kesal kalau kau mati di depanku dalam kondisi menyedihkan seperti ini." Alis Xiu Qixuan menukik tajam ketika dia melanjutkan sembari berdecak, "Tck, setidaknya matilah setelah membalas perbuatan orang busuk yang menjahatimu, 'kan."


"Kalau kau mati, aku sendiri yang repot karena harus bersaksi dan di introgasi." Celotehnya lagi.


Duan Maiqiu berkedip samar. Dia tampak goyah oleh kata-kata Xiu Qixuan.


Melihat rautnya yang goyah, bibir Xiu Qixuan berkedut tidak sabar menunggu Duan Maiqiu yang melunak.


Membuka suaranya, Duan Maiqiu mencicit pelan: "P,-per-gilah!"


Dahi Xiu Qixuan berubah menghitam, dia mendecih.


"Aihhh, baiklah kalau begitu tidak ada cara lain!" Xiu Qixuan langsung bergegas mendekat dan segera menggendong tubuh Duan Maiqiu di depan.


Duan Maiqiu sontak melebarkan kedua matanya kaget. Dia tergagap dalam gendongan kedua tangan ramping tersebut, "K,-kau i-ini t-tidak -pe-perlu."


Kekuatan otot tangan Xiu Qixuan setara seorang prajurit, saat pelatihan dasar pertama kali dengan Xiu Huanran, dia di perintahkan untuk mengangkat beban berton-ton pangan, saat itu adalah penderitaan yang bagai neraka tetapi hasilnya cukup memuaskan sekarang.


"Lukamu harus segera di rawat, atau kau tidak bisa menikah dan semakin tertindas." Xiu Qixuan menanggapi datar.


Duan Maiqiu terdiam kaku, dia tiba-tiba kembali merasa rendah diri.


"Ah, itu si kata bibiku yang kolot. Katanya bekas luka yang samar pun akan menjadi pukulan besar bagi wanita bangsawan seperti kita. Tapi, aku masih tidak mengerti, mereka seperti menganggap wanita sebagai porselen yang tidak boleh lecet sedikit pun atau itu akan mengurangi nilai jual kita sebagai wanita." Celotehnya mengeluhkan kekesalan dalam isi pikirannya.


Angin sepoi-sepoi berhembus, cuaca cerah yang bagus untuk berteman. Sudut bibir Duan Maiqiu tanpa sadar mengekspos senyum kecil kala mendengar omelan juga celotehan yang tak dia sangka.


••••••••••••••