
Dua Hari Kemudian
"Kita sudah memantau cukup lama tetapi tidak terdapat pergerakan ataupun seseorang di aula besar. Terlalu janggal," Ucap Sima Junke dengan resah mendudukan diri tepat disamping gadis cantik yang sibuk menelusuri peta Sekte Xitian.
"Tidak perlu memantau lagi," Ucap Xiu Qixuan dengan masih memfokuskan pandangan kearah gambar denah di dalam genggamannya.
"Mengapa?" Tanya Sima Junke menautkan alis kebingungan.
"Yang seharusnya datang juga akhirnya akan segera datang," Ucap Xiu Qixuan dengan tenang.
"Apa? Apa maksudmu?" Tanya Sima Junke dengan gelisah tidak mengerti.
Entah mengapa semenjak kedatangan mereka ke tempat ini, dia dapat merasakan bahwa akan segera terjadi kejadian yang tidak mengenakan menimpa mereka.
Gadis cantik itu terdiam dan tidak menjawab, membuat Sima Junke meraih lengannya dan menanyakan kembali, "Apa maksud perkataanmu barusan?"
Tubuh Xiu Qixuan tersentak kaget dan balas menolehkan wajahnya dengan mengerjapkan mata tidak mengerti, "Apakah aku mengatakan sesuatu padamu?" Balasnya linglung.
"Kau mengatakan padaku bahwa—." Terjeda Sima Junke dengan pandangan menyelidik menatap Xiu Qixuan. "Ah sudahlah, tetapi kau benar-benar tidak ingat?" Lanjutnya dengan keraguan.
Xiu Qixuan menggelengkan wajah, dia mengernyitkan kening berusaha mengingat.
Gadis itu tidak menyadari bahwa perkataan ambigu yang begitu janggal keluar dari bibirnya, dia hanya mengetahui bahwa sejak tadi dirinya terlalu fokus mempelajari peta untuk mencari jejak atau letak keberadaan kuil emas sesuai dengan penjelasan yang sebelumnya diberikan oleh Kun Qi Bo.
Kemudian dengan cepat Xiu Qixuan mengambil peta tersebut dan memperlihatkan kepada Sima Junke, "Aku sudah menandai beberapa titik tempat disudut belakang bagian Sekte Xitian untuk kita telusuri, cobalah kau lihat." Ucapnya dengan tersenyum manis nan menenangkan, dia tidak ingin terlalu memusingkan kejadian barusan, lebih baik fokuslah pada masalah utama.
Selama beberapa saat mereka jatuh kedalam obrolan serius mengenai letak keberadaan kuil emas yang menghilang itu. Beberapa tempat yang sebelumnya mereka tandai dicoret dan tersisa tiga tempat yang memungkinkan untuk ditelusuri.
"Dimana Xiao Bao?" Tanya Xiu Qixuan dengan ringan setelah selesai berdiskusi.
"Berlatih," Jawab Sima Junke dengan singkat.
"Anak itu terlalu lincah dan cepat, dengan tubuhnya yang kecil cocok untuk menjadi pencuri atau penyelinap handal." Humor Xiu Qixuan dengan terkekeh kecil.
"Terdengar begitu buruk," Balas Sima Junke dengan tersenyum geli.
•••••••••••••••
Disisi lainnya.
Didalam ruangan bawah tanah itu terdapat sebuah kemegahan yang suram juga mengerikan.
Hanya terdapat satu sosok pemimpin bagi para anggotanya, sosok itu adalah seseorang yang disebut sebagai ketua. Begitu terhormat dan disegani.
Para anggota itu adalah seorang manusia, tetapi satu hal yang dapat dipastikan bahwa mereka memiliki kesamaan yaitu latar belakang mereka memiliki jenis yang sama.
Memilih masuk kedalam jalur iblis karena keputusasan, dendam dan kebencian. Bertemu ketua adalah hal yang patut mereka syukuri, hidup seperti ini juga tidak begitu buruk.
Saat ini tujuan mereka jelas adalah ingin membuka gerbang ke wilayah bangsa iblis dan menghubungkannya ke Daratan Ca Li. Membangkitkan dan membangun kembali peradaban bangsa iblis.
"Ban Xia menghadap Ketua," Ucap seorang bawahan berlutut memberi hormat.
Ban Xia bergegas berdiri dan menunduk kemudian dia berucap lugas, "Lapor ketua, orang asing itu terpantau sedang mencari atau menyelidiki sesuatu. Apakah ketua akan memberi perintah untuk segera menangani mereka?"
Sosok itu terkekeh kecil, terlihat suasana hatinya begitu baik. "Ban Xia... Lihatlah betapa beraninya kamu," Ucapnya ringan.
Ban Xia tertegun tetapi dengan cepat mengetukan dahinya kelantai, "Tidak berani, mohon ketua bermurah hati memaafkan kelancangan saya." Ucapnya dengan cemas.
"Jelas kamu ingin mengusir mereka atau tanganmu sudah begitu gatal menginginkan darah," Ucap sosok itu dengan ringan dan tenang.
Ban Xia berlutut dan menunduk tidak menjawab atau membantah. Memang benar itu niat hatinya, ketiga orang asing itu terlalu mengganggu seperti lalat yang hinggap diwilayah mereka.
"Biarkan mereka mencari dan menemukan hal yang diinginkan, saat itu barulah bertindak sebagai pencuri ataupun menghancurkan penemuan mereka. Kau mengerti, Ban Xia?" Lanjut sosok itu dengan menyeringai tajam terlihat begitu kejam nan tak berperasaan. Jelas bahwa dirinya juga ingin mencari tahu apa yang sedang mereka cari.
"Ban Xia mengerti, berterimakasih kepada Ketua atas pencerahannya." Ucap Ban Xia mengetukan dahinya dengan hormat.
Melambungkan kepercayaan diri musuh untuk menjatuhkannya kedasar jurang, hanya ketuanya yang selalu sabar dalam menunggu hasil siasat. Kesabaran yang begitu mengerikan.
••••••••••••••••
Keesokan harinya.
Wajah cantik yang terlihat kelelahan itu mengerut kesal, dahinya dibanjiri oleh keringat, "Kita sudah menelusuri semua sudut bagian belakang Sekte Xitian dan sudah mendaki sedikit keatas, tetapi lihatlah hanya ada pepohonan yang rimbun." Dengusnya sebal.
Sudah sejak matahari terbit mereka pergi untuk menelusuri beberapa titik dibagian sudut belakang Sekte Xitian tetapi tidak menghasilkan apapun.
Tidak terdapat jalan setapak yang sesuai dengan penjelasan Paman Kun, hanya terdapat jalan yang tertutup semak-semak dan harus ditebas dengan pedang lebih dulu untuk mereka lalui.
Sima Junke mengedarkan pandang untuk menelusuri tempat terakhir ini dan Xiao Bao hanya terdiam tidak mengeluh sedikitpun. Benar-benar anak baik dan pengertian, bahkan Xiu Qixuan saja tidak dapat menahan mulut untuk mengoceh.
Walaupun mulutnya mengoceh sebal tetapi Xiu Qixuan tetap saja dengan sukarela menelusuri dan mencari jejak keberadaan kuil emas.
Bola mata indah itu mengedarkan pandangan dan kakinya melangkah untuk mencari sesuatu, ditempat ini cahaya matahari hanya samar-samar karena terhalang pepohonan yang rimbun.
Langkahnya terhenti dan kedua kakinya memaku disatu tempat, lengan mungilnya mengulur kedepan tepat kearah sinar matahari redup yang lolos masuk dari balik pepohonan rimbun, lengan itu memasang gerakan seperti berusaha menggenggam.
Kemudian dengan perlahan dia mengangkat wajahnya dan melihat kearah langit yang tertutupi oleh pepohonan rimbun. Gadis cantik itu jatuh termenung, memikirkan sesuatu kejanggalan yang mungkin sudah dia temukan.
Bola matanya membelalak dengan cepat dia menolehkan wajah kearah Sima Junke yang sedang sibuk mencari jejak atau serpihan bangunan.
Sima Junke ikut menoleh dan memasang wajah penuh tanya.
"Kuil emas mungkin berada disini," Ucapnya dengan tidak sabaran.
"Maksudku bagian disudut ini sangat aneh. Tidak terdapat suara binatang seperti serangga atapun burung yang berterbangan. Angin musim gugur tidak berhembus dan juga pepohonan tidak menguning untuk berjatuhan." Jelas Xiu Qixuan dengan lugas dan masuk akal."
Hening.
Benar saja yang dikatakan oleh Xiu Qixuan, keanehan ini terlalu besar dan tidak tersembunyi untuk diketahui, tetapi mengapa mereka tidak menyadarinya sejak awal?
"Ini terlalu berbahaya, kemarilah jangan terlalu jauh." Perintah Sima Junke dengan tegas. Mereka tidak dapat berpencar untuk mencari karena tidak mengetahui terdapat kekuatan hebat seperti apa ditempat ini. Memutuskan untuk berjarak dekat dan mencari bersamaan.
•••••••••••••