Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Aku Menyukai Wanita!



"Hehe, itu tidak perlu. Xuan'er, sudah paham betul dan sangat menghafal seluruh rangkaian kalimat dalam isi kitab moral." Balasku terkekeh canggung


Humph, siapa juga yang ingin menyalin kitab membosankan itu lagi? Ternyata Nanbao memang lebih baik dalam kebebasan berekspresi.


"Aku dapat menyebutkannya, kalau guru—"


"Tidak perlu, kita harus cepat bergegas bertemu Huanran." Balasnya menyela ucapanku.


Ji Gui menarik lenganku kemudian kami berjalan melewati jalan kecil menuju salah-satu bangunan toko yang menjual ikan hasil tangkapan langsung para nelayan Suku Nanbao.


Papan kaligrafi yang tepat berada diatas pintu masuk bertuliskan 'Toko Kaibo'


"Kenapa kalian memilih toko ini?" Bisikku pelan bertanya padanya.


Aku tahu mereka memilih toko ini untuk tempat bersembunyi karena letaknya yang strategis dan tak terlihat mencolok tetapi tempat yang seperti ini pula-lah yang akan mudah ditemukan karena dapat dipastikan musuh akan memeriksa tempat yang tak mencolok terlebih dahulu karena saat sesuatu terlihat tak mencurigakan berarti ada sesuatu hal besar yang tersimpan didalamnya, bukankah begitu?


"Ibukota Nanjing milik Nanbao ini sangat dijaga ketat, sangat sulit untuk kami melewati gerbang pemeriksaan. Hanya ada satu cara yaitu menjadi nelayan Nanbao yang memang memiliki token untuk keluar dan memasuki wilayah. Sebelumnya aku dan Huanran lebih dulu pergi ke Nanhai untuk bertemu seseorang yaitu pemiliki Toko Kaibo ini." Jelas Ji Gui


Aku mengangguk mengerti karena Kangjian sebelumnya juga pernah memberitahuku mengenai Nanhai (Laut selatan) yang terletak tidak jauh dari perkotaan ini.


Kami melangkah semakin mendekati bangunan Toko Kaibo. Pandanganku semakin menjelas melihat punggung kokoh milik seorang pria yang memakai tudung penutup kepala dan wajah.


Pria itu membalikan badan dan menghadap kami. Saat pria itu menatapku dari balik tudung yang menghalangi wajahnya. Perasaan merinding yang tiba-tiba hinggap ditubuhku sudah sangat tidak asing lagi. Jelas orang ini adalah Xiu Huanran yang selalu bertindak tegas padaku.



Aku tersenyum manis, melepaskan genggaman lengan Ji Gui dan melangkah cepat mendekati Xiu Huanran.


Rencanaku sekarang adalah bertindak menjadi gadis imut dan manis yang penurut untuk kembali memenangi hati kakak keduaku ini.


Xiu Huanran memasang wajah menyeramkan, sepertinya dia sangat kesal padaku.


Baru saja aku ingin memeluknya, Xiu Huanran sudah bertindak lebih dulu menganiaya-ku.


"Auw, Er'Ge lepas! Telingaku akan copot kalau kau seperti ini," Teriakku saat dia menarik keatas daun telingaku.


"Anak nakal, kau tahu apa kesalahanmu?" Ucap Xiu Huanran dengan sedikit menggeram kesal.


"Tidak." Jawabku tidak perduli berusaha menjauhkan lengannya dari daun telingaku.


"Argh, maksudku—aku tahu, aku tahu." Lanjutku saat Xiu Huanran semakin keras menarik telingaku.


"Er'ge, ini termasuk kekerasan dalam persaudaraan. Kau tahu? Aku dapat menuntutmu," Ucapku tak beraturan dan sedikit ngawur.


"Apa kesalahanmu?" Tanyanya padaku dengan masih tak melepaskan lengannya dari daun telingaku.


"Huanran, lepaskan. Kita akan berbicara didalam," Ucap Ji Gui menarikku agar terlepas dari penganiayaan Xiu Huanran.


Sebenarnya aku dapat melawan Xiu Huanran, tetapi aku tidak berani karena masih membutuhkannya.


"Guru, kau memang sangat perhatian." Ucapku tersenyum kepada Ji Gui karena pria ini selalu dapat membebaskanku dari hukuman Xiu Huanran.


"Kau selalu saja menyelamatkannya," Eluh Xiu Huanran memandangi kami dengan kesal.


"Er'ge, Apakah kau cemburu?" Ucapku menggodanya.


Menjauhkan tubuhku dari Ji Gui kemudian memposisikan diri berada ditengah antara mereka berdua. Menatap mereka dengan pandangan menyelidik dan meledek.


"Aku lihat perkembangan hubungan kalian saat ini sangat dekat. Aku bertanya-tanya hubungan seperti apa yang terjalin diantara kalian? Teman? Rekan bisnis? Atau—" Ucapku terjeda dengan mengetuk dagu seakan sedang berpikir.


Sekarang aku malah tertawa terbahak-bahak karena membayangkan mereka bersama sebagai pasangan kekasih, entahlah pikiran absurdku ini kembali lagi. Jiwa fujoshi-ku meronta-ronta keluar.


"Haha, Aku mengerti—Aku mengerti." Lanjutku menatap mereka yang terlihat kebingungan.


Kemudian dengan cepat aku menghentikan tawaku dan memasang ekspresi serius menatap mereka berdua dan mengangkat keatas salah satu lenganku yang mengepal erat.


"Xuan'er tahu bahwa lengan yang patah ini tidak dapat diterima, tetapi kalian tenang saja Xuan'er akan berdiri mendukung apapun keputusan kalian." Ucapku menyemangati mereka.


Seakan baru mengerti maksudku, mereka berdua menggeram marah.


"Tidak usah begitu malu. Jadi kalian benar-benar lengan yang patah?" Tanyaku menatap mereka polos.


"Aku menyukai wanita!" Sentak Ji Gui dan Xiu Huanran secara bersamaan kearahku yang tanpa sadar melangkah mundur karena terkejut dengan reaksi mereka yang berlebihan.


Aku sebenarnya hanya ingin menggoda mereka saja, tidak menyangka reaksi mereka terlalu besar.


"Haha, baiklah. Aku mengerti, aku salah." Kekeh-ku canggung merentangkan kedua tanganku kedepan berusaha membuat agar mereka kembali rileks.


"Ayo, kita berbicara didalam saja." Ajakku bergegas masuk kedalam bangunan toko.


"Tidak perlu," Ucap Xiu Huanran yang membuatku menghentikan langkah kemudian berbalik badan menatapnya.


"Kita akan kembali sekarang. Ayah sangat mencemaskanmu. Dan juga kita akan menggunakan identitas nelayan yang pergi berlayar dimalam hari untuk keluar wilayah ini." Jelas Xiu Huanran


"Saat tadi aku hanya memberimu petunjuk dan peluang untuk melarikan diri, karena aku tahu—sekarang kau sudah dapat menjaga dirimu sendiri. Menjadikanku tidak bertindak menjemputmu secara langsung." Lanjutnya


"Er'ge, tidak semudah itu. Aku tidak dapat kembali bersama kalian," Ucapku sembari menggelengkan wajah.


"Aku membuat perjanjian pertunangan," Lanjutku dengan lugas memberitahu mereka.


"APA?!"


•••••••••


"Tidak bisa. Batalkan! Kita akan pergi sekarang." Ucap Xiu Huanran dengan membara


Kami berada didalam Toko Kaibo yang terdapat salah satu ruangan kecil didalamnya.


Aku menjelaskan detail rencana dan semua tindakanku kepada mereka. Berulangkali berusaha meyakinkan mereka agar bekerja sama dengan rencanaku.


"Er'ge, pikirkanlah. Aku membuat peluang untukmu, ini sangat bagus. Kita dapat mengawasi Nanbao dari dalam." Ucapku membujuknya.


"Tetapi kau mengorbankan dirimu dengan terikat oleh pertunangan berengsek itu." Ucap Ji Gui yang membalas ucapanku.


Cukup terkejut karena baru pertama kalinya aku mendengar seorang Ji Gui mengeluarkan kata kasar saat menyebut pertunangan palsuku itu.


"Aku membuat perjanjian dengan Sima Junke. Kami dapat membuat rencana membatalkannya dikemudian hari," Balasku dengan meyakinkan.


"Percayalah padaku," Lanjutku dengan nada pelan.


Mereka terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Berulang kali aku dapat mendengar mereka menghela napas panjang.


"Aku mempercayaimu, tetapi tidak dengan orang yang kau sebutkan. Bagaimana jika dirinya mengingkari perjanjian dan mengikatmu agar dapat mengontrol tindakan keluarga Xiu? Apalagi dengan adanya Jenderal Nanbao yang dijadikan tawanan perang—mereka berusaha keras membebaskannya, bukan? " Ucap Ji Gui menatapku dengan dalam.


Aku bertatapan dengan Ji Gui, mengerti maksud ucapannya—aku mengiyakan dengan menganggukan kepala.


"Aku mengerti maksudmu, Guru. Tenang-lah muridmu ini sangat cerdas, tidak akan mudah di-taklukan dan ditindas. Mereka tidak dapat mengontrol Keluarga Xiu karena mereka saja tidak dapat mengontrolku, bukankah begitu?" Jawabku dengan percaya diri.


"Xuan'er, apa rencanamu selanjutnya?" Giliran Xiu Huanran yang bertanya, sepertinya dia sudah sedikit luluh dan tergiur oleh penawaranku.


"Kembali, berunding dengan Nyonya tua kemudian mempertemukanmu dengan dia. Karena ini hanya perdagangan rahasia antara kau dengan Nanbao tanpa melibatkan Shen, kita tidak perlu persetujuan kaisar." Jelasku


"Er'ge, aku tahu. Kau mempunyai kekuatan besar dibelakangmu, aku percaya dengan hanya beberapa bulan kau dapat mengkokohkan jaringan koneksimu dan kedudukanmu disini. Pada saat itu tiba, aku akan membuat rencana melepaskan dan membatalkan ikatan pertunangan." Lanjutku dengan yakin dan terarah.


"Kau tidak takut? Kalau Kaisar tahu kita dapat diduga berkhianat pada Shen dan seluruh anggota keluarga Xiu akan dipenggal," Ucap Xiu Huanran menaikan sudut alisnya menunggu jawabanku.


"Ya, jangan sampai ketahuan." Jawabku polos.


"Maksudku, jangan memakai nama aslimu dikertas perjanjian perdagangan. Tulis saja nama lain yang kau gunakan dibisnismu yang tersembunyi itu," Lanjutku sok tahu.


Tanpa aku berkatapun, aku mengetahui kalau Xiu Huanran sangat cerdas dan tidak akan seceroboh itu mengekspos dirinya dihadapan para pemegang kekuasan tertinggi seperti Kaisar.


•••••••••


Lengan yang patah: Pria menyukai pria A.K.A gay.


Btw kalau belum ada tulisan end pov berarti pov xuan sebelumnya msh berlanjut di bab berikutnya gitu ya gaiseu.