
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ini adalah delapan bulan kemudian tepat diwaktu musim dingin yang membekukan sebagian besar Daratan Ca Li.
Salju tebal menutupi sebagian besar ranting pepohonan dan tanah bebatuan membuat jalan di kaki Gunung Kuang menjadi lebih licin.
Terlihat dibawah pepohonan yang mengelilingi, sepasang kekasih sedang berpelukan erat seperti tidak ingin melepaskan satu dengan yang lain. Mereka terlihat sangat serasi dengan wajah tampan dan cantik. Pancaran ketulusan yang mendalam terlihat dari kedua bola mata mereka.
"Feng'er, jangan menangis. Kota Hu sudah kembali stabil dan makmur atas bantuanmu, aku akan meminta Fuhuang agar memberikanmu gelar sebagai istriku." Suaranya mengalir lembut dan tulus, tatapan matanya begitu teguh terlihat sangat meyakinkan.
Xiu Qiaofeng melepaskan dekapannya dan mengangguk mengerti, "Pergilah." Suaranya serak penuh kepedihan. Kemudian karena tidak sanggup untuk melihat kepergian orang itu, Xiu Qiaofeng perlahan berbalik pergi. Rambut yang terurai panjang itu berkibar tertiup angin, salju perlahan berjatuhan diatas wajah cantiknya.
'Greb.' Jari-jari kokoh milik pria tampan itu menangkapnya dan sekali lagi membawanya kedalam pelukan.
Perlahan kedua tangan Xia Qian Che menangkup rahang milik gadis mungil itu, mereka bertatapan selama beberapa saat.
Xia Qian Che kemudian mendekatkan wajahnya, bibir mereka saling bersentuhan. Pria itu mengecup bibir mungil milik Xiu Qiaofeng dan menggigitnya pelan, gadis itu tidak menolak, dia terpejam dengan airmata yang masih mengalir diwajah cantiknya dan dengan perlahan membuka celah diantara bibirnya. Seperti mendapat persetujuan, lidah Xia Qian Che melesak masuk menelusuri kedalaman bibir mungil kemerahan yang manis.
Hubungan mereka menjadi terikat begitu dalam, ini adalah sebuah kesalahan. Tetapi Xiu Qiaofeng tidak akan pernah menyesalinya.
Selama beberapa bulan ini, Xiu Qiaofeng mengetahui identitas asli kekasihnya. Tetapi Xia Qian Che hanya mengetahui bahwa gadis itu adalah penduduk asli Desa Kui. Seiring berjalannya waktu kedekatan mereka menjadi sebuah bomerang cinta.
Xiu Qiaofeng membantu mengatasi kesulitan di Kota Hu dengan berjuang bersamanya. Awalnya itu hanya sebuah kemurahan hati yang ditunjukan untuk membantu rakyat dari penderitaan. Tetapi akhirnya mengikat gadis itu kedalam sebuah jurang perebutan takhta.
Xia Qian Che menerima titah kaisar untuk segera kembali ke Istana Kekaisaran. Dia tidak bisa membawa cintanya, karena kekacauan sedang melanda Xia Utara. Dimana saat-saat seperti ini adalah waktu yang begitu penting untuk tahkta naga. Langit akan segera berubah!
••••••••••••
Lentera menggantung disetiap sudut bangunan di Desa Kui. Ini adalah sebuah rumah sederhana yang nyaman dan menenangkan. Di dalam rumah itu tinggal seorang gadis cantik yang sedang gelisah.
Raut wajahnya mengerut pedih penuh kegundahan hati. Dia termenung dengan sesekali mengelus perut datarnya, seperti sedang berpikir hal yang sangat rumit.
Perlahan tangannya terulur untuk mengambil kuas kemudian merangkai tulisan dilembaran kertas. Seolah sedang mengerjakan sesuatu hal berat, hembusan napas panjang terdengar keras.
Setelah selesai, dia segera memasukan kertas dengan tulisan yang tintanya sudah mengering itu kedalam amplop surat. Merekatkannya dengan cairan lilin merah.
'Tokk.tokk..' Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Tunggu sebentar." Jawabnya segera beranjak dengan membawa surat itu di genggamannya.
Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria berpakaian seragam penuh otoritas yang begitu kaku melapor. Dia adalah seorang pengantar surat yang dikirim oleh Xia Qian Che. Selama beberapa waktu berlalu, mereka masih berkomunikasi lewat surat sebagai media pelepas rindu.
"Hamba memberi hormat kepada, Nona." Dia memberi salam hormat kepada Xiu Qiaofeng yang sudah tidak sabar menunggu.
"Tolong berikan surat ini kepadanya." Perintah Xiu Qiaofeng dengan tangan terulur memberikan surat yang sebelumnya dia tuliskan. Kali ini terasa berbeda karena isi surat itu adalah kabar penting mengenai kondisi tubuhnya kepada Xia Qian Che.
Setelah orang itu pergi, Xiu Qiaofeng bergegas masuk dan terduduk disisi ranjang. Jari-jari lentik miliknya dengan emosi ketidaksabaran membuka lembaran surat tersebut. Tangannya sedikit gemetaran oleh luapan kerinduan. Dia menjadi lebih emosional.
Airmatanya mengalir deras membaca kata demi kata yang teruntai dari sang kekasih. Hatinya merasa ini adalah kesalahan karena bertindak terlalu semberono menentang aturan yang dimiliki seorang gadis muda.
Xiu Qiaofeng, gadis itu merasakan kesepian tanpa keluarga yang mendampinginya. Dia terasingi oleh keadaan. Dalam darahnya mengalir darah Keluarga Xiu, tetapi mengapa terlihat bahwa dia adalah seorang yatim piatu?
Kakak keduanya memang sesekali datang menjenguknya, tetapi apakah hal itu akan memiliki imbas besar dalam hatinya? Dia hanya ingin merasakan kehangatan, masa bodoh jika dirinya terlihat serakah oleh kasih sayang.
Xiu Qiaofeng adalah gadis yang penurut dan berhati selembut gulungan sutra. Dia mematuhi perintah ayahnya untuk berguru sampai tenggat waktu diusia lima belas tahun.
Tetapi semuanya berubah ketika Xia Qian Che memasuk kedalam relung hatinya, dia merasa tidak membutuhkan lagi dukungan Keluarga Xiu untuk menampungnya. Dia bertekad untuk menikah dengan Xia Qian Che. Begitu bodoh saat dia menyerahkan tubuh juga hatinya.
•••••••••••
"Feng'er, bagaimana kondisi perutmu? A Qian belum berkunjung lagi?" Suara perhatian milik seorang wanita tua terdengar lembut.
Terlihat gadis muda terduduk diatas bantalan kursi dengan perut yang membesar. Jari-jari lentiknya penuh keluwesan merajut baju-baju berukuran mungil. Dia terlihat merona penuh keceriaan yang berseri-seri.
"Bibi Jin, aku baik-baik saja. A Qian baru saja berkunjung minggu lalu, tidak mungkin secepat itu kembali lagi, kan?" Jawabnya dengan riang dan tenang.
Bibi Jin adalah seorang janda tua yang tidak memiliki kerabat, sejak dahulu dia begitu dekat dan selalu memperlakukan Xiu Qiaofeng seperti anaknya.
"Ya, kau benar. Dia adalah sosok pekerja keras." Balas Bibi Jin dengan mendengus samar. Dia sepertinya belum mengetahui bahwa Xia Qian Che adalah seorang Pangeran dari negeri tetangga.
"Tetapi usia kandunganmu sudah mencapai delapan bulan, bibi hanya khawatir." Ucap Bibi Jin dengan menghampiri gadis itu dan mengusap lembut perutnya yang membesar.
"Bagaimana jika Tuan Muda Kedua Xiu datang untuk menjemputmu dan malah melihat keadaanmu seperti ini? Usiamu sudah mendekati limabelas tahun, kau lulus berguru dan harus segera kembali ke Kota Ping'an." Lanjutnya dengan menghela napas panjang penuh sirat kecemasan dan ketidakrelaan.
Xiu Qiaofeng tersenyum kecut dan menjawab, "Bibi Jin, tenanglah. Aku akan menjelaskannya kepada mereka, lagipula ini adalah anakku." dengan mengelus perutnya yang membulat besar.
"Kalau mereka tidak dapat menerimanya—berarti mereka tidak pernah tulus menganggapku sebagai bagian dari keluarga." Lanjutnya dengan tajam dan masam.
"Baiklah, baiklah... Jangan terlalu serius." Balas Bibi Jin dengan terkekeh canggung kemudian meraih benang rajutan untuk mengalihkan topik yang memberat ini.
•••••••••
Fuhuang: Ayah kekaisaran