Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kamu adalah Kamu



Helaan napas panjang terdengar berat dari sosok gadis cantik dengan wajah tertunduk juga kedua jari tangannya yang memilin resah, itu membuat seseorang yang sejak tadi menunggu menjadi jengkel.


"Sampai kapan zhen harus menonton untuk menunggu?" Suara bariton milik Xia Qian Che yang mengerut kesal terdengar jelas. Maksud pria ini bisa juga diartikan menjadi seperti, Yang benar saja—kau menyuruhku diam disini hanya untuk menyaksikan raut anehmu itu?


Wajah Xiu Qixuan terangkat memperlihatkan manik gelapnya yang dalam namun terasa teduh. Seolah itu adalah orang berbeda ketika keraguannya disiram oleh buncahan air yang bernama tekad. Ia sudah memutuskan.


'Tak..' Sebuah kalung berliontin giok aneh yang memiliki guratan cahaya dan ukiran indah tercecer diatas meja dengan keyakinan tangan kurus itu sengaja memperlihatkannya.


"..." Xia Qian Che tercekat dengan mata arogan yang angkuh miliknya terperosok jauh digantikan ribuan siksaan bayangan sebuah kerinduan ketika melihat kalung berliontin giok tersebut.


Seperti jatuh kedalam kekacauan untuk menahan hatinya yang terasa mendidih. Xia Qian Che memilih terdiam seribu bahasa dengan memasang wajah datar yang menusuk suram.


Kontrolnya pada reaksi terkejut itu tak berlebihan dan malah bisa dibilang nyaris terkendali. Membuat Xiu Qixuan tidak dapat menahan perasaan takjub. Benar-benar seorang kaisar yang pandai menyembunyikan isi pikiran dan niat hati. Batinnya.


Bibir Xiu Qixuan perlahan mengait keatas ketika ia berucap. "Saya—," Terjeda.


"Darimana kamu mendapatkan benda ini?" Suara Xia Qian Che yang serak dan rendah terdengar tajam menuntut jawaban.


Xiu Qixuan tertegun sejenak.


Seperti bunga yang memiliki kuncup embun samar bermekaran disejuknya musim semi, Xiu Qixuan tersenyum lebar dengan sedikit memiringkan wajahnya. Ia perlahan berucap riang, "Syukurlah, Yang Mulia memiliki penglihatan tajam. Saya jadi tidak perlu repot-repot meyakinkan."


Mata Xia Qian Che menyipit tajam, seolah sedang memperhatikan hewan buruan dengan seksama menunggu untuk melepaskan anak panah mematikan.


Xiu Qixuan memberinya pandangan sekilas dengan tenang berkata, "Dia... Qiaofeng memberikan kalung ini pada saya saat detik terakhir dimana nafasnya berhenti."


'Haa...' Xia Qian Che menghela napas dengan tangan yang mengusap muram diwajahnya. Bahunya yang kokoh memiliki jenis pancaran kerapuhan.


"Bagaimana?" Suaranya menggenang lirih.


"Anggap saja kami saudari yang terpisah. Saya juga memiliki gelang peninggalan dengan ukiran seperti itu." Ucap Xiu Qixuan tanpa berkedip sedikitpun, terlihat begitu meyakinkan padahal ini adalah omong kosong.


Cerita yang dibubuhi kebenaran juga bumbu kebohongan terdengar lebih nyata dan nyaris tak dapat dibedakan. Xiu Qixuan menjelaskan beberapa detail mengenai pertemuan pertamanya dengan Qiaofeng. Dimulai pengejaran ataupun aksi pembunuhan di Hutan Guang.


"Saya terlambat karena belati sudah menghunus jantung." Beberapa hal adalah benar, dan beberapa hal adalah salah. Itu adalah omong kosong besar karena dia tidak terlambat, tetapi, pada saat itu dia tidak memiliki cukup kemampuan.


"..." Xia Qian Che memejamkan matanya yang mengepul merah menahan genangan air.


Kemudian setelah tenang dia perlahan membuka kelopak mata yang kosong ketika berucap sendu, "Dimana?"


Xiu Qixuan mengernyit bingung.


"Dimana tubuhnya? Zhen ingin membangun kembali sebuah makam yang megah untuknya." Ulang Xia Qian Che dengan serius.


'Jederr..' Seperti tersambar petir yang berkilat disiang hari cerah, Xiu Qixuan tanpa sadar memijat pelipisnya yang tiba-tiba pening.


Sebelumnya Xia Qian Che sudah membangun makam yang sangat megah atas nama Qiaofeng tetapi itu kosong tanpa jasad.


"Haa.. Sudah berlalu begitu lama, ya?" Gumam Xia Qian Che dengan menunduk muram. Jari-jarinya perlahan terulur kearah kalung giok diatas meja untuk mengusapnya sendu. Sudah lama, tetapi, lukanya masih ternganga.


"Yang Mulia, saya memiliki satu permintaan." Ucap Xiu Qixuan dengan tenang tanpa riak.


"Katakan." Jawab Xia Qian Che dengan dingin.


"Saya ingin membakar dupa untuk melakukan doa tepat didepan papan yang terukir namanya berada." Jelas Xiu Qixuan dengan tegas.


Xia Qian Che beranjak untuk berdiri, ia berbalik pergi setelah berucap, "Baiklah, zhen akan membawamu."


Punggung kokoh yang perlahan menjauh itu terasa kosong yang kesepian, sebuah cara agar terus bertahan diatas kursi takhta adalah ketika seorang manusia harus melepas semua bentuk emosi yang umumnya dimiliki.


Ketika pancaran emosi tak bisa lagi ditahan, ia memilih untuk berbalik mencari tempat bersembunyi seperti tikus dalam selokan.


Sebelum punggung itu menghilang dari balik celah pintu ruangan, sebuah suara indah mengintrupsi. "Yang Mulia, terimakasih."


Tanpa sadar kedua kaki Xia Qian Che berhenti.


"Terimakasih karena tidak salah mengenali saya sebagai Qiaofeng." Suaranya yang serak seperti berusaha menahan sebuah gumpalan rasa haru.


"Tidak perlu berterimakasih karena itu sudah jelas kamu bukanlah Feng'er. Kamu adalah kamu. Jangan terbebani." Suara Xia Qian Che yang tajam entah mengapa malah terasa hangat untuk seorang Xiu Qixuan yang lupa akan identitas diri aslinya.


Setelah menuntaskan seluruh perkataannya, Xia Qian Che kembali melanjutkan langkah yang tertunda dan menghilang dari balik celah pintu.


Xiu Qixuan terkekeh penuh ironi, "Ah, kalimat yang sangat bagus untuk didengar. Sangat menyentuh, bukan?" Jari-jari lentiknya terulur untuk menghapus tetesan air yang perlahan membanjiri wajah. Hidungnya yang terasa masam dan matanya yang terasa perih, ia tak bisa menahan untuk tidak menangis.


'Qiaofeng, lihatlah priamu yang begitu setia. Dia sangat mengenalimu. Hanya dalam sekali lihat, dia dapat mengetahui aku bukanlah kamu.' Batinnya.


Pada akhirnya, dia menemukan seseorang yang percaya tanpa harus di yakinkan terlebih dahulu. Pada akhirnya, dia menemukan seseorang yang mengakui intensitasnya bukanlah sebagai sosok pengganti.


Pada akhirnya, dia dapat melakukan apa yang seharusnya dilakukan yaitu membakar dupa tepat di depan papan kematian Qiaofeng, itu tidak pernah bisa dilakukan karena mereka hanya tahu Nona Keluarga Xiu masih hidup.


Tidak ada anggota keluarga inti yang pernah membakar dupa untuknya. Jadi, biarkanlah Xiu Qixuan yang mewakilkan.


Xia Qian Che begitu setia pada Qiaofeng, dia tulus dan langka. Benar-benar langka sampai membuat iri.


Dapat diakui Qiaofeng sepertinya beruntung dalam urusan percintaan. Bertemu satu pria yang mencintainya dalam seumur hidup.


Awalnya Xiu Qixuan menertawakan jenis cinta yang bodoh seperti ini. Tetapi, jika di ingat lagi ternyata dialah yang lebih bodoh.


'Haa...' Kalau berbicara tentang cinta, Xiu Qixuan merasa muak dan sakit seperti memori tidak mengenakan yang sudah berusaha di kubur malah muncul kembali. Dia teringat pria itu, pria gagah diantara hamparan gurun pasir yang memukau.


"Ugh, sudahi pikiran tidak berguna ini." Gumam Xiu Qixuan dengan menepuk keras kedua pipinya.


•••••••••••••