
Aula besar berhias emas dengan beberapa tirai brokat yang menjuntai tertiup angin, warna merah disetiap sudutnya menambahkan kesan meriah.
Pasangan pengantin itu duduk diatas singgahsana dengan sangat serasi berdampingan. Sedangkan, para pejabat dan bangsawan berada sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing.
Sima Junke berada diposisi tidak jauh dengan Aisin Tianyi sang Kepala Suku yang baru kemarin dinobatkan secara resmi. Pria itu tepat berada satu tempat dibawah Aisin Tianyi, posisinya setara dengan Zhai Dawai yang juga berada bersebrangan dengannya.
Perjamuan akan segera dimulai, Aisin Tianyi menepuk tangannya memberi intruksi kepada bawahannya agar menghidangkan jamuan yang sudah dipersiapkan.
Beberapa ratus kendi arak diperlihatkan, para pelayan yang bertugas dengan cekatan menghidangkan masing-masing kendi arak diatas meja para pejabat dan bangsawan yang hadir.
Mereka membuka penutupnya dan menuangkan dengan perlahan kedalam cawan yang terbuat dari porselen.
Arak ini baru saja diangkat ke aula dan langsung memancarkan aroma yang jelas nan wangi, yang jauh melampaui harum bunga peoni.
Xiu Qixuan melihat itu dengan binar penasaran dia jelas ingin mencicipi, karena selama datang ke Daratan Ca Li dia selalu berhati-hati dan harus dalam kondisi kesadaran penuh.
"Sebagai ucapan terimakasih, saya menyiapkan arak berkualitas dari gudang pribadi keluarga untuk secara langsung menghidangkannya kepada kalian semua. Arak ini berusia hampir seratus tahun didalam penyimpanan. Mari," Ucap Aisin Tianyi mengangkat cawan araknya dan mengajak semua hadirin bersulang dengannya.
Nanbao memang memiliki spesialisasi dalam membuat arak berkualitas yang beraroma kuat, jenis arak ini sangat terkenal tetapi biasanya hanya dapat dinikmati oleh anggota keluarga Kepala Suku.
Aisin Tianyi dengan dermawan membagikan jenis ini kepada para pejabat dan bangsawan, tentu saja dia terlihat sangat bahagia atas pernikahannya.
Sima Junke dengan elegan menggangkat cawannya, Xiu Qixuan yang melihat itu juga ingin mengikuti tetapi dengan cekatan Sima Junke menukar cawan anggur milik Xiu Qixuan dengan secangkir teh.
Xiu Qixuan melirik tajam dan mendengus kesal tetapi dia tetap terlihat tenang mengangkat secangkir teh dengan postur anggun.
"Mari bersulang," Ucap Aisin Tianyi kemudian pria itu lebih dulu meneguk arak didalam cawannya. Diikuti oleh mereka dengan secara serentak meneguk arak, hanya Xiu Qixuan yang terlihat berbeda dengan cangkir teh yang berukuran kecil dijari-jari lentiknya.
Kemudian Aisin Tianyi memberi intruksi lain kepada para bawahannya, dan pada saat ini semua orang melihat sepuluh garpu besi berukuran sangat besar dengan beberapa domba gemuk yang dipanggang hingga bewarna keemasan, terlihat sangat lezat.
Xiu Qixuan menatap itu dengan rakus, para pelayan dengan cekatan menyiapkan dan menghidangkan kemasing-masing meja. Dia dengan tidak sabar terus memperhatikan gerakan para pelayan itu, saat selesai terlihat sepiring daging domba yang menggiurkan diatas meja kudapan dan dengan cepat Xiu Qixuan menggigit daging domba itu secara perlahan mencoba untuk meresapi kerenyahannya dalam diam.
"A Jun, ini sangat lezat! Kau harus mencobanya," Ucap Xiu Qixuan menolehkan wajah kesamping dan dengan gerak cepat tangannya menyodorkan potongan daging domba kedalam mulut Sima Junke.
Sima Junke dengan gerak reflek membiarkan Xiu Qixuan menyuapi -nya, dengan ini mereka menjadi tontonan untuk kesekian-kalinya dalam kurun waktu satu hari.
Pasangan pengantin baru saja kalah manis dari pasangan satu ini, mereka ini dapat menjadi partner kriminal yang bertugas sebagai penipu ataupun menjadi dua sejoli kebaikan yang mampu mengalahkan seorang kriminal jahat.
Entah apakah hal ini akan berlangsung selamanya. Tetapi, apa arti kata selamanya saat masih ada kata berubah, bukankah itu berarti tidak ada hal yang selamanya didalam dunia ini?
*********
Keesokan harinya
Xiu Qixuan berdiri anggun di bawah terik matahari, wajah cantiknya sedikit merona, senyumnya menyegarkan dan menghangatkan hati saat seluruh pribadinya memancarkan karisma.
Dia seperti sedang menunggu seseorang, dan kebetulan sekali suara tapak kaki kuda perlahan mendekat dari arah belakang tubuhnya.
"Kau ingin berpergian?" Tanya Xiu Qixuan mengerutkan kening bingung karena sepengetahuannya mereka hanya akan berdiskusi seputar topik penting yang harus dibahas.
"Ayo, cepatlah naik keatas kudamu." Perintah Sima Junke tidak ingin menanggapi pertanyaan gadis itu.
Seekor kuda yang sebelumnya dipacu oleh seorang pengawal dengan cepat diberikannya tali kekang kuda itu kepada Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan menerima tali kekang kuda tersebut dan menggenggamnya kemudian dia bertanya, "Apa ini?" dengan menatap dalam kearah Sima Junke seolah menuntut jawaban.
"Tali kekang kuda," Jawab Sima Junke dengan memasang wajah tak berdosa.
"A Jun!" Sentak Xiu Qixuan dengan kesal.
"Baiklah, baiklah. Kita akan berpergian, aku akan membawamu ke laut Nanhai untuk berlibur selama beberapa hari. Dan juga untuk menghindari kakak lelakimu yang pemarah itu," Jelas Sima Junke dengan ringan.
Xiu Qixuan memelototi -nya dengan tajam, pria ini sudah nyaris mendekati kakak keduanya, bukan? bersikap seenaknya dan semaunya.
"Heh, kalau seperti ini kita akan terlihat seperti ingin kawin lari, bukan?" Balas Xiu Qixuan tidak setuju.
Walaupun nantinya Xiu Huanran akan meluapkan semua kemurkaan karena sudah dibodohi oleh mereka, tetapi Xiu Qixuan lebih memilih untuk menghadapi -nya daripada menghindar. Secara hasilnya akan sama saja, Xiu Huanran pasti akan menemukannya dan menghukumnya.
"Tidak, kita hanya sedang berlibur. Kenapa kau berpikiran terlalu rumit? Aku dapat pastikan kau akan senang saat melihat proses pengambilan mutiara dari laut Nanhai." Ucap Sima Junke balas mendengus sebal.
"Humph, aku lebih senang jika langsung mendapatkan mutiara gratis ditanganku." Gumam Xiu Qixuan dengan merengut pelan tetapi masih dapat didengar jelas oleh Sima Junke.
"Cepatlah bergegas, bukankah kau juga selalu memikirkan banyak cara jika kakak keduamu datang lagi untuk menjemputmu. Dengan ini kau dapat tenang selama beberapa hari," Sentak Sima Junke dengan tidak sabaran.
"Bagaimana dengan nenek? Kau akan meninggalkannya selama beberapa hari, apakah itu baik? Padahal kau baru saja menjenguk dan menemuinya kemarin," Ucap Xiu Qixuan masih beralasan karena dia begitu malas berpergian dengan menunggangi kuda digurun berpasir yang panas.
Bukankah, kalian sudah mengetahui bahwa Xiu Qixuan saat berada dibumi adalah seorang pemalas yang lebih menyukai berdiam diri dengan memainkan smartphone diatas kasur. Jadi dengan hal ini, sangat wajar untuknya menolak berpergian jika tidak terlalu penting.
"Tenang saja, Kangjian akan bertugas menjaga dan menemaninya selama kita berlibur." Jawab Sima Junke dengan singkat dan meyakinkan.
Luka ditubuh Kangjian perlahan pulih, pria itu sudah kembali dalam kondisi semula dikarenakan dia tidak menderita banyak luka berat dibandingkan dengan para tuan yang saat itu hampir berada diambang kematian.
Sehabis acara perjamuan pernikahan, Xiu Qixuan menemani Sima Junke untuk bertemu sang nenek. Saat itu Sima Junke terlihat begitu canggung dan berperilaku tidak biasa, membuat kesedihan terpancar jelas dari raut tua Aisin Fei. Tetapi dengan sedikit kepekaannya, Xiu Qixuan membuat suasana lebih mengalir cair dan hangat.
Pada saat itu, tidak ada satupun diantara mereka yang berniat membahas masa lalu Sima Xiahou, ataupun membahas penderitaan kehilangan karena kepergian Sima Hong.
"Baiklah, tunggu disini. Aku harus bersiap dan berganti pakaian," Ucap Xiu Qixuan menghela napas panjang yang akhirnya dengan pasrah menyetujui saran berlibur ini.
Lihat saja nanti dia akan menguras habis mutiara dari laut Nanhai untuk dijadikan sebagai cenderamata. Sima Junke akan menyesal sudah mengajaknya untuk melihat kemewahan yang berkilauan itu.
••••••••••••