
Langit malam dengan sinar redup cahaya rembulan yang tertutup oleh kabut awan musim dingin terlihat begitu kelabu. Pada saat ini, lilin bersinar hangat menerangi kegelapan ruangan.
Xiu Qixuan terduduk disisi ranjang dengan matanya menatap kosong, seolah sedang menelaah kembali pengetahuan yang baru saja dia dapatkan.
_Flashback On_
"Gadis bodoh, akhirnya kau bertemu dengan mahluk itu, ya?" Tanya Lao Yong begitu bersemangat menatap bekas luka dari kekuatan aura iblis yang belum hilang ditubuh Xiu Qixuan.
"Kamu melukai mahluk yang menjadi sumber kehancuran dunia, kekuatan teleportasi yang bersumber dari aura kehidupan perlahan bangkit." kata Baijin Hu setelah Xiu Qixuan bercerita detail kejadian bagaimana ia bisa lolos dari maut yang ditorehkan oleh Iblis Zi.
"Itusih hanya seperti goresan kecil baginya. Tetapi, cukup bagus untuk langkah pertama." kata Lao Yong dengan acuh tak acuh.
"Mengapa kalian menyebutnya dengan sebutan mahluk? Dilihat darimana-pun dia masih bertubuh manusia." ucap Xiu Qixuan dengan berkerut, entah mengapa ia tak nyaman mendengar kata penyebutan yang menurutnya aneh itu.
"Karena kita tidak tahu harus menyebutnya apa." Dengus Lao Yong dengan tak acuh.
"Memang dia itu mahluk jenis apa?" tanya Xiu Qixuan dengan ringan.
"Campuran." jawab Baijin Hu singkat dan tiba-tiba.
"Campuran?" gumam Xiu Qixuan dengan sedikit memiringkan wajahnya bingung. "Campuran apa? Iblis dengan manusia atau dengan dewa?!" cecarnya.
"Eum, mungkin... itu semua rumit." jawab Baijin Hu dengan ambigu.
"Banyak tanya sekali, sana cari tahu sendiri. Kamu mengira hewan surgawi yang agung seperti kita ini adalah guild informasi untukmu?!" sentak Lao Yong dengan menggerutu kesal untuk sengaja memotong isi percakapan juga topik pembicaraan penting yang sedang mengalir.
"Ck, pelit sekali!" decak Xiu Qixuan dengan sebal. "Yasudah, aku akan kembali. Terimakasih Baijin." ucapnya dengan melambaikan tangan hanya kearah Baijin Hu dan mengabaikan keberadaan Lao Yong.
"Hei, bocah—!" samar-samar gerutu kekesalan milik Lao Yong masih dapat terdengar seiring cahaya putih keemasan menyelimuti tubuhnya yang perlahan menghilang untuk meninggalkan ruang dimensi kecil itu.
_Flashback Off_
Percakapan yang sebelumnya dia lakukan bersama kedua hewan surgawi itu terus terngiang dalam pikiran.
'Haa...' Dia menghela napas berat dengan dahi berkerut kencang.
Jadi intinya adalah ia harus menghentikan mahluk hebat yang hendak menghancurkan seisi Daratan Ca Li. Dan, mahluk campuran itu adalah Iblis Zi yang kemarin ia temui. Entah campuran seperti apa karena firasatnya berkata ini semua tidak sederhana.
Juga kemampuan teleportasi-nya yang bersumber dari aura kehidupan perlahan bangkit tak terkontrol, menjadikan ia bersama Xia Qian Che tiba-tiba berpindah kehutan timur kekaisaran Xia untuk terhindar dari maut.
"Ugh, sungguh dongeng yang buruk!" gerutu Xiu Qixuan meloloskan gumaman tajam.
••••••••
'Ngikk...' Suara ringkikan kuda terdengar ketika tali kekangnya ditarik. Salah satu kuda membawa sesosok gadis cantik bertubuh ramping dan satu kuda lainnya membawa sesosok pria istimewa yang memancarkan keagungan. Mereka berhenti tepat didepan gerbang sebuah kuil.
"Mengapa terdiam? Cepat turun!" gema suara milik lelaki itu terdengar ketika melihat sosok gadis cantik yang masih berdiam diatas pelana kuda.
Gadis cantik ini adalah Xiu Qixuan, ia terlihat sedang mengedarkan pandangan dengan intens menatap gerbang kuil yang menjulang tinggi.
"Ya.." jawabnya dengan cepat meloncat turun dari atas punggung kuda.
Pada saat ini, Xia Qian Che membawanya kesebuah kuil yang berada di bukit kecil sudut belakang istana kekaisaran.
'Krek...' Gerbang terbuka memperlihatkan seorang biksu yang merupakan kepala biara menyambut kedatangan mereka. "Amitabha, Yang Mulia Kaisar.." ia menyapa hormat.
Kemudian Kepala Biara melirik sekilas kearah sosok Xiu Qixuan yang terlihat asing karena baru kali ini Kaisar membawa orang lain untuk berkunjung kedalam kuil.
Padahal biasanya Kaisar hanya datang seorang diri tanpa membawa arak-arakan penjagaan ketat atau rombongan pelayan sekalipun.
"Nona ini memberi salam pertemuan kepada Kepala Biara. Perkenalkan saya Qi Qi." Ucap Xiu Qixuan dengan tenang memasang postur sedikit membungkuk.
Setelah sedikit percakapan basa-basi, Kepala Biara segera membawa mereka untuk masuk kedalam kuil.
Aroma semerbak dupa yang menyengat masuk ke indra penciuman dengan kaligrafi dari bait-bait dalam kitab sutra menghiasi dinding. Dapat terlihat juga meja yang terisi dengan lilin, anggur dan kudapan sebagai bentuk persembahan.
Mata Xiu Qixuan terhenti ketika ia terpana melihat sebuah papan arwah yang terukir nama Qiaofeng, hatinya bergetar.
Xia Qian Che tidak melewatkan sedikitpun perubahan kecil dari raut wajah milik Xiu Qixuan, "Lakukanlah apa yang kau inginkan. zhen akan menunggu diluar." Suaranya yang tenang menyisakan sirat kehangatan.
Xiu Qixuan menolehkan wajahnya dengan tersenyum menjawab, "Ya, terimakasih Yang Mulia." mata indah miliknya memancarkan kabut haru.
'En..' Xia Qian Che berdeham dengan begitu acuh tak acuh. Ia segera berbalik pergi ditemani oleh Kepala Biara untuk menyisakan Xiu Qixuan seorang diri.
Hening.
Xiu Qixuan terdiam sejenak. Matanya memandang kosong kearah papan arwah dan tanpa disadari olehnya, kedua kakinya sudah melangkah pelan. Sampai tiba dialtar persembahan, 'Brukk..' ia segera jatuh berlutut diatas bantalan yang memang disediakan.
"Qiaofeng, aku—..." Wajah cantik itu menunduk ketika tenggorokannya seperti tercekat. "datang..." lanjutnya lirih.
Tangan kurus yang memilik jari-jari lentik itu perlahan terulur untuk membakar batang dupa. Matanya sesekali mengerjap menahan genangan masam yang menggantung sedih.
Ketika dupa miliknya selesai dibakar, ia menatap sendu kearah satu titik dimana wadah penampung dupa itu berada. "Seharusnya begini." Gumamnya.
"Qiaofeng, seharusnya memang begini..." Matanya berkaca-kaca, napasnya tersendat oleh buncahan perasaan yang rumit.
"Bagaimana bisa—," Lagi-lagi ia tercekat dalam rasa bersalah. "Bagaimana bisa kamu dilupakan..." lirihnya.
Bahunya terlihat bergetar hebat, ia hanya dapat melanjutkan perkataannya di dalam hati dengan tangannya yang mengepal erat. "Seperti dandelion yang tertiup angin, begitu rapuh namun tegar. Saat matipun begitu kesepian."
Qiaofeng yang begitu malang. Tidak ada satupun anggota Keluarga Xiu yang mengetahui keberadaan aslinya, tidak ada upacara pemakaman keluarga untuknya, tidak ada yang berdoa dialtar keluarga atas namanya.
"Maaf..." Suara Xiu Qixuan yang sesak terdengar. "Untuk itu aku minta maaf." sendunya terdengar pilu.
Kelopak mata itu bergetar terpejam, airmata perlahan lolos mengalir hangat di kedua pipi bulatnya.
Setelah beberapa saat, ia menuangkan anggur persembahan kedalam cangkir. Kemudian kedua tangannya menangkup cangkir yang sudah terisi penuh anggur kedepan dada.
"Qiaofeng, aku yang seperti geranium egois ini menggantikan mereka semua sebagai keluarga untuk mendoakan ketenanganmu. Anggur persembahan ini sebagai bentuknya." Ucapnya dengan tegas yang tenang.
'Patss..' tangannya yang terulur itu bergerak cepat menumpahkan secangkir anggur kedalam nampan yang sudah disediakan.
••••••••••••
Bunga geranium yang indah memiliki makna keegoisan. Bunga dandelion yang rapuh, dibalik kesendirian menyimpan ketegaran yang begitu kuat.