Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Tidak Boleh Mati



"Inilah yang harusnya kulakukan sejak awal." Hembusan napas hangat terasa menggelitik telinga. Mozi berada dibelakang tubuhnya dengan memberi sirat ancaman.


Xiu Qixuan menarik napas panjang dengan mata terpejam, "Karena aku akan mati, aku ingin tahu. Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan dariku?" Suaranya yang tenang tanpa riak menyiratkan momentum kemuliaan yang jarang dia perlihatkan.


"Benar-benar sangat berani. Kamu masih begitu menakjubkan bahkan ketika akan menerima kematian." Ucap Mozi dengan menyeringai.


"Tunjukan wajahmu!" Perintah Xiu Qixuan dengan sedikit memiringkan kepala untuk menatap sebagian wajah Mozi yang tertutup jubah.


"Mengapa kamu ingin tahu? Kamu sudah hampir mati, itu tidak akan diperlukan." Jawab Mozi dengan ringan.


"Aku lebih menyukai kematian yang jelas. Apa wajahmu sejelek itu?" Balas Xiu Qixuan dengan tenang penuh ketidakacuhan.


'Syuss..' Tudung jubah itu perlahan meluruh jatuh untuk memperlihatkan profil samping wajah yang sangat menawan. Sebenarnya tidak perduli dari sudut mana seseorang melihatnya, dia terlihat sangat memikat dan sempurna dari semua sudut.


Garis rahang tegas dengan bibir tebal kemerahan, mata hitam yang menatap lurus dengan tatapan dingin yang membuat orang lain merasa terasingi di suatu tempat.


"Kamu—," terbelalak Xiu Qixuan tak percaya. "Si cabul dirumah bordil." Suaranya bergetar penuh rasa terkejut.


Melihat ekspresi gila Xiu Qixuan yang kehilangan ketenangan membuat Mozi merasakan kepuasan tersendiri.


"Mengapa kau memberiku panggilan yang begitu buruk? Itu sungguh menyakitiku." Tanya Mozi dengan memasang kesedihan palsu.


Xiu Qixuan hanya balas mendengus dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itu terlihat tenang sesekali mengedarkan pandangan kearah sekitar seperti sedang menunggu sesuatu.


"Apakah aku harus membunuhmu sekarang?" Gumam Mozi dengan sirat kebimbangan. Dia menjadi penuh pertimbangan terlihat dari pedangnya yang terasa bergerak mendekat dan menjauh.


Xiu Qixuan mendelik tajam, "Mengapa bertanya? Lakukan sekarang!" Sentaknya berteriak keras. Bukankah lebih baik langsung menebasnya, Mozi terlihat ingin bersenang-senang untuk menyiksanya terlebih dahulu dengan permainan tarik ulur ini. Leherku sudah tergores, cepatlah!


"Baiklah karena—," Terjeda Mozi. 'Jlebb...' Sebuah pedang berkilat tajam menembus dadanya dari balik punggung. Darah kental dengan cepat memancar dari luka membanjiri tubuhnya. Dia lenggah karena hanya terfokus kepada Xiu Qixuan saja.


'Bukk..' Tubuhnya ditendang dengan kekuatan besar membuat kunciannya ditubuh gadis itu terlepas.


"Ayo pergi, Qi Qi!" Itu adalah Xia Qian Che, dia segera mengaitkan jari-jarinya ke lengan Xiu Qixuan untuk membawa gadis itu berlari dari sang iblis.


"Huftt, Anda lamban sekali!" Dengus Xiu Qixuan dengan segera mengikuti langkah keagungan itu untuk berlari. Mereka berlari tanpa menoleh sedikitpun.


Mozi berusaha menekan lukanya, kilatan amarah membuat rambut panjang kehitaman itu berubah menjadi putih perak dengan matanya yang memerah darah. Penyamarannya hilang tak terbentuk.


Wajahnya yang suram terangkat untuk melihat kedua orang yang melukainya itu sedang bergandengan tangan. Amarah meledak dalam seketika puluhan bola api neraka melesat menghujani tanah.


'Boom..' Jalan kecil ini terbakar oleh lava api neraka yang membuat retakan ditanah.


"Hati-hati!" Teriak Xiu Qixuan menarik tangan Xia Qian Che menghindari dari hujaman panas dari bola api neraka.


Mereka terjebak ditengah-tengah api hitam kemerahan yang melahap apapun disekitar. Keringat membanjiri tubuh dengan napas yang semakin memberat.


"Sial! Dia benar-benar iblis." Decak Xia Qian Che dengan amarah.


"Yang Mulia, kita tidak boleh mati disini. uhukuhuk—," Ucap Xiu Qixuan dengan terbatuk-batuk kehabisan napas.


Tubuh mereka saling berdekatan nyaris menempel menjaga satu dengan yang lain.


"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir. "Bertahanlah, Zhen akan mengeluarkanmu dari sini. Shu'er dan Xiao Wen sudah menunggu kita di Istana." Suaranya begitu lembut dengan pandangan teduh berusaha meyakinkan.


Xiu Qixuan terkekeh dengan binar tajam menatap kedalam mata Xia Qian Che, "Sungguh konyol." Suaranya tertelan tak dapat didengar karena suara percikan api yang membakar sekitar lebih nyaring.


Xiu Qixuan membuat perisai dari kekuatan aura kehidupannya. Cukup untuk meringankan serangan tetapi tidak dapat berlangsung lebih lama lagi.


Cahaya ungu berpendar indah menghilangkan sedikit dari sebagian lava api hitam kemerahan tersebut. 'Hooshh..' Napas Xiu Qixuan memburu kelelahan. Angin berhembus lembut mengangkat rambut hitam panjangnya. Wajahnya memerah penuh peluh keringat.


Xia Qian Che tertegun melihat pesona lembut yang menyayat juga memikat hati. Sungguh pemandangan yang menakjubkan!


Pria itu menjadi linglung karena keindahan. Sampai dia tidak menyadari bola api neraka yang menjadi bom waktu semakin mendekatinya dari arah belakang.


"Awas..." Teriak Xiu Qixuan dengan gerak reflek melemparkan tubuhnya pada sosok Xia Qian Che yang masih berdiri tegak.


'Splash..' Desiran angin dengan cahaya putih keemasan yang begitu menyilaukan membuat mereka memejamkan mata. Tubuh mereka terasa ringan bak kapas yang tertiup hembusan angin.


Keheningan yang menenggelamkan terjadi selama beberapa detik.


'Buk..' Tubuh mereka terpelanting jatuh ketanah bebatuan, Xia Qian Che merasa hawa dingin merambat cepat di punggungnya. Tunggu, dingin? Mengapa terasa dingin di kebakaran? Ini aneh!


Xia Qian Che membuka kelopak matanya dan melihat Xiu Qixuan yang berada diatas tubuhnya sedang memejamkan mata dengan mulut berkomat-kamit. "Kalau mati disini setidaknya pulangkan aku kebumi, kumohon." Gumaman pelan itu diucapkan berulang-kali seperti mantra.


"Qi Qi—," Panggilnya dengan suara baritonnya yang bergema tajam. "Apakah tubuh zhen senyaman itu untuk dijadikan alas?" Suaranya terdengar seperti sedang mencibir.


Kelopak mata Xiu Qixuan segera terbuka, "Yang Mulia, Anda belum mati?" Tanya dengan binar polos.


"Lancang!" Sentak Xia Qian Che. "Menyumpahi Kaisar untuk mati akan dijatuhi hukuman gantung." Lanjutnya memasang ekspresi sangar yang serius.


"Woah bukan itu maksud sa—" Tergagap Xiu Qixuan menjelaskan.


"Turun!" Perintah Xia Qian Che.


"Ha?" Tanya Xiu Qixuan kebingungan.


"Turun dari tubuh zhen!" Sentak Xia Qian Che mengerut kesal.


Xiu Qixuan sejenak tertegun, ia menurunkan pandangan untuk meringis terkejut karena sudah berani menimpa tubuh naga. "Maafkan saya!" dengan terburu-buru dia segera menyingkir.


Setelah menegakkan tubuhnya untuk berdiri, Xiu Qixuan segera mengedarkan pandangan kesekitar dan terlihat banyak ranting pepohonan tertutup bersalju tebal dengan angin malam berhembus dingin karena hari berangsur-angsur semakin menggelap.


Seluruhnya jatuh kedalam kesunyian yang hampa, hanya ditemani suara decitan kawanan burung kecil yang bersembunyi disangkar pepohonan.


"Ini dimana?" Gumamnya dengan menajamkan pandangan.


"Tempat ini sepertinya salah satu bagian hutan timur yang tidak jauh dari ibukota." Jawab Xia Qian Che dengan berjalan ringan kearah barat seolah-olah sudah sangat mengenali medan jalan.


"Heh, Yang Mulia. Bagaimana kita bisa tiba-tiba berada disini?" Tanyanya dengan ikut melangkahkan kaki untuk menyusul Xia Qian Che yang sudah berjalan lebih dulu.


Xiu Qixuan terlihat bertindak lebih leluasa ketika ia tidak sedang menggunakan topeng ataupun bermain trik.


•••••••••••••


Pasti ada detail penjelasannya, jdi tungguin aja. Btw, xuan kejam bgt sama Mozi.


Kira-kira ada yang tahu kenapa mereka tiba-tiba berpindah?