
Pada hari ketujuh minggu terakhir musim gugur, angin dingin menembus tubuh dan tulang manusia.
Terlihat sosok gadis cantik berlari dengan tergesa dan gelisah diraut wajahnya. Dalam benaknya hanya ada satu nama yang terlintas, 'Xiao Bao'. Gadis itu hanya mengenakan pakaian tipis tanpa jubah yang membalut tubuhnya, dia seperti tidak dapat merasakan hawa dingin musim gugur.
Sebuah taman bunga nan indah menjadi saksi bisu kejadian memilukan yang tidak akan pernah gadis itu lupakan.
Tubuhnya membeku dan airmata perlahan mengalir deras di pipi bulatnya, 'Srett,' di depan sana terlihat kekejaman seseorang yang menebas leher bocah kecil itu.
Percikan noda darah menciprat ke rerumputan seiring gerak pedang panjang. Perlahan tubuh bocah kecil itu meluruh jatuh ketanah dengan noda merah muda darah yang merembes keluar.
Sayatan luka panjang dilehernya menganga lebar, tidak ada kemarahan, tidak ada penyesalan dan tidak ada kebencian. Hanya terdapat bentuk penerimaan dengan sudut bibirnya yang tersenyum tipis menatap sosok pria tampan yang memegang pedang, bocah kecil itu seolah memahami tindakan kejam seperti ini sebagai bentuk pengorbanan.
Hembusan angin musim gugur dengan dedaunan kuning yang berterbangan menerpa wajah untuk terakhir kalinya.
Dia belum sempat bertemu Jiejie nya untuk memberitahukan sesuatu bahwa Jun ge sangat mencintainya. Bahwa mereka sangat mencintainya. Sama sekali tidak ada keinginan untuk mengikari janji.
Jiejie jangan menyalahkan Xiao Bao karena pergi lebih dulu. Xuanjie, terimakasih.
Xiu Qixuan menatap lurus ketubuh bocah kecil yang berlumuran darah, dia melangkah dengan berat seperti membawa ribuan ton bebatuan ditubuhnya.
'Brukk,' Dia jatuh berlutut tepat dihadapan tubuh mungil milik Xiao Bao, perlahan tangannya terulur dengan gemetar meraih tubuh Xiao Bao kedalam dekapannya.
"Xiao Bao, jiejie akan menemanimu. Kita bisa membuat kue bulan kapanpun yang kau inginkan, baik?" Lirihnya dengan membelai lembut wajah Xiao Bao yang terkena percikan darah.
Kelopak mata Xiao Bao mengerjap sedikit, 'jiejie.' sirat dari bibirnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa karena napasnya perlahan menghilang.
"Xiao Bao, jiejie mohon padamu." Isakan tangis tertekan perlahan lolos dari bibirnya, dia mengguncang tubuh kecil itu dengan keras dan membenamkan wajahnya.
Dengan kematian Xiao Bao, hati Xiu Qixuan sudah terkoyak habis. Jauh lebih menyakitkan daripada luka berdarah di dadanya. Keputusasaan karena tidak berdaya, membuat kebencian tertanam jelas.
Mengapa? Mengapa semuanya menjadi seperti ini? Kenapa mereka meninggalkannya seorang diri? Membuat janji bersama dan mengikarinya dalam waktu yang sama. Pukulan seperti ini jelas dia tidak bisa untuk menanggungnya.
Dia menarik napas dengan dalam berusaha menguraikan sesak dalam dada, "Xiao Bao, kita kembali ke Nanhai. Jiejie akan mengantarmu pulang." Suara sendu terdengar dibalik kepahitan yang mengakar sedih.
'Sring..' cahaya menyilaukan dari tubuh pedang yang terkena terpaan sinar matahari samar menghalangi geraknya.
"Minggir." Suaranya rendah nan dingin yang membuat orang menggigil ngeri.
"Tidak akan. Cepat berikan Kitab Seni Beladiri Xitian!" Sentak Sima Junke dengan tajam.
Pria itu berbeda dari terakhir kali mereka bertemu, dia menjadi lebih terasingi dan semakin sulit until dikenali.
Perlahan pandangan Xiu Qixuan terangkat, "Aku katakan padamu. Cepat minggir." Menekan kemarahan, dan nyaris berbisik.
'Tukk..' Sebuah benda dilemparkan Sima Junke keatas tanah. "Benda jelek ini, aku kembalikan padamu." Suara arogan Sima Junke terdengar keras.
Itu adalah hadiah pertama yang Xiu Qixuan berikan kepada Sima Junke, sebuah gantungan pedang dari pusat ibukota Nanjing.
Senyum ironis terpasang diwajah cantiknya, rasa sakit dan gelombang tidak nyaman di matanya bisa dilihat. Hal-hal yang diberikan dapat dikembalikan tetapi bagaimana dengan hatinya, dapatkah ia dikembalikan begitu sederhana?
•••••••••••••••
Pada saat ini
Xiao Chun melambaikan tangannya dan berucap, "Seseorang... bawa dan ikat gadis ini," memerintah tegas.
Dua orang pria yang berpakaian seragam dengan cepat menghampiri Xiu Qixuan yang memberontak. "Lepaskan!! Sampai matipun aku tidak akan memberikannya pada jalang sepertimu!" Teriaknya dengan kebencian ketika kedua bawahan Xiao Chun menyeretnya.
Mereka membawanya kedalam kamar Xiao Chun di Halaman Ketua Sekte, memaksanya duduk dikursi dan mengikatnya.
Xiu Qixuan memberontak dan membuat banyak goresan ditangannya.
Xiao Chun perlahan memasuki sela pintu yang terbuka dengan Sima Junke disebelahnya, wanita muda itu dengan raut keangkuhan menghampiri Xiu Qixuan dan mencengkeram erat rahang gadis itu.
"Mungkin akan menyakitkan untukmu. Tetapi aku pikir dengan ini kau dapat mengerti." Bisik Xiao Chun dengan menyeringai tajam.
'Cihh,' Balas Xiu Qixuan meludahi wajah iblis wanita itu.
Xiao Chun tidak marah, sebaliknya dia tersenyum senang dengan mengusap noda diwajahnya.
Cengkeraman tangannya terlepas dan dia segera berbalik menghampiri Sima Junke yang terduduk diatas ranjang.
Xiao Chun mendudukan diri diatas pangkuan Sima Junke dengan intim, Xiu Qixuan mulai menebak apa yang akan mereka lakukan. Tampak Sima Junke bercumbu dengan Xiao Chun, suara mereka semakin terdengar liar.
Matanya merah menatap lurus percumbuan panas itu.
Hatinya berkedut nyeri dengan tangan yang mengepal erat. Begitu sesak sampai tidak bisa bernapas.
Wajahnya pucat dengan noda darah milik Xiao Bao yang malang, dia berusaha memejamkan kedua matanya tetapi suara itu semakin nyaring memekak didalam kepala. Dia tidak tahan lagi, ini sangat menyakitkan dan juga terlalu gila.
Sima Junke, kau menyakitiku.
Sampai kelembutan menjadi luka, barulah tahu arti sebuah kekejaman.
Gadis itu berusaha mengeluarkan kekuatan spritualnya untuk melepaskan diri dari jeratan menyiksa batin ini. Dia ingin pergi, apakah hal itu sangat sulit untuknya? Mengapa begitu kejam? Hidupnya bergelombang sejak datang ke Daratan Ca Li. Ingin kembali tanpa mengingat apapun, bisakah langit mengabulkan permintaannya?
Dari balik kelopak matanya yang terpejam, airmata masih mengalir deras. 'Arghhh...' Teriakan memilukan itu terdengar keras seiring kekuatan spritual yang sangat besar membuncah keluar menghantam ruang disekitarnya.
'Boomm...' Sebuah kekuatan bercahaya samar menghantam kamar ini dan menyebabkan tubuh kedua orang yang bercumbu liar itu terpelanting.
Tiba-tiba ada gemuruh di luar, petir mengkilat membutakan mata dan suara guntur terdengar nyaring, semua orang terpana dengan perubahan langit, kemudian hujan turun, seolah-olah membuang semua kemarahan.
Tubuh Xiu Qixuan melayang dari atas kursi dan kedua mata itu perlahan terbuka tetapi memiliki warna yang berbeda.
"Mahluk fana yang menjijikan." Suara magnetis terdengar setajam mata pedang. Seakan dia bukanlah sejenis dengan mereka.
Xiao Chun tertegun, menatap tubuh Xiu Qixuan memancarkan keagungan yang menekan kekuatannya.
'Sruupp.' Suara ngilu terdengar saat tangan milik Xiu Qixuan seperti menarik sesuatu dari dalam jantungnya sendiri.
"Hanya sebutir mutiara murahan dan jelek ini, mengapa begitu dibanggakan?" Suara hinaan yang arogan dan skeptis terdengar.
Itu bukanlah seperti suara Xiu Qixuan yang riang nan menyenangkan tetapi seperti suara Baijin Hu yang angkuh menggetarkan jiwa.
"Harus dikembalikan dengan semestinya," Senyum mekar diwajah cantik itu.
'Jleb...Uhuk..' Mutiara putih laut surgawi menembus masuk jantung Xiao Chun yang langsung memuntahkan banyak darah.
Perlahan kedua mata Xiu Qixuan yang berbeda warna itu melirik kearah Sima Junke, dia berjalan menghampiri dan berjongkok didepan pria itu.
"Kalajengking iblis pengikat," Gumamnya pelan seperti sedang membuat kesimpulan dari keadaan Sima Junke, kemudian dia mengibaskan lengannya yang mengeluarkan cahaya putih keemasan.
'Brukk,' Tubuh Sima Junke jatuh pingsan terbaring ditanah dengan perisai keemasan seperti melindungi juga menyembuhkannya.
Xiu Qixuan berbalik untuk melangkah pergi, saat di ambang pintu keluar, tubuhnya seketika mematung, perlahan matanya mengerjap dan kembali normal.
Dengan tangan yang memegang pilar dinding, dia menopang tubuhnya yang terhuyung lemas. Kepalanya pening oleh kesedihan.
Dia tidak ingin menoleh sedikitpun kebelakang, amarah menggebu di dalam dirinya. Kebencian ini membuatnya ingin segera berlari pergi tetapi dendam membuatnya ingin menghancurkan tempat ini.
Betapa ajaibnya, mengapa ada keajaiban seperti itu dalam kehidupan manusia? Masih langit yang sama, pada hari yang sama, lingkungan yang sama, hanya karena perbuatan satu orang, dia merasa semuanya berbeda.
Dibawah guyuran derasnya hujan, tubuh Xiu Qixuan melayang terbang dengan Pedang Xue Yue didalam genggamannya.
Pancaran kekejaman untuk membunuh terpercik keluar disekitar tubuhnya.
Para anak buah Xiao Chun dibawah sana mengelilingnya tetapi tidak ada yang dapat menyentuhnya.
'Duaar..Boom..' Xiu Qixuan melepaskan bola api suci untuk menghancurkan mereka semua.
Pepohonan bahkan bangunan tidak luput dari pandangannya, dia menghancurkan ruang kerja yang didalamnya terdapat altar persembahan dengan cara membabi buta, seperti ingin menghilangkan jejak kebodohan yang sebelumnya tertinggal disana.
"Kehidupan begitu panjang, mengapa memilih tidak bahagia hanya karena ulah satu orang?" Suara magnetis terdengar berat membuat Xiu Qixuan terhenti.
Tepat diatas ranting pohon kokoh, seorang pria terbalut jubah hitam terduduk malas. Xiu Qixuan tidak mengenalinya, dia terdiam tidak balas berbicara.
•••••••••••
Xiao Bao