Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Lama Tidak Bertemu



Semarak kemeriahan festival pertengahan musim gugur di desa kecil ini berlangsung sangat riang dan hangat.


Walaupun tidak semegah festival di Ibukota Kekaisaran ataupun Kota-kota besar lainnya, tetapi desa ini memiliki kesan tersendiri.


Disini mereka dapat merasakan sebuah ketenangan dan kenyamanan batin yang tidak mungkin di dapatkan dalam kota-kota besar, apalagi dengan keramahan para penduduk desa yang saling mengenal satu dengan yang lain memberi kesan hangat kekeluargaan.


"Jiejie, lihat! Aku mendapatkan ini dari teman baruku," Ucap Xiao Bao dengan riang menunjukan sebuah topeng mainan anak-anak.


"Sangat bagus, bagaimana caramu mendapatkan ini?" Tanya Xiu Qixuan dengan mengelus lembut pucuk kepala Xiao Bao.



"Aku berhasil membuat banyak kue bulan, lebih banyak darinya." Jelas Xiao Bao dengan antusias.


"Sangat baik. Berlatihlah lagi dan tahun depan kau harus membuat lebih banyak untuk jiejie." Balas Xiu Qixuan dengan terkekeh kecil.


Festival pertengahan musim gugur atau juga dikenal Zhōngqiū jié ini identik dengan membuat juga menikmati kue bulan dibawah langit bersama dengan orang terkasih.


Dan penduduk desa kecil ini memiliki suatu keunikan tersendiri untuk merayakan bersama-sama di balai desa. Sejak tadi Xiu Qixuan, Sima Junke, dan Xiao Bao ikut merayakan dan berbaur hangat dengan para penduduk desa yang membuat kue bulan untuk dinikmati bersama.


"Tentu, Jiejie. Tahun depan kita akan secara khusus membuatnya bersama dengan gege." Cetus Xiao Bao dengan riang penuh semangat.


"Kalian membicarakanku, ya?" Sebuah suara dari arah belakang dan perlahan muncul sosok gagah nan tampan disamping mereka.


"Percaya diri sekali," Dengus Xiu Qixuan geli.


"Gege, saat festival tahun depan, kita harus secara khusus membuat kue bulan yang banyak dan hanya untuk dinikmati bertiga!!" Ucap Xiao Bao dengan meloncat-loncat riang saat membicarakan hal yang dia rencanakan.


"Ya, kita akan membuatnya secara khusus dan hanya bertiga." Balas Xiu Qixuan terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan Xiao Bao.


"Karena Bao Kecil sudah membuat rencana, tentu saja harus dilaksanakan sesuai keinginan." Ucap Sima Junke dengan tersenyum ringan.


"Baiklah. Ayo, kembali!" Lanjut Sima Junke dengan lembut meraih lengan Xiu Qixuan dan menggandengnya. Sedangkan, Xiao Bao yang kembali aktif seperti anak seusianya berjalan lincah didepan mereka.


Mereka telihat bahagia dan saling mengisi bahkan membuat sebuah rencana kebersamaan yang indah, entah akan terlaksana atau tidak, karena hidup tidak dapat diprediksi.


•••••••••••••••


Matahari belum sepenuhnya muncul dari peraduannya menimbulkan cahaya samar diatas sang cakrawala.


Sebelum langit terang mereka sudah bersiap untuk menuju kaki Gunung Kong tempat Sekte Xitian berada.


Menyusuri pepohonan dan lebatnya hutan dengan mengendarai kuda-kuda gagah nan jinak. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mereka sampai disebuah jembatan besar yang menggantung dan diseberang jembatan itu terdapat bangunan suram. Terdapat juga sedikit hasil reruntuhan disekitar bangunan itu.



"A Jun..." Panggil Xiu Qixuan dengan masih menatap bangunan yang menjulang tinggi itu.


Mereka berhasil melewati jembatan besar itu dan saat ini mereka masih berada diatas pelana kuda.


"Aku tidak tahu, ini sangat berbeda dari terakhir kali aku kemari. Mungkin karena tidak ditempati lagi," Ucap Sima Junke dengan sirat keraguan dinada bicaranya.


Matahari mungkin sudah menyinari Daratan Ca Li, tetapi tempat ini terlihat begitu suram nan gelap tanpa cahaya benda langit yang menerangi.


Saat Sekte Xitian masih berjaya, bangunan inilah yang paling agung nan megah. Sima Junke tidak tahu apa yang terjadi, tidak mungkinkan hanya karena ditinggalkan dan bangunan ini menjadi salah satu yang tertutup dari cahaya matahari?


Tetapi Sima Junke berusaha tetap tenang, dia perlahan turun dari atas pelana kuda dengan membawa Xiao Bao di dalam genggamannya.


Xiao Bao hanya terdiam menatap bangunan besar yang mengeluarkan pancaran kemerahan aneh itu. Bocah kecil ini lebih terlatih juga cerdas dalam bersikap dan mengendalikan diri dari rasa takut karena Xiu Qixuan sudah melatihnya beberapa kelincahan juga pertahanan diri.


Xiu Qixuan menyusul turun dari atas pelana kuda kemudian gadis cantik itu mengikatkan kuda miliknya kesalah satu pilar penopang.


"Ayo!!" Ucap Sima Junke dengan berjalan lebih dulu bersama dengan Xiao Bao.


Xiu Qixuan mengangkat pandangannya dan bergumam pelan, "Suram sekali." dengan tidak berdaya dia tetap harus melangkah melewati anak tangga untuk menyusul Sima Junke.


Suhu musim gugur memang perlahan menurun signifikan tetapi suhu disini terlalu dingin dan lebih dingin dari yang seharusnya.


Mereka berdiri di depan pintu besar yang menjulang tinggi, Sima Junke dan Xiu Qixuan saling melirik seperti sedang berkomunikasi dalam diam lewat tatapan mata.


Dengan perlahan tangan kokoh milik Sima Junke terulur untuk membuka pintu lebar nan besar itu, 'Kriett..' suara pintu yang perlahan terbuka.


Semudah ini?, Batin Xiu Qixuan penuh keraguan. Dia tidak menyangka pintu itu terbuka dengan sempurna tanpa harus menghentakannya keras, karena secara bangunan ini sudah ditinggalkan juga beberapa bagian runtuh yang mengakibatkan banyak kerusakan disisi pintu.


Ternyata didalam sana tidak terlalu buruk walaupun masih banyak reruntuhan bangunan akibat perang antar Sekte. Tetapi cahaya matahari masih dapat samar-samar menyinari tempat ini.


Xiu Qixuan sudah mengira akan menemukan sesuatu mengejutkan tetapi ternyata tidak, selain hanya kesuraman yang membuat bulu kuduk merinding.



"A Jun.. Tidakkah ini aneh?" Bisik Xiu Qixuan dengan mendekatkan dirinya kearah Sima Junke dan juga Xiao Bao.


Sima Junke hanya terdiam dan tidak menjawab, pria itu terus mengedarkan pandangan ke seisi ruangan aula besar.


Mereka tidak menemukan keberadaan orang lain tetapi bara api untuk penghangat ruangan di aula besar ini menyala. Siapa yang menempati aula besar ini?


Bangunan dan halaman lain tidak memiliki tanda-tanda kehidupan hanya aula besar ini saja yang memilikinya. Terlalu aneh!


"Ayo!" Ajak Sima Junke bergegas dengan cekatan membawa dua orang yang dikasihi -nya keluar dari dalam aula besar.


"Mengapa?" Tanya Xiu Qixuan mengernyit kening bingung tetapi dia tetap menuruti kemana Sima Junke membawanya.


"Kita tidak mengetahui dengan jelas bahaya seperti apa yang terdapat disana. Dan juga Xiao Bao terlalu rentan. Lebih baik memilih bangunan atau halaman untuk ditempati dan memantau dari jauh dalam diam." Jelas Sima Junke dengan masuk akal dan objektif.


Xiu Qixuan mengangguk menyetujui.


Mereka berjalan dengan cepat kemudian memilih sebuah bangunan bertingkat tinggi dan tenang yang dahulunya adalah milik para abdi dalam Sekte Xitian.


••••••••••••••••


Ditempat lainnya.


Dalam pencahayaan yang minim dan kesuraman tak tergambarkan melingkupi sebuah ruangan bawah tanah. Diatas kursi takhta kebesaran terduduk pria berjubah hitam dengan rambut keperakan yang samar terlihat.


Walaupun dengan hanya kesamaran yang tidak jelas tetapi orang akan mengetahui bahwa pria dibalik jubah itu memiliki ketampanan yang sebanding dengan dewa surgawi.


Dia bukanlah seorang dewa, karena ditubuhnya mengeluarkan aura kekejaman seorang iblis. Tetapi dia juga bukanlah seorang iblis yang berhati dingin, karena sewaktu-waktu kemuliaan dapat menyelimuti hati dan pikirannya dalam bersikap.


Semua bawahannya mengetahui dengan jelas perubahan antara dua sisi berlawanan yang mungkin akan terjadi jika keemosionalan menerpa sang majikan.


Pria berjubah hitam itu memegang sebuah benda bercahaya yang berbentuk tengkorak didalam genggamannya.


Dia memandangi benda itu dengan intens dan jatuh termenung.


"Terlalu sedikit," Dengusnya pelan.


Itu adalah topeng giok kematian yang menjadi wadah untuk menampung kekuatan spritual dan jika sudah terisi penuh akan mengubah kekuatan spritual menjadi kekuatan iblis murni.


Warnanya masih biru gelap yang samar, itu baru terisi sedikit dan belum terbentuk. Jika warna benda itu berubah menjadi hitam gelap, maka kekuatan iblis murni sudah terbentuk dan dapat dipakai sang empunya.



"Bawahan menghadap ketua," Ucap hormat dari seorang pria yang merupakan bawahannya.


'En,' Jawabnya acuh tak acuh tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.


"Xiao Chun sudah mendapatkan benda itu, apakah ketua akan memberi perintah terbaru?" Tanya sang bawahan itu dengan masih berlutut memberi penghormatan.


"Ban Xia, bangunlah!" Ucapnya dengan sedikit kemurahan hati.


"Terimakasih, ketua." Balas Ban Xia dengan sungkan.


"Perintahkan Xiao Chun untuk menunggu," Ucapnya dengan malas.


"Baik, bawahan ini mengerti." Jawab Ban Xia dengan sungkan penuh hormat.


"Ketua, bawahan ini ingin melaporkan sesuatu hal lain." Lanjut Ban Xia dengan ragu.


"Katakan," Perintah pria berjubah hitam itu.


"Tiga orang asing memasuki wilayah kita. Mereka diantaranya adalah seorang wanita muda dan pria muda, juga seorang anak kecil." Jelas Ban Xia dengan lugas.


"Oh, menarik! Terlihat sangat tidak berpengetahuan," Suaranya rendah tetapi terdengar sangat menyeramkan.


Dia mengibaskan lengannya kemudian dengan cepat muncul-lah sebuah layar besar seperti proyektor canggih yang menampilkan setiap sudut bangunan dalam Sekte Xitian.


Tiba-tiba layar itu menampilkan sosok ramping dan anggun, wajah mungil itu sedang jatuh termenung, dia terlihat akrab dan menarik untuk dipandang.


Seringai tajam terpasang jelas diwajah pria berjubah hitam itu dan dia bergumam pelan, "Lama tidak bertemu, gadis bodoh."


•••••••••••••


Dri kemarin banyak yg menunggu peranmu untuk muncul mas haha, akhirnya kau muncul!!! tetapi author sebagai xuanjun garis keras menjadi resah dengan kehadiranmu😂