
"Kau mau apa? Kau datang bikin acaraku berantakan saja!"
"Hey Nona, aku tidak tahu apa yang baru saja kau lakukan. Dan aku juga tidak mau peduli. Yang pasti aku kemari karena ada masalah yang sangat penting yang harus kau tahu."
Cecilia terbeliak, "Masalah apa?"
"Sepertinya nyonya sudah tahu apa yang kau lakukan, dia tahu Sila bukanlah Veronica."
Kedua mata terbeliak semakin terbelalak sempurna tatkala Cecilia mendengar apa yang dikatakannya, detak jantungnya bertalu talu seiring dengan nafas yang terasa menyesakkan.
"Kau yakin?"
"Sangat! Maka dari itu aku ada di sini. Kau harus selesaikan masalah ini secepatnya, aku tidak mau di seret seret."
"Enak aja ... Kau juga terlibat dalam hal ini. Dasar botak!" sahut Cecilia dengan kesal, pasalnya otaknya semakin ruwet saat mendengar asisten Reno lepas tangan begitu saja. "Kau juga harus membantu, apa Reno tahu. Apa katanya?"
"Kau fikir tuan akan peduli? Dia hanya ingin semua masalah beres saja."
Cecilia menghela nafas, membuka gulungan handuk di atas kepalanya yang membuat kepalanya serasa berat saja lalu melemparkannya begitu saja.
Emang tuh tua bangka, mau enaknya aja. Gak mau tahu kalau urusan beginian, palingan dia bilang aku yang menggodanya duluan, dia sudah berusaha menghindar. Pasti itu alasannya. Emang sialan tuh aki aki. Cecilia membatin.
"Apa tante Irene tahu kalau Veronica itu gue?" tanyanya lagi.
Pria berkepala plontos itu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak yakin, yang jelas dia sudah tahu kalau Sila bukan Veronica. Dan dia curiga kalau ada orang lain yang bernama Veronika. Dia menyuruhku mencarinya." terangnya.
***
Cecilia semakin resah dan gelisah, dia bahkan belum mengganti pakaiannya, asisten Reno sudah pergi sejak tadi, namun justru meninggalkan kegundahan tuada tara baginya, belum lagi has rat yang menggantung di awang awang karena Irsan.
"Aaahkk ... Sialan!" Cecilia mengacak ngacak rambutnya.
Berfikir dengan keras apa yang akan dia lakukan agar semua masalah ini selesai dengan cepat.
"Apa gue kabur aja. Enggak enggak, masa kabur. Atau gue minta bantuan pada Irsan. No way ... Apa kata dia nanti, Dirga? Dirga udah gak mungkin gue mintain bantuan. Nita ... Ya ... Si Nita. Tapi gimana?" Cecilia bermonolog sendiri. Mencari ponselnya yang entah dia simpan dimana tadi.
Bunyi ketukan dua kali terdengar di pintu, Cecilia yang tengah mencari ponsel berjingkat saking kagetnya dia. Menatap jam dinding yang menggantung di tembok dan berfikir siapa gerangan yang datang malam malam.
Lamat lamat Cecilia berjalan menuju pintu, antara yakin dan tidak untuk membuka pintu. Jangan jangan Irene, atau Reno yang marah atau ... Ahhh sial, otak gue gak bisa mikir.
Perlahan namun pasti, Cecilia membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang datang. Pintu terbuka sedikit demi sedikit namun di tersentak sampai terdorong ke belakang saat pintu terdorong lebar.
"Lama banget sih lo kak!"
"Sila! Ngapain lo kesini malem malem begini?" tanya Cecilia saat gadis berusia 14 tahun itu merangsek masuk, melemparkan tas ransel miliknya begitu saja lalu duduk di sofa.
"Lo fikir ngapain gue ke sini kak? Ya gue kabur lah sebelum semuanya makin kacau, lo tahu kak ... Gue ampir saja mati." Sila menyandarkan punggungnya di sandaran sofa lalu memejamkan matanya.
"Irene ngusir lo?"
"Enggak ... maksudnya belum, jadi dari pada di usir ya mending gue kabur."
Cecilia menghampirinya dan duduk disampingnya, manatap Sila yang jauh lebih baik dari pada saat dia datang, pakaian yang dipakainya juga bagus, wajahnya terawat. Irene merawatnya dengan baik meskipun dia di tipu habis habisan. "Lo kenapa bisa ketahuan? Bego kan lo ... Bisa bisanya ketahuan."
"Ya lo kenapa bisa ketahuan,"
"Tanya diri lo sendiri deh, transaksi Reno itu banyak banget ke lo, iya kan. Bukan ke kartu yang gue pegang. Lo yang bego. Ya Tante Irene curiga lah, gue kan tinggal disana, tapi Reno masih ngirim uang bulanan ke akun lain."
Ada secercah harapan saat mendengar penjelasan dari Sila, terlebih Irene belum tahu bahwa dirinya yang selama ini Reno biayai, hanya dari transaksi ke uangan Reno yang menjadi kecurigaan Irene. "Gue masih aman, seenggaknya Irene belum tahu."
"Ya ... Tapi sampai kapan? Tante Irene pasti bakalan nyelidikinya lagi."
"Dia pasti hubungi gue lagi."
"Ya kalau dia hubungi lo, kalau dia minta orang lain yang cari gimana? Lebih handal dari lo yang cuma nipu. Mampus kita kak." ujar Sila yang membuat Cecilia belingsatan.
"Bener juga! Terus dia tahu kalau selama ini gue nipu dia, sampai masukin lo ke rumahnya, rawat lo dengan baik sampai hari ini."
Sila mengangguk, "Bener kan apa kata gue!"
"Jadi gue butuh orang lagi!"
"Eeeh sialan ...! Lo yakin itu bakal berhasil Kak?"
Cecilia menggelengkan kepalanya. "Gue gak bisa mikir nih!!" Dia bangkit dari duduknya dan mengambil wine lalu menenggaknya langsung dari botolnya, sementara Sila hanya melongo melihatnya.
Gadis yang masih belum bisa meninggalkan Reno itu menghabiskan setengah botol wine, berharap setelah meminumnya otaknya cemerlang dan mendapatkan ide yang bisa menyelesaikan semua masalah itu, apalagi jika setelah dia sadar, masalah itu sudah selesai.
"Astaga ... Kak lo bener bener bego apa ya? Lo malah mabok,"
Cecilia mulai meracau kemana mana, mengumpat Reno sebagai biang keladi masalah, begitu juga dengan Sila yang terkena imbasnya.
"Lo ... Harusnya lo gak kabur, lo malah bikin masalah ini tambah gede, dan sialan si Irsan, dua kali dia gagalin sampai gue mohon mohon kayak. Emang gak tahu diri, gak tahu apa dia yang bikin gue jatuh cinta." Racau Cecilia sambil berjalan sempoyongan lalu membantingkan tubuhnya di sofa, "Lo tenang aja, semua masalah pasti beres ditangan gue, lo gak usah khawatir lagi ya." ujarnya lagi dengan menepuk nepuk pipi Sila.
"Parah nih orang!"
Cecilia bangkit dari sofa, dia berjalan dan menyambar kunci mobil lalu sempoyongan kearah pintu dan membukanya. Sila bergegas menarik tangannya agar tidak keluar.
"Kak lo mau kemana?"
"Lepas ... Gue mau nyelesaiin masalah, lo tunggu di sini aja. Semua bakal beres ditangan gue."
"Astaga ... Lo bahkan gak pake baju kak. Gila lo ...!"
Cecilia tertawa, "Gue emang gila ... Semua orang udah tahu!" Mendorong Cecilia lalu dia keluar.
Sila mengejarnya, namun Cecilia berjalan kearah lift. "Gue bakal nyelesaiin masalah yang lebih utama, abis itu masalah lain. Tunggu aja." racaunya dengan masuk ke dalam lift.
Sila terlambat sedikit, karena pintu lift terlanjut tertutup. Dia tidak tahu Cecilia ke lantai mana.
"Anjim jangan jangan dia nekad ke rumah Reno!"
.