
"Halah ... Sombong sekali!"
Suara Bastian lagi lagi menyela, menimpal siapa saja yang bicara, sikapnya jelas terlihat tidak mau menerima kedatangan tamu ke rumahnya, kebencian pada Cecilia sudah mendarah daging walaupun Cecilia tidaklah tahu seberapa jelas alasan Bastian membencinya.
"Carl, bawa Ibuku keluar!" Irsan masih terlihat sabar, dia tidak sedikitpun memperkeruh keadaan, sikapnya jiga sangatlah tenang. "Kau juga sayang," lirihnya pada Cecilia.
Tentu saja Cecilia tidak mau melakukannya, untuk apa dia pergi dan membiarkan Irsan mengatasinya seorang diri, apalagi harus menghadapi ayah tiri dan Ibunya sendirian. "Enggak ... Aku di sini aja,"
"Ibu juga!" tukas Embun yang merasa bersalah karena datang tanpa sepengetahuan Irsan maupun Cecilia.
Irsan menatap Carl, dengan cepat Carl mengajak Embun untuk keluar dari rumah Bastian.
"Ayo Tante, aku tidak mau Irsan semakin marah pada Tante ... Dan aku juga! Kita tunggu di mobil saja."
Akhirnya Embun menurut, keduanya beranjak keluar dari rumha begitu juga dengan suster yang mengikutinya. Membuat Embun menghela nafas karena masalah ini berasal dari dirinya.
"Seharusnya aku mendengarkanmu Carl."
"Sudah kubilang Tante, hubungan Cecilia dan keluarganya itu rumit. Irsan saja belum bergerak dan Tante malah gegabah." Tidak bisa dia tahan lagi kekesalannya pada Embun, "Untung saja aku menghubungi Irsan dan menyuruhnya kemari."
Embun kali ini terdiam, dia mengatupkan bibirnya rapat rapat dengan menatap rumah orang tua Cecilia.
Sementara di dalam, Irsan duduk di samping Cecilia, berhadapan dengan Ibunya. Sementara Bastian duduk di bangku kayu di ruang belakang, dia tidak mau menghampiri mereka atau bahkan duduk bersama.
Cecilia menatap sang Ibu yang semakin kurus, kedua maniknya sayu dengan penuh kerutan, walaupun usianya tidaklah lebih tua jika dibandingkan dengan Embun, namun penampilannya sangat jauh berbeda.
"Maafkan kedatangan Ibuku kemari, beliau tidak berniat mengusik anda dan suami anda di sini." Irsan kembali bicara dengan sangat sopan padanya, juga pada Bastian yang tentu saja mendengarnya dari belakang. "Beliau hanya ingin berencana mengurus pernikahan kami saja."
Hening
Lagi lagi keduanya terdiam, terlebih wanita paruh baya di depan mereka, keringat di dahinya semakin banyak, juga nafasnya terlihat berat.
"Udah sih, gak usah sopan sopan banget sama mereka!" cicit Cecilia yang merasa tidak enak hati karena respon kedua orang tuanya pada Irsan sangat buruk.
Irsan hanya menoleh sekilas pada Cecilia, lalu kembali menatap ibunya.
"Apa anda baik baik saja?"
Brak!
Suara sesuatu barang terjatuh dibelakang, disertai sentakan marah Bastian, seolah dia tidak suka jika seseorang bertanya keadaan Istrinya.
"Lebih baik kalian pergi dari sini!"
"Aaaagghhhkk!" pekik ibu Cecilia dengan histeris sambil menutup kedua telinganya.
Cecilia dan Irsan tentu saja kaget melihatnya, wanita paruh baya itu berteriak teriak,
"Sudah hentikan ... Hentikan, dia itu anakmu ... Anak kandungmu, sudah kukatakan berapa kali kalau dia anakmu!"
Ibu kandung Cecilia terus berteriak teriak dengan mengatakan hal yang sama, bahkan dengan berulang ulang seperti orang yang tengah depresi.
"Ibu!" Lirih Cecilia yang menghampirinya, menahan kedua tangan Ibunya agar tidak menjambak rambutnya sendiri.
Begitu juga Irsan yang membantu menenangkannya, namun Ibunya tetap histeris dan terus berteriak teriak.
Bastian keluar dari ruangan belakang, dengan sebilah kayu di tangannya. "Sudah aku katakan untuk pergi! Kalian malah membuat istriku seperti ini!"
Cecilia berdiri menghadap ke arahnya dengan lantang, dia tidak selemah dulu, dia bukan anak kecil dengan keberanian secuil lagi, dia sudah besar dan akan melawan jika diperlakukan buruk lagi.
"Apa yang kau lakukan pada Ibuku. Bastian!" sentaknya dengan marah. "Kau apakan dia sampai dia seperti ini. Hah!"
"Dia ..." tunjuknya dengan menggunakan kayu, " Dia sakit dari semenjak kau pergi dari sini! Dia ... Wanita ini sama denganmu, sama sama wanita sial!"
Cecilia semakin berang dibuatnya, cacian dan makian sudah dia telan sejak kecil, namun sekarang. Dia tidak akan pernah bisa membiarkan ayah sambungnya itu menghinanya dan juga menghina Ibunya.
"Kau yang sial! Kau yang membuat hidupku dan ibuku makin menderita."
Irsan berusaha menariknya, "Lepaskan kayu Itu, kau tidak boleh emosi seperti ini."
"Minggir kau! Aku tidak akan melepaskan pria tak tahu diri ini, aku akan membalas semuanya."
"Lebih baik kita bawa ibumu dari sini, ayo pergi."
Bastian mengeluarkan pigura dari dalam lemari dan melemparkan pigura yang penuh debu itu ke arah Cecilia, namun Irsan telah lebih dulu menangkis dengan tangannya.
Prang!
"Kau sudah gila! Apa semua masalah ini akan selesai dengan kekerasan?"
Cecilia menoleh pada pigura yang sudah usang itu, didalamnya ada foto ayah, ibu dan juga dirinya yang berada dalam gendongan sang Ayah yang tersenyum hangat.
Cecilia mengambilnya, setelah itu dia kembali merangsek ke arah Bastian yang terus bicara.
Bastian tertawa, "Hey ... Kau orang sombong, jelas masalahnya dari dua wanita yang kau bela ini, kau tidak tahu apa apa, jadi tidak usah ikut campur."
Cecilia tidak hentinya berjalan maju walaupin Irsan menahannya, tapi kali ini dia berhasil maju dan langsung mendaratkan pukulan pada lengannya serta bahu Bastian dengan keras. "Banyak bacott!"
"Cecilia! Dia ayahmu ... Ayah kandungmu." Teriak Ibunya sambil menangis dan menyerbu ke arah Bastian. "Dia ayahmu .... Dia ayahmu."
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Ayahku sudah mati. Dia hanya laki laki gak guna, kenapa ibu terus belaain dia. Hah!"
"Dia ayahmu Cecilia ... Dia ayahmu, ayah kandungmu."
Gadis berambut panjang itu terus menggelengkan kepalanya lantas melemparkan sebilah kayu begitu saja. "Ayo Bu ... Ikut denganku, kita pergi saja dari sini sebelum dia membuatmu semakin parah."
Ibunya jelas menggelengkan kepalanya, dengan air mata yang terus saja meluncur bebas.
"Ibu tetap akan di sini bersama ayahmu, dia ayahmu ... Ayah kandungmu."
Cecilia hanya tersentak kaget karena perkataan Ibunya terus di ulang ulang.
Bastian mengulas senyuman, "Kau lihat kan? Bahkan Ibumu saja tidak ingin aku yang pergi."
"Kau yang sudah membuat ibuku jadi seperti ini Bastian, brengsekk kau!"
Irsan menarik lengan Cecilia yang terus ingin memberontak dan menyerang Bastian, gadisnya itu memang luar biasa, dia tidak gentar apalagi takut. Sangat berbeda dengannya yang mengambil tindakan yang benar benar matang.
"Sekarang kau sudah kaya, hidupmu juga sudah enak sampai kau melupakan ibumu. Lalu untuk apa kau masih datang kemari?" ujar Bastian dengan memeluk sang Istri, berlaku baik didepan keduanya.
Cecilia berdecih, "Dari tadi kau mengatakan hal yang sama, apa yang kau inginkan Bastian. Kau bahkan tidak sayang ibuku, kau hanya memanifulasinya!""
"Dia menginginkan uang Cecilia. Bukan begitu Bastian?" Timpal Irsan pada akhirnya, kesabarannya memang tidak berbatas, tapi dia juga tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, ditambah sikap Bastian terlihat jelas memanifulatif istrinya sendiri.
Cecilia menoleh ke arah Irsan, lalu menoleh lagi ke arah Bastian yang kini tertawa. Dan yakin jika dugaan Irsan benar adanya.
"Aku tidak membutuhkan uang! Tapi aku senang kalau kau mengerti."
"Katakan berapa yang kau inginkan!"
Cecilia kembali menoleh pada Irsan, "Jangan!"
"Katakan Bastian! Berapa yang kau inginkan, akan aku berikan semua asal kau lepaskan Istrimu, kalau perlu pergilah yang jauh!"
.
Hay hay cecelover ... Maafkan karena jadwal othor berantakan begini yaa, kedepannya semoga bisa kembali rutin, karena kerjaan othor di Rl udah selesai. selamat berlibur semuanya, (Yang libur hanya rutinitas pakpikpek dipagi hari ngurus bocil sekolah ya)