I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.120(Kita pulang!)



"Itu gampang! Kau harus ikut terapi, aku menghubungi seorang temanku yang bisa membantumu. Dia seorang dokter terapis." Irsan merogoh ponsel dari dalam saku kemejanya dan mengotak atiknya.


Sambungan telepon sudah terhubung, suara seseorang sudah terdengar dari ujung sana. Namun secepat kilat Cecilia merebut ponsel itu dari tangannya.


'Ya dokter Irsan. Ada yang bisa aku bantu?'


Cecilia menatap layar ponsel yang masih menyala itu, dia terbelalak sempurna saat melihat siapa yang Irsan telepon, tak menunggu lama dia langsung memutuskan sambungan itu.


"Hey kau lancang sekali!"


"Dokter Irsan. Kau menghubunginya dan menyuruhku untuk terapi sama dia?" Cecilia tertawa, "Lucu banget sih! Kau kan juga dokter ... Kenapa bukan kau saja yang jadi terapisnya aku hm?"


Irsan merebut botol minumannya lagi, "Aku bisa! Tapi sikapmu yang membuatku tidak bisa melakukannya dengan baik."


Cecilia berdiri, menempelkan tubuhnya di punggung Irsan dengan kedua tangan merekat di bahunya, sedikit memijatnya dengan lembut sampai Irsan tersentak kaget, terlebih dia mencondongkan kepalanya menjadi sejajar dan berbisik di telinganya.


"Terapi yang aku butuhkan akan berbeda kalau kau yang jadi terapisnya."


"Jangan menggodaku Cecilia!"


"Kenapa. Kau takut tergoda? Bukankah kau sudah tergoda, kayak yang dikatakan Irene ... Aku memang menggodamu sayang." Terkekeh, dengan melingkarkan kedua tangan serta dagu yang di tempelkan di bahunya. "Bukan hanya kau yang tergoda, aku juga!" terkekeh lagi.


"Cecilia. Kau mabuk!"


Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Enggak! Aku baru minum sedikit saja. Itu cuma buat nenangin aja ...!"


Irsan membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahnya, sementara Cecilia terkekeh dan terus meracau.


"Kau tahu sayang! Hati ku sedang sakit! Sakit banget!" Cecilia mengelus dadanya sendiri, dan tiba tiba dia kedua matanya memerah, bulir bening itu turun begitu saja. "Sakit banget tahu! Sampai aku ngerasa aku gak mau hidup lagi, semua orang mengatakan aku begini karena ibuku! Apa ibuku ga ngajarin aku hal hal yang baik sampai aku jadi begini? Semua orang menyalahkan ibuku. Pekerjaanku sebagai teman kencan pria pria kesepian? Dan yang lebih sedih lagi, aku gak bisa jawab. Sampai aku gak bisa jawab kau tahu ... Karena itu benar Irsan! Itu benar ... Ibu ku ... Keluargaku ... Ga-- gak ada. Sama sekali! Apalagi ayahku, kenapa dia mati sendiri, kenapa gak ajak aku aja." ujarnya dengan terus menangis. "Aaa---aku ... Sudah menderita sejak aku kecil, aku gak dapet apa yang menjadi hak hidupku sejak kecil. Saat orang lain dapet kasih sayang ... Aku justru dapat pukulan. Kalau aku bisa milih ... Aku gak mau dilahirkan di keluarga itu Irsan! Gak mau ... Tapi." Cecilia menyusut sendiri air mata yang terus mengalir di pipinya. "Tapi ... Kalau aku gak ada, siapa yang bakal bantu ibuku? Nanti ibuku gimana? Hidupnya aja sulit kalau gak ada aku, Kamu sih enak, keluargamu berada walaupun gak kaya kaya amat! Tapi ibuku gimana kalau gak ada aku."


Irsan tetap diam mendengarkan semua yang keluar dari mulut gadis yang sedang meracau itu, menangis sendiri dan berhenti sendiri lalu terkekeh. Pria itu hanya diam, mencerna dengan baik setiap keluh kesah Cecilia dan meresapinya.


"Tapi kau tenang saja! Selama ini aku udah ngumpulin uang untuk usahaku. Dan aku akan berhenti dari pekerjaan itu saat aku mulai usaha. Jadi kau harus sabar, aku gak suka kau marah marah ... Aku juga gak suka kau diem aja kayak gini."


"Jadi kau suka aku yang marah atau aku yang diam saja."


"Aa--aaku suka kau!" Cecilia terkekeh sambil berputar putar sempoyongan, "Ahh ... Kepalaku! Andai aku jadi orang kaya, aku mau beli semua mulut mulut mereka yang ngata ngatain aku. Aku kitim mereka ke pulau antah berantah ... Di makan ikan paus sampai mereka gak bisa ngomong lagi."


Cecilia semakin kacau, pembicaraannya pun semakin meracau kemana mana. Irsan hanya menghela nafas sambil terus memperhatikan langkah kakinya. Berputar putar dengan riang setelah menangis. What the Fuuuccckkk.


"Kita pulang Hm."


"Sebentar lagi! Aku masih mau di sini. Kau tahu kenapa aku suka pergi ke klub? Cuma di tempat ini aku gak kesepian ... Aku lupa semua masalahku, dan aku lupakan semuanya." Ujarnya lagi dengan tertawa.


Irsan menghampirinya, lalu menggenggam tangannya. "Kita pulang Cecilia, kau sudah kacau sekali."


Bruk!


Cecilia menabrakkan dirinya di dada bidang Irsan, lalu memeluknya erat, "Ya aku kacau sekali! Kau benar ... Lalu kau juga akan ninggalin aku setelah tahu aku sekacau ini?"


Dengan satu kali tarikan saja, Irsan menggendong tubuh Cecilia yang berisi lalu beranjak pergi. Namun karena dia tidak memakai mobilnya, terpaksa dia berdiri ditepi jalan untuk mencegat taksi.


"Kau tahu Irsan ... Aku selalu nyaman saat kamu peluk aku kayak gini," gumam Cecilia dengan kedua mata yang semakin meredup.


Irsan menatapnya dalam dalam, perasaan ingin melindungi dan menjaga Cecilia semakin kuat saja.


"Kau bisa memelukku sepuasnya sayang."


"Hm ... Kau bilang apa? Sayang ... Kau bilang sayang?"


"Tidak! Kau mabuk, dan kau salah dengar!" ujar Irsan lalu masuk ke dalam taksi yang kebetulan lewat dan berhenti.


"Aahh ... Salah dengaa--"


ucapan Cecilia terhenti begitu saja, saking nyamannya dia sampai tertidur di pangkuan Irsan. Bak seorang anak kecil dengan kedua tangan Irsan yang memeluknya.


Alih alih membawanya pulang ke apartemen, Irsan memilih membawanya pulang ke rumahnya sendiri. Rumah yang sudah dia siapkan untuk calon istrinya yang justru memilih pergi dengan pria lain. Rumah yang dia rancang sendiri dan juga dengan harapan besar atas kebahagaian yang akan dia dapatkan setelab menikahi seorang wanita idaman yang dia cintai. Namun pupus sudah harapannya, saat wanita itu memilih pergi darinya.


Hawa dingin amat terasa saat pintu terbuka oleh seorang pelayan yang dia tugaskan menjaga rumah.


"Sudah kau siapkan kamarnya?"


"Sudah mas!"


Irsan segera membawa Cecilia naik, menuju satu kamar yang telah dibersihkan agar nyaman di tempati. Irsan heran, bisa bisanya gadis itu tertidur begitu lelap. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran size king, melepas sepatunya dan menyimpannya di sudut ruangan, lalu kembali untuk menyelimuti tubuh Cecilia dengan bau alkohol yang menyeruak.


Pelayan masuk membawa setumpuk handuk bersih, dan menyimpannya di atas meja.


"Bersihkan dia Bi! Ganti pakaiannya juga."


"Terus pakaiannya mas?"


Irsan menghela nafas, "Biar aku saja."


"Baik!"


Irsan bangkit lalu keluar, dan pelayan wanita itu pun membersihkan seluruh tubuh Cecilia, sementara pakaian nya juga dia lepaskan semua.


"Sepertinya gadis ini spesial buat Mas Irsan, dia tidak pernah membawa seorang wanita kemari. Bahkan, Non Alisa saja tidak pernah dia bawa kemari, padahal rumah ini disiapkan hanya untuknya."


.


.


Wah ... Cxcxcx ... udah maen rumah rumahan nih si tiang listrik, wkwkwk Penasaran gak sih tentang masa lalu Irsan sampai dia jadi begitu tuh. Penarasan kan... Sama, jadi tetep setia nungguin othor up ya, tapi masih dua bab dulu yaa Cecelover.