
"Carl ... Pasti itu dia, gue yakin banget kakau om om yang Sila bilang adalah Carl. Mereka pasti deket selama ini, feeling gue bilang kayak gitu, nggak mungkin si Nita semarah ini sama gue sampe bela-belain dia segitunya kalau mereka nggak deket sama sekali. Tapi tau ah gue pusing!" Cecilia memijit keningnya setelah menutup sambungan telepon, tak lupa dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Fikirannya terlalu berlebihan walau Nita sudah berulang kali menjelaskan jika dia dan Carl tidak memiliki hubungan dan dekat.
Informasi dari Sila memang belum jelas karena dia pun tidak menyebutkan pria yang datang itu secara spesifik, sampai akhirnya Cecilia memutuskan untuk pergi. Tujuannya tentu saja mencari Nita, dia bahkan mendatangi tempat-tempat yang biasanya mereka kunjungi bersama namun tidak juga menemukannya. Bahkan ponselnya sekarang sudah tidak aktif lagi. "Sepertinya Nita emang marah sama gue, kali ini bener-bener marah sampai dia nggak aktifin ponselnya atau jangan-jangan gue diblock lagi sama dia, tapi nggak mungkin. Nita nggak mungkin sampai block gue." Cecilia bermonolog dengan terus melajukan mobil mencari Nita.
Drett
Drett
Suara ponsel berbunyi membuatnya terkesiap da langsung menerima sambungan telepon tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
'Nit ... Lo dimana?'
'Sayang?'
Gadis berambut panjang itu tersadar saat suara diujung teleoon ternyata suara bariton yang dia kenal.
'Ih aku kira Nita,' terkekeh karena lagi lagi panggilan itu dia dengar.
"Sayang, ada apa?"
'Memangnya ada apa dengan temanmu?'
'Gak tahu nih, dia marah sama aku.'
Sejenak dia mengingat sesuatu, kenapa tidak bertanya pada Irsan tentang Carl. Dengan sigap, dia menepikan mobilnya.
'Sayang, kau dimana. Dirumah sakit?'
'Ya ... Tentu saja aku dirumah sakit.'
'Oke, tunggu sebentar. Aku kesana, ada yang harus aku pastiin!'
Cecilia mematikan ponselnya secara sepihak, dia bahkan tidak menunggu jawaban Irsan lebih dulu. Mobil kembali melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
***
Dengan langkah terburu buru Cecilia melewati koridor panjang yang menuju ruangan Irsan. Dengan banyak pertanyaan yang ingin dia korek dari kekasihnya itu mengenai Carl. Sampai dia tiba dipertigaan yang dekat dengan station nurse dan bertemu dengan Dokter Aji.
Gadis itu berdecak, malas rasanya jika harus berhadapan dengan pria dengan memiliki sifat seperti seorang wanita, dengan mulutnya yang lemes bak ibu ibu tukang bergosip.
"Hey ... Mau apa kau kemari?" tanyanya penarasan, menyernyit pula saat melihat Cecilia.
Gadis itu berdecak, sungguh. Dia tidak ingin meladeni pria itu dan melengos begitu saja.
"Heh ... Dasar tidak sopan! Ditanya malah pergi. Kau hanya akan memberi masalah pada Irsan, sudah ku adukan kau pada Ibunya," serunya membuat suster sedikit terheran.
"Dokter?"
"Dasar dia tidak sopan, baru dekat dengan dokter Irsa saja sudah belagu, ku laporkan pada prof. Sam baru tahu rasa dia." gerutunya dengan melihat Cecilia yang bahkan tetap berjalan dan tidak memperdulikannya.
Tak lama dia sampai di depan ruangan praktek Irsan. Seorang suster baru saja keluar dari sana dengan berkas berkas pasien yang menumpuk di tangannya.
"Suster, Dokter Irsan ada?"
"Ada, tapi maaf jam prakteknya sudah habis, apa nomor anda terlewat? Mungkin bisa mendaftar ulang dengan Dokter Aji nanti." sahutnya ramah.
"Enggak kok Sus, aku sengaja kesini untuk ketemu pacarku." Cecilia menaik turunkan kedua alis lantas masuk ke dalam.
Sementara suster sempat terpaku sebelum akhirnya pergi.
"Sayang!"
"Astaga! Kau benar benar luar biasa, pantas saja dia makin berubah semenjak berhubungan denganmu."
Cecilia melangkah masuk tanpa berkedip, kedatangannya dengan terburu buru hanya ingin mengorek pria yang kini justru duduk diruangan Kekasihnya.
"Carl? Ngapain sih disini?"
"Cecilia ada apa?" Irsan bangkit dan menghampirinya, "Kenapa?" dari sorot matanya saja Irsan tahu jika Cecilia kesal pada sahabatnya.
Carl bangkit dari duduknya, "Ya sudah, sampai ketemu dikantor nanti, kau tinggal siapkan dirimu saja dan semua sudah beres."
"Tunggu. Aku mau tanya sesuatu?"
"Kenapa. Kau masih marah gara gara temanmu?" Cicit Carl yang membuat Cecilia makin curiga kenapa dia tahu.
"Kau tahu kemana dia pergi kan?"
"Tidak tahu!" Carl menggelengkan kepalanya. "Aku sejak tadi disini. Kau tanya saja pacarmu itu." Dagunya menunjuk pada Irsan.
Cecilia menatap Irsan, pria jangkung itu mengangguk walau dia tidak mengerti apa apa, Carl memang bersamanya sejak tadi, bahkan dia rela menunggu jam praktek Irsan berakhir.
"See ... Aku tidak mungkin tahu kemana temanmu itu! Lagi pula kenapa aku harus tahu, aku benar benar tidak dekat dengannya." pungkasnya lagi.
Carl mengayunkan kedua kakinya keluar diiringi lambaian tangan pada Cecilia, gadis itu mendengus kearahnya lantas menutup pintu dengan keras.
"Kenapa. Hm?" Irsan mencuil pipinya lembut.
"Aku males lihat Carl, dia nyebelin banget! Aku sama Nita berantem cuma gara gara dia!" Cecilia menghempaskan tubuhnya di kursi, mencoba berkeluh kesah pada pria yang bahkan hanya menatapnya saja. "Sekarang Nita gak angkat teleponku, dia juga pergi dari kampus. Gak biasa bangetlah pokoknya." terangnya lagi. "Dia marah karena aku bilang gak boleh deket deket sama Orang itu!" tunjuknya pada pintu dengan menggunakan dagu, yang dia maksudkan adalah Carl yang baru saja keluar.
Irsan duduk disampingnya, maaih menatapnya dengan kedua alis mengernyit, "Apa Carl berulah?"
"Aku kesini justru ingin tanya itu, apa kau tahu Carl dekat sama Nita gak? Jujur aku khawatir sama dia,"
Irsan terkekeh, "Aku tidak tahu, setahuku Carl memang mudah membuat wanita nyaman dengannya, hanya seorang wanita saja yang menolak pesonanya yang terlalu itu."
"Hah? Bener kan dugaanku, Carl itu___"
"Lebih baik kita fikirkan masalah kita, ibu ingin kita menemuinya dan makan malam bersama di rumah,"
"Tapi ...!"
"Sudah, sahabatmu pasti akan baik baik saja, kalau pun dia dekat dengan Carl, tidak apa apa. Biarkan saja, mereka sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan serta menerima konsekwensinya sendiri." kata Irsan, bangkit duduknya lalu menggantungkan jubah putihnya. "Masalah kita saja belum tentu selesai." imbuhnya lagi dengan mengacak pucuk rambut Cecilia.
Cecilia menghela nafas, susah ternyata bicara dengan orang yang lebih dewasa dalam menyikapi masalah, apalagi masalah yang bukan ranahnya, terlebih Irsan memang tidak suka ikut campur masalah orang lain.
"Sudah, tidak usah kamu fikirkan, semua akan baik baik saja." Lanjut Irsan saat melihat Cecilia masih terdiam.
"Tapi aku khawatir sama Nita."
Irsan kembali menghampiri gadisnya itu, dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
"Yang sekarang perlu kau khawatirkan justru orang tuamu!"
"Hah. Orang tuaku?"
.
.Hayoloooo wkwkwk...
Maaf Cecelover, othor masih gak karuan update. Kerjaan RL othor masih belum selesai soalnya, harap maklum yaa. Lope lope buat kalian
Jangan lupa dengerin juga versi audiobooknya. Dijamin makin seru. Suaraaa beuhhh... Cece banget deh. Gak percaya ... Cek aja sendiri. follow juga Dubbernya . Alka. Makasih