
Irsan terkekeh, kembali memotong daging steak miliknya. "Kau ini bicara apa? Kau berharap aku orang kaya, pembisnis atau pengusaha? Bukan Dokter?"
"Enggak! Justru sebaliknya, aku gak mau berhubungan dengan pengusaha, pembisnis atau orang kaya."
"Kenapa. Bukankah kau menyukai uang dan kemewahan?"
"Ya ... Dulu, sebelum aku kenal seorang Dokter." Cecilia terkekeh, "Dan aku tahu apa itu cinta."
Irsan mengangguk angguk, lalu mendekap tangannya sendiri atas meja. "Jadi menurutmu apa itu cinta?"
Cecilia menyimpan garpu di atas piring, lalu menoleh ke arah Irsan. "Mau aku jujur?"
"Memangnya sejak kapan kau tidak jujur, kau selalu blak blakan saat bicara apapun."
Cecilia mengulas senyuman, "Cinta itu rasa khawatir, panik, cemburu, kesal, dan yang penting itu bahagia."
"Jadi uang tidak penting sekarang?" Irsan mengulas senyuman.
"Ya penting, kau fikir semua ini gak pake uang, buat nyenengin pasangan emang gak pake uang," Selorohnya kemudian, "Uang itu sarana pendukung saja, gimana cara bikin bahagia seseorang tanpa uang?" tanyanya kemudian. "Aku ini realistis, bukan matre ya. Catet!"
Irsan tergelak, "Siapa yang mengatakan kau matre? Kau sendiri yang melabeli dirimu sangat suka uang."
"Ya kau benar!"
"Dan bagiku tidak masalah, wanita memang pada dasarnya suka kemewahan, suka barang barang,"
"Termasuk wanita itu? Siapa ... Yang meninggalkanmu itu." Dengus Cecilia kembali menusuk steak yang sudah terpotong potong kecil itu.
"Hm ... Dia memilih pria yang lebih kaya dari ku, tapi sekarang aku beruntung karena mendapatkan seseorang yang lebih baik, ya walaupun harus menunggu lama."
Uhuk!
Cecilia tersedak, dia buru buru mengambil air dan mengenggaknya sedikit, sementara Irsan terkekeh kecil. "Beruntung gimana? Ah ... Ngaco deh!"
"Ya beruntung, ada seseorang yang menghargai pekerjaanku sebagai seorang dokter, dan...."
"Ya itu karena tidak ada pilihan lain aja!" Cecilia tertawa, buru buru menyela ucapan Irsan, dia merasa dirinya tidak sespesial itu, dan tentu saja dia cukup sadar dan tahu diri.
"Kau ini! Aku baru saja bersikap romantis padamu!" Irsan mencubit pipi Cecilia dengan gemas, bagaimana tidak, dia selalu bisa menjawab semua ucapannya, sedikit ngeyel.
"Benarkah?"
" Sudah ayo makan, kita sepertinya kebanyakan bicara hal yang tidak jelas!"
Cup
Tiba tiba Cecilia berinisiatif dengan mengecup sekilas pipi Irsan, hingga pria itu tersentak kaget.
"Itu karena usaha ke romantisan mu." Cecilia terkekeh dengan menutup mulutnya sendiri.
Sementara Irsan hanya menggelengkan kepalanya saja.
Piring piring telah tandas, perut juga sudah kenyang, kafe and resto yang katanya milik teman Irsan membuat Kencan yang terbilang unik dan tidak biasa, hanya obrolan obrolan yang tidak terlalu penting, bukan kencan penuh keromantisan yang di bayangkan Cecilia. Sikap datar dan tidak banyak ulah dalam tanda kutip dari Irsan tentu saja penyebabnya.
"Apa aku membosankan?" Tanya Irsan saat mereka hendak keluar.
"Sedikit!" Jawabnya polos dengan ibu jari dan jari telunjuk yang dia rekatkan.
"Sedikit membosankan?"
"Tidak juga! Sedikit menyenangkan juga. Emangnya kenapa?"
"Tidak apa! Kalau kau bosan, aku minta maaf. Aku memang tidak bisa seperti pria lain yang romantis." ujarnya lagi.
Keduanya terdiam, dengan Irsan yang kini ikut melingkarkan tangan di pinggang Cecilia. "Ya ... Dan kau pematiknya."
"Benar!" Cecilia tertawa.
"Kau nakal sekali!"
"Ya ... Itu aku!" Jawab Cecilia dengan jujur.
"Juga jujur, aku suka sifat apa adanya itu, kau tidak perlu menjadi orang lain, karaktermu sudah sangat kuat."
"Yes i'm! Semua orang bilang begitu, aku bisa membuat mu jatuh cinta dan jadi milikku." Terkekeh lagi dengan tangan semakin mengerat di pinggang Irsan.
"Kau benar,"
"Dan bikin pria patah hati dan terluka ...."
"Kau ini." dengus Irsan sambil mengulas senyuman, mencapit dagunya hingga kepala Cecilia semakin menengadah ke atas.
Dengan perlahan, Irsan memajukan wajahnya dan mengecup bibir yang sejak kemarin menggodanya, merekah dan sedikit basah, wangi stawberry dan mengkilap.
Kesempatan itu tentu saja peluang besar, Cecilia tidak hanya menyambutnya, dia membukanya hingga meloloskan lidahnya sendiri. Tidak akan membiarkan Irsan hanya mengecupnya saja.
Irsan terkesiap, namun juga membalas permainan Cecilia dengan imbang, hingga akhirnya keduanya saling mencecap lembut.
Cecilia melenguuh, saat gairrah mulai menguasainya, dan membuat Irsan semakin bergelora.
Pria itu mengangkat tubuhnya, menggendongnya dengan kedua tangan melingkar di bokongnya, dan Cecilia melingkari lehernya.
Cecapan keduanya semakin bergelora, dengan gairah yang semakin memuncak. Suara decakan demi decakan mulai terdengar, semakin lama ciumaan mereka semakin panas, Irsan membaringkan Cecilia di tepi meja. Dengan kedua tangan mulai bergerilya kemana mana.
Gadis itu tentu saja terkekeh dalam hati, dengan dada naik karena nafas mulai tidak normal. Gelanyar gelanyar yang mendesir di aliran darah, juga tatapan khas Irsan. Namun Cecilia kali ini tidak ingin gegabah, mengingat mereka berada di tempat yang tentu saja tidak memungkinkan jika harus bercinta.
Irsan menenggelamkan kepala di dada busung milik Cecilia, mencecapnya rakus dengan menyelusupkan tangan dan meremassnya lembut. Membuat Gadis berusia 20 tahun itu bergelinjangan hebat, mengeluarkan suara lenguuhan yang semakin membuat Irsan terpancing gairah.
Geraman Irsan pun sudah tidak terkendali lagi, namun dia berhenti tiba tiba dan berakhir dengan kecupan lama di keningnya.
Cecilia berdecak, "Ah ... Nanggung banget!"
"Maaf ...!" menarik tangan Cecilia hingga kembali terbangun. Dia juga merapikan pakaian yang di kenakan gadisnya itu. "Aku---"
"Ya ... Ya, aku tahu! Gak usah di ulang ulang, aku ngerti. Ayo pergi, sebelum setan satu negeri ngumpul di kepalaku dan membuatmu gila." Ujarnya tertawa, menarik tangan Irsan hingga keduanya keluar dari privat room itu.
"Burungmu aman kan?" tanyanya konyol saat mereka berjalan melewati sederet kursi kursi yang mulai penuh, menatap celana Irsan tanpa malu.
"Kau!"
Cecilia terkekeh, bergelayut manja pada lengannya, entah ke seberapa kali Irsan menggelengkan kepalanya heran pada gadis itu.
"Kita sekarang nonton?"
"Bukankah kau bilang ingin pulang tadi?" seloroh pria berusia 40 tahun itu.
Bruk!
"Maaf!"
Seorang pria tanpa sengaja menabrak Irsan, pria itu tampak buru buru masuk ke dalam, namun langkahnya juga terhenti dan kembali menoleh.
"Veronica?"