
Irsan berjalan tanpa peduli teriakan Tristan, dan dia meninggalkan Tristan begitu saja di kantin Rumah sakit. Sebelumnya dia mendapat telepon jika ada pasien darurat yang sedang menunggunya, Irsan pun melangkahkan kakinya lebih dulu ke ruangan prakteknya hanya untuk mengambil jubah putih miliknya.
Ceklek!
Irsan membuka pintu ruangan dan tersentak kaget saat dia melihat sang istri yang tengah duduk.
"Taraaaaa! Gimana kaget gak Aku dateng?"
"Sedikit. Tapi maaf karena aku harus pergi menemui pasienku." ucap Irsan yang langsung mengambil jubah putih yang tergantung.
"Pasienmu itu aku sayang! Aku sengaja meminta suster di station Nurse untuk menghubungimu. Biar kau cepat kemari." Cecilia terkekeh saat Irsan masih berusaga mengenakan jubah kebanggaan miliknya.
"Tunggu ... Kau apa?"
"Ya ... Itu aku yang suruh! Gak asik banget sih responnya."
"Astaga ... Kenapa kau harus bergurau untuk sesuatu hal yang serius! Bagaimana kalau misalkan memang ada yang darurat dan..."
Cecilia segera bangkit dari duduknya dan langsung menarik lengan suaminya. "Udah sini, jangan terus marah marah, kalau pun ada yang darurat, mungkin pintu ini akan di buka."
"Kau ini selalu membuat masalah!" Irsan menggusel kedua pipi Cecilia.
"Habisnya kamu nyebelin sih! Kerja terus, padahal kan kita harusnya honeymoon gitu kemana! Udah dua bulan gak ada rencana kemana mana." ujarnya dengan berdecak kesal dengan bibir yang mencebik.
"Padahal kan aku kesini kan niatnya hanya mau makan siang sama sama!" dengusnya lagi.
Berbagai macam makanan memang sudah tersaji di atas meja, pizza, cola, spagetti bahkan segala macam suki suki khas korea.
"Makan siang jenis apa ini? Semua tidak ada gizi yang seimbang!" tukas Irsan saat melihat satu persatu makanan diatas meja.
Cecilia terkekeh, "Gak apa apa lah tiap hari kan aku makan masakan yang bergizi, kali ini boleh ya aku makan makanan kesukaanku ini!"
Irsan mendengus, "Sudah seperti kesetanan saja makan segini banyaknya. Kau yakin akan menghabiskannya?"
Irsan menggelengkan kepalanya, menunjuk satu persatu makanan cepat saji yang di beli sang istri.
"Aku tidak suka ini, aku juga tidak suka ini, apalagi ini!"
Terlihat Cecilia menganggukkan kepalanya kali ini,
"Terus, bagaimana bisa kau membeli semua ini dan membawanya kemari padahal tahu aku tidak suka?"
Cecilia mengeratkan giginya yang berjejer rapi. "Kalau begitu, aku habisin aja!"
"Ya terserah kau saja!" ketus Irsan.
"Kamu nggak suka ini kan, gak suka yang ini juga, apalagi ini!"
Irsan kembali mengangguk, "Aku tahu alesannya apa kenapa kamu gak suka ini ini dan ini!" tunjuknya lagi.
"Apa memangnya?"
Cecilia terkekeh sebelum dia bicara, "Karena rasa suka mu itu sudah habis untukku. Iya kan? Jadi kamu gak bisa lagi menyukai yang lain selain aku."
Irsan menggelengkan kepalanya, dengan senyuman tipis di bibirnya setelah apa yang baru saja Cecilia ucapkan. "Kau ini ada ada saja!"
Cecilia pun tertawa, "Biar urat urat di leher dan kepalamu gak tegang aja sayang, aku udah bawain ini juga kok buat kamu."
Cecilia memberikan satu kotak makan berwarna biru padanya, "Itu bekal dari rumah, aku tahu kau tidak bisa makan makanan luar."
Rasa kesal padanya seakan akan sirna begitu saja, saat menerima kotak bekal dari sang istri.
"Terima kasih sayang!"
Cecilia menggangguk, seraya mendekatkan wajahnya."Cium aku dong!"