
Entah kenapa, mendengar ucapan Irsan, Cecilia yang tadinya hanya berpura pura menangis saja kini justru tidak dapat membendung bulir bening yang terus menganak pinak, hatinya benar benar bergetar hebat, sesuatu yang menusuk hangat dan mendamaikan dunianya dalam seketika.
Cecilia yang tadinya berfikir kata kata manis dari seorang pria hanya sebagai pemikat dan kerap digunakan agar wanita lulur dan terlena tak berdaya dan bahkan bisa membuatnya menjadi orang bodoh. Namun entah kenapa saat lagi lagi Irsan yang mengatakannya, naluri nya selalu mencerna dengan baik dan mendengar ketulusan dari mulut pria itu.
"Dengar Cecilia, aku bersikap begini karena aku peduli padamu, aku ... " Irsan menghela nafas terlebih dahulu, "Aku peduli dengan hidup orang yang aku sayang. Apakah yang ku lakukan itu salah. Hm ... Katakan Cecilia, apa aku salah. Karena menginginkan kau hidup lebih baik lagi. Aku mungkin tidak akan peduli jika itu orang lain, tapi aku tidak menginginkannya jika itu adalah kamu Cecilia. Kau faham kan?" ujarnya lagi dengan tangan yang tetap berada di samping, dia tidak menyentuh sedikitpun tubuh gadis yang masih memeluknya itu.
Cecilia menggelengkan kepalanya, ucapannya lirih dengan suara bergetar, "Kamu gak salah!"
Irsan menghela nafas panjang, "Sekarang Istirahat. Aku akan kembali ke sini besok pagi, aku harus ke rumah sakit."
"Tapi ...!"
"Kau mau kan mendengarkan aku Cecilia? Kau memang tidak perlu melihat ke belakang dan menyesal, kau hanya perlu melihat masa depan. Hm?" baru lah dia memegang kedua pundak gadis yang saat ini menengadahkan kepala ke arah nya, keduanya bisa saling menatap kini, dimana Cecilia bisa melihat kedua mata Irsan yang menatapnya amat teduh, lantas dia mengangguk pelan.
"Kau boleh tinggal di sini, ini milikmu juga mulai sekarang."
Cecilia perlahan bergerak maju, memeluk lagi pria yang bahkan tidak berinisiatif untuk memeluknya duluan, dia hanya berdiam diri saja. "Apa itu artinya kita akan tinggal bareng?" lirihnya tanpa ragu, walau dengan tangisan yang masih tersedu sedu.
Pletak!
Irsan menyentil dahinya pelan, sampai gadis itu meringis pelan. "Kau ini! Kau tidak sedang berakting lagi kan?"
Cecilia menggelengkan kepala, "Enggak kok!"
"Bagus! Karena kalau kau melakukannya lagi padaku, aku tidak segan segan untuk...."
"Apa?" menyusut air mata. "Membuangku?"
"Aku tidak merasa membelimu Cecilia ... Kenapa aku harus membuangmu?"
Cecilia masih tersedu sedu, namun seutas senyuman terlihat tipis di bibirnya dengan kedua tangan melingakar dan menggoyang goyangkan lengan Irsan. "Jadi kita baikan nih ceritanya?"
Irsan melepaskan tangan Cecilia, "Terserah apapun itu namanya, aku harus ke rumah sakit sekarang, ada pasien darurat yang harus aku tangani."
Akhirnya Irsan melangkahkan kakinya keluar, dan meninggalkan Cecilia sendiri. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan seprai berwarna hitam dan juga berukuran paling besar itu.
"Ternyata cinta itu benar benar ada, dia yang masih aja kayak tiang listrik bisa manis begitu ya. Dan gue yang gak percaya dia bisa melakukan hal se sweet itu." Gumamnya dengan menatap langit langit kamar bernuansa serba hitam itu. "Gue gak mimpi kan?" gumamnya lagi dengan menepuk nepuk kedua pipinya sendiri.
Setelah kepergian Irsan, Cecilia yang hanya berguling guling di atas ranjang itu sudsh merasa bosan karena sendirian, padahal jam malam masih belum terlalu larut baginya, dia kembali keluar dari kamar Irsan dan melihat lihat barang ada apa saja yang terpasang disana. Mulai dari foto foto yang berjejer rapi, miniatur mobil mobil yang tertata rapi juga penghargaan penghargaan miliknya yang juga berjajar.
"Asosiasi dokter medis Indonesia menyatakan bahwa .... Wow," kedua matanya terbeliak sempurna saat membaca sebuah penghargaan luar biasa milik Irsan, "Hebat juga dia, Dokter bedah terbaik tahun, astaga," gumamnya dengan menghitung jarinya, tiga jari dia acungkan, "Tiga tahun yang lalu ... Ini masih baru banget ternyata. Keren banget sih." ujarnya lagi dengan berdecak berkali kali.
"Otaknya pasti jenius ... Apa otaknya terlalu jenius sampai beku kayak tiang listrik ya."
Dia kembali melihat lihat barang milik Irsan, foto dirinya saat bersama Ines juga ada, dua orang serta seorang anak laki laki yang mirip dengannya. "Ini pasti dia waktu kecil. Lucu banget sih! Tapi tetep aja gak pernah senyum gitu ya. Dasar Aneh."
Dan seorang wanita paruh baya yang dia duga adalah ibunya juga ada. "Halo calon ibu mertua." Kekehnya dengan mengambil pigura agar bisa melihatnya lebih jelas, "Cantik banget, senyumnya juga manis, tapi aneh ... Anaknya begitu." ujarnya sambil kembali menyimpan pigura di tempatnya.
Setelah puas dengan melihat foto foto, di berjalan ke dapur. Perutnya terasa keroncongan setelah lelah menangis. Dia pun membuka lemari es dan cukup tercengang melihat isinya.
"Aahhh ... Mana ada minuman gue lagi di sini." ucapnya dengan mata yang menyapu seluruh ruang di dalam lemari es, dan lemari penyimpanan. Dia kembali melihat lemari es yang penuh itu. "Udah kayak emak emak komplek nih orang, segala macam sayur ada di sini. Bahkan bahan masakan ssmpai penuh gini." ujarnya dengan melihat bok bok berisi sayuran, juga bumbu bumbu yang cukup kumplit.
"Toge, wortel, buah juga ada. Apa nih?" ujarnya mencuil jahe seukuran ibu jari. "Gila ... Gue aja gak tahu ini apaan sih." ujarnya lagi dengan mengambilnya satu lalu menggigitnya.
Cecilia memuntahkannya, mengelap bibirnya yang kini terasa sedikit pengar dan juga panas. "Anjim ... Apaan nih." ujarnya melemparkannya sembarangan.
Dia juga langsung menuju wastafel, memencet kran air dan meminumnya langsung dari sana.
"Mesti gue tanya emak gue nanti." gumamnya sambil terus berkumur kumur dan minum air kran. Beruntung karena air di apartemen mewah itu memiliki ke unggulan bisa langsung diminum.
"Huh ... sial banget! Mana gue bego lagi coba coba gigit, untung gak gue kunyah kan."
Drett
Drett
Ponsel milik Sila berbunyi nyaring di atas meja, ponsel yang belum sempat dia kembalikan walau ponsel miliknya sudah kembali. Dia pun bergegas mengambilnya dan berdecak saat melihat nomor ponsel milik Nita tertera jelas. "Ngagetin aja lo."
'Apaan?'
'Ngegas ... Lo dimana? Gue khawatir nih.'
'Kayaknya gue gak balik ke tempat lo malem ini.'
'Kenapa? Lo dimana ... Jangan macem macem lagi ya!'
'Kagak ... Gue baik baik aja, gue di apart.'
'Hah ... Serius lo? Lo balik lagi.'
'Ya kagak, gue ditempat Irsan.' Cecilia terkekeh kesenangan.
'Anjim lo ... Gue khawatir lo malah keenakan, udah baikan lo?'
'Ya gitu deh, Eh Nit lo kesini ya. Bawa wine ... di sini gak ada begituan.'
Terdengar suara suara ribut di ponselnya, dan sepertinya ponsel sudah berpindah tangan, karena suara Nita yang berteriak kencang di ujung telepon. Silaaaa, gue belum selesai ngomong bego.
Gantian kak ... Gue juga mau ngomong sama kak Cecil.
'Halo kak ... Ini gue, Sila ... Bentar lagi kita ke sana yaa kak, mau dibawain apa kak tadi? Cie udah baikan!'
'Gak usah deh Sil ... Lo tidur aja, gak usah kesini. Lagian udah malem.'
Tut
Cecilia memutuskan sambungan telefonnya setelah ingat kalau Nita datang pasti Sila juga dia ajak.
"Soal Wine, ada Sila... Forget it Ce."
.
Eeeh si Cece malah mau mabok lo di situ lo, wkwkwk. Maaf Cecelover othor baru up, abis nganter pasang gardu. Wkwkkw