I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 227(Apa harus dipaksa)



"Bu ... Jangan memaksa begini! Kau juga."Tunjuknya pada Zian, "Aku mau pernikahan ini atas kemauanku sendiri, bukan tekanan dan ancaman apalagi pemaksaan seperti ini, banyak hal yang harus difikirkan, Cecilia bahkan belum lulus kuliah, Ibunya masih di rumah sakit," terang Irsan yang entah keberapa kali kembali meraup wajahnya dengan kasar.


"Ayolah ... Kau tidak menghargai usaha ibumu, bodoh sekali dia ya." bisik Carl yang hanya terdengar oleh Zian seorang.


Zian kembali tergelak mendengarnya, bagaimana tidak. Irsan sangat berbeda dengan yang lain, pria itu menjungjung tinggi norma dan adat yang berlaku, semua ada dijalurnya sendiri. Tidak melenceng kemana mana apalagi bersikap gegabah seperti ini, sangat berbeda dengan dirinya yang tidak pernah memikirkan apapun jika sudah bertindak.


"Bagaimana kalau kita paksa saja dia?" desis Zian.


Irsan menoleh kearahnya. "Jangan berani melakukan apa apa."


"Kalau begitu putuskan sekarang juga, gampang kan. Tinggal katakan tidak kalau kau tidak mau! Ibu mu sudah pasti akan menyerah, jangan cari alasan kuliah dan ibunya yang sakit, kau fikir setelah menikah dia tidak akan mampu menjalankan tugasnya, kau fikir dia akan langsung hilang ingatan dan lupa segalanya hanya karena menikah denganmu?" terang Zian yang lama lama kesal juga dengan menepuk bahunya keras, "Kau lihat Istriku, bukankah mereka seusia?" sambungnya lagi meyakinkan.


Sementara Carl mendengus, tidak habis fikir dengan manusia robot setengah tiang listrik itu.


"Kasian Cecilia!" gumam Agnia yang menambah resah dirinya.


"Biarkan saja Baby, lebih baik tidak menikah dari pada memaksa orang yang tidak memiliki keinginan."


"Sudahlah ... Ayo pergi! Percuma saja aku mempertaruhkan semuanya demi melakukan hal ini!" Carl memasukkan sapu tangan pemberian suster ke dalam saku celana lalu berjalan ke arah pastur yang sejak tadi hanya terdiam saja.


"Ayo ku antar pulang bapa, tidak ada yang menikah hari ini."


Pastur pun mengangguk dengan kedua alis bertautan, mungkin dia heran tapi juga tidak banyak bertanya, Carl mempersilahkannya berjalan lebih dulu, sementara dia sendiri menghampiri Embun.


"Maaf Tante, sepertinya kita gagal. Aku akan langsung terbang setelah mengantarkan pastur ke gereja, sekali lagi Maafkan aku." lirihnya mencium punggung tangan Embun.


Melihat hal itu, Embun mengangguk pelan. "Terima kasih, hanya kau yang peduli padaku. Pulanglah dan aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku juga akan pulang hari ini."


Sementara Irsan mulai di dera rasa bersalah melihat ibunya yang kecewa, namun tenggorokannya sampai saat ini masih tercekat hingga tidak ada yang mampu dia ungkapkan.


"Semua orang pasti akan kecewa Irsan. Tidak masalah, yang pasti kau tidak menyesali, wanita suka ketegasan, kalau kau tidak berniat menikahinya, jangan salahkan dia kalau mencari pria lain." Zian kembali menepuk bahunya. Berharap Irsan terpengaruh dengan ucapannya Lalu berbalik, "Ayo baby ..."


Zian mengajak sang Istri menghampiri Embun. "Tante ...!"


"Ini salahku Zian ...."


"Tante tidak salah, tante hanya melakukan yang terbaik untuk anak tante." Zian menggenggam kedua tangan Embun untuk menguatkannya. Sementara Agnia mengelus bahunya lembut.


Sementara ditempat lain.


Terjadi keributan karena pihak rumah sakit memindahkan ibu Cecilia tanpa pemberitahuan lebih dulu, Cecilia terlihat mendatangi ruangan Dokter yang selama ini merawat ibunya.


"Dokter. Kenapa Ibuku dipindahkan? Bukannya semua sudah tercover?"


"Maaf Cecilia, ini bukan wewenangku. Tadi pagi pihak administrasi sendiri yang mengusulkannya."


"Tadi pagi? Tapi mereka gak bilang apa apa padaku ataupun dokter Irsan." tukas Cecilia yang bahkan tidak ingin duduk walaupun dokter menyuruhnya.


"Kalau soal itu aku tidak tahu, lebih baik kau tanya saja pada pihak administrasinya langsung." terang Dokter yang memang tidak mengurusi hal itu.


Cecilia kembali keluar dan melihat beberapa bruder(Perawat laki laki) mendorong kursi roda dimana ibunya duduk dengan tenang.


"Tunggu!" Cecilia berlari ke arahnya. "Mau dibawa kemana ibuku?"


"Ke rumah sakit yang lebih baik!" jawab salah seorang pria berseragam biru.


"Kemana? Siapa yang menyuruhnya dipindahkan, Dokternya aja gak tahu apa apa."


Tiga pria yang bertugas sebagai bruder rumah sakit itu hanya mengerdik lalu kembali mendorong kursi roda ibunya. Cecilia berteriak dengan terus menghalau ketiganya yang langsung keluar.


Bahkan mobil Ambulance sudah siap di depan pintu keluar. Dua orang diantara mereka membuka dan langsung memasukkan ibu Cecilia ke dalam mobil.


"Jangan gila kalian, semua harus ada prosedurnya! Aku akan menghubungi dokter Irsan." tukas Cecilia yang langsung menghubungi Irsan.


Dering telepon terdengar namun tidak juga diangkatnya, sampai satu pria menutup pintu mobil dan Cecilia masih tidak bisa menghubunginya.


"Kalau anda ingin tahu prosedurnya, ikuti kami saja."


Cecilia berdecak karena sambungan teleponnya tidak juga diangkat, "Kalau begitu aku ikut, buka pintunya, aku bodoh kalau mengikuti kalian pake mobilku sendiri."


Satu orang Bulder mengangguk ke arah temannya, lalu temannya itu membuka kembali pintu ambulance dan membiarkan Cecilia masuk lalu menutupnya.


"Ayo pergi!"


"Kita akan kemana nak? Apa kita akan menemui Cecilia?" tanya Ibunya.


"Ya Bu ...!" Cecilia asal menjawabnya saja.


"Benarkah? Kita akan menjemputnya untuk kembali pulang?"


"Ya Bu ... Kita akan suruh dia pulang."


Ibu Cecilia mengangguk dengan sumringah, sementara Cecilia hanya menghela nafas akan jawabannya sendiri, berada diantara kebingungannya sendiri.


Hampir 30 menit mobil melaju, Cecilia hanya menggenggam tangan Ibunya yang masih bertanya hal yang sama sampai akhirnya mobil berhenti melaju.


"Kita sudah sampai." seseorang berseru dikursi depan.


Dua bruder mengangguk dan membuka pintu belakang. Hal pertama dilihatnya hanyalah hamparan luas tanpa melihat gedung apa apapun apalagi rumah sakit.


"Apaa apaan ini?" Cecilia yang turun dari ambulance melihat sekelilingnya dan tidak menemukan apa apa. "Jangan bercanda!"


"Ikuti saja kami!"


Tak lama suara helikopter yang semakin terbang mendekat membuat Cecilia terkaget, putaran angin bahkan membuat rambutnya berantakan juga pandangannya menyipit.


"Apa apaan ini!" Cecilia sudah waspada tinggi dengan mencari benda yang bisa dia gunakan saat itu juga dan berfikir jika itu penculikan, tapi siapa yang berniat menculiknya.


"Ayo ...!"


"Ayo kemana! Enak saja ...!" Cecilia berusaha menghalangi ibunya agar tidak di bawa paksa.


Namun tenaganya kalah jauh, hingga dia bisa menendang nendang kaki mereka. "Brengsekk! Awas ...! Aku gak mau ikut."


Cecilia dibawanya masuk, betiru juga ibunya. Dan mereka langsung menutup pintunya. Cecilia terus bergerak dengan berusaha membuka pintu, tapi dia yang tidak pernah melihat helicopter pun bingung cara membukanya.


"Tidak akan ada yang menyakitimu Nona, ikuti saja dan bersikaplah santai."


Cecilia menoleh pada pria yang memakai topi dibalik kemudi helikopter, dan tersentak saat melihatnya.


"Toni?"


"Hm ... Ini aku!"


"Apa apaan ini?" Cecilia memukul kepalanya hingga kepala Toni membentur stir helikopter yang tengah dipegangnya. "Brengsekk kau!"


"Aahh ... Nona ini galak sekali!"


"Jangan banyak bicara! Apa maksudnya ini?"


Namun Toni menghiraukannya, dia menjalankan helicopter dan mulai terbang naik. Cecilia yang semakin panik memiting lehernya dari belakang. Hingga Toni berteriak kaget.


"Aaarghhk!"


"Turun gak! Jangan gila lo maen bawa bawa orang seenaknya, mau nyulik siapa lo, "


"Aah ... Hentikan Nona, kau ingin kita jatuh!"


"Bodo amat! Lo fikir gue peduli, mau dibawa kemana ini."


"Aaah ... Nona lepaskan dulu, biar aku jelaskan!"


"Gak!! Bilang aja, lo fikir gue bego semudah itu nurut dan ikut kalian!"


"Oke ... Oke, tapi longgarkan tanganmu oke! Nanti kita bisa jatuh ini!" ujar Toni yang berusaha menyeimbangkan helicopter yang baru saja naik 100 kaki diatas permukaan tanah.


"Banyak bacott!"


.


.


Nah kan ... Hayo siapa yang berani nyulik si Cece kayak gitu, apa si tiang listik udah berubah fikiran. Wkwkwk ....