I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.106(Janji. Tidak akan lama)



"Apa yang kau lakukan Cecilia?"


Cecilia menggigit sedikit bibir bagian dalam, menatap pria tinggi yang menatapanya tajam. Tatapannya bak sembilu yang membuat hatinya sakit. Irsan menggertakkan gigi geraham miliknya.


Sekilas Reno mengerutkan dahi, tapi sedetik kemudian dia paham siapa pria yang berada di hadapannya.


"Apa dia pria miskin itu?"


Deg


"Cecilia. Inikah yang kau inginkan?"


"A--aku ... Ma--maaf." Lirih Cecilia dengan menatap ke arah lain.


"Oh ayolah. Kita pergi honey ... Aku tidak punya waktu untuk ini." Ujar Reno yang kembali berjalan, dia menggenggam tangan Cecilia dan menariknya pergi.


Namun Irsan mencekal lengannya saat Cecilia melewatinya dengan langkah kaki yang teramt berat."Tunggu! Aku ingin bicara dengannya terlebih dahulu."


Reno menatap ke arahnya, lalu menatap Cecilia yang masih menatap ke arah lain. Pria berusia 60 tahun itu menyunggingkan bibirnya.


"Aku tunggu di mobil honey."


Irsan melepaskan cekalannya, dia menghadap ke arah Cecilia. "Ini yang kau inginkan selama ini. Lalu untuk apa kau datang padaku kalau hanya untuk mempermainkanku Cecilia. Itu sebabnya kau bilang bagaimana jika kau mengkhianatiku suatu hari nanti, apakah ini maksudmu. Hah?"


Cecilia menghela nafas kemudian menatap Reno yang lebih dulu masuk ke dalam mobil, setelah melihatnya menutup pintu mobil dia menarik lengan Irsan ke sudut ruangan.


"Dengar! Aku janji ini gak akan lama. Kau harus percaya padaku 100 persen ... Ah tidak, seribu persen." ujarnya dengan suara setengah berbisik bisik. "Kau mau kan percaya padaku. Setelah selesai, aku akan menemuimu."


Irsan mengernyitkan kedua dahinya, dia benar benar sulit mengerti. Pria tinggi itu melepaskan kedua tangan Cecilia.


"Apa maksudmu. Kau fikir aku bodoh? Apa karena aku miskin seperti katamu Cecilia sampai kau mempermainkan aku, kau akan kembali setelah kau puas bermain main dengan pria itu? Kau fikir aku gila akan menunggumu." Sentaknya keras.


Bhug!


Irsan menonjok tembok tepat di belakang Cecilia hingga gadis itu memejamkan mata dan terhenyak.


"Kau ...!!" hardiknya dengan tangan mengepal.


Cecilia membuka matanya perlahan, memastikan pria kaku itu masih berada di depannya. "Dengar ... Aku gak punya banyak waktu, aku harus pergi. Tapi aku minta kau percaya padaku, ini gak akan lama. Aku hanya ingin semua yang aku miliki kembali."


Irsan berdecih, "Kau benar benar hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau lebih menyukai uang dan kemewahan Cecilia."


"Eng---enggak kayak gitu! Ta--tapi."


"Sudah aku bilang aku percaya padamu Cecilia! Tapi kau ...." Irsan masih mengepalkan tangannya, dia tidak bisa masih tidak paham dengan jalan fikiran Cecilia. "Ku harap kau tidak salah langkah, karena setelah ini aku tidak akan pernah mengejarmu Cecilia." desisnya lagi dengan gigi yang bergemelatuk.


Asisten Reno keluar dari lift dan hanya menatap keduanya bergantian, lalu menyusul Reno yang sudah menunggu di mobil.


"Apapun yang kau katakan padaku, it's bulshiiitt!"


Irsan membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja dengan kemarahannya, dia masuk kedalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras. Bahkan dia menginjak pedal gas hingga terdengar suara mesin menderu hebat dan melesat dengan cepat.


setetes bulir bening turun begitu saja, Irsan telah pergi meninggalkannya, dan sudah dipastikan dia marah besar. Dan itu di luar rencana, andai saja Irsan tidak datang tiba tiba, semua tidak akan terjadi, anggaplah pria kaku itu tidak mengetahuinya.


"Bodoh! Kenapa dia malah kesini dan bikin keadaan makin rumit aja sih. Lebih baik dia kan gak tahu apa apa." gumam Cecilia dengan menghapus bulir bening di pipinya. "Itu kan lebih gampang."


Cecilia berjalan ke arah mobil Reno, namun tatapannya tetap tertuju pada mobil Irsan yang semakin hilang dari pandangan. Gadis berusia 20 tahun itu menghela nafas dan meyakinkan dirinya jika ini tidak akan lama.


"Ayo masuk Honey."


Cecilia menoleh ke belakang dimana gedung milik Reno berada, lalu melirik jam ditangannya yang luput dari sitaan anak buah yang di kirim Reno. Dia kembali menghela nafas baru lah masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju kencang, jalanan yang di lewatinya pun tampak berbeda dari biasanya, bukan arah ke hotel langgangannya, bukan pula kembali pulang ke apartemen yang di tinggalinya.


"Dad ... Kita mau kemana?"


"Bukankah aku sudah bilang kau akan tinggal bersamamu mulai detik ini?" ujarnya dengan mencuil dagunya dengan gemas.


Cecilia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia pun sedikit terkekeh, "Ah ... Iya. Aku lupa! Aku juga gak mau tinggal lagi di apartemen itu. Aku malu karena aku di usir dari sana."


Reno tergelak, dia merengkuh bahu Cecilia dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Dia juga menciumii pucuk kepala Cecilia bertubi tubi. Membuat asisten pribadi yang tengah menyetir menatap keduanya dari balik spion dalam.


"Tempat itu akan jauh lebih mewah dibandingkan apartemenmu Cecilia. Trust me." ucap Reno kembali mendaratkan kecupan di pipimya, dan menyambar bibir Cecilia tiba tiba.


"Daddy ... malu di liatin tahu."


"Sejak kapan kau punya rasa malu Honey?" Reno tertawa lebih menggelegar lagi dibandingkan sebelumnya. Merengkuh tubuh Cecilia lebih dalam lagi. "Jo orang kepercayaanku, dia akan berpura pura tidak melihatnya. Iya kan Jo?"


Jo yang bertugas menjadi asisten pribadi sekaligus jadi supir Pribadinya itu hanya mengangguk.


Drett


Drett


Ponsel milik Reno berdering, dia merogoh ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Wajahnya tiba tiba terlihat khawatir dan terhenyak dengan memegangi dadanya sendiri.


"Daddy. You ok?"


"Ya ... Tentu saja! Ini bukan hal penting."


"Apa itu telepon dari tante Irene. Kenapa Daddy gak angkat?" Cecilia melingkarkan tangan di pinggang pria yang cocok jadi kakeknya itu, dengan kepala bersandar di dadanya.


"Tidak penting Honey. Lebih baik kita bersenang senang saja. Hm!"


Perjalanan menempuh tujuan sampai juga setelah hampir menghabiskan waktu 45 menit. Dan kini mobil terhenti di sebuah rumah besar dan juga gerbang tinggi menjulang dengan dua pilar besar di kedua sisi.


Asisten Reno bernama Jo itu membuka pintu untuknya dan juga untuk Reno.


Tak lama mereka bertiga masuk kelama rumah besar itu, Cecilia juga hampir terperangah saat melewati jajaran benda benda antik yang berkilauan.


Reno juga mengembalikkan ponsel, kunci mobil, kartu kredit juga kartu debit miliknya.


"Ini untukmu Honey."


"Daddy Pengertian deh. Aku kan makin sayang."


"Kalau gitu kita ke kamar sekarang?"


Cecilia mengangguk, pria tua itu merengkuh pinggangnya dan membawa Cecilia.


"Kau cepat sekali sayang."


"Iya Dad ... Aku udah gak sabar." Cecilia terkekeh saat masuk ke dalam kamar utama.


"Apa daddy sering mengajak tante Irene kemari?"


"Tentu saja ... Kami pernah tinggal di sini tapi tidak lama." ujar Reno menyerang Cecilia tidak sabar, tangannya sudah bergerilya kemana mana.


Namun Cecilia menepis kan tangannya,


"Kalau gitu ... aku minta ranjang dan tempat tidur yang baru, aku gak suka pakai barang bekas orang lain Daddy."