
Cecilia tentu saja terkekeh melihat kemarahan Irsan yang menurutnya sangatlah lucu, kemarahan dan kekesalan yang seharusnya tidak perlu dia tunjukan secara berlebihan.
"Dokter Irsan marah karena aku mengajari Sila atau marah karena menahan rindu." Cecilia terkekeh lagi. Walaupun lengannya masih dicengkraman Irsan. "Beberapa hari kita kan gak ketemu ya." ucapnya lagi.
"Aku serius!"
"Aku apalagi! Kalau dokter mau, malam ini juga bisa." godanya lagi, kali ini dia mengulum senyuman, dengan kerlingan mata dan pelan pelan mengendurkan tangan Irsan yang mencekal lengannya. "Karena aku juga merindukanmu." ucapnya lagi lembut.
"Kau memang gila!" Irsan berbalik dan berjalan menjauh, dia menuju mobilnya sendiri.
Cecilia melambaikan tangan ke arahnya disertai kekehan keras, Irsan benar benar kewalahan menghadapinya. Pria itu memilih pergi dari pada menghadapi kenekadan Cecilia.
Sedangkan Cecilia tidak menyangka Irsan akan terus terdistrack oleh ulahnya pada Sila. Atau itu hanya jadi alasan Irsan belaka. Ah terserah lah, yang penting Irsan sepertinya mulai perhatiin gue.
Cecilia sengaja menunggunya lebih dulu, dia melihat Irsan masuk kedalam mobil dan melaju pergi lebih dulu, dia kembali melambaikan tangan saat Irsan melewatinya begitu saja.
Dia merogoh ponsel didalam tasnya dan mengetikkan sesuatu disana, bibirnya mengulas senyuman lalu setelahnya dia baru masuk kedalam mobilnya dan melaju juga.
"Sialan! Untuk apa aku ikut campur urusannya lagi! Gadis itu memang memang pembawa masalah, dan harusnya aku tidak peduli saja." gumam Irsan dengan memegang stir kemudi dengan erat. "Merindukannya! Cih. Gadis gila." dengusnya kemudian.
Dia juga diam diam melirik spion dan melihat mobil Cecilia mengikutinya dari belakang. Sengaja memperlambat laju kendaraannya saat kendaraan Cecilia terhalang dua mobil, juga melaju lebih kencang saat kembali melihat mobilnya berada tepat di belakangnya.
"Sial ... Untuk apa aku menunggunya! Gila." serunya dengan memukul stir kemudi dengan kedua tangannya. Namun juga menyunggingkan senyuman saat arah yang mereka tuju sama. Yaitu apartemen.
Mereka sama sama menghentikan kendaraaanya do basement apartemen, walau ditempat yang berbeda jauh, diam diam Irsan meliriknya, menunggu Cecilia keluar lebih dulu.
Cecilia keluar dari mobil dengan bersenandung ria, hari ini dia memang sedang senang, selain mendapat uang dari Irene juga bisa membantu Sila. Terlebih bertemu dengan Irsan yang bisa dia goda goda.
Gadis berambut pirang itu masuk ke lobby apartemen, menyapa pada security yang kerap menyimpan kiriman atau pun surat penting untuknya.
"Halo pak Dika! Ada kiriman untukku?" ucapnya dengan tangan bersandar di atas meja.
"Tidak ada Non!"
"Yah ... Sayang sekali!" ucapnya melangkah pergi.
Irsan masuk kedalam lobby, dan berjalan beberapa langkah dibelakangnya.
"Pak Irsan ... Ada kiriman untuk anda." seru Dika yang memanggilnya.
Irsan membawa kiriman yang diberikan entah oleh siapa itu, tidak ada kartu nama bahkan securty itu hanya mengatakan bahwa seorang kurir makanan yang mengantarkannya. Sebuah paper bag yang masih hangat dia jinjing dan barulah masuk ke dalam lift.
Ting
Pintu lift terbuka, dia keluar dilantai tiga dimana unitnya berada. Berjalan dengan paper bag ditangannya.
"Hai pak Dokter!"
Cecilia berdiri tepat di depan unit miliknya, dengan wajah berseri bak pemenang lotere, membuat Irsan menghela nafas.
"Mau apa lagi? Aku tidak ada waktu bercanda denganmu Cecil!" ucapnya mendorong tubuh Cecilia yang menghalangi kunci otomatis di pintu unitnya.
Melihat hal itu Cecilia justru mengulum senyuman lebih lebar lagi.
"Kau tidak tinggal serumah dengan istrimu? Kenapa membuka pintu sendirian? Apa istrimu tidak ada dirumah."
"Pergilah ke unitmu sendiri!" Irsan kembali mendorong Cecilia yang berdiri di sampingnya.
"Aku lapar dan---"
"Aku bukan koki dan aku tidak akan mengajakmu makan. Pulanglah. Aku ingin istirahat."
"Tapi----"
"Pulang lah Cecilia! Jangan membuatku marah." Irsan membuka pintu dan melangkah masuk, dia kembali menutupnya namun Cecilia menahannya.
Irsan mengernyit, berdiri dengan menahan pintu agar tidak semakin melebar. "Makanan pesanan mu? Kenapa bertanya padaku?"
Cecilia menunjuk paper bag yang dia jinjing ditangannya dengan mulutnya yang berkerucut dan menatapnya.
"Ini? Pesananmu?"
Cecilia mengangguk seraya terkekeh kecil. "Aku memesan setelah bertemu denganmu, jadi aku salah mengetikkan nama penerima karena terus mengingat mu."
Irsan menyodorkan paper bag ke arahnya, pantas saja karena dia tidak merasa memesan sesuatu. "Nih!"
"Makasih! Tapi apa dokter Irsan gak keberatan kalau nemenin aku makan?"
"Tidak! Aku sibuk!"
"Bentar aja kok! Aku janji setelah makan aku langsung pulang."
" Sudah sana, jangan ganggu aku!" Ketus Irsan yang menutup pintunya dengan keras.
Cecilia menghela nafas, sia sia dia mencari alasan agar bisa bertemu dengan Irsan lagi. Dia pun berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun sedetik kemudian pintu terbuka, Irsan berdiri di belakangnya.
Gadis itu kembali berbalik dengan riang, namun harus kembali menelan kecewa saat Irsan keluar hanya untuk membuang sampah dapur.
"Kenapa kau masih disini?"
"Aku kira dokter Irsan berubah fikiran!" ucapnya dengan lirih, kedua matanya mengedip ngedip manja bak memohon.
Irsan menghela nafas berat. "Masuklah! Setelah makan, kau segera pulang."
Cecilia tentu saja merangsek masuk dengan girang, dia menyapu seluruh ruangan yang sangat rapi dan juga bersih. Meyakinkan dirinya jika di unit yang dia masuki itu hanya ada Irsan.
"Istrimu tidak akan marah?"
"Jelas akan marah kalau tahu ada gadis yang memaksa masuk." ujarnya datar dan masuk kedalam dapur.
Cecilia mendengus, menatap foto foto yang berjajar namun tidak menemukan foto seorang wanita.
"Kau tidak punya istri kan?"
"Bukankah kau kemari untuk ikut makan? Jadi makan saja dan jangan banyak bicara." ujar Irsan menyerahkan piring padanya.
Cecilia mengangguk, alasan yang dia pakai memang mengada ngada, jelas dia sudah kenyang setelah makan banyak bersama Sila dan juga Tante Irene. Tali dia juga tidak akan menyia nyiakan kesempatan itu begitu saja.
"Apartemenmu lebih bagus dari pada punyaku. Aneh!" ujarnya mengeluarkan spageti dari paper bag, memindahkannya ke atas piring, walaupun dia sendiri tidak yakin akan memakannya.
"Jangan mengada ngada! Semua unit di gedung ini punya ruang dan ukuran yang sama!"
"Enggak ah beda! Serius."
Irsan mengernyitkan kedua alisnya, dengan kedua tangan yang bersidekap di depan dadanya. "Beda?"
"Hem ... Disini belum ada cinta!" Cecilia terkekeh.
Irsan menghela nafas, ucapan nyeleneh dari Cecilia membuatnya geleng kepala. Namun tidak ada rasa canggung yang diperlihatkan Cecilia, dia jelas berani dan sangat nekad.
"Cepat habiskan! Jangan membuang waktu berlama lama disini! Aku tidak punya waktu meladenimu." Irsan masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintu dengan keras.
"Tidak apa, biar aku yang meladenimu dokter." Cecilia terkikik dengan menatap Irsan yang menghilang di balik pintu.
Pria tinggi itu menyandarkan tubuhnya di pintu, memijit pelipisnya dengan lembut
"Apa yang aku lakukan! Untuk apa aku membawanya masuk! Cari masalah saja!"