
Ines terbeliak dengan mulut sedikit menganga saat mendengar apa yang di ucapkan Bibinya itu sambil melengos keluar. Dengan cepat dia melangkah keluar ruangan VVIP rumah sakit dan menyusulnya.
"Bi ... Bibi yakin akan tinggal di sini?"
"Tentu,"
"Bibi akan pulang kerumah?"
"Ya Ines,"
"Bibi tidak bercanda?"
"Tentu tidak sayang! Bibi akan di sini."
"Apa karena aku mengatakan Cecilia itu baik?"
Langkah Embun terhenti saat mendengar Ines menyebutkan nama Cecilia, dia menoleh ke arah Ines yang kini berdiri sejajar di sampingnya.
"Kenapa aku harus mengenalnya, dia tidak penting bagiku. Aku hanya ingin lebih dekat dengan putraku saja." sahutnya menohok, "Tidak ada hubungannya dengan gadis itu, dia bukan apa apa bagiku." Sambungnya lagi lalu kembali mengayunkan kedua kakinya.
Ines tentu saja kembali terhenyak, dia menatap punggung sang bibi yang mulai menjauh di temani susternya. "Bibi bahkan bisa berjalan sendiri! Apa bibi melakukannya sengaja untuk mencari perhatian Irsan? Oh astaga...."
Wanita berusia 27 tahun itu buru buru pergi menuju ruangan Irsan, Ines yang selama ini merintis karier sebagai desainer muda dan memiliki butik sendiri itu sampai menerobos antrian pasien. Membuat suster yang menjadi asisten Irsan saat itu kelabakan dan sempat menghalaunya.
"Sebentar saja, ini sangat penting!" ujar Ines dengan merangsek masuk.
Melihat siapa yang datang, Irsan bangkit dari duduknya, meninggalkan pasien yang tengah berkonsultasi tentang penyakitnya.
"Ada apa lagi Nes?"
"Berita ini sangat penting, aku rasa kau harus tahu."
"Apa?"
"Bibi ... Maksudku ibumu, memutuskan akan tinggal di sini. Dia tidak jadi pulang ke singapure."
"Benarkah?" Ines mengangguk dengan senyuman dibibirnya. "Kau berhasil membujuknya."
Bukan aku, tapi Cecilia ... Gadis itu. Ah, tiba tiba aku merindukannya.
"Baiklah! Nanti aku akan mampir ke rumah ibu setelah selesai."
"Bagaimana kalau ibumu tidak pergi ke rumah?"
"Magsudmu?"
"Ya ... Bisa jadi di tinggal di unitmu?"
Irsan tersentak kaget, dia memang menginginkan ibunya tinggal bersamanya namun tidak mungkin harus tinggal satu unit dengan Cecilia.
"Gawat! Bisa terjadi perang ketiga kan kalau itu sampai terjadi." kata Ines yang secara tidak sengaja juatru membuat Irsan semakin panik.
"Kalau begitu kau pastikan ibuku tidak tinggal di unit itu, tempat itu sudah aku berikan pada Cecilia." Irsan membalikkan tubuhnya dan kembali duduk.
"Maaf harus membuatmu menunggu!" Cicitnya pada pasien yang terduduk diam.
Ines terbelalak, niat hati ingin memberitahunya saja tapi justru dia mendapat tugas yang menurutnya sangat berat itu. Sampai dia akhirnya keluar dari ruangan milik Irsan dan kembali menyusul Embun yamg sepertinya belum pergi, namun salah. Karena nyatanya bibinya itu sudah tidak ada, dia juga tidak melihat mobilnya diparkiran.
"Celaka ini! Jangan sampai bibi membuat masalah yang tidak tidak, atau pun sebaliknya dengan Cecilia."
***
Mobil yang di kemudikan Toni melesat dengan cepat membelah jalanan siang yang cukup ramai itu, tujuannya bukan lagi rumah nya yang berada di singapura, melainkan apartemen dimana Irsan tinggal.
"Ya nyonya." Toni menganggukkan kepala dengan melirik sebentar spion.
"Nyonya, apa tidak sebaiknya kota beritahu tuan Irsan lebih dulu? Siapa tahu tuan Irsan mengira nyonya akan pulang ke rumah itu."
"Tidak usah! Aku sengaja tidak memberitahukannya, aku ingin tahu apa gadis itu masih berani tinggal di sana kalau ada aku." tukasnya dengan pandangan lurus ke depan, datar dan tampak serius.
Toni menepikan mobilnya di salah satu toko bunga, dia juga turun dan membuka pintu untuk sang majikan. Suster perawat turun lebih dulu dan di susul oleh Embun. Ketiganya masuk kedalam toko bunga.
"Tante Embun?"
Embun menoleh ke arah suara. Dan melihat Aji yang tengah membeli bunga.
"Kau Aji?"
"Ya tante, masih ingat aku?"
"Ya ... Kau tidak banyak berubah. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku sedang membeli bunga untuk ulang tahun istriku, tante sendiri?"
"Aku juga akan membeli bunga untuk putraku."
Aji terkekeh, setahunya Irsan tidak menyukai bunga, dia adalah pria dingin yang sekarang semakin berubah hanya karena sudah move on.
"Irsan?"
"Hm ...!"
"Aku bersyukur Irsan udah move on dari pacarnya yang telah meninggalkannya, tapi apa tante tahu sekarang Irsan dekat dengan gadis bernama Cecilia?"
Embun tentu saja menyunggingkan bibir, "Ya ... gadis itu!"
"Asal tante tahu saja, dia gadis yang selalu membuat masalah. Dan sering membawa Irsan dalam masalahnya, dia bukan gadis baik baik. Tante harus lebih waspada dan jeli. Karena aku dengar mereka tinggal bersama selama ini."
Embun terbeliak, "Benarkah. Kau tahu itu Aji?"
"Ya tentu saja. Irsan itu teman baikku, sudah seperti saudara ku dan aku akan selalu memperhatikannya." ujarnya yang langsung membayar bunga yang sudah dia beli. "Aku duluan ya Tante."
Embun tidak sempat menjawab, dia masih termangu dengan apa yang dikatakan oleh Aji. Walau Aji tidak pernah tahu alasan utama Alisa meninggalkan Irsan, tapi selama ini Aji memang salah satu teman yang baik di rumah sakit.
"Nyonya ... Kita jadi membeli bunga?"
"Ya ... Beli bunga yang tidak ada wanginya sama sekali, kalau perlu bunga bangkai sekalian." tukasnya dengan mengayunkan kedua kakinya keluar dari toko bunga lebih dahulu dan segera masuk kedalam mobil.
Keadaan berbeda di alami pria berusia 40 tahun yang selama dua jam praktek menjadi tidak tenang, fikirannya selalu terbayang dua wanita yang penting dalam hidupnya itu kembali terlibat perdebatan. Terlebih sikap Cecilia yang selalu terang terangan dan juga sikap Ibunya seperti apa.
Setelah selesai dengan pasiennya, Irsan segera bergegas meninggalkan rumah sakit. Dia ingin memastikan jika ibunya tidak pergi ke unitnya dan bertemu dengan Cecilia nantinya.
Sementara dia berkali kali menghubungi Cecilia namun tidak juga di angkatnya. Pesan yang dia kirimkan pun tidak juga dibalasnya.
Irsan segera masuk kedalam mobil, saat nya menjemput Cecilia sesuai janjinya. Dia yakin Cecilia akan menunggunya di kampus karena dia juga sudah berjanji padanya tadi pagi.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju universitas, dan Ines juga sudah memastikan jika ibunya tidak pulang ke apartemen mereka.
"Syukurlah. Lebih baik ibu memang pulang ke rumah dari pada ke apartemen itu." gumamnya dengan kedua tangan mengerat pada stir mobil.
Tak lama, dia sampai di universitas dan kembali menghubungi Cecilia. "Kemana anak ini! Tidak biasanya dia lama mengangkat telepon dariku, apa dia belum selesai? Atau jangan jangan dia pergi ke tempat lain."
.
Hayolo kemana lo Ce, pasti lagi pusing kan secara banyak tugas lo sekarang. Wkwwkwk.