
'Halo kak Ines ... Kak cepetan ke rumah sakit! Ini gawat, gawat darurat banget!'
'Kenapa?'
'Pokoknya kak Ines kesini dulu aja, nanti aku jelasin!'
Tut
Cecilia menutup sambungan telefon begitu saja tanpa menjelaskan apa yang terjadi dengan rinci pada Ines. Sampai Ines hanya memadangi layar ponsel yang menyala dengan heran. "Apa yang dia maksud?"
Irsan berdecak, "Kau ini! Hanya membuat orang khawatir saja!"
Sementara Cecilia hanya terkekeh kecil. "Jangan dulu marah, ini kesalahan aku dan Kak Ines, ini tuh kayak kerja sama."
"Ya ... Memang ini kesalahan kalian bertiga. Kau memarkir sembarangan, kau dan Ines bertindak sembarangan, dan kau dalangnya Cecilia." Irsan menggelengkan kepalanya.
"Tapi yang aku lakuin itu iseng saja kok, lagian siapa suruh ngehalangin jalan, mobil kak Ines gak bisa keluar jadinya."
Tristan menggangguk anggukan kepalanya, merasa nama dan wajah Ines tidak asing dimatanya. "Jadi mobil klasik itu mobil Ines. Sepupu senior?"
"Iya ... Kenapa? Mau bales dendam ya, ooh jangan jangan ban mobilnya di kempesin juga?" tuduh Cecilia dengan menatapnya penuh curiga.
Tristan mengelengkan kepalanya. "Tadinya aku berniat begitu, setelah ku cermati dan mengambil kesimpulan sendiri. Tidak ada mobil lain yang aku halangi hingga satu satunya pelaku ya pemilik mobil yang terhalang oleh mobilku! Benarkan?"
Cecilia tersentak, namun dia hanya diam saja tanpa mengelak, bukti sudah jelas memperlihatkan kelakukan bodohnya. Dia hanya melirik ke arah Irsan lalu tersenyum.
Sementara Ines yang langsung pergi ke Rumah sakit setelah mendapat telepon gawat darurat dari Cecilia. Desainer muda berbakat itu berlari menyusuri lorong panjang dan harus melalui station Nurse sebelum akhirnya ke ruangan Irsan.
"Apa yang dia bilang gawat tadi, kenapa aku jadi was was dan khawatir begini." gumamnya dengan terus bergegas. "Sus ... Dokter Irsan?"
"Dokter Irsan ada di ruangannya, tadi ada kejadian yang me---"
"Oke terima kasih!" sahut Ines yang tidak mendengarkan perkataan Suster dengan lengkap.
"Melibatkan suster untuk membuat kejutan untuknya." desis Suster dengan menatap punggung Ines yang masuk melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam ruangan Irsan.
"Ada apa Cecilia?" tanyanya saat masuk kedalam, setelahnya baru sadar jika diruangan itu ada beberapa orang. "Cecilia?" ujarnya lagi menatap Cecilia lalu beralih pada Tristan.
"Nah ... Ini Sayang, aku gak sendiri ya, pelakunya berdua, kak Ines juga terlibat." Cecilia menghampirinya dan langsung menarik tangannya. "Ayo kak! Sini."
"Ada apa?" ucapnya dengan terkesiap saat melihat sesosok pria di depannya.
Tristan yang sejak tadi sudah langsung menengok pun tersentak kaget lalu merogoh ponsel miliknya.
"Apa itu kau? Kau yang ada di video ini?"
Ines tentu saja mengernyit, tapi dia enggan menatap Tristan lama lama.
"Kalau iya kenapa? Anda merasa di rugikan?"
Tristan menggelengkan kepalanya. "Astaga ... Galak sekali! Tidak pernah berubah ternyata."
"Tunggu ... Apa? Aku tidak pernah berubah? Kau saja yang tidak mengenalku!" tukas Ines kesal. "Kenapa kau ada di sini?"
Cecilia yang tidak sepenuhnya fokus itu menoleh pada sang suami. "Sayang ... Apa katanya?"
"Tidak pernah berubah ternyata ... Jadi kalian saling kenal? Baguslah kalau begitu, aku tidak repot mengenalkan kalian."
Ines menoleh pada sepupunya. "Kau kenal dia?"
Tristan terkekeh, dengan menyugar rambutnya ke belakang.
"Tentu saja senior mengenalku. Hanya kau yang tidak mau mengenalku." Ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya. "Kau terlihat berbeda di video Dashcamku, aku hampir tidak mengenalimu."
Cecilia mengernyit, menatap suaminya yang diperkirakan akan marah dan mengoceh padanya juga pada sepupunya. Namun kali ini dia diluar ekspetasinya. Irsan kini mengulas senyuman walau tipis seperti biasanya.
"Sepertinya ada yang aneh?" bisik Cecilia.
"Hm ... Baru saja aku berencana menjodohkan mereka, tapi sepertinya mereka sudah saling terlibat."
Cecilia membulatkan kedua manik hitamnya. "Hah?"
"Hm ... Bagaimana menurutmu?"
"Cowo tengil ini? Jodoh buat Kak Ines? Sayang, jangan bercanda deh!"
Irsan menggelengkan kepalanya, "Apa aku pernah bercanda sayang?"
"Ya enggak, justru itu aneh menurutku."
Sepasang suami istri itu terus menguping pembicaraan yang sedikit aneh dan nyeleneh dari Ines yang terus mengomel tidak jelas, sementara Tristan terus menggodanya dengan sesekali tergelak.
"Kita keluar saja, tidak perlu mengurusi mereka berdua!" bisik Cecilia tepat di telinga Irsan.
Irsan menggelengkan kepalanya, "Tunggu sebentar lagi."
Ekhem
Ekhem
"Apa kalian merasa dunia ini hanya milik kalian?" seru Cecilia yang bahkan tidak mengerti pada dua orang di depannya yang terus berdebat.
"Hallo ... Hai .... Hai ... Hai ...,"
Namun ucapan Cecilia sepertinya tidak terdengar oleh mereka yang terus memperdebatkan masalah mengenalku dan tidak mengenalku.
"Yaaa ... Gue dikacangin!" tukasnya dengan menoleh pada suaminya, "Sepertinya mereka menjalani hubungan yang rumit!"
"Kau benar, apa yang harus kita lakukan?" tanya Irsan pada Istrinya.
Cecilia terkekeh, dia mendekatkan wajahnya kearah Irsan.
"Ini mah soal gampang ...! Biar aku yang urus."