
Pria berusia 40 tahun itu kembali mengulum senyuman, "Kenapa ... Kau tidak suka?"
Cecilia menelan saliva saat Irsan yang berada di atas nya menatap dengan sudut bibir yang dia tarik satu ke atas.
"Ayo masukkan jangan main main lagi, kamu sengaja ya."
Irsan melesakkan benda berurat dengan tegangan tinggi itu secara perlahan sampai Cecilia terbuai saking lembutnya.
"Itu salah satu cara agar kita bisa mencapai puncak orgas me maksimal," ujarnya saat benda tegangan tinggi itu masuk seluruhnya.
Melesak sampai ke kebagian ujung hingga rasanya sampai ke ulu hati, gadis itu tersentak saking kagetnya, pria yang dia anggap tidak memiliki pengalaman dalam urusan ranjang nyatanya tahu segalanya dibanding dirinya yang hanya memikirkan bagian enaknya saja.
Gerakan yang teratur dengan ritme yang maju mundur seimbang kini berubah menjadi gerakan tanpa kendali, menguncangkan tubuhnya dengan hebat sampai rasanya sejuta kali lipat kenik matan yang tiada tara dirasakan keduanya.
Lenguhan panjang berkali kali lolos dari bibirnya, disusul erangann serta geraman yang mampu mengjungkir balikkan dunia mereka.
Keduanya melambung tinggi, terbang bersama menuju menara tertinggi, bagian dimana hanya ada mereka berdua saja.
"Eeeeuuggghhh!"
Sampai semburan hangat pun tiba, ribuan bahkan jutaan jumlahnya datang dan masuk ke dalam tempat persemayaman yang seharusnya. Tubuh penuh peluh kini berakhir dengan lemah, urat urat yang tegang pun kini melemas dengan sendirinya, Irsan ambruk disamping sang Istri.
Irsan menatap Cecilia yang masih mengatur nafasnya dengan dada yang turun naik, gadis itu tersenyum dengan kedua mata yang meredup indah akibat dari kenik matan yang baru saja dia rasakan.
"Kenapa?" tanya Irsan yang juga masih terengah engahh menatap sang istri.
Cecilia mengangguk lirih, "Gak apa apa, aku cuma gak habis fiki, ku kira kamu gak tahu juga hal hal begitu, soalnya kan bilangnya gak pernah ngelakuinnya kecuali sama aku."
"Tidak pernah melakukannya bikan berarti tidak tahu apa apa bukan. Aku seorang dokter, jelas mempelajari berbagai penyakit tanpa harus terkena penyakit dulu bukan." jawabnya rasional.
Cecilia mengguyel kedua pipi pria yang lebih matang dan sangat dewasa itu dengan gemas.
"Iya ... Iya pak Dokter, semua penjelasanmu masuk akal banget dan aku kayanya salah tanya deh."
Irsan menariknya, hingga dia bisa mendekapnya dengan sangat erat, pria itu juga menarik selimut agar dipakainya menututupi tubuh mereka yang polos.
begitu juga dengan Cecilia yang melingkarkan tangan padanya.
"Apa yang aku pelajari selama ini tidak ada apa apa nya dibandingkan dengan mu yang langsung melakukan praktek dilapangan, kau bahkan lebih baik dari orang orang yang berpendidikan tinggi sekalipun."
"Maksudmu aku gak berpendidikan?"
"Bukan itu maksuku, pemikirianmu kadang diluar batas, tapi dampak yang kau hasilkan ternyata memiliki niai positif, aku saja dulu hanya berfikir sisi dirimu yang buruk saja, tapi setelah mengenalmu lebih lama aku tahu seperti apa dirimu dan alasan positif apa yang membuatmu melakukannya. Dampak akan berbanding lurus dengan tujuan." terang Irsan dengan panjang lebar.
"Aku juga gitu, ku fikir kau hanya manusia dingin tanpa hati yang tidak peduli dengan sekelilingmu, tapi sekarang kau lebih baik, kau juga bicara lebih banyak dari pada sebelumnya." Cecilia terkekeh.
"Itu artinya kita pasangan yang sangat cocok bukan?"
Cecilia mengangguk, dia semakin merekatkan pelukan pada tubuh Irsan.
Irsan membalikkan tubuhnya hingga kembali mengungkungnya. "Aku pun begitu, aku lebih banyak belajar darimu, terutama soal kepedulian dan soal bercinta yang luar biasa."
"Hei, kita baru aja dateng, kenapa gak jalan jalan dulu." Gadis itu mendorong kedua bahu suaminya yang semakin menindih diatasnya.
"Sudah aku bilang, tidak ada yang namanya jalan jalan, bukankah honey moon itu hanya menghabiskn waktu di tempat tidur saja?" tukasnya dengan pendapat yang sama bahwa bulan madu hanya melakukan aktifitas bercinta lebih banyak di bandingkan sebelumnya.
Alih alih jalan jalan atau sekedar rehat sebentar saja, Irsan justru berkali kali meminta lebih.
"Astaga ... Ya enggak juga bisa bisa aku remuk kalau seharian di kamar, ayo kita jalan jalan dulu, aku ingin lihat area perkebunan, atau kita ke kebun bunga, atau mancing ikan gimana?"
"Tidak! Kta hanya akan di kamar saja!"
"Tapi aku ingin kelilingan, lihat pemandangan, lihat kebun teh aja yuk atau pasar malem ... Ada gak pasar malem di sini? Pasti adalah yaa..."
Irsan menggelengkan kepalanya. "Hari ini khusus membuat anak!"
"Astaga ...!"
.
.
Kangen gak kangen donk yaa sama Cece. Haduuhh maaf banget karena othor baru up lagi mereka.
Btw othor mau bawa Nita kemari lagi, cung yang setuju, soalnya dua apk ternyata bikin keteteran, ditambah RL yang lebih banyak menyita waktu.
Ini masih rencana, othor tunggu kang edi dulu. Huhuhu....
Cecilia terus mendorong tubuh suaminya itu namun tidak sedikitpun bergerak, yaang ada dirinya lah yang mulai kesulitan bergerak dibawah kungkungannya.
"Kau hanya perlu diam dan biarka aku bekerja saja!"
"Mas ... Tapi aku lapar,"
"Kau baru saja makan, jadi jangan bayak alasan, bukankah sekrang aku lebih pintar bsoal rajang diandingka dirimu yang hanya bicara saja tanp bukti?" Irsan terkekh dengan sudut bibir yang dia angkat satu ke atas.
"Hey, tnpa bukti apa? Jelas jelas aku jago kok."
"Kalau begitu buktikan." ujarnya yang langusng melumaat bibir Cecilia yang sedikit terbuka,gads itu tentu saja tidak terima jika dirinya dikatakan seperti itu, ggadis yang tidak ingin doremehkan itu pun membalikkan tubuhnya hinggaa dia kini berada di atas, dia duduk diatas pinggang IRrsan yang tersenyum melihatnya,
"Kua maish meragukan keaahlian ku tuan kaku!" ujarnya dengan mengikat rambutnya menjadi keatas,
"Ayo buktikan kalau ucapanmu itu bukan hanya sekedar ucapan saja, kau sealu kw\=ewalahan dan stamina mu buruk seali, itu artinya kau kurang olah raga." saht Irsan dengan menean salia saat gai rahnya kembali muncul saat meliht dua buah bnda bukat yang menggantug indah terpangpang nyata di depan matanya.
"Irsan! Lihat aja searang, kalau kau akan kewalahan kali ini."tukasnya dengan melumaat bibir Irsan yang tengah sedikit terbuka hingga dia sedikit menggigitnya karena kesal.
"