I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 43(Boleh juga)



"Cukup menarik!" Ucapnya dengan kembali menganggukkan kepalanya.


Begitu juga dengan Cecilia yang mengulas senyuman, mendapat respon yang bagus saat dirinya mengatakan hal itu dengan percaya diri.


"Tapi tidak cukup meyakinkan untuk menerimamu bekerja disini! Terlebih karena kami tidak membuka lowongan baru."


"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi? Aku benar benar punya prospek bagus kalau aku bisa di terima di coffe shop ini,"


"Benarkah? Apa itu?"


Sialan, gue cuma asal bicara aja. Prospek apaan.


"Kenapa aku harus mengatakannya kalau aku tidak di terima? Bisa bisa anda mencuri prospek yang sudah saya miliki sejak lama itu." Kilahnya tidak menyerah, dia terus berusaha agar manager tempat itu semakin penasaran hingga akhirnya haru menerimanya bekerja.


Pria itu mengulum senyuman, "Benar benar menarik! Kau terlihat tidak membutuhkan pekerjaan karena uang seperti yang kau bilang tadi."


Cecilia menghela nafas, semua tidak semudah yang dia bayangkan. Memerlukan banyak kesabaran juga kata kata meyakinkan ketimbang hanya bicara asal saja. "Aku butuh uang untuk biaya kuliah." ucapnya lirih. "Dan aku yakin bisa membuat tempat ini semakin keren kalau aku diterima, kau tahu pak manager, tempat ini terlalu kaku sebagai tempat ngopi anak anak muda. Terlalu serius untuk tempat menikmati kopi."


"Benarkah?"


Cecilia mengangguk, "Harus lebih santai lagi agar bisa menjangkau semua kalangan, terutama anak anak muda, anak kuliah dan anak anak sekolah yang lebih banyak pergi ke tempat kopi dari pada orang tua bukan?"


Manager tampak berfikir, itu memang benar. Konsep yang dibangun oleh sang pemilik memang terlalu kaku, dan dia baru saja bekerja di sana dan tentu saja belum berani mengutarakan ide idenya karena dikhawatirkan berbenturan dengan ide yang sudah terkonsep sebelum dia masuk. Berbeda dengan Cecilia yang bahkan mengutarakannya walaupun dia belum tentu di terima.


"Oke baiklah! Tempat ini memang harus sedikit di rombak, dan aku mulai tertarik dengan ide ide mu."


"Jadi aku diterima?"


"Sebenarnya diterima atau tidak, aku belum tahu! Tapi aku harus melihatmu terlebih dahulu. Keputusannya harus menunggu bos kemari, dia yang akan memutuskan."


"Jadi?"


"Kau beruntung, hari ini bos akan kemari. Jadi kau bisa kan kami training hari ini juga?"


Cecilia mengangguk dengan cepat, terlebih dia bisa bertemu Irsan nanti, dia juga jadi penasaran bagaimana reaksi Irsan saat melihatnya. Fikirannya mulai terbuka, rencana Nita mulai dia mengerti walau sedikit. Dia ingin Irsan tahu sisi lain darinya, bukan soal menggoda atau bahkan pekerjaan yang selama ini dia kerjakan, tapi dia juga bisa bekerja dengan baik. "Bisa ... Hari ini bisa banget! Sambil nunggu bos kemari, aku bisa langsung kerja."


"Oke kalau begitu! Kita ke depan." ujar pak Manager melangkahkan kakinya keluar.


"Dimas!"


"Ya pak?"


Orang yang di panggil menoleh, melihat Cecilia yang berdiri di belakang managernya dengan heran.


"Hari ini dia akan di training, ajari dia hal hal mudah dulu."


"Oke pak! Siap."


"Ok ... Yang lainnya lanjut kerja, bos juga akan kemari nanti." ujarnya sebelum kembali masuk kedalam ruangan staff.


"Siapa nama lo?" tanya Dimas.


"Cecilia! Lo boleh panggil gue Cecilia atau Cecil. Terserah." Sahut Cecilia yang berjalan ke arahnya, melihat monitor yang sangat memusingkan.


Gadis itu menghela nafas, berfikir ulang kenapa dia melakukan hal itu hanya untuk mencari perhatian Irsan. Perlahan dia berdecak dengan gelengan kepalanya berulang kali.


"Lo kenapa? Ini gampang kok. Lo tinggal atur menu yang udah di pilih pembeli, ditotalin klik enter sampai struk pembelian keluar. Udah deh." terang Dimas dengan tangan bergerak cekatan menunjuk ini dan itu.


"Gitu doang?"


"Hm ... Gitu doang! Abis itu lo bikin, kalau kopi sih di sini, ini dan ini." terangnya lagi menunjuk mesin kopi yang berada di pinggirnya, "Tinggal pencet."


"Ya di isi, tapi di sini kita giliran, kalau lo bagian kasir, gue yang bagian ngisi, nanti ada si Tria yang bagian nganter, ada si Iwan yang bagian ngambil ke gudang, besoknya muter lagi."


Cecilia mengangguk mengerti, "Terus hari ini bagian gue apa?"


"Karena lo masih training, lo kasir aja. Tenang, gue masih back up lo kok! Gak ditinggal sendiri."


"Oh ... Ok!"


Penjelasan yang cukup mudah dari Dimas membuat Cecilia mengulas senyuman, pekerjaan yang tidak berat seperti bayangannya. Cukup menyenangkan walaupun kakinya terasa pegal karena terus berdiri.


"Ini gue gak boleh duduk sama sekali? Kaki gue pegel nih!" Celetuknya. "Mana gak ada yang beli lagi dari tadi, mereka cuma duduk berjam jam cuma buat wifi gratis doang apa ya?" celetuknya lagi.


Dimas menyikut lengannya cukup keras, "Jangan ngomong gitu! Kedengeran manager, abis lo di ceramahi. Kayak si Tria kemaren."


"Emang iya kan!" desis Cecilia, dia pun tidak ingat kalau dia sendiri kerap berlama lama berada di kafe maupun coffe shop terlebih kalau ada layanan Wifi gratis.


"Iya tapi kita gak bisa ngomong sembarangan kayak gitu!"


"Iya deh iya gue paham."


Tak lama beberapa pelanggan datang dan mulai memesan, Cecilia yang masih di bantu Dimas pun mulai menikmati pekerjaan yang mudah menurutnya itu.


"Dim ... Lo kaku amat! Kalau gue jadi pembeli, gue males ke sini lagi. Bosen." ucapnya saat pembeli mengambil struk pembelian lalu duduk.


"Emang kalau lo gimana? Biar bikin pelanggan datang lagi dan gak bosen."


Merasa ditantang tentu saja Cecilia akan membuktikan dirinya, soal membuat orang senang dia ahlinya. "Lo lihat gue."


"Selamat datang di Violet coffe shop, awali hari dengan segelas kopi." serunya dengan keras saat seorang pembeli datang.


Tentu saja ucapanya mengundang semua orang yang sudah duduk melihat ke arahnya lalu mengulum senyuman.


"Aku mau pesan latte." ujar pria yang datang dan langsung menekan pilihannya di monitor.


"Baik mohon menunggu, Latte segera siap, tapi tolong jangan tambah lagi gula." celetuk Cecilia yang membuat Dimas menoleh seketika saat dirinya menuang pesanan ke dalam gelas.


"Kenapa?" tanya pria yang mengambil struk dari tangannya.


"Kamu sudah terlalu manis mas." kelakarnya membuat pembeli itu tertawa.


"Bisa aja nih si mbak!"


Dimas terkekeh, menyiapkan pesanan di atas nampan, "Bisa juga lo."


"Gimana menurut lo? Gue fikir itu bagus, biar mereka balik lagi.


"Ya kalau lo diterima! Lumayan sih, lo bakal di kira lagi godain mas mas nya."


"Anjim lo Dim!"


"Tapi beneran lo keren."


Cecilia terus melayani pembeli dengan sedikit rayuan yang membuat mereka tersenyum, menikmati secangkir kopi dengan senang hati.


Dia tidak tahu jika Manager memperhatikannya terus diri ruangannya melalui CCTV.


"Boleh juga! Kita memang butuh pegawai yang ceria dan juga menarik sepertinya."