
"Apa kau gila Nona Cecilia?" sentak Jo saat mendengar ide konyol dari gadis seusia putrinya itu. "Dengan melakukan hal itu, bukan hanya Tuan Reno yang akan malu, kau juga."
"Gak apa apa, justru itu menguntungkan ... Bikin aku tambah terkenal kan." Cecilia terkekeh. "Tapi kau bisa kan hanya nyebarinnya cuma di sini aja. Maksudnya gak sampe viral ke luar."
Jo tampak berfikir, dia berfikir dengan keras dengan usul Cecilia untuk memberikan Reno pelajaran, dengan cara menyebar luaskan perilakunya.
"Ok ... Aku akan membantu!"
"Thank Uncle Jo." Cecilia menepu bahu pria plontos itu.
Rekaman CCTV yang telah di edit sedemikin rupa akhirnya dibawa oleh Cecilia, sementara salinannya sudah disebar oleh Jo, keduanya keluar dari ruangan CCTV.
"Kau hanya perlu memperlambat waktu, aku akan memberikan kode jika semua siap."
"Soal itu mah gampang. Serahin sama aku."
"Kalau begitu, keluar lah lebih dulu. Aku akan mempersiapkan semuanya."
Cecilia banyak memperlambat waktu, minta berganti ranjang pun dia lakukan agar memberi Jo waktu, juga berlama lama di kamar mandi dengan mempersiapkan semuanya. Dan menyuruh Nita siap siap untuk menjemputnya di kantor Reno.
Kerja sama keduanya sangat rapi, bahkan Jo melakukannya dengan puas. Bisa memberikan pelajaran berharga pada bos nya itu. Semua dia lakukan karena merasa iba pada Irene yang selama ini dipermainkannya. Bahkan Reno mengatakan akan menceraikan Irene agar Cecilia dia dapatkan juga.
Flash back off
Jo masih berdiri tanpa mengeluarkan satu patah katapun, setelah Irene memintanya mengatur janji temu dengan Cecilia. Dia hanya tersenyum tipis lalu membungkukkan tubuhnya dan keluar begitu saja.
Sementara Irene kembali menitikkan air mata dan mengusapnya dengan sapu tangan yang di berikan oleh Jo padanya.
Entah bagaimana awalnya, yang jelas sebagai seorang Istri yang telah puluhan tahun menemani suaminya, tapi akhirnya Irene mengetahui hubungan suaminya dan juga dugaannya tentang Cecilia.
Sementara Reno justru dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh beberapa saat setelah Irene meninggalkan kantornya dan kembali pulang.
***
Akhirnya Cecilia membuang pakaiannya setelah mendapatkan pakaiannya yang baru dia beli. Walau wajahnya kerap ceria dan terus bercanda dengan Nita dan juga Sila, namun tidak bisa dia pungkiri. Kini hatinya telah gundah karena Irsan.
"Ce ... Lo sekarang mau balik ke apart lo?"
"Ogah! Walaupun Reno udah kembaliin semua fasilitas, gue gak bakal balik ke sana."
"Lah terus. Kalau lo gak balik ke sana, ngapain lo harus ribet ngelakuin hal itu, sinting emang lo." ujar Nita membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Heh bego! Gue ngelakuin itu bukan cuma buat duit doang sekarang, tapi gue juga harus bales apa yang udah dia buat sama gue, enak aja maen buang buang gue gitu aja. Dia fikir dia siapa?" sungut Cecilia yang juga membuka pintu lalu masuk.
"Dia yang kasih lo duit banyak Ce!"
"Ah iya ... Gue lupa!" sungutnya lagi diakhiri dengan dengusan kasar.
Sementara Sila masih terus mengerjapkan kedua matanya, dia tidak percaya dengan apa yang keduanya ceritakan. Kenekatan dan keberanian Cecilia melakuian hal yang mungkin saja lebih berbahaya dari sekedar pencurian yang kerap dia lakukan.
"Sil ... Planga plongo kayak orang bego aja lo. Ikut kagak?" Teriak Cecilia.
Sejurus kemudian Sila masuk ke seat belakang,
"Fixs gue makin kagum sama lo Kak ... Lo emang kereen." ujarnya dengan menyembulkan kepalanya ke depan.
"Ya sementara di tempat lo deh Nit, dia juga ... Sambil gue nyari tempat. Tapi urusan gue belum selesai, jadi lo bantuin Sila nyari tempat ya."
"Gue lagi. Ah ... Lo! Urusan apa lagi sih? Jangan macem macem lo ya, gimana kalau lo ditangkep polisi. Atau lo celaka?"
"Gue gak apa apa Nit ... Gak bakal ke neraka duluan, gue pasti ajak lo nanti." Cecilia terkekeh untuk menutupi keresahan dirinya.
"Iih ... Amit amit!" Mulut lo emang kagak ada filternya." ujar Nita yang kembali melajukan kendaraannya.
Hampit 30 menit mereka berkendara dijalan yang sama, Cecilia yang meminta Nita melakukannya. Entah untuk apa, yang jelas Cecilia tengah mempersiapkan diri dan mentalnya untuk menemui Irsan lebih dulu.
"Tuh bocah bahkan udah tidur, lo ngapain sih nyuruh gue muter muter kayak gini ngabisin bensin aja."
Cecilia menghela nafas berat, "Irsan marah sama gue gara gara gue pergi sama Reno tadi siang. Menurut lo ... Dia bakal percaya gak sama gue kalau gue cerita semuanya."
"Lo mau gue temenin?"
"Emang lo mau bantu gue buat ngejelasin semuanya sama dia?"
Nita terkekeh kecil, "Ya ogah lah, buat apa? Lo *** *** aja gak ngajak gue lo."
Seketika Cevilia menoyor kepala Nita, "Sialan emang lo. Buat apa lo ngomong kalau gitu. Dah gue rasa waktunya udah pas, turunin gue di apart." ujarnya lagi dengan melirik jam tangan miliknya.
"Sialan lo! Muter muter gak jelas ujung ujungnya minta di turunin disitu juga, kenapa gak dari tadi coba."
"Tadi waktunya belum pas bego! Emang lo fikir Irsan bakal ada di unitnya jam segitu?" dengus Cecilia yang lalu mengambil lipstik dan bedak dari tas milik Nita, dia juga melihat ke arah spion dan sedikit merias wajahnya lagi.
"Gue udah rapi belum?"
"Gak usah rapi rapi, entah juga di acak acak." Seloroh Nita asal menjawab. "Yang pasti pasti aja ... Ketek lo bau gak. Entah dia illfeel lagi sama lo."
"Lo tuh ya kadang kadang ...!"
Keduanya tertawa lagi, walau degupan di hati Cecilia semakin kencang saja saat perjalanan mereka hampir sampai.
Akhirnya mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen, Cecilia menghembuskan nafas sebelum dia turun dari mobil.
"Sini ... Gue tiup ubun ubun lo dulu supaya berhasil bikin tuh tiang listrik gak marah lagi."
"Doa lo gak bakal di ijabah! Dah lah ... Gue turun ya. Lo baik baik noh sama si Sila,"
Akhirnya Cecilia turun juga dari mobil, kembali menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Bissmilah nawaetu...!" Gumamnya lalu sedetik kemudian dia menutup mulutnya, "Eeh gue kan Nonis."
Dengan langkah pasti dia masuk ke dalam lobby, berjalan langsung masuk kedalam lift dan menekan tombol bernomor tiga.
"Semoga Irsan mau denger penjelasan gue."
.
Hayolo ... Kok othor yang degdegan ya.