
Cecilia kini menatapnya, dia bisa saja mengangguk dengan cepat, tapi. Bagaimana pun juga dia masih memikirkan nasib orang lain, yaitu orang orang yang selama ini jadi pasiennya. Bagaimana seorang Dokter bisa pergi liburan dalam jangka waktu yang lama sedangkan pasien itu sudah terbiasa dengan Irsan yang selama ini merawatnya. Gak kebayang deh gimana kecewanya, gue aja mau konsultasi ke dokter obgyn waktu itu malah ketemunya sama Dokter Siska, selain canggung kan gue jadi gak nyaman kalau ganti dokter, ini apalagi dokternya malah honey moon ke luar negeri, gimana kalau ada operasi dadakan atau gawat darurat. Bisa bisa mereka mati karena menunggu Dokter. Batin Cecilia dengan sedikit bergidik.
"Mungkin nanti, kalau sekarang kan udah tanggung juga sayang, kita ke tujuan awal kita saja. Lagi pula asal kita bisa menghabiskan waktu bersama, dimana pun aku rasa gak masalah." cetus Cecilia. Ke puncak pun aku rasa pasien pasien mu gak akan ganggu, apalagi mereka tahu kalau Dokter berbudi luhur dan ganteng ini pergi honey moon. Iya kan sayang?" cicitnya lagi.
Irsan mengulas tipis senyuman, dengan merengkuh bahu Cecilia, sementara Ines mendengus kesal mendengarnya. Sudah dibela mati matian malah menjatuhkannya pula. Fikirnya.
"Kak Ines tenang aja, walau kita sekarang cuma ke Puncak, tapi rasanya akan jauh menyenangkan dibandingkan pergi ke Paris, Prancis atau Barcelona sekalipun." tukasnya lagi dengan menatap sepupu Irsan tak lupa mengedipkan satu mata ke arahnya.
"Eeh ... Apaan tuh?" gumam Ines penuh curiga.
Mobil pun sudah siap, Irsan meletakkan barang bawaannya di bagasi, tak lama dia berjalan memutar ke arah pintu kemudi.
Melihat Irsan sudah masuk kedalam mobil, Ines berlari ke arah Cecilia.
"Pasti ada yang kamu rencanakan. Iyakan?" Bisiknya.
Cecelia terkekeh, "Pokoknya kak Ines tenang aja, apapun yang kak Ines mau lakuin di Rumah sakit bareng Tristan, apalagi kalau jaga malam. Pastikan kunci pintu."
"Apaan sih, gak mungkin aku ngelakuin hal macam macam di Rumah sakit."
Cecilia mengerdikkan bahu, dengan mendekat pada telinganya. "Ya kalau ... Ini ibarat kalau, kak Ines gak nahan...."
Ines membulatkan kedua manik hitamnya, "Ehh ...!"
Tawa Cecilia tidak bisa di elakkan lagi, dia melambaikan tangan seraya berlalu masuk ke dalam mobil. "Bye kak Ines ...!"
Terlihat Ines berdecak, namun tak lama dia mengulas senyuman karena ucapan Cecilia yang blak blakan.
"Ada ada aja tingkahnya!"
"Apa yang kau bicarakan dengan Ines?" tanya Irsan saat Cecilia baru saja mendaratkan bokong di jok mobil.
"Gak ada!" ucapnya dengan pura pura sibuk membenahi seat belt.
"Benar tidak ada? Jangan bohong, jangan coba coba mempengaruhi dia yang tidak tidak." tuduh Irsan yang tahu bagaimana istrinya itu.
"Dih takut banget, emang aku ngapain."
"Aku tahu apapun yang bisa kau lakukan sayang! Aku ini suamimu, jelas aku tahu apa yang menjadi sifatmu." terang Irsan.
Sementara Cecilia terkekeh dengan mengigiti ujung kuku jarinya. "Iyakah ... Kau tahu aku gimana?"
"Tentu saja, kau ini nekat, kau ini gegabah, tidak pernah berfikir resiko yang akan kau hadapi di kemudian hari, tidak pernah berfikir apa yang kau lakukan itu berbahaya atau tidak. Kau ....Arggghh!" ucapannya terjeda karena Cecilia menggigit lenganya dengan keras. "Cecilia, aku sedang menyetir!" sentaknya, "Bagaimana kalau aku menabrak orang!" ucapnya lagi marah.
Sedangkan gadis yang menggigitnya gemas justru tergelak, "Habisnya semua yang kau bicarakan itu jelek, mana yang bagusnya?"
Irsan menggelengkan kepalanya, "Galak sekali kau ini, aku ini suamimu!"
"Iya ... Siapa yang bilang kau ini ayahku?" Cecilia masih terkekeh.
Sementara Irsan menggelengkan kepalanya, seraya melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali Cecilia masih terkekeh melirik ke arahnya.
Hampir 1 jam perjalanan mereka menuju villa yang di tuju, jalanan yang sedikit macet membuat Irsan berdecak kesal. Namun tidak untuk Cecilia, gadis itu menikmati perjalanan dengan riang gembira. Mengambil banyak foto selfi dan menguploadnya ke media sosial miliknya. Hingga tanpa terasa keduanya tiba di Villa.
Seorang pria sudah tampak menunggunya, tampak tersenyum saat keduanya hendak keluar dari mobil, dan berlari membuka pintu mobil.
"Tuan ... Nyonya!" sapanya.
Cecilia menoleh ke arah Irsan, baru kali ini ada yang memanggilnya seperti itu. "Nyonya Irsan?" cicitnya dengan terkekeh sendiri.
"Hummm!"
Merasa dihargai tentu saja senang, dia yang dulu kerap disembunyikan karena hanya selingan semata, hanya sebagai teman kencan dikala para pria hidung belang membutuhkan teman kini justru dia diakui, bahkan Irsan tidak pernah sekalipun mengungkit masa lalunya.
Keduanya turun dari mobil, berjalan beriringan masuk kedalam Villa sementara pria tadi menggeret koper kecil miliknya.
"Apa kau pernah kesini sebelum sama aku?" tanya Ceciia ynag heran kenapa penjaga yang berjalan dibelakangnya mengenal Irsan dengan baik.
"Ya ... Tentu saja!"
Cecilia tersentak. "Iih ... Berarti kau bohong yaa, kamu kesini sama siapa. Alisa ya? Pasti kalian bersenamg senang kan di sini, ah gak seru ... Kamu kesini pasti inget memory pas lagi sama dia!" tuduhnya.
"Astaga ... Apa aku mengatakan hal itu?" Irsan menghentikan langkahnya dan menatap ke arahnya.
"Itu tadi. Udah deh gak usah bohong lagi!" tukas Cecilia sedikit kesal mengingat sosok wanita yang sulit dia lupakan itu.
"Aku tidak mengatakan apa apa. Kau yang mengatakannya sendiri, kau juga yang marah."
"Halah ... Kebanyakan ngeles!"
"Astaga ... Sumpah demi apapun, aku pernah kemari tapi bukan bersenang senang seperti yang kau fikirkan. Aku kemari saat acara gathering. Itupun hanya sekali saja!" Terangnya meyakinkan.
Kedua mata Cecilia memicing ke arahnya, mencoba mencari kejujuran pada kedua manik suaminya itu, sementara Irsan menatapnya datar, terlebih dia memang jujur.
"Tidak percaya? Apa kau tidak ingat kalau kaulah yang merenggut kesucianku?" tukas Irsan lagi.
"Ya aneh aja!" Cecilia mengulas senyuman saat mengingat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu, yang membuatnya heran sekaligus tidak percaya walau itu memang kenyaataannya.
Dengan satu tarikan saja, Irsan kini mengangkat tubuh Cecilia ala bridal style. Dan membawanya ke arah kamar tidur.
Gadis itu sontak terperanjat, dan tertawa saat tubuhnya tiba tiba melayang saat Irsan mengangkatny.
"Kalau masih aneh aku akan mengulanginya lagi, di sini,"
"Ngulang ... Remedial kali mas dokter!" tukasnya.
"Aku akan reka ulang! Kalau hanya kau seorang yang membuatku tidak lagi perjaka!" Irsan membuka pintu kamar.
"Hei ... Kamu ini Dokter ahli dalam, bukan dokter porensik yang bisa membuktikan ini layak atau naik banding." ujar Cecilia yang melingkarkan kedua tangan pada leher suaminya.
Irsan membawanya ke arah ranjang dan meletakkan tubuhnya di sana, dia pun menaiki dan langsung mengkungkungnya diatas kasur berukuran exstra.
"Ayo tunggu apa lagi?"