I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.261(Jelaskan dengan benar)



Cecilia mendekatkan wajahnya dengan bibir yang sedikit dia majukan ke arah Irsan, dan kedua mata yang sudah dia pejamkan pula, bersiap menerima kecupan atau bahkan ciuman dari suaminya itu. Sementara Irsan hanya menatapnya dengan menggelengkan kepalanya saja tanpa ingin menciumnya, wajah Cecilia membuatnya geli, hingga dia hanya meniupnya 3 kali.


"Ihh ... Kau ini!"


Cecilia membuka satu matanya sipit, "Kau mau menciiumku atau enggak sih? Aku udah nunggu nih."


"Tidak ... mulutmu itu bau bawang!" tukas Irsan dengan datar.


"Ish ... Selalu gak bisa diajak romantis deh!"


"Kau sebut ini romantis, dengan bibirmu yang penuh minyak itu?"


"Aku kan bisa mengelapnya dulu!" ujarnya dengan mengelap bibirnya menggunakan punggung tangannya, bak seorang anak kecil yang merengut setelah makan.


Irsan pun mengambil selembar tissu dan mengelap bibir tipis miliknya. "Lap dengan benar, kau ini sudah seperti anak anak saja!"


Irsan menyekanya dengan sesekali berdecak membuat Cecilia tersentak namun juga mengulum bibirnya menahan tawa, jarak keduanya sangatlah dekat sampai hembusan nafasnya saling menerpa. Irsan memajukan wajahnya semakin dekat dan bersiap untuk mengecup bibir tipis berwarna peach natural itu.


Brak!


Namun tiba tiba keduanya dikagetkan oleh suara pintu yang di buka dengan keras.


"Senior!" Tristan membuka pintu ruangan dengan lebar dan langsung masuk begitu saja, langkahnya terhenti saat sadar jika seniornya satu almamater itu tidak sendiri.


"Aah ... Maaf, aku tidak tahu kau sedang menerima pasien." ucapnya dengan kembali membalikkan tubuhnya ke arah pintu.


"Astaga, kau menggagalkan semuanya!" cicit Cecilia,


"Apa kau tidak punya etika. Apa tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu untuk masuk ke ruangan orang lain?" hardik Irsan, yang langsung memundurkan tubuhnya.


"Oh maaf senior. Aku tidak tahu kalau senior sedang ada tamu, aku terlalu bersemangat membawakan mu kopi ini." tukas Tristas yang memegang dua cup kopi americano yang terlihat masih mengepulkan asap.


"Dasar! Kau membuat berantakan hanya gara gara kopi. Bisa nunggu kali, tuh kopi juga gak bakal langsung di minum." sela Cecilia yang ikut kesal,


Bagaimana tidak, sedikit saja padahal langkahnya untuk hal yang akan menyenangkan bagi mereka, suasana ruangan yang sudah terbayang akan seperti apa nantinya.


"Gagal kan maen dokter dokterannya!" desisnya pelan. Tristan yang merasa tangannya mulai kepanasan segera menyimpan dua cup kopi hitam itu di atas meja, dan dia sibuk dengan meniup tangannya yang panas. Tristan baru sadar jika keduanya kini terus meligat dirinya.


"Maaf, aku akan segera keluar, tapi tunggu kopinya sebentar lagi." tukasnya mencari alasan dengan menatap ke arah Cecilia. "Jadi ini Istri senior ya?"


Cecilia sendiri menghanyut dengan kedua mata yang memicing kesal. "Iya ... Mau apa?"


Irsan menatap Tristan, seolah mengingatkannya tentang sesuatu. Dia yang tadinya tidak mengerti tatapan Irsan hanya tersenyum, namun sedetik kemudian dia faham.


"Aku mau minta maaf padamu Istri senior!" ujarnya dengan langsung membungkukkan sedikit tubuh ke arah Cecilia.


Gadis berambut panjang itu mengernyit, "Apa maksudmu minta maaf, ooh aku tahu ... Kau ngerasa bersalah karena ganggu kenyamana dan kesejahteraan kami tadi kan? Jangan lakukan hal itu lagi!"


Tristan menahan tawanya, Cecilia memang konyol atau bodoh, namun segera berhenti saat mendapat tatapan tajam dari seniornya, Irsan.


"Tidak ... bukan itu Istri senior! Tapi karena aku tidak sopan dan aku sembarangan dan juga membuat masalah."


Cecilia semakin tidak mengerti dengan apa yang dijelaskannya, dia pun menoleh pada sang suami dengan sedikit berbisik. "Apa aku kenal dia?"


"Kau tidak mengenalnya, tapi dia yang mengenalmu!"


"Benar Istri senior, alu mengenalimu."


Cecilia yang bingung hanya bisa menatap kedua pria yang berada di sana, Irsan yang duduk disampingnya dan Tristan yang masih betah berdiri didepannya saja.


"Aku emang terkenal, jadi gak heran kalau banyak yang bilang kenal sama aku. Tapi aku rasa aku gak kenal sama kamu! Kau pasti hanya ngaku ngaku aja! Carmuk banget sih ...! Biar bisa deket sama suamiku kan?" tuduh Cecilia dengan kedua mata memincing penuh kecurigaan terhadapnya.


"Aku Tristan. Juniornya waktu di kampus dulu, senior ini adalah panutanku, angkatan kita sudah pasti jauh, aku mengenal senior semenjak senior menjadi dosen alumni, dan jadi dosen pembimbingku." terang Tristan dengan jelas. "Jadi tidak ada cari muka atau apapun itu namanya!"


"Benarkah? Jadi kau juga almamater di kampus xx ya berarti, aku juga kuliah di sana sekarang."


"Benarkah? Kau masuk jalur privillage?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Dih sorry ... Aku murni ikut tes! Dan lolos diseleksi pertama."


"Wah ... Keren! Kampus itu terkenal dengan test seleksi super ketat, dan jadi kebanggaan bisa lolos di seleksi pertama." Tristan mengacungkan kedua ibu jari ke arahnya.


"Pastinya dong!" Cecilia terkekeh karena baru sekarang ada orang yang terang terangan mengakui kehebatannya dalam hal positif.


Irsan berdecak, menurutnya mereka berdua sudah terlalu banyak bicara, bahkan lupa pada peristiwa yang terjadi diantara mereka sebelumnya. Tristan yang sejak awal kesal dan marah pada dua orang bodoh yang merusak mobilnya juga justru terlihat mengakrabkan diri.


"Kalian terlibat pada satu kondisi yang saling merugikan!" tukas Irsan tanpa basa basi. "Jadi sebaiknya jelaskan dengan benar Tristan dan meminta maaf," ucapnya lagi pada pria berusia 30 tahun itu. "Dan kau!" tunjuknya pada Cecilia. "Akui kesalahanmu!"


Cecilia terkesiap, apa yang di maksud kesalahannya kali ini. Fatalkah?


"Kesalahan yang mana ya?" tukasnya ragu ragu dengan suara pelan nyaris kecil.


Tristan terkekeh, melihat wajah yang resah dari Cecilia. Tak lama dia mengeluarkan ponsel miliknya dan memberikannya pada Cecilia.


"Sebenarnya aku ingin minta maaf, harusnya aku---"


Cecilia mengerjapkan kedua matanya saat melihat video berputar dari ponsel yang kini dipegangnya, bahkan dia tidak juga peduli pada apa yang di katakan Tristan yang terus bicara.


"Jadi ini mobilmu?"


"Aku minta maaf Istri senior, aku memang tidak faham jalur ku salah, dan aku---"


"Tunggu! Jadi kau ... Dashcam mobilmu menyala?"


"Ya ... Aku benar benar minta maaf! Aku seharusnya bertanya pada parkir staff atau aku ... Entahlah, saat itu aku tidak berfikir ke arah sana." Tukas Tristan dengan terus menjelaskan duduk permasalahan.


Sementara Cecilia justru memikirkan hal yang lain, Ternyata percuma gue nutup CCTV dong, lah wong kelakuan gue kerekam di Dashcam mobil. Astaga ... Bego banget gue, mampus nih pasti gue kena marah. Gue harus kasih tahu Kak Ines, biar gak cuma gue yang kena omel. Batin Cecilia.


Cecilia memberikan ponsel milik Tristan pada Irsan, dia segera bangkit dari duduknya.


"Bentar ... Sebelumnya kita harus tenang ya sayang, aku harus kasih tahu kak Ines dulu. Biar dia kesini!"


.


.


Hay Cecelover, pasti pada kangen Cece, yekaaan... Wkwkkw maaf othor sok sibuk. Hihihi. Makasih buat kalian yang udah tetap setia nunggu Cece, nunggu Nita, nunggu Arlene, nunggu Joan, terlebih nunggu othor up.. Lope lope segede gaban buat kalian.