
Tristan terbeliak sempurna saat mendengarnya, "Senior. Bagaimana mungkin kau setega itu melakukannya! Jahat sekali kau ini, padahal aku ini mengidolakan senior sejak dulu. Aku menjadikanmu panutan ku dan roll model untukku. Tapi kau sejahat itu ingin mencabut lisensi kedokteranku!"
"Iya kau ini jahat sekali, asal kau tahu saja Irsan ... Sejak kau pergi honey moon, dia kewalahan memghandle pasien pasienmu!" timpal Ines membela kekasihnya.
"Mana dia peduli soal itu, dia sedang belaain kamu tahu!" bisik Cecilia pada Ines yang membela Tristan dibandingkan Irsan yang justru memikirkan kebaikannya.
Ines menoleh pada Cecilia yang mengangguk anggukan kepalanya dan Tristan menoleh padanya.
"Dan asal kau tahu saja, menjadi Dokter adalah keinginanku sejak kecil tapi kebahagian Ines adalah cita-citaku saat ini!" ucapnya dengan kedua alis yang naik turun ke arah Ines.
Gadis itu mengulas senyum sementara Irsan sendiri mendengus kasar.
"Wah bisa aja nih onta arab kalau ngomong!" Timpal Cecilia terkekeh. "Ngerayu sama ngejilat beda tipis." ucapnya lagi dengan menyenggol lengan Ines yang berada di sampingnya.
Tristan ikut terkekeh, tidak mudah memang membuat Cecilia percaya ucapannya secara mereka memiliki sifat yang hampir mirip. Dan Cecilia tahu betul bagaimana seorang pria yang tengah berusaha meyakinkan seorang wanita.
"Apa sih!" Tukas Ines.
"Pacarmu sedang berusaha mengambil hati seniornya untuk kelancaran hubungan kalian. Tapi dia terlalu terang-terangan begini!" gumamnya lagi pada Ines dengan menyenggol lagi lengannya dengan pelan. "Jadi biarkan mereka bicara antara pria dan pria!" bisiknya lagi pelan.
"Aku pegang kata-katamu Tristan, kalau kau tidak melakukan apa yang kau ucapkan aku yang akan membuatmu menyesali ucapanmu itu sendiri. Kau dengar itu?"
Tristan mengangguk, dia pasti akan berusaha lebih keras lagi meyakinkan seniornya tentang perasaan yang dia yakini untuk wanita pujaannya.
"Kau juga dengar kan Nes, apa yang sudah dia katakan padaku di depanmu? Dan aku akan terus mengawasinya!"
"Dengan senang hati Senior... Terima kasih karena memperhatikanku!" sahut Tristan dengan kedua alis yang lagi lagi dia naik turunkan.
"Ya sudah ... Kalian pulang!" sentaknya.
Ines mengangguk anggukan kepalanya dengan cepat, itulah yang dia tunggu sejak tadi, tidak perlu berlama lama karena takut Irsan semakin membuat Tristan terintimidasi, tak lama kemudian dia menarik tangan Tristan dan segera keluar dari sana.
Cecilia menghampiri suaminya tak lama setelah dua orang itu pergi. "Sayang, kok cuma ngomong gitu doang. Bukannya nyuruh mereka buat nikah aja sekalian sih?"
"Aku hanya ingin memberikan kesempatan pada Ines dan Tristan untuk mengambil langkah yang mereka inginkan, dan aku tidak mau memaksakan mereka dengan hubungan yang sedang mereka jalani karena aku tidak ingin mereka menikah seperti cara kita menikah!"
"Heh ... Kenapa kamu bandingkan sama pernikahan kita? Gak enak banget ujungnya. Kita nikah kayak gitu juga gara gara siapa? Kalau gak karena ibumu yang bertindak mau sampai kapan kamu nikah!" dengusnya kesal.
"Gak nyadar diri, masih untung Tristan ada usaha buat yakinin Kak Ines dan juga kamu, Gak kayak kamu yang gak bergerak padahal Ibumu aja udah bertindak sejauh itu!" ujarnya lagi dengan terus menatap Irsan dengan tajam. "Itu bikin aku bangga dan salut sama Tristan, gak kayak kamu yang bahkan berkali kali diyakinkan ibumu tetep gak ada pergerakan!"
Cecilia terus bicara dengan dengan nada kesal, membahas masalah pernikahannya karena merasa jengkel saat dibanding bandingkan, tahu sendiri jika dia sudah marah, semua ucapannya keluar bak kereta api. Panjang dan berasap.
"Jadi kau marah sekarang gara-gara aku tidak melakukan apa yang dilakukan Tristan terhadap Ines?"
"Ya aku marah! Kenapa malah ngebanding bandingin pernikahan kita yang gak jelas itu. Gitu kan maksudnya ... Pernikahan kita gak jelas, bahkan aku gak sempat milih dress sendiri sesuai yang aku inginkan dan itu salahmu!"
"Aku tidak membanding bandingkan sayang, kau tahu itu kan?"
"Aku gak tahu, kau yang bilang sendiri. Kamu gak ingin pernikahan kak Ines itu kayak pernikahan kita!"
"Astaga!"
"Astaga apa? Kamu yang bilang sendiri! Pokoknya aku mau kayak gitu juga ... Kamu katakan semua itu di depan banyak orang baru aku percaya kalau bukan itu yang kamu maksud!"
"Astaga ... Kau ini kenapa?"
"Ya kamu justru yang kenapa, seolah-olah pernikahan kita tidak berarti sama sekali,"
"Sayang ... Aku kan hanya___"
"Dih masih aja alasan!"
Irsan merengkuh kedua pundaknya, "Sayang ... Aku tidak alasan, aku juga belum mengatakan apapun. Tidak ada yang aku sesali dari pada pernikahan kita itu, bagaimana caranya itu tidak penting lagi sekarang, yang pasti kita sekarang sudah bersama dan kita suami istri."
"Halah ... Tapi ucapanmu gak enak di dengar, seolah olah pernikahan kita gak ada artinya dan orang lain gak usah nikah kayak kita! Kamu lupa, sekelas Om Zian yang super tajir melintir aja menikah kilat. Poinnya adalah dengan siapa kita nikah, bukan jenis apa pernikahannya!"
Irsan menarik tubuh Cecilia dan memeluknya dengan erat. "Aku minta maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu dan membuatmu marah!"
"Udah jelas aku marah kok!"
"Ya ... Aku minta maaf! Aku salah membuatmu marah."
"Ya ... Orang jelas jelas ucapanmu bikin aku marah!"
"Aku tahu ... Maafkan aku!"
Cecilia mendorongnya dan melepaskan diri.
"Ya udah ...!" ucapnya dengan ketus lalu beranjak pergi.
Irsan menghela nafas melihatnya, susah sekali menghadapi seorang wanita yang sedang marah.
"Sial ... Zian tidak mengatakan bagaimana menghadapi seorang wanita setelah kita minta maaf!" dengusnya dengan ikut keluar dan menyusulnya.
Pria berusia 40 tahun itu berjalan tepat dibelakang Cecilia, sampai akhirnya mereka keluar dari rumah sakit.
"Kau ingin mampir ke suatu tempat dan beli sesuatu?"
"Ya!" Ucap Cecilia tanpa menoleh, dia langsung membuka pintu mobil dan masuk.
Seorang yang tanpa sengaja dia lihat membuat kedua matanya membola seketika dan langsung kembali turun. Sedangkan Irsan yang baru saja masuk melalui pintu kemudi mengernyitkan kedua dahinya karena Cecilia justru kembali masuk.
Cecilia berjalan dengan cepat guna seseorang yang sudah lama tidak dia lihat, namun dia kehilangan jejaknya saat di ruangan IGD. Tanpa peduli apapun dia masuk dan menyibak nyibakkan beberapa tirai namun tidak menemukannya.
Irsan yang masuk menyusulnya pun mencekal lengannya dengan cepat saat tirai terakhir yang hendak dia buka.
"Kau mencari siapa?"
"Aku ... Aku tadi lihat....!"
Irsan menariknya dari sana dan membawanya keluar, "Ayo kita pergi!"
"Tunggu! Aku ingin mastiin kalau aku gak salah lihat."
"Ya aku tahu, kita pergi ke station nurse dan mencarinya dari data! Itu lebih cepat."
Tapi Cecilia menepis tangan Irsan dengan cepat lalu kembali ke arah belakang.
"Lebih cepat aku yang cari ke dalam, bisa jadi dia bukan pasien!"