
Cecilia keluar dari ruangan milik Irene, raut wajahnya kembali berubah, tidak ada lagi senyuman merekah yang dia pasang didalam tadi. Kini, wajahnya serius dengan bibir terkatup.
Awas aja kalau masih gak ngaruh apa apa, untung aja gue selalu nyimpen dokumen dokumen penting itu buat hal beginian, secara gue bersertifikat. Ya kali gue bego. Siap siap deh gue malu tujuh turunan kalau Irene gak juga terpengaruh sama apa yang gue kasih tadi dan gertakan gue soal nyebarin semua bukti itu gak sampe gue lakuin nanti malem. Batin Cecilia terus bicara.
Jo keluar dari ruangannya, menunggu Cecilia yang sudah terlihat berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Thanks Jo ... Aku gak mungkin bisa lakuin ini tanpa bantuanmu." ujar Cecilia saat dirinya berhadapan dengan orang yang memiliki akses masuk kemana saja di perusahaan itu termasuk ruangan Irene. "Siap siap deh di pecat Jo," ujarnya lagi dengan mengulum senyum.
Jo mengangguk, "Aku melakukannya karena aku menghormati tuan Reno, dia pasti akan sedih saat melihat istrinya melakukan hal seperti ini. Dia juga tidak akan tenang di sana."
"Oh ... Jo, kamu naif banget! Padahal kamu tahu apa yang bakal Reno lakukan kalau saja dia gak mati. Kamu udah tahu kan apa yang dia bilang saat terakhir kali kita bertemu. Dia pengen cerein Irene demi aku, tapi ... Dia bilang apa pada Irene? Lucu kamu ini." Cecilia kembali berjalan. "Lo emang udah tua Jo, tapi urusan cinta ... Gue jagonya!" Desisnya pada Jo yang berdiri mematung menatap punggungnya.
Cecilia keluar dari gedung, namun sebelum dia masuk ke dalam taksi online yang sudah di pesannya, dia melirik lebih dulu gedung tinggi dimana semua yang dia miliki saat ini bersumber.
"Good bye Daddy ... Kematianmu adalah akhir segalanya, semoga Irene gak semakin gila kayak kamu!"
Cecilia bergumam lalu masuk ke dalam mobil dan menyandarkan punggungnya di seat mobil.
"Jalan pak!" ujarnya pada sopir taksi.
Taksi online melaju sesuai aplikasi yang di pesannya, menuju sebuah universitas yang cukup terkemuka di kota, tapi sekali lagi tujuan Cecilia bukan untuk menimba ilmu, tapi hanya untuk menemui sahabatnya saja.
Tak lama mobil berhenti, Cecilia keluar dari mobil setelah membayar dan langsung masuk kedalam gerbang kampus, semua orang terbeliak sempurna saat menatapnya karena style pakaian yang di gunakannya saat itu.
"Kenapa lo. Baru liat cewek?" selorohnya pada saat dua orang mahasiswa melihatnya sampai memutarkan kepalanya 180 derajat. "Heran. Lihat terus melotot! Gue gak bakal tertarik kecuali lo liatin isi dompet lo berdua." ucapnya dengan mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Ce ... Lo gila?" Nita berlari dan menarik tangannya, membawanya keluar dari gerbang kampus. "Mau nge lon te lo?" ujarnya lagi dengan menarik rok sepan pendek yang dia kenakan.
"Paan sih!"
"Paan paan ... Emang makin sinting lo! Dah berapa hari bolos kuliah, ujug ujug datang udah kayak mau nge la cur lo. Mau bikin semua orang kayang lihat penampilan lo." sentak Nita kesal, tidak biasanya dia melihat Cecilia berpenampilan seperti itu. "Inget bego, ini kampus!"
Cecilia berdecak, "Iya iya gue tahu! Lagian kenapa sih, gue kesini juga bukan buat kuliah. Gue pengen ketemu lo!"
"Emang lo tuh ya ngadi ngadi jadi orang. Heran gue ...!" Nita ikut mendecak, tak banyak orang memang yang bisa mengerti jalan fikiran Cecilia yang terlampau berbeda itu, dia selalu memiliki pemahaman berbeda, dan dibalik decakan juga sentakan dari Nita terdapat rasa peduli yang luar biasa. Begitu juga dengan Cecilia terhadapnya.
Taoi Cecilia langsung mengulum senyuman, dia merengkul Nita lalu menggoyang goyangkannya. "Gue kangen sama omelan lo Nit!"
"Emang sialan lo!"
"Semua orang udah tahu kalau gue emang sialan kan!" Cecilia terkekeh dengan terus menggoyang goyangkan tubuhnya.
"Eeh ... Lo bego Anjim! Bangga gitu ke sialan lo di ketahui orang banyak."
"Nah kalau bego, cuma lo yang tahu!" sahut Cecilia terus tergelak.
"Lo bantuin gue ya, mau ya ... Yaa."
Nita terkesiap, "Bantuin apaan lagi lo? Perasaan semua tugas mata kuliah lo gue yang ngerjain, lo tahu beres aja."
"Ini beda Nit! Gue lagi ngadepin orang gila dan harus diatasi lagi dengan cara gila."
"Magsud lo gue gila? Anjim lo kadang kadang!" Nita Menoyor kepala Cecilia dengan keras.
Cecilia tertawa, "Ya kita berdua yang gila kan Nit."
"Lo aja gue enggak! Gue cuma gila dikit. Apalagi kalau udah deket daddy." Nita terkekeh pada akhirnya. Cecilia berdecak lalu balik menoyor kepala Nita. "Lo ngadi ngadi emang, otak lo otak batang mulu."
Nita tergelak, disusul oleh gelak tawa Cecilia. Merka saling menoyor satu sama lain, sama sama konyol.
"Eh apaan? Buruan, kita masih ada satu kelas lagi nih."
Namun Cecilia justru membawanya menyebrang, dia langsung mencegat taksi yang lewat dan menyuruh Nita masuk, gadis itu pasrah begitu saja tanpa banyak bertanya, sesekali dia hanya menghela nafas dan juga berdecak kesal.
"Kita mau kemana?"
"Lo bakal tahu nanti!"
Keduanya sesaat terdiam, menatap ruas jalan yang mereka lalui saat ini.
"Ce ...! Kasus lo gimana? Pacar lo gak bakal diem aja kan, dia pasti sama khawatirnya sama gue sekarang dan bakal cari cara buat nyelesaikan masalah ini." gumam Nita dengan menyandarkan kepalanya di bahu Cecilia.
"Justru itu gue ajak lo sekarang! Gue gak mau libatin Irsan sama masalah yang gue hadapi sekarang, dia dokter Nit, pelayan masyarakat, pekerja sosial. Sosial Nit, lo faham kan magsud gue? Sedangkan kita .... kita ini limbah masyarakat. Kebalikan dari pekerja sosial."
Nita terkekeh, "Kita juga pekerja sosial bego. Sama sama melayani kan! Bedanya, tuh tiang listrik melayani semua keluhan penyakit, kita cuma keluhan 1 penyakit aja. Yaitu kesepian."
"Anjim lo ah Nit!" Cecilia tertawa lagi.
"Jadi apa rencana lo?"
Cecilia pun menceritakan semua yang dia lakukan pada Irene termasuk semua bukti yang dia simpan, bukti yang awalnya hanya sebagai ke isengan belaka saja. Dan Nita berulang ulang berdecak saking tidak menyangka dengan apa yang di lakukan sahabatnya itu.
"Jadi udah selesai dong, kita tunggal tunggu nanti malem aja kan!"
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Belum Nit ... Masih ada satu lagi yang harus dikerjakan! Dan sekarang kita lagi menuju ke sana."
"Ini bakal jadi rencana lo yang selanjutnya?"