I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.207(Tiba tiba)



Mobil hitam melaju di sebuah jalanan di sebuah perumahan sederhana yang cukup sepi, angin sepoi sepoi yang masih terasa segar sangat berbeda dibandingkan udara panas ditempat lain.


"Benar ini tempatnya?" tanya Embun saat mobil tiba tiba menepi di depan sebuah rumah yang tampak tidak terawat.


Carl hanya mengangguk, katakan saja dia marah dan terpaksa melakukannya namun tidak memiliki pilihan lain untuk menolak keinginan Embun. Walau berulang kali dia mengatakan jika mereka lebih baik menunggu Irsan, namun tak satupun Embun menggubris ucapannya.


Melihat Carl yang hanya diam dengan bibir terkatup, Embun berdehem sebanyak dua kali.


"Aku tahu kau keberatan karena Irsan tidak tahu soal ini, dan kau takut dia menyalahkanmu kan?"


"Tentu saja!" lirih Carl, "Aku sudah banyak membohonginya, mulai dari rencana rencana sebelumnya sampai membuat dia kembali ke perusahaan. Dia akan semakin marah kali ini kalau tahu Tante kemari tanpa sepengetahuannya."


Embun terkekeh, lalu membuka pintu mobil. "Aku tidak akan melibatkanmu, kalau kita menunggu Irsan yang bergerak, itu akan sangat lama."


Setelah itu Embun keluar dari mobil, begitu juga dengan Suster yang mengikuti langkahnya, mereka berdua keluar dari mobil sementara Carl menghela nafas, dengan cepat dia merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.


"Maaf Tante, aku tidak mau disalahkan lagi, terutama oleh gadis bar bar itu. Pukulannya sangat luar biasa." gumam Carl dengan menempelkan ponsel di daun telinganya.


"Cepat kau kemari!"


***


Irsan terbeliak saat sambungan telepon dari Carl terputus begitu saja, dia yang bingung karena ketidak jelasan Carl lantas menoleh pada Cecilia yang tengah menyantap makanan di depannya.


Ting


Pesan singkat masuk setelahnya, Carl jugalah yang mengiriminya pesan. Dan membuat kedua matanya semakin terbeliak sempurna.


"Ada apa. Rumah sakit lagi?" Cecilia menduga duga, panggilan yang tidak akan Irsan abaikan hanyalah panggilan rumah sakit.


"Bukan!" Sahutnya pelan, menggeser lalu menekan layar di ponselnya, memastikan jika pesan yang dikirim Carl benar untuknya.


"Bukankah ini alamat rumahmu?"


Cecilia hampir tersedak dengan layar menyala yang di tunjukan oleh Irsan. Dia menyipitkan kedua mata untuk memastikannya.


"Iya ... Ini sih alamat rumahku bener, kenapa emang?"


Irsan bangkit dari duduknya, lalu menarik tangan Cecilia tanpa berfikir lebih lama lagi.


"Kita harus kesana, Ibu dan Carl sedang berada di sana."


"Hah?"


Irsan bergegas meraih kunci mobil serta memakai sepatu milikinya, sementara Cecilia terdiam dengan segala kebingungan.


"Maksudnya? Ibu Dan Carl kerumahku? Apaan ... Untuk apa?" Segala pertanyaan memberondong Irsan,


"Aku tidak tahu! Kita pergi sekarang saja. Aku takut Ibu melakukan hal hal yang tidak tidak."


Mereka berdua keluar dari unit apartemen, bahkan Cecilia hanya mengenakan pakaian rumahan dengan sepasang sandal berbulu, rencananya mereka hanya akan menghabiskan waktu di apartemen sebelum Irsan pergi ke singapure.


Irsan menghubungi Carl berkali kali, namun tidak satupun diangkatnya, pesannya pun tidak dia balas.


"Aku sudah bilang jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku!" Desis Irsan dengan rahang yang terlihat keras.


"Ibu sama Carl kenapa ke rumahku tiba tiba?" Cecilia masih belum faham apa apa, namun sejurus kemudian kedua matanya membola, "Mereka ingin ketemu Ibu dan ayahku?" ucapnya menduga.


"Ya ... Sepertinya begitu, ayo cepat." Sahutnya dengan merekatkan genggaman pada tangan Cecilia.


Irsan menariknya bak menarik seorang anak kecil karena langkah keduanya sungguh berbeda. Sampai keduanya masuk kedalam mobil dan kemudian langsung melaju.


Butuh waktu dua jam untuk sampai ke kota dimana Orang tua Cecilia tinggal, Irsan tidak yakin jika dia akan sampai tepat waktu untuk kesana sebelum Ibunya melakukan hal hal diluar fikirannya. Hingga dia memutuskan membelokkan laju kendaraannya ke sebuah tempat.


"Lho Ini kan bukan jalan ke rumahku?" tanya Cecilia yang lagi lagi masih tidak mengerti karena Irsan tidak banyak bicara jika tidak ditanya.


"Aku tidak yakin kita akan sampai kesana tepat waktu, Jalanan akan macet sebentar lagi."


"Ah ... Iya, jadi?"


Mobil menepi di sebuah rumah berwarna putih dengan dua pilar besar di depannya, bangunan bergaya klasik modern yang tampak terawat.


"Jangan bilang ini rumahmu juga?" Tebak Cecilia saat Irsan mematikan mesin mobil dan membuka seat belt.


"Rumah ibuku!" jawabnya singkat lantas keluar.


"Hah!" Cecilia menghembuskan nafas, banyak sekali hal yang dia tidak tahu mengenai Irsan, juga Embun ibunya. "Apa karena gue sekarang gak peduli dengan apa yang dia punya, gue bahkan gak tahu sekaya apa dia dan Ibunya itu." desisnya sambil keluar mengikuti Irsan, walaupun dia sendiri tidak tahu rencana Irsan.


Seseorang tersentak kaget saat melihat Irsan berdiri di depan gerbang rumahnya, dia lantas berlari untuk membuka pintu gerbang dan menganggukkan kepalanya.


"Mas Irsan, sudah lama tidak kemari." ujarnya.


"Ya ...!" Jawab Irsan datar, dia langsung masuk begitu saja dan langsung berjalan ke arah garasi rumahnya.


"Berikan kunci motor!" serunya kemudian.


Sementara Cecilia yang sejak tadi hanya mengikutinya bak seekor itik itu melongo tak percaya saat gerbang garasi terbuka.


Mobil pertama yang dia lihat adalah mobil yang tahu milik temannya, mobil yang Irsan bilang dia meminjamnya juga ada mobil yang dia berikan pada Ines.


Pria berseragam safari hitam berlari menyerahkan kunci motor pada Irsan, dia juga membawa helm berwarna hitam dan menyerahkannya.


"Pak siapa yang dateng?" seru seseorang dari arah samping, yang tentu saja membuat Irsan juga Cecilia terbeliak melihatnya.


"Non Vannes, ini Non ... Mas Irsan." Jawab Security.


"Kak Ines?" cicit Cecilia yang melihat sepupu Irsan.


"Kau. Ada di sini. Vannesa?" sentak Irsan mengagetkan semua orang.


Ines terkekeh, "Aku bisa jelaskan!"


"Nanti saja, ada sesuatu yang harus ku urus lebih dulu!" Irsan membuka kain penutup berearna hitam yang menutupi motor miliknya.


Motor sport berwarna hitam yang sudah lama tidak di pakainya namun jangan di ragukan lagi soal perawatannya yang tidak pernah terlewatkan. Irsan mengeluarkan helm serta sarung tangan dari lemari kaca, dia juga mengambil jaket miliknya dan memakaikannya pada Cecilia.


Cecilia mengerjapkan mata, namun tidak berlangsung lama karena Irsan sudah berjalan ke arah motor. Gadis itu bahkan tidak mengedipkan mata saat melihat seorang pria tinggi tegap yang tampak semakin gagah yang kini berada diatas motor, dengan memakai sarung tangan hitamnya dengan cepat.


"Kak Ines, dia Irsan kan? Kok makin ganteng sih." desisnya semakin terpana.


Ines di buatnya terkikik, namun dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan Cecilia.


"Sepupuku itu!"


"Fix ganteng maksimal, kenapa gak dari kemaren kemaren aja dia pake motor itu sih."


"Cecilia. Ayo naik!"


Cecilia mengangguk, dia berjalan ke arahnya lalu naik dan melingkarkan tangan di pinggangnya.


"Kau belum memakai helm!" Irsan menoleh dengan wajah datarnya, membuat Ines terkekeh lalu menyerahkan helm pada Cecilia.


"Lupa sayang, saking terpananya aku lihat kamu." ucapnya tertawa, "Makasih kak Ines." Katanya lagi saat menerima helm darinya.


"Kau ini! Kita dalam masalah besar dan kau masih bisa santai!" desis Irsan dengan menggelengkan kepalanya. "Dan kau!" tunjuknya pada Ines, "Vannesa mahardika, urusan kita belum selesai!"


Ines tentu saja merengut kesal karena mendengar ucapannya.


Sementara Cecilia yang sudah mengenakan helm terkekeh ke arah Ines sembari kembali melingkarkan tangannya.


"Apapun masalahnya akan bisa diatasi selama kita bersama."