
Alih alih mempedulikan perkataan suaminya yang mengajaknya mencari informasi pada petugas, Cecilia justru kembali masuk ke ruang IGD.
Bruk!
Tanpa dia sangka justru dia menabrak seseorang hingga tubuhnya sedikit terpental ke belakang saking kuatnya mereka bertabrakan.
"Sorry ... Aku tidak sengaja!" tuturnya dengan membungkuk hendak membantu.
Namun Cecilia yang langsung mendongkakkan kepala justru membuatnya kaget.
"Lo?"
Bisa dikatakan Cecilia beruntung saat itu, sosok yang dia cari kini berada di hadapannya tidak perlu lagi di cari.
"Lo gak apa apa kan?"
Cecilia bangkit, dibantu oleh Irsan yang saat itu langsung menyusulnya masuk.
"Kau tidak apa apa?" tanyanya dengan memegang kedua tangan sang Istri.
Cecilia mengangguk dengan terus menatap pria yang masih berdiri dengan senyumannya. Rasanya hati Cecilia lega melihatnya lagi, banyak hal yang ingin dia tanyakan padanya selama ini
"Hallo Dokter Irsan. Apa kabar?" ujarnya lagi dengan mengulurkan tangan.
Irsan menjabatnya, tersenyum sekilas dan mengerti jika dialah sosok yang tengah di cari sang istri.
"Hallo Dirga. Lama tidak bertemu!" ucapnya dengan datar, mengingat pria itu adalah mantan kekasih dari wanita yang kini menjadi separuh hidupnya.
"Good ... Aku masih gak nyangka ketemu kalian lagi!" sahutnya dengan tersenyum.
Dengan cepat Cecilia menepiskan dua tangan kekar milik mereka dan menggenggam tangan Irsan. "Udah cukup basa basinya Dirga! Gue perlu ngomong sama lo!"
"Wih ... Emang ya ... Paling gak bisa bisa di ajak basa basi, mau kemana nih. Ngopi or makan malam sekalian?" Ujar Dirga dengan kedua tangan yang dia gosok gosokkan.
"Sayang ... Boleh aku bicara dengan Dirga sebentar?" Cecilia menoleh pada Irsan meminta waktu.
Dirga menggelengkan kepalanya dengan dua tangan yang dia silang berbentuk huruf X di depan dada."No ... No ... Big no, gue gak mau ada salah faham lagi diantara kita, jadi kalau lo mau ngomong sama gue, lo ajak laki lo. Toh kita gak akan bisa wisata masa lalu kan?"
Cecilia mendengus dengan tersenyum pada akhirnya lalu kembali menggenggam tangan Irsan. "Oke, ide bagus. Lagian gue juga gak mau cari ribut. Dan gue bersyukur karena ketemu sama lo di sini!"
Mereka bertiga akhirnya duduk di sebuah kursi yang berada di taman samping rumah sakit.
"Kalian tunggu di sini, gue mau beli kopi supaya kita sedikit santai. Gue akan segera kembali!" ujar Dirga yang kembali bangkit.
Dengan cepat Cecilia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Dirga, membuat Irsan terbeliak sempurna."No ... Please! Lo mending duduk, biar gue yang pergi, gue gak mau ngambil resiko kalau lo bakal kabur lagi. Sayang, tolong jangan biarkan dia kabur!" ujarnya pada Irsan yang lebih bnayak diam mengamati situasi dan memutuskan mengambil tindakan nanti, sementara Cecilia tidak pernah berfikir sebelum bertindak apapun itu.
"Aku rasa Dirga tidak akan berani kabur seperti dulu, benarkan Dirga?"
Dirga menggaruk tengkuknya, "Ahh ... Ayolah Dokter, jangan bicara seperti itu...!"
Cecilia akhirnya pergi ke arah kantin, sementara dua pria berbeda generasi itu sama sama saling terdiam, bingung dalam memilih topik yang akan mereka bahas hanya berdua saja.
Terlihat Dirga mengangguk anggukan sedikit kepalanya, "Lebih baik, setelah mengalami banyak peristiwa tentunya!"
Irsan mengangguk mengerti, namun keduanya kembali terdiam sampai akhirnya Cecilia datang dengan tiga cangkir kopi ditangannya.
"Gak bisa kabur kan lo?" sindirnya pada Dirga.
Sementara pria itu hanya mendengus kecil saja, dan terus menatap Cecilia yang saat ini menghempaskan tubuhnya di samping Irsan.
"Wah ... Lo ternyata masih inget kopi kesukaan gue Ce ... Thankx ya!" Dirga mulai menyeruput gelas kopi miliknya.
Ucapan Dirga membuat Irsan tersentak, namun sebagai orang yang sudah matang dengan pemikiran yang sangat dewasa, Irsan hanya diam saja namun kedua matanya tajam memindai Dirga bak seorang musuh.
"Heh ... Jangan geer lo, lo fikir ini di mall? Kopi di sini satu jenis, lo lihat nih ... Kopi kita bertiga aja sama! Aneh lo ... Lagian ya gue udah lama move on dari lo, gak penting banget sih! Nih ... Lihat ... Sama kan?" cerocosnya dengan menunjukan kopi miliknya sendiri.
Rasanya Irsan ingin sekali tertawa saat itu juga, namun dia juga mampu menahan diri karena situasinya tidak mengharuskan dia untuk tertawa, dan lagi lagi cara Cecilia membuat orang lain bungkam membuatnya salut, baginya Cecilia terlalu mempesona dengan tingkahnya tersendiri.
"To the point aja deh. Selama ini gue pengan tahu apa yang lo bilang sama Nita, lo tahu ... Sampai detik ini gue sama Nita gak ada komunikasi, dia ilang gitu aja dan marah banget sama gue. Gue yakin dia ada di satu tempat tapi dia gak mau nemuin gue!"
"Lo udah cari ke apartemennya yang baru?"
"Kalau gue ketemu dia gak mungkin gue seneng ketemu lo dalam artian ngapain gue nanyain soal ini sama lo?" sentak Cecilia mulai kesal.
Irsan menggenggam tangannya, menyuruhnya untuk tenang sedikit namun apalah arti ucapan Irsan, tidak ada yang bisa mengontrolnya jika dia tengah marah.
Terlihat Dirga menghela nafas, semakin membuat Cecilia yakin jika Dirga memang ikut andil dalam kemarahan Nita.
"Dirg ... Gue mohon sama lo, apa yang lo dan Nita omongin sampe bikin dia marah ke gue kayak gini. Please Dirg ... Kita bukan anak ABG yang egois egoisan lagi."
Baru kali ini Cecilia mengiba dan memohon pada orang lain seperti ini. Tapi demi sosok sahabat yang telah dia rindukan, tidak ada salahnya melakukan hal itu.
"Sorry Ce ... Gue ... Gue bilang semua rahasia kita tentang Serly sama Nita, waktu itu gue egois, gue marah karena laporan lo ke polisi. Walaupun ujungnya laki lo bantu gue biar gue di rehab aja, tapi hidup gue hancur, dan gue gak punya apa apa lagi. Dan dengan gue bilang semuanya sama sahabat lo! Gue fikir itu akan bikin kita sama sama hancur." terang Dirga.
Cecilia tersentak kaget, bagaimana mungkin Nita semarah itu hanya karena hal sepele. Dan Dirga dengan tega mengatakan semua rahasia yang selama ini dia pegang dan janji tidak akan mengatakannya pada siapapun. Dan ternyata bukan hanya soal penolakannya terhadap perasaan Nita yang menyukai Carl saja.
"Karena menurut gue, persahabatan kalian itu udah gak ada gunanya lagi saat Nita ngerasa dia gak lo hargai, dan lo tahu apa. Itu berhasil ngancurin semuanya kan? Bagi lo mungkin si Nita bakal ngertiin lo, tapi lo di sini yang paling egois Ce ... Lo gak bisa ngertiin dia, ini bukan masalah sepele buat dia, karena apa? Ya karena kalian bersahabat!" Terang Dirga lagi dengan tersenyum pahit. "Sorry ya Ce ... Gue tahu gue salah, tapi bukan cuma gue yang salah. Tapi lo juga!"
"Lo jahat banget Dirga! Gak ada hak lo buat nyeritaain semua rahasia itu sama Nita, itu hak gue, gue yang harusnya ngomong dan mungkin Nita gak bakal semarah ini sama gue! Kok lo tega banget sih!"
Diega tertunduk lesu, wajahnya memperlihatkan penyesalan. "Sorry Ce ... Gue so sorry sama lo! Maafin gue karena gue egois."
Byurrr!
Cecilia bangkit dari duduknya dan langsung menyiramkan segelas kopi miliknya ke atas kepala Dirga. Hingga pria itu tersentak begitu juga dengan Irsan.
"Lo emang salah! Gara gara lo Nita sampai saat ini gak mau ketemu gue dan gue gak tahu kesalahan apa yang gue perbuat sama dia!"
Dirga juga ikut berdiri dan menggebrak meja, menatap Cecilia yang tengah marah dengan marah pula. Tidak menerima jika hanya dia yang di salahkan.
"Lo gak pernah mikir Ce kalau lo egois? Lo gak pernah mikirin orang lain selain kesenangan lo sendiri! Gak cuma itu yang bikin Nita marah sama lo. Apa lo pernah berfikir hal itu? Lo pernah berfikir kenapa Nita memilih pindah apartemen saat lo masih sama gue. Hah?"